Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 33. [ Mangga manisku ]


__ADS_3

Tepat jam tujuh pagi. Mobilnya sudah berhenti tepat di depan kontrakan. Banyak mata tetangga yang memperhatikannya, aku yakin mereka sudah berprasangka buruk tentangku. Tentang siapa laki-laki yang membawa mobil dan menjemputku sepagi ini.


Semalam ia seperti biasa tidak banyak mengucap kata, tapi sorot matanya aku tahu. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi aku tak ingin banyak menguliknya. Semalam juga aku memintanya untuk memakai masker wajah dan topi. Tapi sayangnya dia malah memakai kupluk.


"Semalaman mas tidur, 'kan?" tanyaku curiga, siapa tahu dia hanya ingin mengajak ku ke taman lagi terus numpang tidur seperti waktu itu. Jika aku ingat-ingat sapu ijuk itu tidur lebih dari dua jam, kakiku sampai kram menahan kepalanya. Bahkan hal memalukan juga terjadi, Kaysan terbangun karena mendengar suara perut ku yang keroncongan.


Dia sama sekali tak membuka matanya, tapi telinganya mendekat ke perutku. Mendengar baik-baik demo para cacingku. Dia tersenyum, "Lapar ya." Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Pipiku merah, siapa yang tidak lapar coba duduk di bangku taman menunggu sapu ijuk itu terbangun dari rindu yang tidak bisa diaturnya. Menyebalkan.


"Tenang, Jani. Aku tidur kok." Dia tersenyum sambil menggandeng tanganku.


Dia membuka pintu mobil untuk ku, "Mas, jangan seperti ini. Aku bisa buka sendiri pintunya." Aku menahan tangannya, "Jangan perlakuanku seperti seorang putri."


"Tidak apa-apa, santai saja jangan kaku seperti kanebo kering." Eh buset dia juga bisa bercanda ya, "Mas gak lucu." Aku menepuk bahunya.


"Terimakasih mas, tapi besok-besok Jani buka sendiri pintunya."


Mobil melaju perlahan, bahkan Kaysan dengan santunnya membuka kaca mobil dan menganggukkan kepalanya di hadapan para tetangga yang bingung melihatnya. Sorot matanya seperti menduga-duga bahwa mereka seperti mengenal laki-laki yang menjemputku.


Keluar dari jalanan desa, mobil Kaysan melaju dijalan raya.


"Jani sudah sarapan belum?" tanyanya sambil fokus melihat jalanan.


"Belum mas, tadi Jani hanya membereskan rumah dan mandi."


"Baik, kita cari sarapan dulu. Kamu juga terlihat pucat. Jani tidak sakit, 'kan?"


Ternyata dia diam-diam melihatku, aku jadi ingin geer, Eh. "Gak papa mas, hanya mau haid jadi lagi moody dan lemas."


"Jani sudah izin Bu Rosmini untuk hari ini?"


"Sudah mas, emang kita mau kemana?"


"Nanti kamu tahu, bersabarlah sebentar."


Aku mengangguk, perutku memang sudah terasa kram sejak tadi malam. Bahkan sudah aku tempel dua koyo di punggung bawah dan dibawah pusarku.


Mobil melesat dijalanan kota, aku tidak tahu mau ke arah mana tujuan mobil ini.


"Sarapan apa saja, Rinjani mau, 'kan?"


Aku mengangguk, "Apa saja boleh mas. Sarapan pake mas juga boleh." kataku sambil terkekeh.


"Aku tidak bisa dimakan Rinjani." katanya dengan nada datar.


"Tapi mas sudah matang seperti mangga, manis." Aku tersenyum lebar.


"Jadi selama ini kamu menganggapku seperti mangga?"


Aku mengangguk, Kaysan mencubit hidungku sekilas. "Kamu sedang merayuku, Rinjani."


Pipiku mengembang, bukannya dia yang tergoda malah aku sekarang yang tergoda dengan senyumannya.


"Hentikan senyumanmu itu mas, menyebalkan." Aku melengos.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Nanti kalau mangganya mau aku makan gimana. Kan repot..." kataku sambil membuang muka.

__ADS_1


"Coba saja kalau berani."


Eh maksudnya apa coba, maksudnya dia minta aku menciumnya gitu. Wow wow, bisa kena ultimatum Nina tujuh hari tujuh malam aku.


"Gak mas, hanya bercanda kok." kataku serius.


"Tidak bercanda juga boleh."


Loh, dahiku semakin mengernyitkan.


"Mas jangan gitu. Mangga mas memang manis. Tapi aku gak mau seperti bebek."


Aku menutup bibirku dengan telapak tangan. Menyembunyikan dari tatapan mata Kaysan.


"Singkirkan tanganmu." pintanya dengan nada pelan namun sekaligus mengintimidasi.


Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku.


"Singkirkan tanganmu atau aku sendiri yang akan menyingkirkannya!"


Mataku menajam. Oh Tuhan, pria matang ini memang jika sudah berkehendak hamba mana bisa menolak. Aku melepas telapak tanganku, dengan kepala yang menunduk.


Kaysan memegang daguku dan menaikkan tundukan kepalaku, "Jangan menggodaku!"


Kepalanya berangsur mendekatiku, jantungku sudah berdetak tak karuan. Takut dia akan berubah menjadi bebek yang siap menyosor bibirku.


Aku memejamkan mataku, menunggu hal itu terjadi. Tapi dia malah menjentikkan jarinya di dahiku.


"Aww... mas!" Aku mengusap dahiku, dia terkekeh.


"Buang jauh-jauh pikiran kotormu, Rinjani. Aku tidak akan mencium bibirmu sebelum kita menikah."


"Kamu lucu..."


"Gak!"


"Kamu lucu, Jani. Lihat sini."


"Gak!"


Kaysan terkekeh, baru kali ini aku mendengarnya tertawa setelah sekian lama.


"Mas, hentikan tawamu."


"Hahaha, kenapa Rinjani? Aku sedang senang."


Dia mencengkeram erat kemudi, tawanya hingga membuat sudut matanya berair.


"Mas sudah! Tawa mas seperti meledek ku." ucapku dengan nada yang memelas. Aku melihatnya begitu senang tak terperikan.


"Nanti kamu merindukan tawaku Jani. Aku jarang tertawa." katanya sambil mengurai nada suaranya.


"Terserah mas saja." Aku mengerucutkan bibirku.


"Jangan seperti itu, Rinjani. Kamu seperti bebek."


"Mas..."

__ADS_1


"Hahaha, sudah sampai. Ayo kita sarapan dulu, Rinjani. Tertawa membuat perutku lapar lagi."


Mobil berhenti dirumah makan bakmi Jawa. Kami berdua keluar dari mobil, Kaysan berjalan menuju meja pemesanan. Pegawai kedai rumah makan yang sudah beruban itu membungkuk ke arah Kaysan.


"Gusti, tumben mriki enjing." Kaysan menganggat tangannya, pegawai kedai itu mengangguk dan membungkukkan badannya.


"Buatkan saya 2 pesanan yang sama seperti biasanya." titah kaysan yang diangguki pegawai kedai.


"Ayo..." ajak Kaysan sambil menggenggam tanganku. Langkah kakiku mengikuti langkahnya yang lebar, "Mas... pelan-pelan dong." Terpogoh-pogoh aku melebarkan langkah kakiku.


"Jika mas mengajak ku berlari aku ikuti, tapi jika mas mengajak ku tergesa-gesa aku mengalah." kataku sambil berhenti.


"Kenapa?" Dia berhenti sambil menatapku heran.


"Karena cinta yang tergesa-gesa akan merubah jalan ceritanya."


"Aku hanya ingin segera duduk denganmu dipelaminan."


Aku terkekeh, "Duduk di bangku makan kali mas. Dasar..."


Ku cubit lengannya. Dia tersenyum.


"Aku memang menunggumu, Rinjani."


"Aku tahu mas, ayo kita duduk di bangku makan dulu. Setelah kenyang baru memikirkan bangku pelaminan." kataku sambil mendaratkan bokongku di kursi. Diikuti Kaysan yang duduk disampingku.


Kami berada di pendopo kayu lawasan, tempat ini terlihat sangat indah dengan rambatan dedaunan yang sengaja di buat sedemikian indah.


Tak berapa lama pesanan Kaysan datang. Bakmi Jawa rebus dengan asap yang masih mengepul panas.


"Monggo, sekecaaken." (silahkan, dinikmati)


Pegawai kedai mengacungkan jempolnya sambil menunjuk dua piring yang ia bawa. Kaysan mengangguk, "Terimakasih." katanya sambil menaruh satu piring di depanku , "Masih panas. Suruh cacingmu untuk sabar."


"Cacing sabar ya. Kamu juga harus sabar mas." kataku.


"Sabar untuk apa, Jani?" tanyanya.


"Sabar menungguku."


"Tidak, sebentar lagi kamu jadi milik ku."


Belum makan bakminya aku sudah tersedak.


"Maksudnya apa mas, apa ibu sudah ketemu? Mas tadi malam juga bilang kalau hari ini mas mau mengajakku bertemu dengan ibu." kataku mengebu-gebu. Rasanya tidak sabar untuk bertemu Lastriku.


"Makan dulu, setelah ini baru aku antar kamu ke tempat ibumu."


"Mas, bagaimana ibu?"


"Jani, makan dulu. Kamu terlihat tambah pucat jika belum makan."


"Tapi mas..."


Kaysan menaruh jari telunjuknya didepan mulutku, "Makan dulu."


*

__ADS_1


Jangan lupa like ya, kasih vote juga boleh. Terimakasih atas dukungannya πŸ™πŸ’š


__ADS_2