Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Part spesial III


__ADS_3

Bukit harapan itu masih menjulang tinggi dan aku masih berada di dasarnya. Masih berusaha merangkak dan mendaki. Peluh dan lelah aku nikmati dengan berserah diri.


Aku memilih menepi dan berdiam diri. Mas Kaysan justru memilih menikmati hari-hari menjelang penobatannya untuk bermain bersama anak-anak.


Katanya, "Aku akan sibuk... Kita akan sibuk... Anak-anak tetap butuh kita, inilah waktuku untuk bersama mereka sebelum waktuku tersita oleh tanggung jawab yang lebih besar dari tanggung jawabku sebagai seorang ayah."


Terdiam dan menepi justru mengingatkanku pada perjalanan cinta ini. Sesekali aku tersenyum, menutup wajahku malu, bisa-bisanya aku mencintai laki-laki itu.


Laki-laki yang menjadi ayah untuk anak-anakku. Laki-laki yang berjuang untuk menaikkan derajat ku. Laki-laki yang mampu membuatku berubah menjadi seorang wanita anggun.


Bisa-bisanya aku memiliki tekad yang awalnya aku anggap hanya akan melintasinya dan membuatnya menjadi kenangan saja.


Kini semua berbeda.. Segalanya telah berubah menjadi hangat yang aku dekap dalam kalbu.


"Ibunda mau bicara, Mbak."


Ku lihat Nanang juga duduk di pinggir kolam. Pernikahan Nina kemarin cukup membuatku tahu bahwa dokter Ridwan juga paham bahasa Jerman. Dan, kedua laki-laki itu terlibat dalam pembicaraan yang serius setelah turun dari panggung pengantin. Keduanya sama-sama berbicara dengan bahasan Jerman, dan hanya mereka berdua yang tahu.


"Baiklah."


"Nina marahan sama suaminya?"


"Enggak, kenapa?"


"Aku merasa bersalah!"


"Sudahlah. Ikhlaskan."


"Memang begitu akhirnya."


"Sabar ya."


"Hmm..."


Aku tinggalkan Nanang sebelum pembicaraan kami semakin panjang dan melintasi kembali jalur kenangan yang sudah lama tenggelam.


Ku datangi Ibunda yang duduk di kursi roda di pendopo belakang.


Ibunda tersenyum manis padaku.

__ADS_1


"Ketemu mantan lagi ya?" tanya Ibunda, kelakarnya belum juga hilang meski usia sudah senja.


"Bukan mantan, Ibunda. Tapi Om dari anak-anakku." jawabku sembari duduk bersimpuh dihadapan Ibunda.


"Nanang yang tak kunjung menikah, kamu yang sebentar lagi menggantikan Ibunda. Ada banyak hal yang membuat Ibunda penasaran, apa kalian masih bertahan dengan keadaan ini?"


Aku mengangguk, "Kami sama-sama bertahan sampai kapanpun, Ibunda."


"Meski bukan darah yang mengikat kalian, tapi keluarga tetaplah harus bersatu padu. Tapi bukan itu yang mau Ibunda bahas."


Ibunda menghela nafas, sebelum senyumnya berubah menjadi keseriusan.


"Rinjani, jadilah wanita yang lugas tapi tetap teliti dan waspada. Kamu masih muda tentu banyak pihak yang meragukan kinerja mu nanti. Bicarakan apapun persoalan tentang kerajaan dengan suamimu. Kalian berdua harus berkerjasama untuk mencari solusi. Jangan kamu pikul sendiri beban mu ya, Nduk. Banyak orang-orang kepercayaannya Ibunda yang akan membantumu nanti di istana."


Aku hanya menunduk dan mengangguk, tidak ada kalimat yang mampu aku katakan lagi untuk persoalan ini.


Ibunda menepuk pahanya, "Bersandarlah." ucapnya.


Aku ragu untuk melakukan, tapi aku tidak bisa menolak jika Ibunda sudah begitu. Begitu menatapku dengan tatapannya yang sendu.


Aku bersandar di kaki Ibunda. Tangan Ibunda mengelus rambutku pelan.


"Seterang apapun lampu yang kamu nyalakan tidak akan mampu menerangi sisi gelap sudut yang tertutup penghalang begitu juga kehidupan manusia. Sebaik apapun kamu dan Kaysan memimpin nanti tidak akan sanggup membuka mata yang sudah tertutup oleh segala bentuk Angkara. Jadi jangan kaget jika nanti ada banyak hal yang menjadi batu sandungan kalian berdua."


"Akan banyak moderenisasi yang menggerus budaya Jawa, akan banyak perubahan termasuk dalam memimpin sebuah kerajaan. Inilah saatnya yang muda yang bekerja. Ibunda percaya kamu Rinjani. Anak preman yang Ibunda ajak ke sini, menjadi mantuku dan menjadi pengganti ku."


Suara Ibunda berubah menjadi berat, aku mengangkat kepalaku. Terlihat mata Ibunda sudah berkaca-kaca, namun bibirnya tersenyum.


"Sudah waktunya Ibunda istirahat."


Aku menggeleng, "Rinjani masih membutuhkan Ibunda."


"Jadilah Ratu yang berhati seluas samudera. Tapi yang lebih penting adalah jadilah dirimu sendiri yang ceria dan apa adanya. Itu pesan Ibunda sebelum suamimu datang memintamu untuk menemaninya." Ibunda menyeka air mata.


Riuh suara bocah-bocah itu sudah menyita perhatianku dari perasaan sedih karena ucapan Ibunda seperti kalimat perpisahan.


Aku menoleh. Ku lihat mas Kaysan dan anak-anak yang sudah selesai berenang.


Dalilah yang menjadi kesayangan Ibunda berjalan membungkuk di depan Ibunda sebelum mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Eyang Uti kenapa sedih?" tanya Dalilah.


"Tidak apa-apa, tadi bubu hanya menginjak kaki Ibunda yang sakit." jelas Ibunda.


"Bubu gak hati-hati!" cetus Dalilah.


"Maaf, Ibunda tidak sengaja."


"Bubu minta maaf dulu sama Eyang Uti!"


Mas Kaysan yang sudah duduk di sampingku bertanya dengan sorot matanya, begitu juga Suryawijaya yang penasaran dengan Eyang Utinya dan aku yang sama-sama menunjukkan wajah sendu.


Aku mengatupkan kedua tangan di atas kepala, "Sendiko dhawuh Gusti Kanjeng Ratu Juwita Ningrat. Rinjani siap mengabdikan diri untuk rakyat dan meneruskan takhta Ibunda. Semoga semesta merestui Rinjani seperti Ibunda merestui ku sebagai istri dari Gusti Pangeran Kaysan Adiguna Pangarep."


Aku membungkuk untuk mencium punggung kaki Ibunda diiringi air mata yang mengalir membasahi pipi dan kaki Ibunda.


Mas Kaysan mengelus punggungku cukup lama. Dalilah yang tidak tahu kejadian yang sesungguhnya hanya ikut menangis tersedu-sedu di sampingku.


"Baba, kenapa bubu dan eyang Uti!" seru Suryawijaya.


Mas Kaysan menepuk punggungku, "Bangunlah..." ujarnya.


Aku menyeka air mataku sebelum mencium pipi kanan dan kiri Ibunda.


Ku seka air mata Ibunda sebelum kembali duduk bersimpuh dihadapan Ibunda.


Ibunda tersenyum, ditatapnya satu persatu wajah manusia yang duduk bersimpuh dihadapannya.


"Ibunda sudah tidak sabar melihat kalian semua di perkenalkan secara resmi dihadapi seluruh dunia. Ibunda tidak sabar melihat kalian berjuang mempertahankan benteng istana yang sudah berdiri ratusan tahun yang lalu. Selamat berjuang anak-anakku. Berjuanglah tanpa lelah, berjuanglah dengan bekal yang sudah Ibunda bawakan."


Aku dan mas Kaysan mengangguk lalu mengatupkan kedua tangan diatas kepala. Dalilah dan Suryawijaya mengikutinya.


Aku Rinjani Alianda Putri, meski masih banyak batu kerikil yang menyakiti langkah kakiku. Aku percaya, batu-batu itu akan melebur menjadi pasir jika aku sering melewatinya. Begitu juga dengan perjalanan menuju singgasana kerajaan.


Semua sudah aku nikmati selama sepuluh tahun ini. Pahit, manis, satir yang terasa begitu getir sudah aku rasakan dalam dan melekat pada diriku.


Semua sudah ditetapkan kapan penobatan Raja dan Ratu pengganti Ayahanda dan Ibunda.


Kini aku hanya perlu bersiap. Entah bagaimana langkah kakiku nanti, entah bagaimana dunia menilai ku nanti dan entah bagaimana jalan hidupku setelah ini.

__ADS_1


Lahir dan batin, aku hanya perlu menyerahkannya pada Gusti Allah.


...Happy reading ๐Ÿ’š...


__ADS_2