
Kami sempat berdebat sebentar sebelum kemudian tatapan Nindy beralih padaku. Ia menatapku tajam dengan mata sendunya.
"Tidak perlu dipaksakan. Aku tahu kekuranganku!" katanya lirih.
"Saya tahu kekuranganmu, saya tahu! Saya juga tidak bisa memaksakan diri untuk mencintaimu. Tapi izinkan saya untuk meminta maaf atas penolakan yang saya lakukan. Maafkan saya yang telah memberi harapan yang besar terhadapmu. Saya minta maaf Raden Ayu Nindy."
Saya membungkuk dihadapan Raden Ayu Nindy.
Nindy menyentuh bahu saya, "Raden Mas Saleh Samudera Adinoto Salahuddin Rumi. Tidak pantas kamu membungkuk di hadapanku seperti itu. Bangunlah!" katanya.
Saya menghela nafas, dengan kepala yang masih menunduk saya mengutarakan maksud saya hari ini di siang hari yang mendung.
"Saya akan pulang ke tanah kelahiran saya untuk sementara waktu."
Niatan saya sudah bulat. Saya memang harus kembali ke rumah Ayahanda untuk membicarakan banyak hal dan memenangkan diri.
Saya ingin keadaan kembali tenang.
Hati saya tenang, hati Nindy tenang. Ndoro ayu Rinjani tidak marah. Terlebih Nina tidak perlu memikirkan saya.
"Janjimu sudah harga mati!" kata Nindy tegas.
Saya mengangguk.
"Saya akan kembali lagi jika memungkinkan." kataku sambil mendongakkan kepala.
"Saya butuh waktu, kamu juga."
Nindy menggeleng, "Ketertarikan ku padamu mungkin hanya karena tekanan usia yang menuntut ku untuk segera menikah kedua kalinya. Tapi, aku pastikan
jika kamu membuka hatimu. Aku masih ada disini dengan rasa yang sama."
Nindy tersenyum mengakhiri pembicaraannya.
Saya mengangguk, "Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi paling tidak saya masih bisa mendengar kabarmu dari GPH Kaysan. Jaga dirimu baik-baik Raden Ayu Nindy."
Kembali lagi membungkuk hormat di hadapannya.
Nindy tidak menjawab apapun, namun langkahnya terdengar menjauhi saya.
Setelah pembicaraan yang tak ada ujungnya itu selesai. Saya harus meminta izin kepada GPH Kaysan.
Paling tidak saat saya meninggalkannya, GPH sedang tidak sibuk mengurus pabrik ataupun pekerja istana yang mengharuskan saya terus berada di belakangnya.
Saya berjalan menuju kamar GPH Kaysan. Di sana pasti terdengar suara gelak tawa Raden Ajeng Dalilah dan Suryawijaya yang menangis karena ulah kakaknya.
Saya bahagia melihatnya, meski sempat tersemat rasa salah karena pernah ingin menggoda ndoro ayu Rinjani waktu itu.
Saya ketuk pintunya, tak lama pintu itu terbuka lebar. Bukan GPH Kaysan yang membukanya, tapi ndoro ayu Rinjani.
"Ada apa?" tanyanya bersungut-sungut.
"Saya mencari suami ndoro ayu." jawab
__ADS_1
saya jujur.
"Mas Kaysan baru mandi. Tunggu saja di ruang kerjanya." jelas ndoro ayu.
"Bisa saya bicara dengan ndoro ayu. Ini sangat penting."
"Bicara soal apa? Nina?" tanyanya curiga.
Saya menggeleng, "Bicara soal kita."
"Wow... edan! Kita... kita..." sergah ndoro ayu Rinjani.
Saya tersenyum tipis, "Saya dulu sempat mengganggumu saat hamil Dalilah, ndoro ayu. Saya minta maaf sudah lancang."
"BASI! Aku udah tahu semuanya!"
Saya heran, apa ibu-ibu hamil itu galak? Sulit sekali mengajaknya berbicara dengan normal.
"Saya mau pulang ke Cirebon. Jadi maafkan dulu kesalahan saya."
"Enak banget setelah bikin masalah terus pergi. Selesaiin dulu masalahmu dengan Nina! Dia gak mau kesini karena tidak enak sama Mbak Nindy! Sana kerumahnya, jelaskan baik-baik kalau kemarin kamu khilaf!"
Saya mengangguk, "Saya memang mau ke rumahnya besok sekalian pergi ke Bandara. Jadi saya ingin meminta izin dulu dengan GPH kaysan dan ndoro ayu Rinjani. Sekalian saya mau pamit."
Ndoro ayu Rinjani terdengar berdecak kesal.
"Kalau kamu pergi siapa yang jagain suamiku?"
Tapi saya juga butuh ketenangan untuk menemukan jalan keluar.
"Saya hanya sebentar ndoro ayu. Saya hanya ingin menjenguk orangtua saya selagi pabrik tidak operasi dan Gusti pangeran hanya akan ke istana. Jadi, ndoro ayu bisa tenang." jelas saya yang tidak menyenangkan hati ndoro ayu Rinjani.
Ndoro ayu Rinjani masuk ke dalam kamarnya, terdengar suara rengekan ndoro ayu Rinjani kepada suaminya. Sedangkan saya tidak bisa kemana-mana sebelum mendapatkan izin.
"Harusnya kamu tadi bicara dulu denganku sebelum dengan istriku, Sam."
kata GPH Kaysan dengan gusar.
"Saya harus mendapat izin dua-duanya Gusti. Karena saya juga bekerja untuk ndoro ayu Rinjani." jelas saya tenang.
"Baiklah-baiklah..." GPH Kaysan merangkul bahu saya. Mengajak saya untuk menjauhi kamarnya.
Tiba di pendopo belakang, saya dan GPH Kaysan terlibat dalam pembicaraan alot.
Saya membungkuk di hadapannya, "Saya akan kembali ke sini Gusti, saya akan bersumpah untuk itu." jelas saya.
"Pulanglah ke istanamu, ayahmu mungkin butuh bantuanmu, Sam. Kamu layak meneruskan takhta kerajaan. Aku nantikan saat kita berdua bisa menjadi Raja suatu hari nanti."
Gusti pangeran Haryo Kaysan tersenyum, "Aku hanya bercanda. Istriku bisa aku urus. Jangan khawatir, atau memang kamu tidak mau jauh-jauh dengannya?" goda GPH Kaysan.
Saya menggeleng sambil tersenyum.
"Lihatlah. Bisa-bisanya kamu tersenyum dihadapan suami wanita yang kamu kagumi!
__ADS_1
Saya mengangguk, "Saya hanya jujur, Gusti pangeran. Saya mohon izin untuk kembali sebentar ke tanah kelahiran saya. Semoga setelah saya pergi keadaan kembali seperti semula. Saya, Nindy, Nina dan Nanang tidak terlibat cinta segiempat yang memusingkan. Saya pamit."
GPH Kaysan menepuk-nepuk punggung saya.
"Saya akan kehilangan seseorang yang mau memakan masakan istriku. Tapi aku pun akan belajar menerimanya. Seperti dirimu yang ikhlas menerima semuanya. Kembalilah kesini jika kamu menginginkannya. Nindy, adikku akan aku didik sebagai adik yang lemah gemulai.
Saya mengangguk, "Terimakasih Gusti pangeran, saya terima dengan senang izin untuk kembali ke istana saya. Kelak, kita akan di pertemuan di singgasana kerajaan di waktu yang akan datang."
Saya dan GPH Kaysan sama-sama membungkuk hormat.
Tibalah saya harus pergi keluar dari rumah ini. Rumah yang memberi saya kesempatan untuk mengabdi dan belajar menjadi Ningrat yang taat dan patuh.
Kini saatnya saya untuk menemui Nina sebelum saya pergi ke Bandara. Saya keluar membawa hati yang terkena sebilah parang.
Bukan keluarga Sultan Agung Adiguna Pangarep yang melepas saya dengan senang. Saya diantar langsung oleh GPH Kaysan dan Nindy ke rumah Nina.
Tiba di rumah Nina. Dirinya bingung dengan kehadiran kami bertiga.
Nindy yang merasa ditakuti oleh Nina akhirnya menjelaskan secara rinci mengenai kedatangan kami bertiga.
"Datang saja ke rumah lagi. Om Santosa mau pulang ke rumahnya. Bisa dalam waktu yang singkat atau lama..."
Nina melongo, lalu menatap saya.
"Beneran? Jadi Om gak ngejar-ngejar aku lagi?"
Saya menggeleng, "Maaf saya kemarin tergesa-gesa. Saya harus semedi dulu untuk menenangkan pikiran dan hati saya. Saya harap, lima tahun lagi pangeran Nanang benar-benar akan menikahi mu. Atau kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa datang kerajaan saya di Cirebon."
Nina menggeleng, "Aku sudah bilang kan, Om. Nikah atau enggak sama Nanang atau tetep tidak mau nikah sama Om. Karena aku lebih baik mencintai daripada dicintai." Helaan nafas terdengar kasar.
"Lima tahun bukan perjalanan singkat, Om. Bisa jadi diwaktu yang berlalu itu. Rasa yang aku miliki untuk Nanang sudah pergi. Aku gak tahu rencana Allah untuk jodohku, yang bisa aku lakukan adalah berdo'a agar Om Santosa, Mbak Nindy, dan Nanang bisa mendapatkan yang terbaik."
Nina tersenyum.
Di rasa masalah sudah beres. Saya membungkuk di hadapan Nina.
"Kalau begitu kabulkan permintaan saya yang terakhir."
Nina terlihat menatap GPH Kaysan meminta persetujuan.
"Turuti saja." ujar GPH Kaysan.
"Apa?" tanya Nina.
"Antar saya ke Bandara."
Nina mengangguk, "Ayo... Aku juga mau lihat Bandara baru kayak gimana."
Jujur, saya mengakui. Banyak pengalaman manis dan pahit dalam perjalanan hidup saya di sini. Tapi saya tahu, kedua hal itu sama-sama berharganya untuk saya pribadi.
...Tamat....
...next part spesial....
__ADS_1