Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nakula IV ]


__ADS_3

...Acara resepsi selesai....


Aku diminta untuk membersihkan diri dan istirahat.


Hari ini benar-benar melelahkan tapi aku bahagia. Aku sudah bisa membawa seorang gadis cantik masuk ke dalam kamarku.


Kamarku sudah di tata sedemikian rupa, tentunya banyak bunga melati dan mawar putih yang berserakan di lantai dan di atas ranjang.


Hmm..., aku sebenarnya gugup. Setengah mati, aku berusaha setenang mungkin. Tapi, masih saja telapak tanganku mengeluarkan keringat dingin.


Aku duduk di tepi ranjang, membiarkan kak Rahma melihat-lihat keadaan kamar barunya.


"Kakak suka?" tanyaku.


Kak Rahma mengangguk, "Kakak suka. Tapi apa boleh kakak membawa meja kerja kakak yang ada di rumah ayah Bram?"


"Boleh. Kata bunda, besok ada furniture baru yang mau di tata ulang di dalam kamar." jelasku.


Kak Rahma kembali mengangguk, "Sayang, kakiku capek."


Aku melongo. Terus kalau capek mau diapain, di pijit? OMG...


Aku tersenyum kikuk dan berusaha menetralkan detak jantungku yang tidak karuan.


"Kakak mau aku... pijit?" tanyaku ragu-ragu.


Ini sudah jam sepuluh malam. Sedangkan kami berdua masih menggunakan baju kebaya. Bahkan tusuk konde yang berada di sanggul rambut kak Rahma belum di lepas.


Kak Rahma kembali mengangguk. Astaga. Gusti... kenapa aku gugup sekali.


Aku menarik kursi dan menyuruh kak Rahma untuk duduk.


"Aku bantu lepasin tusuk kondenya dulu, kak."


"Iya sayang." jawab kak Rahma sambil tersenyum.


Dengan hati-hati aku menarik satu per tusuk konde dari kepala kak Rahma. Melepas melati ronce yang menghiasi sanggul kak Rahma dan melepas semua printilan lainnya yang menghiasi tubuh kak Rahma.


Kini kak Rahma tinggal menggunakan baju kebaya dan kain jarik.


"Meskipun kamu lebih muda, tidak baik kalau kamu sampai bersimpuh di hadapanku hanya untuk memijit kakiku. Kakak pindah ke ranjang boleh?"


Rasanya aku ingin berteriak. Apa maksudnya kak Rahma sudah memberi kode keras untuk memulainya.


Aku mengangguk, "Kata bunda, kita harus mandi dulu kak." ucapku, bermaksud mengulur waktu.


Terus terngiang dalam ingatanku. Satu persatu ajaran kebaikan di atas ranjang yang bunda ujarkan.


"Nakula mau mandi? Kakak siapkan dulu gantinya. Ehm..., tapi dimana baju-bajunya?" tanya kak Rahma.


Sebelum kak Rahma mengambil baju gantiku. Aku sudah terbirit-birit dengan langkah tertatih membuka pintu almari. Aku mengambil sendiri baju gantiku.

__ADS_1


Bisa-bisa kak Rahma tahu ****** ***** dan boxer milikku. Itu akan membuatku semakin malu.


"Sayang. Tugas istri melayani suami." Kak Rahma mengelus punggungku.


Duh Gusti... sentuhan macam apa ini. Jari-jari lentik kak Rahma menari di punggungku. Tubuhku merinding.


"Lebih baik kakak dulu yang mandi. Pakai air hangat, kalau kakak mau pakai shower juga ada. Maaf, kak. Aku tidak suka berendam, jadi tidak ada bath up." jelasku untuk menghilangkan kegugupan yang terlihat kentara.


Kak Rahma melepas keris yang terselip di punggungku. Selanjutnya melepas stagen yang menjadi pelindung ikatan jarik yang menutupi keperjakaanku.


"Kakak..."


"Apa sih, kakak cuma bantu lepasin." tepis kak Rahma yang masih asyik menggulung stagen yang mulai mengendor dari pinggangku.


"Kakak, bagaimana jika kita menundanya sampai aku siap. A-ku, a-ku... belum paham cara melakukannya."


Kak Rahma terkikik, "Kamu ketakutan?"


"Ya... aku masih awam dengan hal itu." jawabku lugas.


Kak Rahma kembali tertawa, "Kamu memang gemesin." Kak Rahma mencubit pipiku.


"Kakak aku gerogi." Kak Rahma slalu mengajariku untuk jujur dengan semua yang aku rasakan. Baiklah, aku akan jujur saja dengan apa yang aku rasakan sekarang. Daripada, aku harus mati kutu.


"Sudah aku bilang, sayang. Aku tidak memaksa." ujar kak Rahma, masih setia melepas semua pakaianku.


"Kata mas Kay, aku harus memulainya dengan ciuman. Kakak... mau mencobanya?" Kak Rahma tersenyum dan mengangguk.


Kak Rahma mengacak-acak rambutku gemas, "Kamu memang pinter mencari alasan. Kakak mandi dulu, tadi bunda sudah bilang jika pakaianku sudah di tata di almari milikmu."


Aku mengangguk mantap. Sedangkan kak Rahma mencari baju gantinya di almari yang sama, di sebelahku. Sesekali pinggulnya menyenggol pinggulku.


"Kakak kenapa sih?"


"Sayang tidak mau mandi berdua?"


Mandi berdua? Pikiranku terlalu abstrak untuk melakukan itu.


"Hmm... kakak kan cewek, pasti mandinya lama. Sedangkan aku, mandinya seperti kucing. Tidak tahan air."


Kak Rahma tersenyum, "Oke deh. Kakak mau luluran dan keramas. Jadi kalau lama jangan marah." jelas kak Rahma yang sudah membawa handuk kimono ditangannya.


Semakin lama semakin bagus. Aku bisa mencari mas Kaysan dulu.


Aku mengantar kak Rahma sampai ke depan pintu kamar mandi, "Pakai air hangat, biar gak masuk angin." kataku.


"Iya... Nakula yakin tidak ikut?"


Aku menggeleng cepat. Keberanian ku hanya mengelus bahu kak Rahma. Setelah itu aku menutup pintu kamar mandi.


Aku bernafas lega sejenak. Kemudian dengan buru-buru aku keluar dari kamar.

__ADS_1


"Mas..." panggilku saat tahu mas Kaysan baru saja keluar dari kamarnya.


Mas Kaysan melihatku dari atas ke bawah, "Dimana celana mu?" tanyanya.


Aku menunduk, sambil menyengir kuda. Benar saja, aku hanya memakai boxer kotak-kotak.


"Kak Rahma baru mandi. Ehm..., apa perlu kita mandi berdua saat malam pertama?" tanyaku yang membuat Mbak Jani tertawa.


Mas Kaysan melambai padanya. Dengan senang hati Mbak Jani memeluk mas Kaysan dari belakang.


"Dulu waktu malam pertama, mas Kaysan sudah memandikan aku."


Mas Kaysan tersenyum ke arah Mbak Jani, "Jangan dibahas, nanti kita pengen."


Mbak Jani terkekeh kecil. Mas Kaysan menggenggam tangannya.


"Nakula kabur, dia tidak tahu harus bagaimana memulainya." ujar mas Kaysan yang semakin membuat Mbak Jani terkekeh.


"Penganten baru malah keluyuran. Sana kembali ke kamarmu." usir Mbak Jani.


"Tapi mas. Aku... aku gugup. Aku harus memulainya dengan apa? Tanganku bahkan tidak berani menyentuhnya."


Mas Kaysan dan Mbak Jani saling bertatapan. Dan, kejadian yang ada di depanku sungguh luar biasa mengejutkan.


Mas Kaysan memutar tubuh Mbak Jani. Dan, menghimpitnya di tembok. Dengan tangan yang mencengkeram kedua lengan Mbak Jani. Mas Kaysan mencium bibir Mbak Jani dengan mesra.


Hah... aku ingin mengumpat, tapi aku harus melihatnya. Mataku kini benar-benar ternodai dengan adegan ciuman yang mulai tidak bisa mereka kondisikan.


Mas Kaysan mencium kening Mbak Jani.


Sedangkan Mbak Jani menyembunyikan wajahnya di dada mas Kaysan.


"Sudah kita beri contoh. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Rahma mungkin sudah selesai mandi." kata mas Kaysan, masih memeluk tubuh Mbak Jani.


"Tapi... bagaimana setelahnya?"


Mbak Jani dengan lantang berkata, "Mas, adikmu benar-benar lucu. Masa kawin aja harus diajari." seru Mbak Jani.


Mas Kaysan terkekeh. Lantas melepas Mbak Jani dan membisikkan sesuatu ke telingaku.


Tubuhku seketika merinding dan menegang.


"A-pa... harus begitu?" tanyaku terbata-bata.


"Pemanasan, pemasukan, dan klimaks."


Mas Kaysan tersenyum. Dan, lagi-lagi mencium kening Mbak Jani. "Kita teruskan dikamar." ucapnya.


Hah... kedua orang itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sedangkan tubuhku masih terpaku disini, bimbang untuk mencobanya sendiri.


Happy reading πŸ’šπŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2