Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 91. [ Kepingan pazzle ]


__ADS_3

Nama singkatnya Nurmala Sari, entah ada berapa banyak gelar yang ia sandang aku tidak mengerti. 'Mala' panggilan sayang dari Kaysan untuknya, wanita cantik yang sangat luwes, jari jemarinya begitu lentik saat menari. Setiap gerakan tubuhnya terlihat anggun, semua seakan terbius dengan Gending Jawa dan Nurmala Sari yang beradu menjadi satu perpaduan yang serasi. Bibirnya slalu tersenyum, hingga mata seakan enggan untuk hanya sekedar berkedip meninggalkan gerakan tubuhnya. Nurmala Sari memang penari andal, penari yang sudah memahami pakem-pakem dasar menari, begitulah adanya. Dia bagikan wanita cantik dengan satu paket komplit idaman kaum bangsawan. Siapa tak jatuh cinta kepadanya, bahkan Kaysan selalu tersenyum untuknya.


Jika mereka tumbuh bersama sejak lama, tentu sudah banyak kenangan yang mereka lalui berdua. Tentunya semakin sukar untuk melupakan bagian dari kenangan yang disusun rapi bak sebuah pazzle kehidupan, jika kepingan pazzle itu hilang kepingan lain akan kehilangan. Ironis, justru inilah rasa cemburu yang sulit aku tepikan


Untuk menjauh aku terikat, untuk mendekat aku tercekat.


Aku berada dibalik kaca jendela, dengan kedua tangan renta yang mengusap lembut bahuku. Mata tua ini turut menyaksikan semua pemandangan yang membuat hatiku miris.


Kaysan menari di depan Nurmala Sari, disaksikan Ibunda dan Ayahanda, begitu juga Tuniang Dewi yang tersenyum bangga, pikirnya tak sia-sia aku mengabdi untuk mendidik mereka berdua.


"Jani pergi sebentar, Mbok."


"Hati-hati, pulangnya jangan larut malam."


*


Cuaca sore ini cukup cerah, aku sedang menunggu Nina di emperan toko Bu Rosmini. Kami berjanji disini. Anisa tak jadi ikut menginap, katanya ada janji dengan kekasihnya untuk pergi.


Aku terkekeh geli sekaligus ngenes, harusnya aku masih menikmati masa-masa berpacaran, jika tidak sejalan tinggal bilang 'kita udahan', menyenangkan. Berbeda saat aku sudah menikah, ada ketakutan jika berpisah dengan Kaysan, takut jika berpisah hidupku 'tidak aman', maksudnya hidupku hanya akan terus terikat dengan kekuasaan kerajaan Hadiningrat, bisa jadi aku disuruh bungkam dengan apa yang sudah aku ketahui, atau malah aku di asingkan disuruh mati tanpa meninggalkan jejak.


"Assalamualaikum, putri. Melamun saja."


Aku terkejut, saat tangan gemuk bak kepalan bakpao itu menepuk bahuku.


"Waalaikumsalam, ukhti. Apa kabar?" Aku merenggangkan kedua tangan, memeluk Nina.


"Berat badanku naik 5 kilogram, tandanya aku baik dan sehat, Jani."


Aku tersenyum, "Baguslah, aku kangen. Jalan yuk, Mall atau tongkrongan."


"Nanang sekarang jadi mabuk-mabukan, dia menggantikan posisi Aswin di tongkrongan."


Aku mengangguk, "Kenapa?"


"Patah hari kamu tinggal pergi."


"Bisa ae kaleng soda." Aku terkekeh, prihatin.

__ADS_1


"Mall aja yuk. Nonton, McD, Photo box, atau makan sepuasmu, Nin. Dompetku tebal sekarang." Aku menepuk kantong celanaku, sambil berlagak sombong.


"Berapa uang jajanmu, Jani?"


"Banyak, jangan tahu, nanti pingsan."


Nina mendengus kesal, "Asikin ajalah, kecipratan juga akhirnya."


Kami berdua menuju Mall dipusat kota, hari ini aku bebas. Aku menjadi Rinjani yang pembangkang dan aku suka. Jadi seperti ini yang dirasakan A Rebellious Princess. Pantas saja dia tidak betah di rumah, bahkan akhir-akhir ini jarang pulang, aku tidak heran kenapa dulu aku sering bertanya berapa jumlah rumah keluarga Kaysan, jumlahnya bisa jadi sebanyak istri Ayahanda dan anak-anaknya. Sulit diterima akal sehatku, tentu berbeda dengan akal gilaku, sinting kalau menjadikan kelima istri Ayahanda dan anak-anaknya berada dalam satu rumah.


Lebih sinting lagi jika aku kelak akan merasakan itu. Amit-amit! Semoga semesta tidak merestui!


*


"Nonton apa, Nin?" Aku dan Nina sudah berada di dalam bioskop XXI, sudah pesan popcorn jumbo berserta minuman bersoda, untung bukan soda kue, jika iya, badan Nina semakin mengembang layaknya ragi cinta yang rasanya nyut-nyutan.


"Film romantis."


"Cih, aku sedang tidak ingin film sayang-sayangnya atau tangis-tangisan. Horror aja, aku sedang ingin mengaung."


"Kamu gaktau, setiap hari aku minum ramuan jamu macan kerah." kataku berapi-api.


"Macan berantem?"


"Iya Indonesianya."


"Habis minum itu langsung berantem?"


"Iya, mas Kaysan minum jamu perkasa, aku minum jamu macan kerah, cocok mantap."


Nina menonyor kepala ku, "Jaga bicaramu, aku jomblo."


"Cocok dengan Nakula, adik iparku."


"Apanya yang cocok?"


"Sama-sama jomblo!" Aku tersenyum jenaka.

__ADS_1


Kami berdua masuk ke studio nomer lima, suasananya cukup gelap. Belum apa-apa aku sudah merinding saat dentuman keras menggelegar, "dasar penakut." ucap batinku lirih.


Dibangku nomer F11-F10 kami duduk, Nina sudah sibuk dengan cemilannya. Sedangkan aku sibuk mematikan layar HPku.


Beberapa saat ada seseorang yang datang duduk di bangku F09-F08, aku tahu orang itu tidak asing bagiku. Sungguh ini memang takdir yang tidak sengaja, seakan Tuhan telah membuka mata hatiku untuk berkata 'mundur', Tuhan tahu ini sulit, makanya Tuhan seperti memberi tahu kepada ku jika apa yang aku pilih adalah sebuah kepelikan.


Dia cantik aku akui. Sikapnya juga elegan, saat wanita cantik tadi yang menari elok melihatku di hanya tersenyum puas. Seakan dia hanya berkata dari sorot matanya, 'kamu memang kekasihnya, tapi tak dianggap', dalam batinku aku berkata, 'ternyata realita kehidupan lebih menyeramkan dari sebuah film horror. Hantunya hanyalah rekayasa, kini disampingku malah ada dua hantu yang begitu mengangguk ku. Nasib!"


Nina geram, ia ingin bertukar posisi duduk. Selama 95 menit berlangsung, suasana mencekam, banyak jeritan ketakutan, banyak pasangan romantis yang bermesraan dalam keadaan kesempitan. Andai mereka tahu hatiku lebih mencekam dari film horror, jika penonton tahu suamiku bersama mantan kekasihnya duduk berdua sambil nonton film horror dan aku melihatnya. Konyol, bak judul sinetron ikan terbang.


Film berakhir, tubuhku kedinginan. Bahkan sedikit menggigil, "Are you oke?" tanya Nina.


"Laper, belum makan. Mau tenderloin steak sama iga bakar." kataku sedikit berteriak.


"Aku juga mau, Jani." jawab Nina seadanya.


Aku melewati Kaysan dan Nurmala Sari, kami tak bertegur sapa. Udara disini terlalu tiris untuk tubuhku yang tipis, berbeda dengan Nina. Sepanjang perjalanan menuju lantai food court, Nina merangkul bahuku. "Sekarang aku tahu kenapa kamu daritadi diam, Jani. Nanti setelah makan kita pulang, wajahmu pucat."


"Pulang ke rumahmu." kataku.


"Boleh banget, ibu dan ayahku pasti senang. Mereka berdua kangen sama kamu."


Aku mengangguk, di lantai food court ini Nina sudah kelabakan dengan semua jenis menu makanan. Sedangkan aku hanya menunggunya datang, dia tahu password kartu debit Kaysan, passwordnya begitu mudah aku ingat, karena password itu adalah tanggal pernikahan kami.


"Makanan anak sultan ya begini, jarang-jarang Jani aku makan enak." Wajah Nina sumringah, aku menggeleng. "Dirumah saja aku makannya sayur brongkos, sayur lodeh, sup ayam, mendoan, ayam kremes. Sama aja Nin, cuma rasanya lebih enak enggak kebanyakan micin."


"Jadi kamu sekarang bukan generasi micin, Jani?"


Aku terkekeh, konyol, dulu jika tidak ada camilan aku dan Nina sering menggado mie instan dicampur dengan bumbunya, tanpa dimasak.


"Makan, Nin. Nikmati apa yang sudah kamu beli dan habiskan."


"Sok bijak."


Aku hanya tersenyum simpul, ku lahap iga bakar, dan tenderloin steak pilihan Nina. Mungkin selanjutnya aku akan membuat kandang sapi. Sebagai bentuk pemberontak atas kejamnya suami, sebagai bentuk tauladan istri yang menghambur uang suami untuk kepentingan bisnis pribadi. Aku tersenyum jahat, ide setan begitu menghasut isi kepalaku.


Othor sapi metal sudah buka GC ya, silahkan yang mau masuk GC ketok dulu πŸ˜‚πŸ™

__ADS_1


__ADS_2