
Pagi hari sebelum kita kembali ke kota, aku dan Kaysan menyempatkan diri untuk mampir ke hutan Pinus. Kata Kaysan, kabut, pohon dan sinar matahari yang menyusup melalui celah-celah ranting adalah kombinasi sempurna untuk menikmati ciptaan Sang Maha Esa. Menikmati diorama alam yang indah, dengan sentuhan desiran angin yang berhembus pelan.
Jika Kaysan sedang menikmati cahaya matahari yang hangat menerpa wajahnya. Dari sudut ini aku menikmati keindahan Adam yang bernama Kaysan Adiguna Pangarep.
Dia seperti tidak punya lelah meski semalam sudah bergulat denganku dengan banyak gaya baru. Oh! Astaga, bahkan lututku rasanya masih lemas.
Disini, di bangku bambu yang ditata bersusun tiga, aku duduk sambil melamunkan film India, dua sejoli yang berlari diantara pepohonan, disertai hujan dan setangkup mawar ditangan Kaysan. Kami berlarian, bermain kejar-kejaran dan akhirnya Kaysan menangkapku, berlutut dihadapanku, dan membuka kotak bludru berwarna merah dan menyematkan cincin di jari manisku.
Cincin? Ku lihat jari jemariku, belum tersemat cincin apapun disini. Ku lihat Kaysan, lalu ku lihat jari jemariku lagi.
Aku menghela nafas panjang, pernikahan kami sah dimata agama dan hukum. Jadi ini tidak semata-mata hanya permainan rumah-rumahan atau permainan diatas ranjang. Tapi kenapa Kaysan tak menyematkan cincin satupun dijariku, apa Kaysan lupa. Tapi kemarin saat akad nikah, Kaysan memberiku sebuah perhiasan.
Kulihat Kaysan mulai berjalan mendekatiku, seulas senyum menghiasi wajahnya. Manis seperti gulali.
"Kenapa melamun?" Kaysan duduk disampingku, memegang tanganku. Mataku membulat bagaimana jika ada orang yang melihatnya, "Jangan seperti ini, nanti rahasia terbongkar percuma." kataku sambil menarik paksa tanganku.
"Kenapa melamun?" tanyanya lagi, masih memegang tanganku dengan eratnya.
"Sedang membayangkan film India."
"Nanti kita lihat film india dirumah, sekarang ayo kita pulang ke rumah. Ibunda sudah menunggu kita."
"Ibunda?"
"Ya, Ibunda sudah rindu denganmu."
"Ibunda tidak rindu dengan mas?"
"Tidak." Tapi ia tersenyum, "Ibunda sudah bosan rindu denganku, Jani. Ibunda sekarang menanti anak perempuannya."
Wajahku bersemu, namun ada hal yang membuatku menekuk wajahku, "Apa Ibunda tahu kita menunda memiliki anak? Apa Ibunda tidak keberatan jika cucunya masih di proses dua tahun lagi? Mas, Jani gakmau disebut anak mantu yang kurang ajar."
"Cukuplah kamu menjadi istri yang baik dan menurut pada suami. Masalah anak kita pikirkan setelah dua tahun lagi. Kamu percayakan, Tuhan akan mempercayakan keturunan saat kita sudah siap."
"Mas..., bagaimana kalau belum ada dua tahun Jani sudah hamil? Kan kita, ehm... kita..." Aku tersipu, hidungku sudah kembang kempis, pipiku sudah mengembang seperti adonan donat. Kaysan apa lagi, sudah tersenyum bukan main, "Bukankah tadi malam sudah ikut terbuang dengan tissue basah yang kamu berikan."
"Hehe, sudah yuk mas. Pulang."
Ia mengulum senyum, "Nanti malam adik-adik mas akan datang. Bersikaplah sewajarnya."
"Bagaimana rasanya memiliki adik banyak mas?"
Sambil masih bertukar tanya, kami berjalan menuju parkiran mobil. Terlihat beberapa kendaraan bermotor sudah memadati area parkiran. Kaysan dengan cepat-cepat melepas genggaman tangannya. Lalu menutup kepalanya dengan tudung jaket. Aku mengerti dengan posisi kami. Tak mengapa, aku yang masih merasakan nyeri di sekujur tubuhku, hanya bisa berjalan sambil sesekali memegang lututku.
__ADS_1
Di dalam mobil, kami berdua sama-sama merasakan lelah. Bahkan perjalanan menuju kota membutuhkan waktu dua jam. Sepanjang perjalanan menuju rumah aku masih bertanya banyak hal tentang keluarga Kaysan. Banyak hal yang menurutku sedikit janggal.
"Apa adik-adik mas, selain Indy tahu kita sudah menikah?"
"Sudah."
"Jadi mereka juga menyimpan rahasia yang sama seperti kita, termasuk penghulu kemarin?"
"Iya."
"Apa mereka bisa menjadi adik-adikku juga dan temanku dirumah?"
"Indy bisa menjadi temanmu, tidak untuk yang lain!" Rahang Kaysan mengeras, tangannya mencengkram stir mobil erat-erat.
"Kenapa?"
"Adikku sudah dewasa. Aku tidak mau kamu berdekatan dengan laki-laki lain. Kamu tahu batasannya?"
"Ya, Rinjani bisa menjaga diri."
Akhirnya aku memilih untuk melihat pemandangan diluar jendela, membiarkan Kaysan fokus mengemudi.
Suara dari radio itu membuatku tersenyum saat lagu Tiara Andini - Miliki aku mengalun dengan merdunya.
Bergemuruh di hati sulit terucap
Bila kau ada sedikit terlepas
Walau hanya sekedar berbincang
Tolonglah waktu... beri ruang sejenak
Biar bibir ini bisa mengucap
Miliki aku semampumu, sebanyak waktu yang kau punya.
Aku kan biarkan diri jatuh dipeluk mu....,
Tak mudah membungkam hati yang kasmaran
Tercemar sudah raga karna cinta
Tolonglah waktu... jalinkanlah sejenak terpuas diri mereguk cinta
__ADS_1
Tanpa terasa aku terbawa suasana saat PDKT dengan laki-laki didekatku. Kini, laki-laki itu sudah menanam benih cinta di hatiku. Cinta yang sederhana, meski tak pernah terucap dari bibirnya.
*
Sesampainya di rumah, tepat di pelataran parkir. Sudah terlihat mobil Indy berwarna tosca sudah terparkir rapi berjajar dengan mobil lainnya.
Terlihat juga Ibunda dan Indy berdiri menunggu kami. Kedua sudut bibirnya ditarik ke atas, tangannya sudah melambai-lambai tidak sabar. Sungguh gembira sekali jika aku lihat dari ekspresi wajah mereka.
"Turunlah, mas masih ada perlu." titah Kaysan.
"Mas, mau kemana? Kenapa gak turun dulu, mas gak lelah?" Mataku menatap curiga.
"Mas harus ke bandara, tidak lama."
Aku mengangguk, mengulurkan tanganku.
Ku cium punggung tangannya, "Mas, hati-hati. Jangan lama-lama. Nanti Jani rindu."
"Iya, hanya sebentar. Istirahatlah." Aku keluar dari mobil, setelah Kaysan mencium keningku.
Dengan malu-malu, aku mendekati Ibunda dan Indy. Ibu-beranak ini, kenapa wajah mereka berdua seperti ingin mengintrogasiku dengan banyak pertanyaan.
"Ibunda." Ku cium punggung tangannya, sesaat setelah itu Ibunda menepuk bahuku berkali-kali, "Selamat anakku, selamat."
"Selamat untuk apa Ibunda? Jani tidak ulangtahun."
Indy tertawa, tapi tawanya ia tutupi dengan telapak tangannya. Berbeda sekali sikapnya seperti saat di villa kemarin. Jika kemarin dia terlihat tengil, kini ia terlihat seperti seorang putri Ningrat yang menjaga martabatnya.
"Mbak Jani ini gak paham atau gimana sih. Selamat keperawanan Mbak sudah diambil mas Kaysan. Itu artinya Mbak sudah jadi wanita bukan gadis lagi."
"Ndy, sopanlah dengan Mbakmu." Ibunda mencubit pipi Indy dengan gemas.
"Anakku, istirahatlah. Biar nanti Mbok Darmi memijit badanmu. Kamu pasti lelah, 'kan diajak main sama Hulk berkulit coklat."
"Hulk?" Dahiku mengerenyit bingung, "Suamimu bukannya seperti Hulk. Indy sudah cerita jika kamu kemarin pingsan."
Aku tersenyum kecut dan mengangguk. Tapi mataku melirik ke arah Indy. Dia tersenyum, pura-pura tidak tahu.
"Maafkan putraku cah ayu. Kamu harus mendapatkan perlakukan barbar dari pria dewasa."
"Barbar? Ibunda juga paham kata-kata itu?" Aku sedikit terhibur dengan kata-kata yang keluar dari mulut yang sudah agak berkerut. Ibunda mengangguk, "Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli. [ selaras dengan aliran air, mengikuti arus tapi tidak hanyut. ] Kita harus mengikuti perkembangan zaman, tapi jangan sampai kita hanyut ditenggelamkan zaman. Ibunda juga mau seperti generasi Milenial seperti kamu, anakku. Bebas mengekspresikan pendapat, gaul gitu. Tapi tetap, kita jangan melupakan budaya kita sesungguhnya."
"Inggih, Ibunda memang harus gaul biar terus awet muda." kataku sambil tersenyum jenaka.
__ADS_1
Jangan lupa like & vote ya kekasih ✌️✌️