Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 130. [ Tamu agung ]


__ADS_3

Di bangsal kencana. Iring-iringan abdi dalem menyambut datangnya tamu agung. Mataku benar-benar membulat. Kedatangan Ayahanda berserta anggota keluarga dan para petinggi istana lainnya membuatku benar-benar ingin dikejar anjing galak.


Kaysan, benar-benar terlihat gagah. Ia menggunakan baju adat yang tak pernah sekalipun aku melihatnya. Parasnya begitu rupawan. Pun, Nakula dan Sadewa mereka tampak lebih terlihat dewasa. Nanang apalagi, senyumnya sungguh menawan. Aku benar-benar harus mematikan 'rasa' dalam jiwaku jika harus menari di hadapan mereka.


Suara gamelan Jawa mengalun merdu, di iringi suara sinden yang bernyanyi tembang Jawa. Suaranya begitu mendayu-dayu, memikat siapa saja untuk turut khidmat menikmati keindahan suara, dan terbuai suasana.


Bulu halusku meremang, untuk kali pertama aku benar-benar menjadi seorang penari yang disaksikan langsung para pengunjung istana dan tamu agung.


Ini sebuah tantangan sekaligus tuntutan.


Kakiku mulai melangkah dengan anggun, mengikuti ritmis suara gamelan. Tanganku terangkat, menjentik membuat gerakan memutar. Pinggulku sesekali bergoyang, dengan selendang yang aku seblakan ke belakang. Lirikan mataku terkadang mencuri perhatian Kaysan. Tak jarang senyum kami sama-sama menular. Gerakan akhir adalah duduk deku, gerakan melipat kedua bagian kaki ke dalam dengan tangan yang mengatup untuk menunjukkan rasa hormat.


Ritmis suara gamelan mulai melambat, di akhiri dengan bunyi gong menandakan bahwa usai sudah tarian yang kami berempat bawakan.


Masih di hadapan Ayahanda beserta keluarga lainnya. Aku hanya menunduk malu, malu jika aku melakukan kesalahan dalam menari, karena sejatinya aku sedikit lupa pakem-pakem dalam menari apalagi tarian ini adalah tarian bersama. Tentu aku bukanlah orang paling luwes diantara penari lainnya.


Bahuku di tepuk Mbok Ningsih, "Maju dipanggil Sultan Agung."


"Saya?" Aku menunjuk dadaku. Mbok Ningsih mengangguk. Dengan laku dhodhok, aku mulai mendekati Ayahanda. [ laku dhodhok artinya berjalan dengan jongkok ]


Tanganku mengatup, "Sendiko dhawuh, Gusti."


Ayahanda tersenyum, "Disaksikan semua pengunjung istana dan para petinggi kerajaan. Ananda Rinjani Alianda Putri, akan aku utus untuk berduel dengan Raden Ayu Nurmala Sari dari istana Tirtodiningratan, lima hari setelah hari ini. Datanglah dan menjadi saksi, siapa gadis yang sanggup mendampingi putraku, Pangeran Kaysan Adiguna Pangarep!" titah Ayahanda dibayar tunai oleh ketukan palu dari hakim jaksa.


Gemuruh isu mulai terdengar. Banyak mata saling melempar pandang, banyak mulut saling bertanya, siapa aku sebenarnya. Kenapa dipilih dan berani menerima sayembara Ayahanda.


Kaysan beranjak, dengan terang-terangan menolak ide Ayahanda. Seorang Patih istana membawa Kaysan menjauhi kerumunan. Kaysan kehilangan wibawanya dihadapan para petinggi dan para pengunjung istana.

__ADS_1


Desas desus semakin gencar terdengar, hingga Ayahanda memberi titah untuk membubarkan para pengunjung.


Sedangkan aku disini, duduk bersimpuh seperti terkena panah Nagapasa, ribuan naga mencabik-cabik ragaku hingga akhirnya aku membungkuk dihadapan Ayahanda.


"Tresno uriping sukma, mboten saged ditampik lan disuwun." [ Cinta hidup di jiwa, tidak bisa ditepis dan diminta. ]


Geger... para pewarta sibuk mengejarku tatkala ungkapan cinta yang aku katakan.


Khalayak umum benar-benar terkejut dengan kehadiran ku. Aku yang dianggap hanya seorang penari, dipandang sebelah mata karena mencintai seorang pangeran. Kini, konflik internal dan eksternal benar-benar terjadi.


Aku tak akan tumbang, saat ragaku masih mampu berdiri, "Saya mencintai Gusti Pangeran Haryo Kaysan, sudah sejak lama." kataku mantap sambil tersenyum.


Para pewarta sibuk bertanya dan merekam wawancara dadakan yang diadakan di depan bangsal kencana.


"Apakah Gusti Pangeran Haryo Kaysan mengetahui anda mencintainya? Karena awak media dan sumber istana tak pernah menyebut jika GPH Kaysan memiliki kekasih setelah putus cinta dengan Raden Ayu Nurmala Sari yang akan menjadi rival anda sayembara nanti."


Beberapa prajurit meminta para pewarta untuk membubarkan diri, sedangkan aku di ungsikan ke tempat yang aman. Mbok Ningsih menggeleng, "Setiti lan Ngati-ati."


[ Setiti artinya memperhatikan segala hal. Jangan menyepelekan hal yang terlihat remeh. Ngati-ati berarti berhati-hati dalam semua hal, semua pekerjaan harus dipikir dengan tenang tidak boleh tergesa-gesa.ย ]


"Inggih." [ iya ]


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku. Belum reda ketakutanku saat menari tadi, kini aku masih di hadapkan oleh ketakutan lainnya.


Berduel dengan Nurmala Sari agaknya menjadi momentum paling fenomenal dan mengundang perhatian orang. Bisa jadi gadis-gadis yang mendambakan Kaysan dulu juga ikut hadir dalam sayembara nanti.


"Nak, hidup memang sebuah pilihan dan pilihanmu memang sudah tepat mengatakan kejujuran tentang perasaanmu. Gunakan ketakutanmu untuk energi ekstra, karena besok bukan hal yang mudah untuk melangkah. Karena namamu akan dikenang sebagai seorang penari yang merebutkan hati pangeran. Bukan seorang istri yang mempertahankan kedudukan!"

__ADS_1


Dadaku sesak, tak tanggung-tanggung semesta memberiku ujian bertubi-tubi dalam satu waktu yang sama.


Mbok Ningsih mengelus pundakku berkali-kali saat aku mulai terisak pelan. "Darmi berpesan untuk menjagamu."


Aku menyeka air mataku, "Mbok Darmi?" tanyaku gagap.


Mbok Ningsih mengangguk, beliau membantuku melepas hiasan kepala dan pernak-pernik saat aku menari tadi.


"Mandi dan istirahat. Tidak perlu ikut sembah bekti dan membuat sesaji. Diluar sedang banyak pihak yang mencarimu."


Aku menahan lengan Mbok Ningsih,


"Rinjani butuh teman."


"Ada prajurit yang menjagamu diluar, disini aman." Mbok Ningsih tersenyum, "Suamimu tidak apa-apa, nanti akan ada pihak yang meluruskan." jelasnya lagi menenangkan. Aku mengangguk.


Ku habiskan hari ini dengan terdiam sepi. Entah esok pagi.


*


Halaman depan media cetak koran terpampang jelas wajah dan namaku. Tagline yang aku baca sangat memancing pembaca untuk semakin penasaran dengan diriku.


Rinjani Alianda Putri, mahasiswa jurusan ilmu budaya dan sejarah dari universitas negeri terkemuka. Mengatakan dengan gamblang telah mencintai seorang Pangeran, penerus takhta kerajaan, Gusti Pangeran Haryo Kaysan. Akankah, seorang penari, bisa menduduki singgasana kerajaan. Ataukah cintanya akan terhalang restu Baginda Raja? Dibenarkan kabar burung yang beredar jika GPH Kaysan telah mengkonfirmasi menjalin hubungan cinta dengan gadis berusia 20 tahun. Kabar ini sangat mengejutkan. Jika ditelisik lebih baik, kejadian ini mengingatkan kita pada beberapa tahun silam. Akankah sejarah terulang kembali, mengingat foto-foto Rinjani di media sosial adalah gadis pecinta musik metal.


Aku melipat kembali koran yang menjadi hiburanku di dalam kamar. Pagi ini, keadaan benar-benar berubah. Kaysan mengakui bahwa dirinya juga memiliki hubungan denganku. Lalu, bagaimana dengan Nurmala Sari? Akankah ia datang dan berduel denganku, atau ia memilih mengalah karena cintanya dulu sudah kandas, dan membiarkan aku dan Kaysan mengarungi bahtera cinta kami yang berada di musim panas.


Happy Reading ๐Ÿ’š๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2