
Ruang keluarga Bunda Sasmita berubah menjadi ruang sidang dadakan Ayahanda.
Nakula dan Sadewa pias, mereka kelimpungan mencari jawaban yang tepat untuk membuat Ayahanda bungah tanpa perlu tedeng aling-aling.
"Tidak Ayahanda, kami tidak memiliki informasinya." Sadewa berkelit saat Ayahanda bertanya informasi tentang calon cucunya.
"Laki-laki atau perempuan anak Kaysan?" Ayahanda geram, ia mengepalkan tangannya.
"Mbak Jani belum USG Ayahanda, lagipula bayinya ngumpet. Masih malu dilihat jenis kelaminnya." Lanjut Sadewa lagi. Nakula hanya diam, tapi batinnya tertawa melihat tingkah laku Ayahanda yang dibuat jengkel dengan jawaban Sadewa.
"Bukankah disana teknologi USG lebih canggih, bagaimana janinnya masih ngumpet! Kalian berdua pasti menyembunyikan sesuatu!"
"Jabang bayinya masih malu, Ayahanda. Lagian yang penting bayinya sehat. Kami juga sedang taruhan, apa Ayahanda mau ikut serta dalam taruhan kami? Jika kalah harus memberikan hadiah untuk Mbak Jani dan mas Kaysan."
"Dasar sinting!" Bunda Sasmita menjewer telinga Sadewa, "Kalian benar-benar tidak waras."
Ayahanda berpikir sejenak, lantas kepalanya mengangguk.
"Baiklah, apa taruhannya?"
"Tebak-tebakan jenis kelamin cucu Ayahanda." kata Nakula.
"Perempuan!" jawab Ayahanda mantap.
"Gusti, bagaimana bisa kalian membuat jabang bayi yang belum lahir menjadi bahan taruhan."
Bunda Sasmita beranjak, "Suamiku, jangan ikut-ikutan rencana anakmu. Ada baiknya sekarang ini kita perbaiki kesalahan dan mengeratkan cela-cela yang sempat retak." Bunda Sasmita tersenyum. Ia mengelus lengan suaminya.
"Bagaimana aku bisa memperbaiki cela-cela retak itu, Sas. Kalau saja anakmu dan kedua istriku mau memberitahuku dimana keberadaan Kaysan. Aku akan menjemput mereka dan kedua tua bangka yang sudah membelot perintahku!" Ayahanda mengeram.
"Apa yang akan kamu janjikan kepada Kaysan dan Rinjani jika mereka pulang? Suamiku, setiap berpergian pasti akan ada waktunya untuk pulang. Mereka pasti kembali dan membawa cucu kita ke sini." Bunda Sasmita menenangkan hati Ayahanda. Saat wajah Ayahanda semakin ditekuk dan menonjolkan kerutan-kerutan di wajahnya.
"Ada ritual khusus yang harus ia lakukan dengan kehamilannya, kamu pasti tahu itu." Ayahanda menghela nafas berat. Detak jantungnya semakin terdengar kentara.
__ADS_1
"Ada Dhanangjaya, ia bisa membantu Kaysan menyiapkan ritual khusus untuk calon bayinya. Tenanglah." Bunda Sasmita mengelus lengan Ayahanda.
Percakapan tak selesai, sebab Ayahanda masih mempertanyakan nasib cucunya dan anak-anaknya. Bunda Sasmita menyerah, sudah tidak ada solusi lain selain akan memberi tahu keberadaan Rinjani, tapi tidak sekarang. "Mereka sudah melewati banyak musim disana, pasti mereka juga rindu dengan Ayahanda yang galak ini, redam segala angkara yang masih tersirat dalam hatimu dan lebur dalam kasih sayang. Berjanjilah untuk menerima Rinjani, dia akan menjadi ibu dari cucumu."
Bunda Sasmita menghela nafas, ia harus meminta izin dulu dengan Juwita Ningrat. Jika tidak, Ratu itu akan semakin menanam luka lebih banyak.
Nakula dan Sadewa menganggat bahu secara bersamaan. Keadaan sudah diluar keterbatasan mereka untuk ikut campur.
"Ayahanda tenang saja, mereka baik-baik saja. Dan sangat sehat." Sadewa dan Nakula berdiri, "Kami harus ke kampus Ayahanda dan Bunda, kami pamit dulu. Ingat bunda, kami tidak mau adik!"
Bunda Sasmita tertawa kecil, "Bunda sudah KB, jangan khawatir."
*
Kampus slalu saja membuat si kembar menjadi pusat perhatian. Mereka berjalan diatas trotoar jalan, berulangkali mereka mengacuhkan tatapan ramah dari para gadis yang memuja mereka sebagai laki-laki idaman-idola kampus.
Kesetiaan Nakula terhadap kak Rahma- psikiater yang membantunya move on dari Narnia tak membuatnya melirik gadis yang berusia lebih muda darinya. Kedewasaan dalam berhubungan yang dijalin Nakula dan Rahma membuat Nakula tak ingin melepas ikatan cintanya dengan Rahma.
Berbeda dengan Sadewa, ia tetap gencar mendekati gadis-gadis yang menurutnya menarik. Termasuk seorang gadis berdarah Australia, Irene. Hubungan mereka masih terbilang intens, mesti hanya sebatas lewat sosial media.
Sadewa berlalu sambil bersiul riang.
Nakula mendengus kesal, slalu saja ia yang menjadi kurir cinta.
Tidak ada mbak Jani, Anisa pun jadi. Nasib-nasib, jadi bontot harus nrima kenyataan di suruh-suruh.
Nakula berjalan melewati koridor kampus, ia masih ada waktu luang untuk menyerahkan surat untuk Anisa.
Entah apa isinya, Nakula menyimpannya dengan hati-hati, padahal kalau dipikir-pikir ia bisa menitipkan surat itu kepada Nanang. Pacar Anisa yang notabene adalah kakaknya sendiri.
"Cari siapa?" Seorang laki-laki bernama Slamet menyapa Nakula saat kepalanya melongok ke dalam ruang kelas Anisa. Masih terlihat sepi, hanya beberapa mahasiswa yang kelimpungan mengerjakan tugas kuliah.
"Anisa." jawab Nakula. Ia keluar, memilih menunggu di depan pintu sambil bermain game online.
__ADS_1
Selang dua puluh menit, Anisa datang dengan Nanang disampingnya.
"Ngapain, Dik?" tanya Nanang. Nakula yang tak terbiasa di panggil adik oleh Nanang hanya memincingkan matanya, heran dengan tingkah kakaknya yang sok manis di hadapan kekasihnya.
"Surat dari Mbak Jani." Nakula merogoh tas slempangnya.
"Bukannya tadi bisa kamu titipkan aku." kata Nanang, ia heran dengan adiknya. Tapi, ia sendiri juga lupa dengan surat titipan dari Rinjani.
Nakula menepuk jidatnya, "Bodoh!" gumam Nakula. Ia menyerahkan surat berwarna pink ke tangan Anisa.
"Terimakasih." ucap Anisa, ia tersenyum-senyum.
"Tidak menerima jasa pengiriman lagi. Kalau mau di balas kirim sendiri!" ucap Nakula penuh sarkas. Ia pergi menuju kelasnya.
"Baca nanti setelah pulang dari kampus." kata Nanang. Ia mengantar Anisa masuk ke dalam kelasnya.
"Iya-iya, kenapa? Kamu juga mau tahu isinya? Ini penting buatku, apapun isinya nanti, surat ini yang akan menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku, untuk hubungan kita." jelas Anisa, ia menyimpan surat itu ke dalam tas ranselnya.
"Kalau begitu tidak usah dibaca suratnya!" Nanang jengkel, ia tak habis pikir kenapa Anisa masih saja menyangkut-pautkan hubungannya dengan Rinjani.
Anisa tersenyum, ia mencolek hidung Nanang.
"Memang kenapa, kamu takut ya putus dariku?"
Nanang berdecih, baru saja ia ingin merasakan pacaran lagi. Tapi kekasihnya justru membuatnya berada di situasi getir.
Nanang diam, ia malah takut sendiri dengan isi surat Rinjani.
"Harusnya aku yang takut, karena pacarku bukan orang biasa. Sudah sana kembali ke kelas mu, kalau sudah pintar bahasa Jerman nanti. Rayu aku dengan bahasa itu." Goda Anisa. Ia mendorong tubuh Nanang keluar dari kelasnya. Bersamaan dengan itu, dosen datang. Anisa kembali ke kursi duduknya. Tempat dimana Rinjani pernah mendudukinya.
Nanang bergegas pergi ke kampusnya, yang berada di gedung berbeda dengan Anisa. Ia khawatir dengan keputusan Anisa.
Dulu, Nanang pikir Anisa adalah pengganggu. Karena setiap hari ia akan menunggu di parkiran motor hanya untuk bertanya tentang Rinjani. Karena tak habis pikir dengan sikap Anisa yang keras kepala sekaligus membuat Nanang terkesima dengan kelakuan Anisa, akhirnya Nanang sendiri yang membuka diri untuk Anisa. Ia mulai menceritakan kisah cintanya dulu dengan Rinjani dan bagaimana Rinjani menjalani kehidupannya setelah menikah dengan Kaysan.
__ADS_1
Lantas akankah semua menguap begitu saja, karena sebuah surat yang belum juga di buka dan di baca. Manusia terkadang bersikap konyol karena ketakutan dengan asumsinya sendiri.
Happy Reading ๐