Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 39. [ Pintu Doraemon ]


__ADS_3

Aku kira dunia yang bermasalah, ternyata masalahnya adalah cara memandang dunia.


*


"Siapa yang menggantungmu seperti jemuran, Rinjani?"


"Kamu dong mas, siapa lagi kekasihku."


Ku peluk erat tubuhnya dari belakang, kami pulang bersama setelah acara selesai. Kini aku dan Kaysan berada di atas kuda besi miliknya, KLX hitam. "Bukankah tadi kamu bilang butuh kepastian? Dua minggu lagi aku nikahi kamu."


Aku melepas pelukan itu, tapi aku juga takut terjengkang. Akhirnya aku pegang pundaknya.


"Kenapa dilepas, peluk lagi!" Benarkan jika bertemu dia banyak maunya.


"Kejutan apa lagi yang akan mas lakukan. Rinjani masih mau kerja."


Sepertinya akan berdebat di pinggir jalan-lagi. Benar saja, dia menghentikan motornya di bahu jalan. Celaka! Setiap bertemu jika tidak berselisih paham ya berbeda jalan. Dan, kenapa slalu tengah malam di tempat sepi dan remang-remang.


"Berhentilah bekerja, dua minggu lagi aku nikahin kamu." Di ulang lagi kata-katanya.


"Dua minggu lagi? Ini terlalu cepat."


"Tidak baik menunda sesuatu yang baik."


"Why..., it's so crazy dude."


"Gunakan waktu dua minggu untuk menyiapkan semuanya."


"Mas!"


"Rinjani!"


Aku menggeretakan kakiku diatas aspal. Mengerang sambil mengacak-acak rambutku seperti orang frustasi.


"Menikah butuh seorang wali, sedangkan aku tidak punya wali. Bapak pergi!" Solusi terbaik saat ini, ada gunanya juga bapak pergi.


Kaysan tersenyum penuh arti, "Bapakmu sedang ikut dengan orangku. Jika waktu sudah siap bapak akan kembali kesini menjadi walimu."


"Selain kamu penguntit ternyata kamu juga penculik mas." Aku memijat keningku, pening.


"Biarkan orangku mengajari bapakmu banyak hal, aku pastikan jika bapak pulang sudah tak seperti dulu lagi."


"Aku pikir bapak pergi meninggalkanku sendirian disini. Aku pikir sudah tidak ada yang peduli denganku."


"Rinjani, ada banyak hal yang perlu di korbankan untuk sebuah perjalanan. Berkorbanlah sedikit saja untuk hubungan kita." Kaysan merangkul pundakku, sedangkan aku menyembunyikan wajahku di lututku yang ku tekuk. Ya, kita sedang duduk di atas trotoar jalan.


"Kalau aku tidak kerja, aku tidak punya pemasukan mas. Jangan buru-buru nikah, aku masih ingin kerja." Aku mendongak, memberanikan menatap mata Kaysan dengan mata nanarku.

__ADS_1


Dia membalasku dengan mata sedih, "Aku hanya ingin memenuhi janjimu terhadapku, Rinjani. Karena janji yang sudah kau ucapkan akan dituntut dipadang masyar."


Aku menghela nafas, menenangkan diriku sebentar. Kenapa Kaysan malah membuatku merasa seperti aku yang menginginkan pernikahan. Ini, 'kan aneh, aku memang memberinya titah untuk menemukan ibu, aku memang bersedia menikah dengannya tapi tidak dengan waktu secepat ini juga.


"Katakan apa yang membuatmu yakin untuk menikahiku, katakan lagi apa alasanmu? Apa kamu mencintaiku? Apa kamu sudah diburu waktu?"


"Apa bahasa tubuhku kurang meyakinkanmu, apa yang aku lakukan untukmu masih belum menunjukkan tanda-tanda aku mencintaimu?"


"Cium aku." kataku menguji nafsu dunianya.


"Tidak, aku kan menciummu saat statusku sudah berganti menjadi suamimu."


"Ayo pulang. Suaraku sudah habis untuk berdebat denganmu, Tuan Raja..." Aku membungkuk.


"Jadi apa kamu bersedia menikah denganku?"


Kaysan menahan tanganku, ku lihat matanya berbinar-binar.


"Jika kita menikah, mas sudah tahu resiko besarnya?"


"Apapun itu, ku lakukan untukmu gadis kecilku."


Aku mendengus kesal, "Suka banget bilang aku gadis kecil atau jangan-jangan pacar mas dulu tua-tua ya. Jadi ngebet banget nikah sama yang muda?"


Kaysan mencubit hidungku, "Memang kamu yang paling muda dan berbeda. Besok aku temani pamit dengan ibu Rosmini, kamu siap?"


"Kamu masih boleh bertemu dengan ibu Rosmini dan Nina setelah menikah nanti." Kaysan menepuk bahuku lalu naik ke motornya, "Ayo."


Diatas motor yang melaju sedang, kami masih berdebat tentang masa depan.


"Berapa mantan kekasih, mas?"


"Rahasia."


"Gak asik, gak terbuka."


"Tidak jauh beda dengan mantan kekasihmu, Rinjani."


"Hanya Nurmala Sari?"


"Ya."


Kenapa tiba-tiba aku sebal mendengar nama Nurmala Sari.


"Kalian masih berhubungan baik?"


"Mala menjadi dokter keluarga kami. Besok dia juga akan menjadi dokter pribadimu."

__ADS_1


Aku terpelongo. Bukan ini harusnya jawaban yang aku mau, jadi mereka masih bertemu secara intens. Dih, kenapa hatiku jadi sebal.


"Apa dia juga tahu mas akan menikahku?"


"Hmm, pernikahan kita akan dilakukan secara rahasia, Rinjani. Hanya kalangan tertentu saja yang tahu."


"Kenapa? Mas malu menikahi orang biasa sepertiku?"


"Tidak."


"Lalu?" Ku tunggu jawaban yang akan mengacaukan lagi hari-hariku selama dua minggu kedepan.


"Belajarlah yang baik menjadi istri dan anggota kerajaan. Jika sudah saatnya naik tahta, kamu akan diperkenalkan menjadi pendampingku sekaligus Ratu."


"Jadi status kita disembunyikan?"


"Bisa dibilang begitu, bisa dibilang tidak."


"Ah pusing..." Aku sudah menduga jika bukan hal gampang menjejaki dunia kerajaan. Pasti akan banyak peraturan tertulis dan tidak tertulis nanti. Sedangkan aku adalah gadis yang anti dengan aturan.


"Sudah sampai, turunlah. Besok mas jemput jam delapan."


Sambil turun dari motor, bibirku mengerucut, "Jika mas punya keinginan bisa menemuiku setiap hari. Jika tidak, kirim pesan saja tidak pernah." Akhirnya aku mengadu tentang keluh kesahku dua minggu yang lalu.


"Apa kamu setuju dengan persyaratan tadi?"


"Jawab dulu pertanyaan tadi, baru tanya lagi." Yes, kena kamu! batinku.


"Sudah pandai meniruku, hmm?" Dia cubit lagi hidungku, "Karena aku sedang menyelesaikan tugas-tugasku agar bisa meluangkan dua minggu bersamamu."


Kalah lagi berdebat dengan laki-laki matang ini, rasanya apa yang dia ucapkan selalu saja benar. Dan aku yang masih kurang matang ini hanya bisa mengangguk saja, pasrah. Agar tidak berdebat lagi hingga pagi menjelang.


"Pulang sana, aku mau tidur." usirku sambil mengembalikan helmnya.


"Bagaimana dengan syarat tadi?" Kaysan agak mengeraskan suaranya.


"Besok kita bicara lagi. Pulang sana, hati-hati." Ku cium bibirku dengan telapak tangan dan meniup ke arahnya.


"Tangkap dong." kataku sambil tersenyum jenaka.


Dengan konyolnya dia menangkap ciuman angin itu. Dan menyimpannya di kantung celananya, "Dasar..."


Kaysan masih menunggu sampai aku menutup pintu. Matanya memastikan jika aku tidak keluyuran malam atau salah masuk ke dalam pintu, yang ku harap adalah pintu Doraemon, yang bisa mengajakku ke ruang waktu dan menjauhi Kaysan. Laki-laki yang sudah bernafsu menikahiku.


Dua minggu lagi saat semua dalam hidupku akan berubah. Siapkan aku menikah, atau ini hanyalah buah janjiku karena Kaysan telah menemukan ibu. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.


Klik favorit dan like ya reader 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2