
Semburat jingga menghiasi langit biru saat jam mata kuliah terakhir selesai. Otakku sungguh tidak sanggup menerima pelajaran sejarah yang menarikku pada puluhan hingga ratusan tahun silam. Sungguh otakku meradang, kepalaku pening. Aku ingin lekas mengadu pada Kaysan, kenapa harus jurusan ini yang ia peruntukan untuk ku. Kenapa tidak jurusan pendidikan paud saja, yang lebih seru dan berwarna. Kenapa malah sejarah dan budaya. Ku bawa buku-buku yang tebalnya bukan main, sambil berjalan keluar kelas.
Lorong koridor kampus ini masih terlihat ramai, beberapa mahasiswa masih terlihat bergerombol di sudut ruangan.
Perkenalanku dengan teman-teman baruku tadi berlangsung dengan cepat dan epik, entah kenapa jurusan yang dipilih Kaysan memiliki orang-orang yang terbilang 'lawas' dan pendiam. Apa sejarah membuktikan bahwa mempelajari sesuatu yang bukan dari ranah tahun kelahirannya membuat mereka juga pusing memikirkannya. Aku tergelitik, bahkan yang dibicarakan dosen pengajar ku tadi hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Sungguh berat cobaanku hari ini, lebih asik mempelajari sejarah para mantan.
Buku-buku yang aku pegang adalah buku-buku pilihan Nakula. Tadi setelah berjalan-jalan di perpustakaan. Nakula memilihkan beberapa buku sebagai panduan belajarku. Dan pilihannya adalah buku-buku dengan ketebalan ratusan. Sepertinya aku otw menjadi kutu buku, Tuhan tolong encerkan otakku supaya aku menjadi gadis pintar kebanggaan Kaysan. Ku Amin'i do'aku sendiri sambil menuruni anak tangga.
"Mbak."
Dibawah tangga, Nakula sudah menungguku dengan gaya khasnya. Berwajah datar, dengan tangan yang ia masukkan ke dalam kantong jaketnya.
"Nakula, belum pulang?" tanyaku heran.
"Disuruh mas Kaysan untuk pulang bersama."
"Terus mana Sadewa?"
"Pulang sama pacarnya."
Aku mengangguk, mengikuti langkah Nakula menuju parkiran mobil. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir tak aku pungkiri banyak mata yang melihatku dan Nakula. Entah kenapa aku lebih suka berbicara dengan Sadewa daripada dengan Nakula. Dia seperti Kaysan saat awal pertama dulu, hanya berbicara jika ada maksudnya. Sampai sekarang pun kadang begitu, sepertinya kakak beradik ini memiliki banyak persamaan.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat, apa kamu mau nemenin, La?" tanyaku setelah sampai di mobil kodok berwarna kuning.
"Tidak bisa! Aku sudah menunggu jam pulangmu sejak tadi, aku lelah, Mbak." Nadanya penuh penolakan.
Aku menghela nafas, "Aku juga lelah, adik. Tapi ini perlu dan sangat perlu." Ku pasang wajah manisku meski semua bedak bayi yang ku pakai sudah luntur, "Please, adik." Ku katupkan kedua tanganku sambil mendekap semua buku-bukuku.
Mata Nakula terpejam, sembari menghela nafas kasar ia mengangguk pasrah, "Kemana?"
"Aku sudah lama gak jalan-jalan di Mall, kali ini saja temani aku ke toko buku Gramedia."
"Kenapa gak sama mas Kaysan saja, merepotkan!" Nakula masuk ke dalam mobil dan menghempaskan tubuhnya di atas jok mobil. Ia menstatrer mesin kodok ya perlahan mengepulkan asap pekat. "Apa mobilnya batuk, La?" Aku terkekeh sambil ikut masuk ke dalam mobil.
"Bukan batuk, tapi ngegas!"
"La, kalau gak ikhlas kita pulang aja." kataku sambil menyandarkan punggungku di jok mobil, "Aku gak mungkin pergi dengan mas Kaysan, apalagi ke Mall. Itu rasanya mustahil."
"Kita pulang saja, Ibunda dan Sadewa sudah menunggumu. Lain kali aku temani." Nakula mulai memacu mobil kodoknya keluar dari parkiran kampus.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, hanya ada kebisuan. Hingga rasa kantuk mulai menyergap mataku, berkali-kali aku menguap sambil memejamkan mataku.
"Jangan tidur!" Sergah Nakula cepat.
"Kenapa sih? Aku ngantuk, setiap hari kurang tidur, La."
"Itu urusanmu, jangan tidur di mobilku!"
__ADS_1
"Kenapa? Mas Kaysan saja tidak pernah melarangku untuk tidur di dalam mobil."
"Aku bukan mas Kaysan yang bisa memanjakanmu dalam banyak hal. Aku Nakula, adik iparmu."
Aku menggeliat, mengusap wajahku berkali-kali. "Baiklah, maaf merepotkanmu, adik iparku. Besok aku akan bawa motor saja, jadi kamu dan Sadewa tidak perlu menunggu jam pulangku."
Nakula terdiam, tidak menjawab sepatah katapun.
Mobil kodok yang tidak bisa dibawa dengan kecepatan penuh ini membuatku semakin dilanda jenuh.
Berdekatan dengan Nakula seperti berdekatan dengan orang asing, Astaga. Aku lebih butuh Sadewa, setidaknya dia lebih terbuka denganku, "Mintalah izin dengan mas Kaysan, jika sudah diizinkan besok aku temani kamu ke toko buku."
"Tidak, terimakasih. Besok aku bisa sendiri."
"Terserah, Mbak."
Aku melengos, Nakula benar-benar seperti Kaysan, menyebalkan. Bahkan Kaysan sama sekali tidak menghubungiku. Ponselku sepi dengan notifikasi.
*
Setibanya di pelataran parkir, Ibunda dan Sadewa sudah menungguku. Senyumnya mengembang seperti biasanya.
"Terimakasih, adik iparku." kataku sambil membereskan buku-buku yang aku bawa.
"Mbak, jangan dimasukkan hati perkataanku tadi." Nakula menatapku dengan mata nanarnya.
Aku keluar dari mobil.
"Ibunda..." Panggilku sambil tergesa-gesa berjalan ke arah Ibunda yang merentangkan kedua tangannya, "Ibunda..."
"Anakku sudah pulang, pasti lelah."
Tangan ibunda sudah memelukku, mengelus lembut seperti memberi energi positif untuk tubuhku.
"Pusing Ibunda, pelajarannya sulit sekali." Aduku pada Ibunda, sedangkan Ibunda hanya mengulum senyum.
"Mbak, gak diapa-apain kan sama Nakula?" tanya Sadewa sambil melihatku dari atas hingga bawah.
"Memang berani Nakula? Bicara aja jarang." sanggahku setelah Ibunda menyudahi pelukannya.
"Sudah-sudah kalian istirahat dulu, dan kamu Rinjani. Mandilah dan dandan yang cantik, suamimu sebentar lagi pulang kerja."
"Ibunda tahu jam kerja mas Kaysan?"
"Tentu, seorang ibu tahu semua tentang anak-anaknya."
"Ibunda juga tahu kalau mas Kaysan mempunyai pendamping gaib?"
__ADS_1
Mata Juwita Ningrat tiba-tiba membulat, ia menatap Sadewa dan aku secara bergantian. Ku telisik matanya, ku cari celah kebohongan yang tersimpan. Naas, mata itu tiba-tiba terpejam, "Mandilah, tidak baik seorang suami akan pulang ke rumah tapi istrinya terlihat kucel dan bau acem." Juwita Ningrat mengapit hidungnya, berpura-pura jika bau ketiakku sudah seperti bau terasi.
"Ibunda bercanda." Cicitnya sambil mencium pipiku, "Kalian juga mandi, Ayahanda akan bertemu dengan kalian." Titahnya pada si kembar, mereka berdua mengiyakan lantas pergi begitu saja tanpa mengajakku.
*
Selesai mandi dan berias diri, aku merebahkan tubuhku diatas ranjang. Sehari tidak berguling-guling di kasur, punggungku rasanya pegal. Lelah, letih, lapar dicampur menjadi satu. Kalau bukan di rumah dengan aturan yang harus aku taati, aku sudah membuat mie rebus dengan topping telur mata sapi dan irisan cabe rawit, ditambah kecap manis abcd.
"Sepertinya enak." Gerutuku pelan.
"Apanya yang enak, Rinjani?"
Aku menoleh, Kaysan pulang dengan menenteng tas kerjanya. Wajahnya terlihat carut marut, aku bergegas menghampiri Kaysan dan mencium punggung tangannya.
"Sudah pulang mas?"
"Kalau belum juga mas tidak ada disini, Rinjani."
Aku menepuk jidatku dan pura-pura terkejut. "Ku pikir mas lupa jalan pulang."
"Apanya yang enak, Rinjani?" tanyanya lagi, sambil duduk di sofa.
"Boleh gak sih mas, Jani masak mie rebus, Jani lapar."
"Enak loh mas, dikasih telur mata sapi, dikasih cabe rawit, ditambah kecap, liur Rinjani sudah menetes-netes." Lanjutku lagi sambil mengusap leherku.
"Boleh, telurnya dua. Bikinkan kopi hitam juga untukku."
Aku bersorak girang, "Aku siapkan baju gantinya dulu, mas mandi ya. Setelah selesai, nanti kita makan berdua, bisa?"
"Bisa."
Selesai menyiapkan baju ganti Kaysan, aku berjalan ke arah dapur. Home tour yang aku lakukan dengan Mbok Darmi seminggu ini, sudah membuatku hafal untuk ke arah mana.
Setibanya di dapur aku bertemu Nakula. Ia sibuk berdiri di depan kompor.
"Lagi apa, La?"
"Masak."
"Masak apa?"
"Air."
"Biar mateng."
"Gak lucu!"
__ADS_1
Nakula sewot amat, kenapa sih. Author cubit loh, gemesss. ๐