Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nanang I ]


__ADS_3

"Selamat ulangtahun anakku, dari Bunda yang penyayang, tidak galak, dan menerima kamu apa adanya." Bunda memelukku setelah mencium kening dan kedua pipiku. Ah... aku benci keadaan ini, aku seperti bocah sepuluh tahun yang wajib di beri kecupan dan pelukan saat ulangtahun.


"Udah to, Bun. Aku malu!" kataku sambil cemberut.


"Bunda cuma mencurahkan perhatian anakku, Bunda kangen, terakhir merayakan ulang tahunmu waktu kamu SD." Bunda kembali memelukku. Membuat kedua adikku cekikikan, sungguh sialan kenapa harus aku yang menjadi korban kenangan nostalgia Bunda. Terlebih Rinjani, ia dan mas Kaysan duduk sambil tersenyum jenaka. Kedua manusia itu sudah pamer kemesraan sejak acara ulang tahun ini di mulai. Mereka memberiku kado yang sangat kecil hingga aku sulit membayangkan apa isinya.


"Nanti Bunda temani buka kadonya ya, Nang. Bunda penasaran."


"Terserah Bunda, pokoknya sesuka Bunda aja." kataku pasrah, pokoknya ulangtahun ini hanya untuk menyenangkan hati Bunda, meskipun aku sudah jengkel menjadi bahan ejekan Nakula dan Sadewa.


Tiga hari sebelum acara ini di gelar, mereka sudah membayangkan dekorasi apa yang Bunda pilihkan. Nakula memang sudah menikah tapi tingkahnya masih seperti dulu. Sok cool, tapi sekalinya ngomong suka nyelekit. Apalagi istrinya, kak Rahma. Bucin akut dengan kepolosan Nakula. Sayup-sayup kudengar waktu malam pertama kak Rahma yang menggoda Nakula. Sepertinya kedua suami istri itu ingin menandingi kebucinan


mas Kaysan dan Rinjani.


Saat pernikahan mereka, aku membawa Anisa dan mengenalkan pada sanak saudara jika Anisa adalah kekasihku. Tapi sampai kami selesai menyanyikan lagu ulangtahun dan aku memotong kue yang di buat oleh Mama Laura, Anisa tak kunjung datang.


Gadis itu benar-benar kelewatan, apa iya jika tawaranku untuk menciumnya sebagai hukuman ia anggap sebagai hal yang serius. Anisa... Aku menggeram dalam hati.


"Wa..." panggilku pada Sadewa.


Akhir-akhir ini dia terlihat lebih sering di rumah dan bermain dengan Dalilah. Kisah cintanya sungguh membuatku ingin tergelak, dari semua anak Bunda yang banyak tingkah memang dirinya, tapi dalam do'anya ia menginginkan agar mendapatkan wanita sholehah, yang sanggup mengerti dirinya dan mengerti siapa dirinya.


"Iya, Mas." jawabnya.


"Anisa mana? Belum dateng juga?" tanyaku.


"Om Nanang, duduk. Bubu mau bicala." Dalilah yang duduk di pangkuan Sadewa berceloteh.


Aku duduk di depan Dalilah, jika ku amati baik-baik, mata Dalilah seperti mata Rinjani mesti parasnya seperti mas Kaysan. Mata yang slalu membuatku bahagia. Dulu.


"Om Nanang punya banyak hadiah, Dalilah nanti ikut eyang Sasmita buka kado di kamar Om Nanang ya." Aku mencubit pipinya yang tembem.


"Dalilah boleh minta hadiahnya?" ucap bocah itu dengan polosnya. Tangannya sedang memegang squisy yang terkadang membuat Nakula tersenyum sendiri jika menyentuhnya.


"Boleh." Apapun buat kamu boleh, Dalilah. karena ibumu pernah mencintaiku. Aku tersenyum sendiri sambil mengacak-acak rambut Dalilah.


"Dalilah bukan reinkarnasi Mbak Rinjani, Mas! Dia keponakanmu!" seru Sadewa.


"Aku mau jemput Anisa dulu, Wa. Kalau Bunda atau Ayahanda mencari ku. Bilang saja perutku lagi mules."


"Mas! Jangan ngawur! Ulang tahun kok malah pergi!" cegah Sadewa.

__ADS_1


"Tapi Anisa belum dateng, Wa. Aku khawatir dia lupa."


"Aku saja yang jemput! Mas pangku Dalilah. Mbak Jani dan mas Kaysan lagi di kamar, Suryawijaya ngantuk. Minta di keloni."


"Bapaknya atau Suryawijaya yang minta di keloni? Jam segini udah ngamar!" tukas ku.


"Mas tahu sendiri, Bapaknya atau anaknya sama aja! Apa mas juga mau menjadi salah satu dari mereka. Merebutkan Mbak Jani?" Alis Sadewa bertaut.


"Bubu sama baba bobo beldua, Sulya bobo di bok." ujar Dalilah.


"Kalau Dalilah bobo dimana? Di karpet?" tanyaku saat ia sudah beralih ke pangkuanku. Sadewa pamit untuk menjemput Anisa. Bunda mengangguk, lalu menghampiriku.


"Berantem lagi?" tanya Bunda.


"Enggak, Bun." jawabku.


"Eyang Uti, Ibunda Latu dimana? Nanti Dalilah bobo sama Ibunda Latu."


"Ibunda Ratu baru di luar kota, cantik. Nanti bobok sama Eyang Uti sama eyang Kakung saja."


Dalilah mengangguk, lalu ia kembali memainkan squisynya dan mengunyah kue yang bunda suapi. Dalilah memang akrab dengan siapa saja, tak jarang Dalilah memang sering tidur bersama kakek dan neneknya. Bocah ini sepertinya sudah liar sejak dini.


Lama menunggu, aku memilih untuk melanjutkan perayaan ulang tahun ku. Dalilah tetap bersamaku. Sesekali kami berdua menggoda Nakula dengan melemparkan squisy ke arahnya. Nakula tersipu, lalu sembunyi di balik tubuh kak Rahma.


"Mana Sadewa?" tanya Rinjani setelah ia kembali bergabung dengan kami.


"Jemput Anisa." jawabku.


"Apa dia malu datang ke sini sendiri?" Rinjani mengambil alih Dalilah. "Bobok yuk, di tunggu baba di kamar." Dalilah menggeleng, "Dalilah bobo sama eyang Uti." Rinjani mengiyakan.


"Aku gak tahu, Mbak. Dia... Hmm... Dia masih suka cemburu sama kamu."


Rinjani justru tertawa kecil, "Wajar saja dia cemburu, Nang. Kita hidup satu rumah dengan semua kenangan yang pernah terjadi di antara kita. Hmm... Kamu hanya perlu terus meyakinkannya. Kalau aku sudah cinta mati sama mas Kaysan." ujar Rinjani begitu bangganya.


"Jadi dulu kamu gak cinta mati sama aku? Cintamu biasa-biasa aja?" tanyaku sembari mengambil kue dan melahapnya.


"Tidak perlu kamu tanyakan bagaimana cintaku padamu dulu, Nang. Toh, kamu yang mutusin aku." Rinjani tersenyum, "Anisa." panggilnya.


Aku menoleh, Anisa dan Sadewa sudah datang.


"Anisa..." Aku merentangkan kedua tanganku bermaksud untuk memeluknya.

__ADS_1


"Maaf aku terlambat." Anisa mengulurkan sebuah kado bersampul biru ke tanganku.


"Aku ada tugas dadakan." jelasnya lagi.


Aku mengangguk, tapi lagi-lagi wajahnya lesu. Tidak semangat.


"Ketemu sama Bunda dan Ayahanda dulu yuk, Bunda dari tadi nanyain kamu."


Anisa mengangguk, ia berjalan terlebih dahulu tanpa menyapa Rinjani! Sedangkan Rinjani hanya mengangkat bahunya tak percaya jika Anisa begitu curiganya terhadap dirinya.


Anisa menyapa Bunda, cipika-cipiki, lalu membungkuk hormat kepada Ayahanda.


"Nang, ajak Anisa makan malam. Kalian semua bersenang-senanglah, Bunda dan Ayahanda harus ke kamar, Dalilah mau bobok katanya." ujar Bunda. Ayahanda menepuk bahuku, "Jangan sampai larut malam."


"Sendiko dhawuh, Ayahanda."


Lalu mereka bertiga pergi dari pendopo belakang.


Aku menggandeng tangan Anisa untuk kembali berkumpul dengan si kembar dan Rinjani. Anisa tetaplah Anisa, ia sama sekali tidak menunjukkan rona bahagia di wajahnya. Apalagi, di hadapannya ada Rinjani yang tidak peduli dengan urusanku dan Anisa.


"Jika kamu ingin menanyakan keraguan-keraguan yang berasal dari ketidakpercayaanmu terhadap Rinjani dan aku, ini waktunya yang tepat untuk menanyakan padanya langsung." ujarku saat Anisa masih saja memancarkan aura menyebalkan.


Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasan. Dan, Anisa hanya butuh penjelasan dari Rinjani. Seseorang yang menjadi sumber kecemburuannya.


Rinjani mendongak, ia mengambil tissue dan mengusap bibirnya. "Aku kenyang." katanya, "Anisa..." panggilnya manja.


Duh... Gusti, apa yang mau Rinjani bicarakan dengan Anisa. Salah-salah Rinjani malah semakin membuat Anisa cemberut dan aku berakhir dengan status jomblo seperti Sadewa.


Anisa duduk di sampingnya, ia menunduk mendengarkan Rinjani bicara.


Di luar dugaan, Rinjani malah menjelaskan kemesraan-kemesraan yang ia lakukan dengan mas Kaysan. Dan, yang membuatku dan si kembar kaget, Rinjani mengumumkan hamil anak ketiga. Rinjani tersenyum riang, ia mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.


"Beneran, Mbak?" tanya Sadewa.


"Iya... Tapi bohong." Rinjani terkekeh geli saat melihat Anisa yang sudah senang mendadak cemberut lagi.


"Aku dan Nanang ya begini, kami berkumpul, bercanda, ngobrolin hal-hal sepele dan lain-lain. Kami tidak menjanjikan kamu untuk percaya dengan kami berdua, tapi ada kalanya, kamu harus ingat. Aku dan Nanang hanya menjalani kehidupan sehari-hari di rumah ini layaknya manusia biasa. Manusia yang tidak pernah saling mencintai. Dan, itu semua kami lewati dengan sulit." Rinjani menatapku, matanya berkaca-kaca. "Tanpa sadar, semua itu bisa kami lewati dengan derana. Anisa... Kami disini tahu batasannya. Kami disini keluarga." Rinjani menunduk, ingin sekali aku menyeka air matanya. Seperti yang aku lakukan dulu saat Rinjani menangis, tapi Anisa lebih terlihat menyedihkan. Ia terisak pelan.


"Kalian kenapa?"


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2