Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 107. [ Love on the jet plane ]


__ADS_3

Semua sibuk membereskan barang bawaan, karena tepat jam sebelas siang nanti kami akan mengudara di atas samudera Hindia.


"Oleh-oleh buat keluarga dirumah udah kalian siapkan belum?" teriakku kepada trio we ware bare. Serempak mereka menjawab sudah.


Tadinya aku hanya membawa satu koper berisi pakaian, kini setelah satu Minggu berada di negeri kangguru, koperku bertambah menjadi satu lagi. Isinya bukan pakaian, melainkan banyaknya makanan dan oleh-oleh khas Benua Australia untuk teman-teman kuliah Nina, dan cucunya 'Mbah Atmoe.


"Mas, Bapak dimana?" tanyaku.


"Di halaman belakang." jawab Kaysan yang tak kalah sibuknya merapikan rambutnya, "Jani menemui Bapak sebentar." Aku menyeret kedua koperku keluar kamar, "Gak usah rapi-rapi mas, kan nanti pakai topi dan masker." Aku melongok ke dalam kamar sambil tersenyum jenaka, "Mau diapain aja rambut itu hanya akan rapi jika Rinjani yang menyisirnya."


"Sok romantis!" Sadewa ikut melongok ke dalam kamar, "Daritadi belum selesai-selesai?"


"Dia mau terlihat muda, sudah biarin saja."


Di halaman belakang ku dapati seorang laki-laki tersenyum kaku kepadaku, "Kemarilah." Herman merentangkan kedua tangannya, aku mendekatinya dan berhambur memeluknya, "Bapak tidak ikut pulang?" tanyaku, "Bapak harus tetap disini sampai waktunya tiba." Di pelukannya mataku sudah berkaca-kaca.


"Pulang yuk pak, Jani disana sendirian."


"Kamu kuat, Nduk." Bapak mengelus rambutku, "Bapak dulu senang bukan main saat tahu laki-laki yang menjadi suamimu datang menemui Bapak. Pikiran Bapak hanya tertuju pada satu sisi, kamu bahagia dengan apa yang kamu nikmati sekarang, karena Bapak tidak bisa memberimu kebahagiaan dan pendidikan tinggi." Bapak melepas pelukan dan memandangiku dengan kasian, seakan matanya tersirat dosa yang pernah ia lakukan, "Jujurlah di setiap langkahmu, Hormati dan berbakti kepada Raja dan Suamimu. Tabah dan tegar dalam menghadapi kenyataan, satu lagi. Bapak sedang belajar berdo'a dan do'a Bapak slalu menyertaimu." Ku mencium punggung tangan Bapak, "Bapak harus janji untuk kembali, nanti Rinjani buatkan cucu yang banyak."


Bapak tersenyum lebar, "Apapun yang terjadi, tetaplah kuat. Jika tidak, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Kamu anak bapak yang ndablek tentu tahu bagaimana cara bertindak."


Aku mengangguk, "Bapak cari istri bule, biar ada yang menemani. Sendiri tidak asik."


Bapak memegang bahuku, "Datanglah kesini saat musim dingin, kamu bisa melihat salju." Senyum hangat menghiasi wajahnya.

__ADS_1


*


Untuk kali pertama aku mengudara dengan Kaysan, apa dia akan setenang Nakula saat menghadapi ketegangan yang aku rasakan. Bukan apa-apa, bahkan Kaysan sudah berlagak seperti orang yang tak aku kenali. Dia sudah memakai topi, masker dan kacamata. Telinganya juga ia tutupi dengan headphone.


Kami tiba di Bandara udara Melbourne. Bapak hanya mengantarku sampai di pintu masuk, berkali-kali ia mewanti-wanti Kaysan untuk menjagaku dengan baik, bukan hanya Kaysan saja. Tapi Nanang dan adik-adiknya tak luput dari wejangan bapak untuk menjagaku selayaknya aku ini memang sangat istimewa.


Selesai berpamitan dengan Bapak yang di hiasi uraian air mata. Kami berlima pergi ke gate yang tertera pada boarding pass untuk menunggu penerbangan, hingga waktunya take off tiba Kaysan tetap diam.


Aku duduk dengan Kaysan, sedangkan si kembar dan Nanang duduk berjarak tiga bangku dari tempat kami bergeming.


Ku tatap pemandangan di luar jendela saat deru mesin itu berdenging di telingaku, 'selamat tinggal Australia dengan segala kejujuran dan kepahitan yang ada', bagiku liburan kali ini hanyalah sebuah kejujuran Kaysan semata, bukan bulan madu ataupun menghabiskan waktu bersama.


Pesawat sudah mengudara di atas awan, berkali-kali aku curi pandang dengan Kaysan. Ia hanya melirik ku dengan ekor matanya. Ku beranikan melepas headphonenya, "Bisa kita bicara?"


"Apa sayang?" tangannya terulur merapikan rambutku, "Tujuh jam hanya duduk dan terombang-ambing di udara, apa mas tidak bosan jika hanya diam?"


Aku sedikit menganggat tubuhku dan berbisik di telinga Kaysan, "Temani Jani ke toilet, ayo."


Mata Kaysan mendelik, ku balas mengedipkan sebelah mataku.


Kaysan menghela nafas, dia melepas sabuk pengaman dan beranjak berdiri. Sebenarnya aku hanya ingin mengujinya, apa dia mau menemaniku seperti Nakula tempo lalu, ku ikuti langkahnya menyusuri kabin dan menuju toilet.


Kami tiba di toilet, mataku mengedar mengamati sekeliling. Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang tertidur, ada yang membaca majalah ataupun melihat film dari layar mini yang tersedia di setiap bangku penumpang.


Ku dorong Kaysan hingga kami berdua berada di dalam toilet. "Apa yang kamu lakukan Rinjani?" Kaysan melepas maskernya. "Hanya mau melihatmu wajahmu saja mas, karena dari tadi yang aku lihat hanya matamu." Aku cekikikan sambil melepas topinya.

__ADS_1


Toilet ini cukup luas karena kami menggunakan penerbangan dengan pesawat kelas VIP. "Apa yang kamu lakukan bisa membuat pramugari curiga, Rinjani." Nasihat Kaysan yang aku acuhkan. "Sepertinya lebih asik di toilet ya mas, kamu tadi seperti patung." kataku sambil duduk di atas wastafel, "Kamu mau apa? Lebih baik kita keluar." Kaysan mendekatiku, "Waktu tujuh jam diatas pesawat jika hanya sekedar duduk saja itu sudah biasa, apa mas tidak mau bikin kenangan terindah diatas awan?"


"Maksud kamu apa Rinjani? Kamu sepertinya mabuk udara."


Aku menahan lengan Kaysan saat ia sudah ingin membuka pintu toilet. "Toilet ini kedap suara, jika mas mau mengerang tidak ada yang mendengar dari luar."


"Rinjani!"


"Rinjani hanya ingin memiliki kenangan indah dengan mas Kaysan dimana saja." Aku menangkup rahang Kaysan dengan kedua tanganku, "Nanti jika Rinjani rindu, Rinjani bisa mengingat indah wajah mas Kaysan saat bersama ku."


"Tidak baik melakukan di toilet!"


"Yasudah cium saja, tidak perlu itu."


Kaysan memegang daguku, "Kamu memang berani." Bibirnya yang menghitam akibat dari banyaknya cerutu yang ia sesapi mulai mencium bibirku dengan lembut.


Gelombang turbulensi membuat tubuh kami berdua terhuyung. Kaysan menyudahi ciumannya, "Lebih baik kita kembali ke kursi." Kaysan membasuh wajahnya di wastafel,


"Mas. Terimakasih." kataku sambil tersenyum getir, "Kembalilah dulu dan jangan membuat orang lain curiga." Aku mengangguk, kepalaku melongok keluar. Dirasa situasi aman, aku melenggang ke arah tempat duduk, terlihat Sadewa melihatku sambil menggeleng. "Habis meninggalkan jejak-jejak pembuatan keponakan, Mbak." Celetuknya saat aku melintasi bangkunya. Aku memilih tak menggubrisnya, guncangan mulai terasa berkurang saat Kaysan datang. Dibalik masker yang ia kenakan, aku tahu ia sedang mengukir senyum.


Waktu diatas pesawat hanya kami habiskan dengan melihat film dan saling berpegangan tangan. Ada rasa bahagia yang terukir di dalam hati, namun juga ada rasa getir saat nantinya aku dan Kaysan akan membawa Nanang pulang.


Perjalanan panjang menuju rumah rasanya terasa singkat, kami sudah tiba di Bandara saat senja masih menghiasi hamparan lautan. Indah tak terperikan seperti saat pertama kalinya aku dan Kaysan menghabiskan waktu di pantai kala itu.


Kami bergerak turun menuju gedung bandara untuk mengambil koper dan bergegas pulang. Barang bawaan yang over load membuat kamu berlima terbagi menjadi dua bagian. Aku dan Kaysan menggunakan mobil jemputan, sedangkan trio we ware bare menggunakan jasa taksi online.

__ADS_1


Kedua mobil melesat cepat menuju kediaman keluarga Adiguna Pangarep. Sedari tadi aku memilih diam, karena aku sedang melakukan ancang-ancang untuk mengutarakan sayembara yang ingin aku lakukan.


Like , favorit dan Rahayu kersaning Gusti ๐Ÿ™


__ADS_2