
Dua mobil hitam keluaran Jerman dan satu mobil kodok berwarna kuning masuk ke pelataran rumah utama.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, saat aku dan adik-adik Kaysan selesai membelah riuhnya kota dengan kawalan mobil polisi.
Di tanganku ada sembilan kantong belanja, dan ini adalah hadiah pernikahan dari adik-adik Kaysan. Betapa bahagianya aku saat di mall tadi, adik-adik Kaysan begitu memanjakanku dengan banyak hal.
Aku merebahkan diri, saat kami bersembilan sudah berpisah menuju kamar masing-masing.
Ku ambil ponselku untuk memberi kabar Kaysan. Aku melupakan suamiku yang uangnya sudah aku habiskan hingga jutaan.
Aku menunggu sesaat, pesanku tidak terjawab. Bahkan tanda centang hanya satu. Ehmm... Mungkin Kaysan masih sibuk, atau sudah tidur.
Ku taruh ponselku, dan berharap saat aku bangun nanti. Pesanku sudah terbalaskan.
*
Matahari belum memancarkan cahayanya, gelap masih menjadi rona pagi ini.
Ritus pagiku terasa sepi, tidak ada laki-laki yang membuatku slalu tersipu malu. Laki-laki yang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat di tangannya. Bahkan pesanku tidak dibalas, dia membuat pikiranku gelisah.
Bagaimana kabarnya, sedang apa, apa dia baik-baik saja, apa dia sudah makan, atau mungkin dia menganggapnya seperti saat-saat pacaran dulu? Jika bekerja tak memberi kabar, Astaga.
Aku melangkahkan kakiku keluar kamar, aku ingin mencari Indy atau mencari Mbok Darmi.
Dari semua kamar yang aku lewati, belum terdengar suara adik-adik Kaysan. Apa mereka belum bangun, bagaimana bisa?
Akhirnya aku memilih untuk pergi ke halaman belakang, tempat dimana Mbok Darmi bekerja.
Langkah kakiku berpijak pada setiap tataan bebatuan yang disusun rapi, disampingku berjajar rapi tanaman pucuk merah yang dipangkas sedemikian rupa sehingga terlihat lebih cantik.
Suara kokokan ayam mulai menemani deru nafasku, sangkar yang terlihat elegan untuk seekor ayam ini membuatku tertegun, ternyata menjadi orang kaya adalah sebuah kenikmatan yang hakiki. Semua harus terlihat istimewa meskipun hanya kandang ayam. Jika aku uangkan kandang ayam ini bisa untuk membeli ponsel baru.
Aku terkekeh geli, sambil menyudahi pertemuanku dengan ayam di keluarga bangsawan.
"Mbok Darmi..." panggilku, saat melihat perempuan paruh baya itu keluar dari balik pintu. Aku menghampirinya saat beliau melambaikan tangannya ke arahku, "Mbok..."
"Iya cah ayu." dielusnya bahuku dengan tangannya yang sudah berkeriput.
"Mbok sudah mandi?" Sudut bibirnya yang sudah tertanam garis-garis tipis semakin terlihat saat senyum itu mengembang. "Jam segini Mbok sudah harus bersiap diri."
"Jani ikut boleh, Mbok?"
__ADS_1
"Ikut kemana to cah ayu."
"Kemana aja yang mau Mbok lakukan. Ehm... Jani gak tau mau ngapain. Mas Kaysan gak ada dirumah."
"Memang kalau gusti pangeran ada, cah ayu mau ngapain?"
Aku menutup mulutku sambil tersenyum lebar, "Ngobrol Mbok."
Mataku mengerling nakal, Mbok Darmi terkekeh sambil memegang tanganku.
"Ya sudah ayo... temani Mbok ke dapur untuk membuat sarapan."
Aku melenggangkan kakiku dengan senang, mengayunkan tanganku dan Mbok Darmi secara bersamaan. Tapi langkah kaki Mbok Darmi yang alon-alon membuatku merasa langkah kakiku terlalu lebar dan tergesa-gesa. [ alon-alon : pelan-pelan ]
"Mau kemana to cah ayu, apa sudah dikejar setoran?"
"Hehe... gak Mbok, tapi kakiku belum terbiasa untuk berjalan pelan-pelan."
"Meskipun dalam keadaan genting, biasakan untuk melangkahkan kakimu dengan pelan-pelan. Yang anggun selayaknya seorang putri. Jangan berlari meski tergesa-gesa."
"Mbok, jadi mulai kapan kita belajar? Kata Ibunda, aku harus berlatih menari, membuat sesaji dan tata krama dirumah ini."
Aku mengangguk. Kami tiba di dapur kotor di rumah belakang, dinsini sudah ada abdi dalem lainnya yang sibuk mengupas bawang dan merajang sayur-sayuran, menanak nasi dan lain sebagainya.
Aku hanya mengamati, sambil sesekali mengamati kondisi rumah belakang ini.
Aku berjalan, hingga langkahku tertuju pada sebuah lukisan. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan duduk mengunakan baju kebaya berwarna hijau, menggunakan kain jarik berwarna coklat. Rambutnya disanggul dengan rapi, wajahnya ayu, kulitnya berwarna kuning langsat. Lukisan ini begitu indah dan nyata, seperti setiap goresan catnya melambangkan sebuah ungkapan cinta.
Aku berlama-lama mengamati setiap inci dari goresan cat di atas kanvas.
"Suamimu yang melukis ini."
"Mas Kaysan?" kataku tak percaya.
"Suamimu pandai melukis, dan ini adalah salah satu lukisan suamimu."
"Siapa wanita ini Mbok? Cantik."
Aku masih menengadah mengamati baik-baik lukisan ini.
"Bukan siapa-siapa, sudah ayo ikut Mbok masak."
__ADS_1
"Kalau mas Kaysan pandai melukis, kenapa aku gak pernah dilukis ya, Mbok? Lukisan seperti ini juga ada di dalam kamar."
Aku masih tak mengerti, kenapa harus seorang wanita yang menjadi objek imajinasi Kaysan. Dia terlihat cantik dan anggun, wajahnya terlihat menyejukkan untuk siapa saja yang melihatnya. Bahkan aku sebagai wanita saja juga mengagumi auranya, apalagi Kaysan.
Pagi mulai berhias cahaya mentari, kami sudah bersiap dimeja makan seperti biasanya. Hanya ada keheningan, rasanya tubuhku terasa kaku. Tak ada Kaysan, aku seperti kehilangan tameng pelindungku.
*
Pagi hari di perkebunan teh.
POV Kaysan.
Udara dingin masih merambat dengan baik di sekujur tubuhku, bahkan secangkir teh hangat rasanya tak mampu menghangatkan suasana pagiku.
Kabut masih menghiasi perkebunan pagi ini saat aku sudah bersiap untuk berangkat ke tempat para petani pemetik pucuk teh. Lokasi perkumpulan para buruh pemetik daun teh segar berada di gubuk di tengah perkebunan. Butuh waktu 25 menit untuk sampai ke tempatnya, tentunya dengan berjalan kaki. Tapi aku menyukai suasana seperti ini, sejuk, dingin, dan hijau.
Suasana seperti ini lebih baik jika ada Rinjani. Tubuhnya bisa aku peluk, atau sekedar mengendus aroma tubuhnya yang membuatku bersemangat.
Baru beberapa hari menikah dan tidur dengannya, semalam aku merasa ada yang kurang. Tidak ada tangan mungil yang merengkuh tubuhku, tak ada hidung yang mengendus ketiakku.
Masih tersisa satu malam lagi, sebelum akhirnya aku akan berjumpa lagi dengannya. Wanitaku, wanita yang membuatku kehilangan nafsu makan.
Jika siang hari aku menyukai saat kaum wanita berbeda generasi berkumpul bersama. Mereka dengan lincah memainkan lidahnya, bergosip ria, sambil sesekali mengoles gincu di bibirnya. Tak jauh dari perkara bibir, mereka juga senantiasa menjaga perkara lambung, tak jarang beberapa bekal makanan mereka bawa untuk sarapan. Jika sudah berkumpul, mereka akan berbagi atau saling bertukaran makanan, saling mencemooh rasa masakan yang keasinan dan akan meledek minta kawin ya, lalu diiringi tawa yang meledak-ledak.
Tidak jarang buruh pemetik daun teh segar adalah wanita-wanita yang merangkap tanggung jawab sebagai seorang ayah dan ibu. Mereka adalah wanita-wanita tangguh yang menginspirasi. Asal anak bisa makan dan sekolah, sudah cukup.
Aku tiba di gubuk bambu, para buruh pekerja cukup terkejut dengan kehadiran ku. Mereka hanya membungkuk hormat dan mengulas senyum, seterusnya tangan mereka tak berhenti memetik pucuk segar daun teh. Sorot mata mereka saling melempar pandang satu sama lain, dengan artian Sepertinya juragan sedang dihukum Kanjeng Raja.
Aku duduk sambil sesekali menjepret mereka dengan kamera yang aku bawa.
Selang beberapa waktu, mandor kebun datang sambil membawa satu kantong plastik berisi makanan. Biasanya ia akan membawa gorengan bakwan dan sebungkus plastik berisi kopi panas.
"Sudah lama juragan?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Kopi juragan, bakwan sama mendoannya masih anget, monggo." Di taruhanlah plastik putih itu di dekatku.
Jika ku ingat sudah lama aku tidak makan gorengan. Terakhir kali saat habis bertemu dengan Rinjani, gadisku yang masih perawan. Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah makan?
Jika Rinjani belum makan pasti Mbok Darmi sudah menyeretnya untuk ke ruang makan. Aku mengambil satu bakwan jagung, menyantapnya dengan perasaan seperti kabut pagi ini. Slalu menanti datangnya pagi, lalu menghilang setelah mentari datang menghangatkan bumi.
Like, love n vote ya kekasih. Terimakasih sudah baca, salam Rahayu ๐
__ADS_1