Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Daun Maple ]


__ADS_3

Seperti daun yang berproses.


Kuncup


Merekah


Menghijau


Menguning


Perlahan


Mengering


Lalu...


Terurai


Bebas .....


Di bawah pohon maple, aku dan Kaysan duduk di atas hamparan daun kering yang menutupi seluruh bagian tanah. Angin berhembus kencang menggugurkan dedaunan kering, aku menengadah menatap guguran dedaunan yang menghujani tubuh kami berdua.


"Kita sudah menikmati musim dingin, musim semi dan sekarang musim gugur bersama. Menurut mas, musim apa yang paling indah?" tanyaku pada Kaysan.


Kaysan merapikan rambutku, "Semua musim indah, asal ada kamu."


Aku merangkul lengan Kaysan, "Warna-warni daun ini seperti warna perjalanan kisah kita ya mas."


"Memang ada masanya untuk meranggas seperti musim ini. Manusia butuh pelepasan, begitu juga pohon ini."


Daun maple jatuh di tanganku, "Jani mau melahirkan di tanah Jawa." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. setelah beberapa hari yang lalu aku masih memendamnya sendiri.


"Kenapa lagi denganmu?" Kaysan menatap tajam wajahku, ia seperti ingin mencari kejujuran dari raut wajahku.


"Jani bingung bagaimana merawat seorang bayi. Jani pengen ada Ibunda yang menemani dan mengajariku."


"Maaf, Jani. Tidak bisa." ucap Kaysan.


"Mas ingat, HPL bayi ini akan lahir saat musim dingin, itu artinya tidak ada matahari. Kata google, bayi baru lahir harus sering di jemur biar tidak terkena penyakit kuning." ucapku mengebu-gebu.


Permintaan pulang rasanya akan sulit terwujud. Apalagi, aku kasian dengan Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya.


Sudah waktunya mereka untuk pulang dan bertemu sanak saudaranya.


"Mas..."


"Musim dingin masih tiga bulan lagi, kita bicarakan nanti." Kaysan mengecup keningku, "Angin semakin kencang, ada baiknya kita pulang sebelum masuk angin."


Kaysan membantuku berdiri, "Endut, mau kemana lagi setelah ini?" Kaysan mencubit pipiku yang tembam.


"Jangan panggil Endut!"


"Tapi kamu Endut sayang. Lihatlah pipimu empuk seperti bakpao. Aku jadi pengen gigit." Kaysan tersenyum jail.


"Jangan di gigit, nanti sakit." Aku mendorong bahu Kaysan, saat wajahnya sudah condong ke arahku.


"Aku cuma mau membersihkan rambutmu dari daun kering. Percaya diri sekali!" Kaysan mengusap puncak kepalaku lalu ia tersenyum jenaka.


"Mas bikin aku salah tingkah." Aku tersipu malu. Dan, menyembunyikan wajahku di dada Kaysan.


"Sama suami sendiri kenapa malu, sudah ayo pulang." Ajak Kaysan.


Sepanjang jalan setapak yang berada di Dandenong Range. Kaysan terus merangkul bahuku, ia berkali-kali mengecup pucuk kepalaku.


"Gak bosen ya cium aku terus?"


"Tidak!"

__ADS_1


Langkah Kaysan berhenti, "Nanti mau dipanggil apa? Mama, Ibunda, bunda, atau bubu?"


"Bubu?" Dahiku mengerenyit bingung.


"Iya bubu, singkatan dari Ibunda atau ibu."


"Bubu." Aku mengulangi kalimat itu. Kaysan tersenyum.


"Bubu Rinjani, Baba Kaysan."


Kaysan tersenyum, tangannya mengusap perutku. Tendangan kecil terasa saat Kaysan menekuk lututnya dan berkata,


"Anak baba dan bubu apa kabarnya, nanti baba tengok mau?"


Ada rasa hangat yang mendebarkan jantung saat Kaysan begitu lembut mengecup perutku, "Baba tidak sabar kita bertemu, sehat-sehat ya kalian berdua anugerah terindah yang baba miliki."


Kehamilan membuat naluri sensitifku mendominasi, begitu juga naluri konyol yang tak pernah bisa lepas dari sifatku.


"Tahu gak, kalau anak mas ini suka protes kalau habis mas tengok."


"Benarkah, apa katanya?" Kaysan berdiri, aku membantunya membersihkan celananya yang kotor.


"Katanya tegang, bubu..." Aku tertawa dan berlari kecil menjauhi Kaysan.


"Mas tangkap aku, mas ayo main kejar-kejaran." ujarku masih berlari kecil.


"BERHENTI!!!" Teriak Kaysan, seketika aku membeku, "Sudah aku bilang jaga kandungannya. Malah main kejar-kejaran." Tangan Kaysan menjewer telinga ku, "Nakal!"


Aku cekikikan, "Apa baba Kaysan mau bubu nakali?"


"Sekali kamu menggodaku, kamu habis." ujar Kaysan, ia sudah mengangkat daguku. Kemudian mata kami bertemu, saling menatap dan tersenyum.


"Baba love bubu." Wajahku memerah karena malu dan bahagia. Aku merangkulkan tanganku di leher Kaysan. Sambil berjinjit aku mengecup bibirnya lembut. Bibir yang memiliki banyak rasa bagiku.


Kaysan memegang pinggangku, ia semakin mengeratkan pelukannya.


Angin berhembus, membuat dedaunan gugur di atas kami. Kaysan menyudahi kecupannya. Ia mengusap bibirku.


"Kamu adalah obat penguat dari rasa lelahku. Tetaplah menjadi Rinjani seperti ini, konyol dan cerewet."


Kaysan mendekapku. Entah sudah berapa kali adegan romantis yang kami lakukan di Dandenong Range. Tapi aku menikmatinya.


Terimakasih Melbourne sudah menjadi tempat yang tepat untuk menikmati semua musim di Australia.


*


Malam harinya kami berkumpul di halaman belakang. Kaysan hanya diam, ia tak membahas tentang keinginanku untuk pulang ke tanah Jawa. Ia asyik menilai tugas anak didiknya.


Bapak dan Mbah Atmoe membahas suka duka hidup di negara ini. Hanya eyang yang bersedia menanggapi ocehan ku.


"Eyang, kalau di sekolah mas Kaysan ngapain?" tanyaku pada eyang.


"Kalau jam makan siang Kaysan suka bergabung dengan anak didiknya di kantin. Ngobrol."


"Ngobrolin apa?" Jiwa kepoku bergejolak, sebenarnya aku penasaran dengan kegiatan Kaysan di sekolah. Tapi aku tak mau di kira tidak percaya.


"Eyang tidak tahu, Cu. Ngobrolnya pakai bahasa Inggris."


Aku melirik ke arah Kaysan, ia menyengir kuda.


"Apa!?" ujar ku sambil menunjukkan wajah kikuk ketahuan jika aku terang-terangan menanyakan kegiatan Kaysan.


"Bukannya mas pendiam, kenapa ngobrol? Itu kan, aneh. Genit."


"Anak didiknya hanya suka bilang gini,


I love you Mr. Kay. I love you Mr. Kay."

__ADS_1


Kenapa aku ingin tertawa dengan gaya bicara eyang Dhanangjaya. Tapi aku juga kesal, Kaysan malah ikut tertawa.


"Mas benar-benar ingin membuatku marah?"


"Hanya bercanda bubu."


Eyang Dhanangjaya menggeleng cepat, "Jangan percaya."


"Ingat, mas Kaysan sudah mau menjadi Bapak dan berumur 35 tahun. Mas itu sudah tua, jangan kebanyakan tingkah."


Aku merengek, Bapak menghampiriku.


"Ada apa?"


"Mas Kaysan, Pak."


"Kenapa dengan suamimu? Bukannya dia ada di depanmu."


Astaga, Bapak tidak meredakan emosiku justru semakin membuatku kesal.


"Mas Kaysan memang di depanku, tapi kalau di sekolah mas Kaysan di goda anak didiknya. Aku gak terima!"


"Memang kenapa?"


"Aku kan istrinya, pak. Wajar kalau aku cemburu."


"Coba kamu lihat suamimu, apa ada yang salah? Tampan iya, gagah iya, pintar iya, tidak salah anak didiknya menjadikan Kaysan guru idola."


Aku melihat bibir Kaysan menahan tawa.


"Kenapa kalian jahat dengan anak kecil sepertiku, aku kan cuma anak bawang disini." Aku menggerutu.


Mbah Atmoe menimpali, "Anak kecil bawa anak kecil."


Bapak ikut tertawa, "Sudah-sudah, jangan membuat anakku menangis. Lihatlah matanya sudah merah."


Kaysan beranjak, ia mendekatiku.


"Yah... bubu jangan menangis."


Aku menepis tangan Kaysan saat tangannya terulur menyentuh pipiku, "Jangan pegang!" Sergahku cepat.


"Marah, kita hanya bercanda." jelas Kaysan mencoba meredam emosiku.


"Bercanda? yang benar saja!"


Mbah Atmoe, Bapak, dan Eyang berangsur mundur. Mereka tersenyum jail sambil mengatupkan tangan mereka.


"Gak ikut-ikutan." seru mereka bertiga.


Astaga, semakin tua semakin menjadi. Kenapa usil sekali, dan menjaili ibu hamil.


"Baba tidak membalas ucapan mereka."


Aku melengos. Hatiku masih kesal. Kaysan masih terus melanjutkan kata-katanya.


"Bubu, tidak ingat tadi siang? Baru saja kita menikmati keindahan alam dan kemesraan kita. Sekarang malamnya sudah ngambek lagi." Kaysan mengambil ponselnya, ia menunjukkan foto-foto hasil jepretannya.


"Lihat, wajahmu senang sekali. Ini juga, kita tidak punya malu berciuman di tempat umum." Kaysan tersenyum.


Ya Tuhan, hormon ini membuat moodku naik turun. Kaysan menyentuh pipiku, "Endut jangan ngambekan, karena baba cuma milikmu."


Aku kesal menjadi ibu hamil yang mudah di rayu, "Mas Kaysan cuma milik bubu, janji?" Aku mengangkat jari kelingkingku.


"Janji." Jari kami berdua bertaut, ditemani cahaya rembulan malam. Kaysan menceritakan kegiatannya di sekolah, entah ada yang dikurangi atau ditambahkan. Bagiku kejujuran Kaysan sudah cukup melegakan.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2