Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Begitu lebih tepat ]


__ADS_3

POV Kaysan.


Do'aku tak kunjung di jawab Tuhan ; saat aku berharap Rinjani segera memberiku kabar. Aku menunggu dengan gelisah, meski sebenarnya Bunda Sasmita sudah 'berkali-kali' mengirimku pesan jika Rinjani sudah makan, sudah mandi, sudah minum susu dan tentunya sudah cerewet. Sedikit hal sepele yang membuatku tenang. Karena banyak hal sepele lainnya yang membuatku senang.


Dulu, saat aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku memblokir semua nomer milik keluargaku, tapi sekarang justeru merekalah yang membantuku dalam menjaga Rinjani.


Egois, itulah aku dengan segenap jiwa dan raguku untuk Rinjani.


*


Disini sudah pukul delapan malam, yang berarti di sana baru menjelang sore.


Beginikah rasanya menanti pesan dari orang terkasih. Aku muak menjadi pria melankolis.


Ku hubungi Sadewa dan Nakula secara bergantian, hanya telepon untuk Nakula-lah yang diangkat.


Aku • Dimana Rinjani?"


Nakula • Rumah, mas. Ada apa?"


Aku • Rumah! Kamu dimana?"


Nakula • Keluar dengan Sadewa dan bunda.


Aku menahan kesal, jadi Rinjani dirumah sendiri. Dengan Nanang! Tidak bisa di biarkan.


Aku • Sepulang nanti minta Rinjani untuk menghubungiku. Jangan lupa pesanku, Jauhkan Rinjani dari kakak kalian!!!


Aku membanting ponselku. Geram sendiri membayangkan Rinjani dengan Nanang berdua dalam satu rumah.


Keluar dari kamar, aku mendapati Bapak sedang membuat kopi di dapur.


"Rinjani tidak menghubungi Bapak?" tanyaku sambil mengambil cangkir kopi diatas meja.


Bapak malah mengerenyitkan dahi, "Nomer Rinjani sudah lama kobong, Jadi maklum saja dia belum menghubungi kita."


Penjelasan Bapak membuatku mengutuki kebodohanku karena terlalu curiga dan panik memikirkan nasib Rinjani.


"Udah kangen?"


Bapak tertawa seenak dengkulnya. Aku mendengus jengkel, ku ambil bubuk kopi dan menyeduhnya. Bapak sama saja, tak jauh beda dengan putrinya.

__ADS_1


Didepan perapian aku ngobrol dengan Bapak. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu berdua dengan mertuaku. Saat pertama ketemu dulu, Herman dengan sombongnya menantang ku. Dengan dalih pelunasan utang di juragan beras tepatnya sering meminjam uang untuk berjudi, Herman dengan mudah berada di bawah kuasaku, tentunya aku berkuasa karena tujuanku untuk menikahi putrinya. Sejak saat itu Bapak mertuaku memasrahkan putrinya untukku, dengan baik-baik aku menerimanya sebagai istriku. Akupun senang hati, dapat gadis muda perawan lagi.


"Terimakasih sudah mencintai putriku dengan tulus. Dia berhak untuk bahagia."


Bapak menyesap kopi miliknya. Kemudian matanya menengadah menatap langit-langit rumah, "Kadang saya menyesal dulu tidak memperlakukan Rinjani dengan baik. Tapi anak itu..." Bapak menatapku, "Kamu tahu sendiri."


Aku mengangguk, "Anak adalah gambaran lain dari orangtua, itu sudah harga telak."


Tidak ada jawaban. Aku meminum kopi milikku, kemudian asap rokok mengepul memenuhi isi ruangan.


Sudah lama aku tidak merokok, tepatnya sejak Rinjani hamil. Hanya sesekali mencuri waktu di taman belakang untuk merokok. Itupun harus menunggu Rinjani tidur, jika tidak dia akan menolakku untuk berada di dekatnya.


Mendadak aku merindukan istriku dengan segala tingkah lakunya yang tambah absurd saat hamil. Dia meninggalkan satu set lingerie yang pertama kali ia kenakan. Rinjani berkata, "jika mas pengen, mas cukup membayangkan lingerie ini dan tubuh Rinjani."


Bodoh dan konyol, bagaimana bisa dia berpikir lingerie bisa menjadi objek fantasiku. Lalu, si kecil yang berharga ini hanya aku mainkan dengan tanganku sendiri. Itu menggelikan, sumpah!


Aku menahan sebentar asap rokok sebelum aku hembuskan perlahan dengan helaan nafas panjang.


"Apa Laura sudah yakin dengan pilihannya untuk pindah agama, Pak?"


Bapak mengusap wajahnya, ia tampak bingung. "Keenan yang sulit, baginya tragedi yang membuat papanya meninggal membuatnya tidak percaya dengan agama kita. Biarlah, aku tidak memaksakan kehendaknya, karena jika iya, aku sama saja mengajaknya untuk mengkhianati Tuhan-nya."


Aku menepuk pundak Bapak, "Itu sudah keputusan yang tepat. Sebisa mungkin pernikahan kalian diadakan dalam waktu lima bulan ini. Agar kita bisa pulang bersama-sama!"


Aku tertawa kecil, "Bagus, begitu juga boleh!"


Setelah melalui sesi curhat, anak mantu dan Bapak mertua berpisah ke kamar masing-masing.


Aku harus sibuk, agar sejenak bisa melupakan Rinjani dalam fantasiku. Namun, saat kembali memasuki kamar ini, bayang-bayang Rinjani bermain liar di kepalaku.


Tawanya, senyumnya, nakalnya, pelukannya... Aku merinding. Ku usap lenganku dan mengambil ponselku, terlihat Nakula mengirimku pesan jika mau telepon Rinjani. Dia sudah ada di rumah.


Tak mau menunggu lama, aku menelepon Nakula. Bukan, tapi Videocall.


Bagai anak baru gede, aku menunggu dengan cemas. Aku gerogi melihat Rinjani yang berada di dekat Nanang. Aku tahu, jika mereka berdekatan akan banyak hati yang tersakiti. Aku, Rinjani, Nanang dan Anisa, kami berempat akan tersakiti. Bukan, bukan karena aku takut Rinjani berpaling, tapi aku lebih takut jika kisah cinta adikku akan kandas karena aku dan Rinjani. Bagiku Nanang sudah cukup menderita karena ia harus melihat Rinjani dengan orang yang tak asing baginya.


Dulu, waktu kecil. Aku pikir Nanang tidak akan menjadi sainganku, dia menuruni ketampanan Ayahanda, berjiwa baik seperti bunda Sasmita.


Dia benar-benar tampan paras dan hatinya, jelas saja Rinjani jatuh hati pada Nanang. Tapi sayangnya, mereka putus saat yang tepat. Saat aku bisa mengenal Rinjani tanpa salah yang berlebihan terhadap Nanang.


'MAS...'

__ADS_1


Suara itu membuatku terhenyak... Wajah Rinjani terpampang di layar ponselku.


Ia sedang memakai kebaya, rambutnya ia ikat tinggi. Perutnya yang terlihat buncit membuatku merasa bersalah. Disaat-saat akhir masa mengandungnya. Justru aku tidak ada di dekatnya. 'Mungkin' lain kali jika aku ingin membuat anak harus aku hitung perkiraan jadinya dan perkiraan lahirnya, agar tidak kacau seperti ini.


Aku tersenyum dan memulai menerornya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah aku tahan sejak tadi.


Aku • Bubu cantik sedang apa?


Rinjani • Baba sudah makan? Baba belum ngantuk?


Aku • Bapak tadi masak keasinan, jadi aku hanya memakannya sedikit.


Rinjani • Makan lagi yang banyak! Jani tidak mau baba kurus!!!


Sumpah! Suaranya meledak, bahkan aku melihat pekerja butik melirik ke arahnya. Jika bukan orang penting, tak berani pekerja itu tersenyum dan membiarkan Rinjani berdecak kesal dengan badan yang bergoyang-goyang saat pekerja butik mengukur badan Rinjani.


Aku • Tenanglah, nanti baba akan membuat makan malam jika lapar.


Rinjani • Baba, Ayahanda memberiku penjaga di luar rumah, Bubu seperti tahanan tidak bisa jalan-jalan. Baba, Dalilah bosan, izinkan bubu dan Dalilah belanja kebutuhan bayi kita dengan Sadewa besok.


Rinjani menatap Sadewa sekilas dan memberikan tatapan pengharapan. Pasti itu hanya akal-akalan saja. Tidak mungkin aku mengizinkan Rinjani keluar rumah sendiri.


Huh...


Aku • Baik, tidak boleh lama-lama. Tidak boleh merepotkan adik-adikmu.


Rinjani • Terus, Jani harus merepotkan siapa mas? Ayahanda?


Rinjani cemberut dan jengkel mendengar ultimatum dariku. Ayahanda memang sudah memberitahuku bahwa Rinjani akan di kawal dan diawasi ketat oleh abdi dalem dan orang kepercayaannya.


Aku mengalah, akhirnya aku memberikan kesempatan Rinjani untuk keluar rumah tiga hari sekali, kecuali saat ia memang harus keluar rumah untuk periksa kandungan dan jalan-jalan pagi---bertujuan untuk mempermudah proses melahirkan---kata Ibunda begitu.


Seolah dapat melihat keraguanku, Rinjani berkata untuk percaya pada dirinya.


Aku berusaha tersenyum, ku lambaikan tanganku untuknya. Dan berkata selamat malam. Rinjani membalasnya dengan kecupan virtual yang membuat semua orang di sekitarnya terkekeh.


Ku tutup ponselku dan melemparnya ke atas ranjang. Dengan keyakinan penuh aku kembali menuju dapur, aku tidak ingin melanggar janjiku meski jauh dari Rinjani.


Bisa-bisa saat pulang nanti, dia tidak memberiku kecupan mesra, melainkan ia memberiku timbangan.


Istriku memang konyol. Dan, aku mencintainya.

__ADS_1


Happy Reading 💚


__ADS_2