
Jip putih berhenti tepat di sebuah rumah minimalis di kawasan Rathdowne St, tak jauh dari arena perkampusan University of Melbourne. Tadi selepas cek out, aku dan Kaysan bergegas menuju tempat dimana Kaysan menghabiskan waktu selama lima tahun untuk mengenyam pendidikan tinggi di Melbourne, Australia. Tak ketinggalan, Nanang dan si kembar sudah berada di bangku penumpang ikut bersama kami.
Berada diantara Nanang dan Kaysan membuatku sedikit canggung, dua laki-laki yang pernah dan masih menaruh hati padaku sedari tadi tak lepas menatap ku. "Ada apa dengan kalian berdua?" tanyaku saat mereka berdua masih tak bergeming dari tempat duduknya, sedangkan Nakula dan Sadewa sudah berhamburan menuju ambang pintu.
"Kalau mau berantem jangan ajak aku, Rinjani sedang malas menghadapi situasi ini." kataku sambil membuka pintu mobil.
"Ada sesuatu di dalam laci dashboard, bukalah." Aku berpikir sejenak, lalu membuka laci dashboard, mataku seketika terpincing heran. "Penutup mata? Untuk apa?" tanyaku bingung.
"Tutup matamu, ada kejutan di dalam rumah itu." Aku menatap Nanang dan Kaysan secara bergantian, "Kejutan apa? Kalian jangan mempermainkan wanita." Aku langsung merasa cemas. "Tutup matamu sayang."
Nanang terlihat melengos, seakan acuh dengan cara Kaysan memanggilku. "Jangan sok romantis di depanku mas, hubungan kalian lebih rumit dari yang aku kira." Nanang turun dari mobil, meninggalkan Kaysan dan aku yang saling melempar pandang, "Kamu ini udah tua mas, harusnya bisa jaga perasaan Nanang."
"Dia hanya cemburu. Meskipun Nanang yang mengambil ciuman pertamamu, aku tetaplah pemenangnya." Kaysan tersenyum dengan bangga. "Terserah kamu aja mas." Aku turun dari kursi mobil dan menutup mataku dengan slayer berwarna hitam. "Mas, bantu Rinjani jalan. Salah-salah nanti aku nabrak Nanang 'kan jadi repot." Aku meraba udara, belum juga terasa Kaysan menggenggam tanganku.
"Apapun yang ada di rumah itu nanti, kamu jangan kaget ya."
"Kalau isinya buaya hidup yo kaget to mas, bisa-bisa aku dimangsa nanti." Suaraku sudah ngegas, sudah cemas ditambah jangan kaget. Bisa-bisanya dia menyuruhku menjadi manequin tanpa ekspresi. "Buayanya sudah jinak."
Aku berdecih, "Pantes kok mas, kamu jadi pawang buaya. Apalagi buaya darat."
Kaysan tergelak, ia menuntunku menuju pintu rumah. Terdengar suara percakapan seorang pria dewasa. Bukan suara Nanang dan si kembar, justru suara mereka tidak terdengar.
Kaysan melepas penutup kepalaku, "Lihatlah, aku sudah menepati janjiku." Mataku mengerjap, laki-laki yang aku rindukan berdiri sambil berkacak pinggang dengan mata cemas. "Bapak!" Aku mendekatinya, dengan tangan yang sudah merenggang untuk memeluknya. "Jani, kangen." kataku dalam pelukannya.
"Sama, Nak. Bapak juga kangen." Ah! Herman, kenapa kamu berubah, ini payah, belum apa-apa mataku sudah berair. "Bapak gimana kabarnya? Bapak kenapa kurusan? Apa bapak tidak dikasih makan?" Aku mencecar Herman dengan pertanyaan beruntun saat kami berdua sudah melepas pelukan.
"Bapak disini tidak makan nasi, kalau pagi makannya roti atau sandwich." Aku menepuk jidatku, di kelilingi keluarga Kaysan, aku dan bapakku seperti double N, ndeso dan ndeso.
"Jadi kamu menyembunyikan bapak disini mas? Jauh banget." Ku tatap Kaysan, yang ditatap sedang menuangkan air ke dalam gelas.
__ADS_1
"Kamu apa kabar, Jani? Apa semua baik-baik saja? Hmm..."
Aku menghela nafas panjang, jika aku mengatakan sejujurnya. Bapak pasti kepikiran, apalagi jika berbicara di depan keluarga Kaysan. Rasanya tidak etis membicarakan keadaanku di depan mereka. "Rinjani baik-baik saja, pak. Kalau tidak baik tidak mungkin sampai kesini. Bapak gak berniat mencari istri bule disini?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sudah cantik, sudah bikin bapak repot. Kalau bapak menikahi bule, anak bapak tambah cantik dan tambah bikin repot." Bapak menyunggingkan senyumnya dan aku tahu maksudnya. "Nanti kita bicara, kalau mereka sudah tidak ada." kataku sedikit berbisik.
"Kita mau barbeque'an nanti malam Mbak dan kita akan menginap disini." Saut Sadewa yang mendengar suaraku. "Adik-adikku banyak pak, bapak sudah kenal?" tanyaku penasaran, jika bapak sudah mengenal adik-adik Kaysan, itu tandanya bapak juga tahu kebenarannya. Atau bapak emang sudah tahu ini akan terjadi? Dan bapakpun rela merestui ku menikah dengan Kaysan.
"Bapak kenal, termasuk Nanang mantan pacarmu yang suka ngajak kamu kencan smpe larut malam." gumam Bapak pelan-pelan.
Aku tersenyum simpul, ku tatap Nanang yang asik memainkan HPnya. Aku curiga, sebenarnya bagaimana perasaan Nanang terhadapku sekarang. Apa ia juga hanya menganggap ku kakak seperti Nakula dan Sadewa. Atau masih ada rasa yang tertinggal dihatinya. Sebaiknya aku perlu berbicara dengannya, berbicara empat mata.
"Ceritakan bagaimana Bapak bisa sampai disini." kataku sambil bersandar dilengan bapak, kamu tahu inilah yang aku rindukan dari sosok Herman. Saat semuanya masih terasa indah seakan-akan permasalahan tak pernah ada.
Senyumku mengembang saat tahu bapakku disini hidup dengan layak dan di didik dengan baik. Kegiatan Bapak tak jauh berbeda dengan apa yang aku lakukan di kediaman Kaysan. Bapak juga belajar, bedanya bapak belajar untuk menjadi budayawan dan seniman. Namun dari pembicaraan yang aku tangkap, Bapak tahu keadaanku yang sesungguhnya, tanpa perlu aku ceritakan. Jadi semua sama-sama teriris dengan pernikahan ini. Apa aku seperti memakan buah simalakama. Tuhan! Aku masih tidak paham arti hakikat cinta sesungguhnya.
*
Bapak sudah pergi mencari daging sapi ke Queen Victoria Market untuk barbeque'an nanti malam, ditemani Nakula dan Sadewa, karena kedua kembar sialan itu akan menjadi koki nanti malam. Sedangkan Nanang memilih bersembunyi di dalam kamar, mereka bertiga nanti akan berbagi kamar, karena di rumah ini hanya ada tiga kamar.
Aku tak bergeming, aku masih melihat satu persatu potret lawas Kaysan. "Jelek ya?" Aku menoleh, Kaysan yang aku tahu tadi hanya merebahkan diri diatas ranjang datang dengan wajah yang mengantuk.
"Tidak jelek, tapi tampan sekarang." jawabku setelah mengembalikan pigura diatas meja.
"Dulu aku kurus, rambutku juga aku biarkan panjang, mataku mines, karena sedari kecil sudah disuruh 'makan buku' oleh Ayahanda." jelas Kaysan sambil duduk diatas kursi.
"Ternyata jadi orang terpandang itu sulit ya mas, kalau mas bisa memilih mas mau jadi anggota darah biru atau rakyat biasa?"
"Tidak bisa memilih, semua sudah digariskan Tuhan. Aku hanya perlu menerimanya dan menjalaninya. Ada hal yang harus dibayar dari sebuah kedudukan, Rinjani. Tidak serta-merta lalu bertindak semaunya. Disini berat, disini juga." Kaysan menunjukkan kepalanya, begitu juga pundaknya.
__ADS_1
"Dan aku hanya menjadi beban untukmu mas?" Hatiku menjadi mendung.
"Tidak, kamu warna baru dalam hidupku."
"Lalu kenapa wajahmu kusut mas?"
"Setelah mendapat gelar sarjana dan kembali ke rumah, aku mulai menjalani terapi kesehatan mata, mendatangi pusat kebugaran, ototku seperti ini bukan Nurmala Sari yang menikmati, tapi kamu. Wanita yang kini menjadi istriku. Dulu, ku pikir apa yang aku lakukan bisa membuat Nurmala Sari senang, kamu tahu Rinjani. Hatiku sakit saat Nurmala Sari menolak untuk aku ajak menikah. Tapi sekarang dengan seenaknya Ayahanda menyuruhku menjadikan Nurmala Sari sebagai cadangan jika kamu tidak sanggup menjadi Ratu."
Kata-kata Kaysan seperti menancapkan jarum dihatiku, rasanya sakit tapi tak berdarah. "Lalu apa yang harus Rinjani lakukan untuk meyakinkan Ayahanda, mas?"
Wajah kami berdua sama-sama dirundung mendung, meski cuaca diluar sana teramat panas, "Kita harus membawa Nanang pulang dan memberikan Ayahanda cucu perempuan."
Aku menatap Kaysan, "Bukannya pewaris tahta menginginkan anak laki-laki sebagai penerus?"
"Anak perempuan jarang dikeluarga kami, Nindy, kamu tahu sendiri, dia tidak mau disayang dan dimanja Ayahanda. Sedari dulu Ayahanda menginginkan anak perempuan, Jani."
"Bukannya aku juga anak perempuan, tapi Ayahanda tidak pernah menyayangiku atau memanjakanku."
"Kamu beda." Dahiku mengernyit, "Bedanya dimana?" tanyaku penasaran.
"Kamu calon Ratu, harus di didik dengan tegas dan berani."
"Apa ada alasan lain kenapa Ayahanda masih tidak menyukaiku?"
"Ayahanda belum percaya jika belum ada bukti."
"Bukannya naik tahtanya masih satu tahun lebih ya mas, 'kan Rinjani juga baru belajar. Kenapa gak anak, gak bapak sukanya yang tergesa-gesa." Aku memutar bola mata, jengah dengan kelakuan bapak-beranak yang aku hadapi. Tapi akupun juga tak berani membantah, "Baiklah, sekarang biarkan Rinjani bersenang-senang, nanti jika sudah pulang ke rumah, Rinjani akan membuat sayembara." lanjutku lagi setelah Kaysan tak memberi jawaban.
"Sayembara apa sayang?"
__ADS_1
"Rahasia."
Kira-kira sayembara apa ya, rinjani ada -ada saja. π bikin pusing kan. riweh π