
POV author.
Keberadaan Kaysan sudah di terendus oleh banyak orang dan kini banyak pihak yang mempertanyakan 'statusnya' di kerajaan. Desas-desus kembali menggaung dari mulut ke mulut. Intrik internal semakin menggelinjang.
Foto-foto Kaysan tersebar luas dan menjadi konsumsi publik. Sedangkan Ayahanda hanya menanggapinya dengan santai saat awak pewarta sibuk bertanya kepadanya.
"Betul, putraku memang sudah kembali dan memiliki seorang putri. Cucuku bernama Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih Putri Adiguna Pangarep." jelas Ayahanda, menunjukkan senyum bangga.
"Lalu bagaimana dengan status putra Kanjeng Sultan sekarang? Apa ia akan diangkat kembali menjadi putra mahkota dan meneruskan kedudukan Kanjeng Sultan?" tanya salah satu reporter koran harian pagi.
"Seperti yang kalian lihat di media sosial, putraku sedang menikmati masa-masa menjadi seorang ayah. Jadi untuk sekarang tidak perlu diperjelas lagi. Kaysan dan keluarga kecilnya tetap menjadi prioritas utama saya, selaku orangtuanya dan Raja ditanah ini. Saya sudah memaafkan tindakan lancang yang pernah putraku lakukan. Jadi, saya harap tidak ada lagi berita simpang siur yang mempertanyakan gelar dan status putraku di ranah istana. Dia tetap putraku yang patut kalian hormati!" ucap Ayahanda lantang.
Para awak media hanya bisa mengangguk mendengar titah dan ketegasan Ayahanda.
"Lalu kapan Kanjeng Sultan akan mengumumkan dengan resmi kedatangan mereka bertiga?"
"Nanti akan diadakan pesta rakyat untuk memperkenalkan cucu pertama saya ke hadapan publik. Untuk sekarang, nikmati saja dulu foto-foto cucu saya di media sosial orangtuanya."
Berbondong-bondong awak media mencari sosial media milik Rinjani. Hingga notifikasi membuat ponsel Rinjani bergetar terus menerus.
"Apa sih." celetuk Rinjani, ia melihat Instagramnya penuh dengan manusia yang mem-follow akunnya. Banyak netizen yang membanjiri kolom komentarnya. Mengatakan banyak hal yang membuat mood Rinjani up and down.
Ada berita apa memangnya. gumam Rinjani sembari melihat beranda. Ia berdecih saat foto Kaysan banyak beredar di internet.
Makin banyak godaan yang datang jika wajah mas Kaysan sering di ekspos.
Di suatu rumah, emak-emak pecinta berita lokal yang tersiar melalui antena radio, terkesiap mendengar penuturan Kanjeng Sultan.
"Bocah itu emang suka banget bikin kejutan." Bu Rosmini menggeleng-geleng, ia bersiap-siap untuk menemui Rinjani.
Setelah selesai mandi, Bu Rosmini langsung bergegas menuju toko Semar Nusantara untuk membelikan cucunya sepasang gelang emas.
Cucuku harus di dandani sejak dini agar kelakuannya tidak seperti Rinjani saat remaja. Ugal-ugalan, tidak mau berdandan, ditambah sukanya lihat konser metal. gumam Bu Rosmini. Rasanya ia ingin menjitak kepala Rinjani setelah bertemu nanti karena setelah sayembara menari ia bagaikan menghilang seperti ditelan bumi. Bahkan Bu Rosmini terang-terangan mendatangi tempat tongkrongan Rinjani saat masih menjadi karyawannya. Bukan Bu Rosmini jika tidak memiliki akal sehat, setiap malam Minggu janda kaya raya yang memiliki banyak sawah ini mengadakan pengajian sekaligus memohon do'a agar Rinjani tetap sehat dan bahagia dengan Kaysan di manapun keberadaannya.
Bu Rosmini sampai di rumah utama, ia menekan klakson berulang kali. Membuat Parto yang baru saja selesai menghabiskan makan siangnya dibuat kesal dengan ulah Bu Rosmini.
"Siapa? Dan, ada keperluan apa?" tanya Parto sok galak.
"Saya Bu Rosmini, buka pintu gerbangnya!" Bu Rosmini membalasnya tak kalah galak.
"Ada keperluan apa dan mencari siapa!?" tanya Parto lagi.
Bu Rosmini istighfar, "Saya mencari Rinjani, Kaysan, dan putrinya. Cepat buka gerbangnya. Saya tidak sabar!"
"Sudah tua harus banyak-banyak sabar! Jika tidak nanti darah tinggi!" ujar Parto sambil mendorong pintu gerbang.
Bu Rosmini menekan klakson mobil terus menerus. Membuat Parto semakin geram, "Budeg aku budeg." [ Budeg : tuli ]
Parto menutupi telinganya.
Tidak sampai disitu, Bu Rosmini masih menyuruh Parto untuk mengantarnya bertemu Rinjani.
"Datang-datang tidak salam, banyak permintaan. Dasar tobil." [ tobil : anak kadal ] gerutu Parto sambil melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
Bu Rosmini memukul punggung Parto dengan tas jinjingnya.
"Assalamualaikum." ucap Bu Rosmini
__ADS_1
"Waalaikumsalam." balas Parto. Selanjutnya ia terkekeh mendengar gerutuan Bu Rosmini.
Parto menemui Santosa yang sedang menghabiskan waktu istirahatnya.
"Ada yang mencari tuan putri, mas Santosa." ujar Parto.
"Baiklah, biarkan saya yang mengaturnya." jawab Santosa. Ia merapikan kemeja dan rambutnya.
Bu Rosmini terkesima melihat wajah laki-laki muda di depannya.
"Dengan ibu siapa? Dan, ada keperluan apa mencari ndoro ayu Rinjani?" tanya Santosa.
ndoro ayu? panggilan anak begajulan itu naik pangkat sekarang.
"Saya ibu Rosmini, majikan Rinjani. Katakan saja saya datang untuk menemuinya."
"Boleh saya cek barang bawaan ibu Rosmini?"
Bu Rosmini melotot, "Sudah saya bilang, saya mau bertemu Rinjani. Begitu saja di persulit! Lagian kamu bukan suaminya! Mana Kaysan?" tanya Bu Rosmini dengan menggebu-gebu.
Santosa menggeleng, "Gusti pangeran sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang mengecek pabrik gula."
"Panggilkan saja Rinjani kesini!" pinta Bu Rosmini sambil mengibaskan tangannya.
Santosa merasa kalah jika sudah berurusan dengan ibu-ibu. Ia melangkah masuk untuk mencari Rinjani.
Di dalam kamar, Rinjani sedang bersantai sambil berselancar di dunia maya.
"Ya..." sahutnya, "Ada apa?" tanya Rinjani setelah ia membuka pintu kamar.
"Serius?" tanya Rinjani begitu antusias.
Santosa mengangguk, Rinjani segera melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju taman belakang.
"Ibu..." panggil Rinjani dengan merentangkan kedua tangannya.
"Bocah ini sudah jadi ibu-ibu masih saja banyak tingkah." Bu Rosmini membalas pelukan Rinjani. Ia mengusap-usap punggung Rinjani dengan penuh kasih sayang.
"Kangen..."
Rinjani sudah menduga jika hal ini akan terjadi, bisa saja setelah ini teman-temannya yang lain akan menyerbu kediaman Ayahanda.
"Bagaimana kabarmu? Pergi tidak pamitan, pulang-pulang sudah bawa anak. Mana cucuku?" Bu Rosmini celingukan mencari Dalilah.
Rinjani mengandeng tangan Bu Rosmini untuk menuju kamarnya.
"Pak Santosa. Tolong buatin es coklat, dua." pinta Rinjani, Santosa mengangguk patuh.
"Dia ajudan ku, Bu. Kerjaannya mengawasi orang-orang yang mau bertemu denganku, sekaligus bonusnya bisa aku suruh-suruh. Hehehe." Rinjani terkekeh.
Bu Rosmini menjewer telinganya, "Lagakmu seperti tuan rumah."
"Jewer lagi, Bu."
"Cah edan!" Bu Rosmini kembali menjewer telinga Rinjani, ia tak percaya dengan permintaan Rinjani yang malah ketagihan untuk dijewer.
Rinjani semakin terkekeh, "Ini benar-benar Bu Rosmini."
__ADS_1
Sebelum masuk ke kamar, Bu Rosmini diminta untuk membersihkan dirinya di kamar mandi sebelah. Lantas selanjutnya, Rinjani membiarkan Bu Rosmini untuk menemui Dalilah yang sedang terlelap.
"Kamu memang slalu kalah dalam hal apapun, Rinjani. Bahkan, anakmu sangat mirip dengan Kaysan."
Rinjani tertawa remeh, "Begitu ya Bu?" Rinjani memasang wajah sendu.
Bu Rosmini mendekati Rinjani, "Darimana saja kalian? Ibu khawatir waktu Kaysan membuat geger istana. Ibu pikir, kamu dan Kaysan benar-benar akan hilang dan tak akan kembali."
Rinjani menerawang jauh, "Kami tinggal di Australia. Sekalian mengunjungi bapak." jawab Rinjani.
"Herman? Bagaimana kabarnya?" tanya Bu Rosmini penasaran. Baginya Herman adalah laki-laki sialan yang rela menjadikan putrinya tulang punggung.
"Sudah nikah lagi, sekarang aku punya Ibu bule." Bu Rosmini terlihat tegang, ternyata ia ketinggalan banyak berita.
"Mereka tinggal disini, bersamaku. Tapi sudah sibuk sekarang. Mama lagi nyiapin toko untuk membuat bakery and pastry shop. Bu Rosmini harus menjadi langganannya. Kue buatan mama enak." puji Rinjani kepada Laura.
"Nanti kalau sudah buka. Lalu bagaimana denganmu sekarang? Lihatlah, ibu tidak percaya kamu sudah menjadi seorang ibu, nanti jika putrimu ngeyel jangan menjewer telinganya. Tidak baik, jadilah ibu yang penyabar."
Rinjani tergelak, "Memang ibu sudah menjadi ibu penyabar? Bukannya hobi ibu Ros menjewer telingaku jika aku telat masuk kerja." Bu Rosmini mencubit udara, kesal mendengar ocehan Rinjani yang membalikkan fakta tentang dirinya.
Suara pintu diketuk dari luar. Rinjani membukanya.
"Maaf lama ndoro ayu."
Rinjani mengangguk, ia mengambil alih nampan yang diulurkan Santosa.
"Belikan aku burger ditempat biasanya, paket komplit ya pak Santosa."
"Pesan lewat go food boleh ndoro ayu? Saya harus menjaga ndoro ayu disini." ujar Santosa mencari solusi terbaik.
"Tidak perlu khawatir, Bu Rosmini ibu menteri yang baik hati."
Ada maksud lain yang ingin Rinjani ceritakan dengan Bu Rosmini. Hingga Rinjani harus memintanya untuk menunggu di luar rumah. Santosa pasrah, ia harus menuruti perintah ndoro ayu.
"Kaysan tidak cemburu kamu memiliki ajudan seorang laki-laki?" tanya Bu Rosmini, "Dari tatapan matanya untukmu, dia seperti ada sesuatu yang disembunyikannya."
"Bu Rosmini baru melihatnya sekali langsung curiga." bela Rinjani, "Ayo diminum dulu, Bu. Es coklat buatannya enak banget."
Rinjani kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia menengguk es coklat dengan senang.
"Jani..., ada baiknya kamu mencari ajudan seorang wanita. Karena ibu rasa, Kaysan akan marah melihatmu akrab dengan laki-laki lain." ujar Bu Rosmini menasehati.
"Tapi bukan aku yang meminta ajudan itu untuk menjagaku, Bu. Tapi Ayahanda."
"Dan, kamu tidak curiga. Kenapa Ayahanda memberimu ajudan seorang laki-laki, terlebih jika ia seorang jomlo dan sangat menuruti keinginanmu? Laki-laki muda tidak mau menjadi jongos seorang wanita jika ia tidak memiliki maksud lain, kecuali jika memang ia mempunyai maksud tersembunyi. Jani, katakan yang sejujurnya, ada apa ini?"
Rinjani berpikir sejenak, lantas satu persatu kejadian yang di lewati Rinjani beberapa bulan tanpa Kaysan memenuhi otak Bu Rosmini. Bu Rosmini menghela nafas.
"Kamu dan Kaysan bersalah atas tindakan yang kalian lakukan. Semuanya salah! Ingatlah saat kalian sama-sama berjuang untuk hidup bersama. Orang-orang yang mendatangi kalian hanya untuk menggoda dan menganggu hubungan rumah tangga kalian. Jani.., jangan egois. Kamu sudah memiliki segalanya yang tidak pernah kamu nikmati dulu. Bersyukurlah ada Kaysan yang membuatmu bahagia, meskipun kamu harus hidup dalam bayang-bayang kegelisahan. Pikul bersama tanggung jawab kalian sebagai orangtua, dari situlah kamu akan belajar untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Cemburu boleh, tapi jangan sampai membutakan akal sehatmu."
Rinjani termenung... perkataan Bu Rosmini ada benarnya. Ia ingin membalas rasa cemburunya dengan menambah Santosa ditengah-tengah mereka, yang pada akhirnya justru membuat ia tertekan sendiri karena harus gengsi untuk berdekatan dengan Kaysan.
"Rinjani tidak mau memulai duluan, nanti mas Kaysan pikir aku perempuan jablay." sergahnya cepat.
"Lakukan hal sepele dulu kan bisa. Tidak ujug-ujug minta kawin, apa dasarnya kamu sudah pengen dikawini Kaysan?" tanya Bu Rosmini. Rinjani menutup wajahnya dengan bantal sofa. Pipinya merona.
Happy reading ππ
__ADS_1