
POV Rinjani.
Hingga suatu sore, semua berubah. Ada kehangatan lain yang mendekap ku.
"Cobalah berbalik, aku ingin melihat wajahmu."
Berbalik dan menatap matamu, itu akan melemahkan pertahananku. Ditambah dengan senyummu yang mudah meluluhkan hatiku. Yang benar saja aku mudah di rayu hanya dengan senyumannya. Ini tidak adil, harusnya aku masih marah karena Kaysan dengan enaknya jalan-jalan dengan anak gadis meski Bapak dan Laura menemani mereka.
"Rinjani..." panggilnya manja.
"Hmm."
"Ya sudah aku saja yang mengubah posisi." Secepat kilat Kaysan sudah ada di depanku. Ia menyangga kepalanya dengan telapak tangannya.
"Tatap mataku Rinjani." Tangan kirinya memegang daguku.
Aku menenggelamkan wajahku dan semakin meringkuk. Coba saja aku tidak gengsi, sudah ku cium-cium-cium seluruh wajahnya dan mengutarakan semua isi hatiku saat dia tidak ada di sisiku.
"Cobalah dan jangan menjauh." Suaranya terdengar indah memintaku kembali.
"Aku slalu takut jika mas sudah berurusan dengan wanita lain. Tapi, aku menyadari jika aku tak cukup mampu membuat mas Kaysan senang."
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi aku mohon racuni saja pikiranmu jika kamu sudah menjadi yang terbaik untukku, untuk Dalilah."
Renjana berpendar di iringi sinar senja yang mengirimku pulang ke dalam pelukannya.
Cemburu menghasutku, membuatku lupa dengan semua perjalanan yang terlanjur menjadi tali jiwa yang kini sedang merengek mencari *****. [ ***** : susu ]
"Sebentar." kataku sambil melepas pelukan Kaysan.
"Tidak Ayahanda, tidak Dalilah memang pintar sekali membuatku tak punya waktu memuaskan rinduku." Decak kesal meluncur dari mulutnya. Ku susui Dalilah dengan Kaysan yang menatap lapar dadaku yang terbuka.
"Kedipkan matamu mas, jika tidak kamu pusing sendiri nanti."
"Itu pasti keras dan penuh." Senyum Kaysan menyeringai.
"Mesum, ingat Jani masih dalam masa nifas."
Kaysan mengangguk saja, karena dia pasti tahu mengenai hal itu. Setelah Dalilah kenyang ia memintaku untuk menaruhnya di pangkuannya.
"Tepuk-tepuk punggungnya biar dia sendawa, mas."
Kaysan terlihat kikuk saat menggendong Dalilah, tapi bayi itu pasti nyaman di pelukan hangat Kaysan.
"Kelak dia akan menjadi penanda jalan untuk mas kembali pulang."
"Kalian berdua menjadi pusat hidupku. Mandilah biar aku yang menjaganya."
__ADS_1
Senja yang hampir tenggelam membuat Dalilah harus berada di pangkuan. Entah apa alasannya, aku hanya menurut saja dengan titah sesepuh.
Diatas sofa aku menyandarkan kepalaku di lengan Kaysan. "Ku pikir kencan yang dilakukan mas dan Anne seperti kencan versi Nakula dan Sadewa." Aku menghela nafas lelah. "Mengapa kamu percaya dengan mereka berdua."
Aku menegakkan tubuhku, "Mas tidak tahu jika pikiranku kalut, aku takut melahirkan, aku takut dengan segala sesuatu yang menghantuiku, dan ternyata itu benar-benar terjadi."
"Lebih baik kamu makan dulu, jika tidak kamu akan marah-marah lagi." Saran Kaysan membuatku memincingkan mata.
"Coba saja mas yang melahirkan dan menyusui, rasanya hanya akan lapar dan marah jika semua tidak sesuai dengan keinginan. Terdengar egois, tapi ibu hamil dan menyusui akan slalu menang. Mas mau mencobanya?"
Kaysan mengangguk, "Mencoba membuatmu hamil aku bisa, itulah keahlian ku." Kaysan menyeringai senang.
"Tidak aku ragukan jika urusannya dengan burungmu, mas."
"Burungku tidak bisa berkicau, Rinjani. Ia hanya ada di dalam sangkar, menunduk lemas."
"Semoga Dalilah tidak paham pembicaraan kita." Aku menggeleng.
Malam harinya, Ibunda mengambil giliran menjaga Dalilah. Sedangkan aku dan Kaysan mencari dimana keberadaan mereka si pembuat onar.
Sadewa dan Nakula memang diminta Ayahanda untuk tinggal di rumah utama.
"Sepertinya kita harus memberi pelajaran kepada mereka berdua, mas. Jani kemarin sudah tidak sopan dan marah-marah." kataku sedikit menyesal.
Kaysan merangkul bahuku dan mengecup pucuk kepalaku.
"Sembarang! Harusnya ketampanan mas ini yang harus di ruwat biar tidak membawa kesialan. Tampan kok kebangetan."
Kaysan mengangkat alis sebelah kirinya, "Jadi aku tampannya kebangetan?"
Ekspresi Kaysan sungguh menyebalkan, rasanya aku tidak perlu menjelaskannya, nanti dia akan semakin besar kepala.
Tubuhnya berputar, kini ia mendorongku pelan hingga aku terhimpit di sela-sela kakinya. Tangannya mencengkram bahuku, Kaysan memajukan tubuhnya seolah-olah ingin menciumku.
"Mau apa!?" ujarku was-was.
"Kenapa semenjak menjadi ibu-ibu kamu jadi malu-malu?"
"Hah...,"
Kaysan tertawa, seolah-olah menyadari kegugupanku. Aku menahan bahunya dan menggeleng.
"Rinjani...,"
"Apa?"
"Aku akan menunggu hari, disaat kita bersua lagi dalam deru nafas tersengal dan berakhir tersenyum."
__ADS_1
Kaysan mencium bibirku sekilas. Sedangkan tubuhku justru membeku.
Senyuman terukir di wajahnya, setelah ciuman terlepas dari bibirku.
"Lihatlah, wajahmu seperti anak perawan yang baru mendapat ciuman pertama."
Aku menutup pipiku yang merona. Senyuman Kaysan membuatku melayang-layang. Dan, aku takut senyuman itu juga yang akan menghempaskan tubuhku pada kesengsaraan akan godaan-godaan wanita yang mengganggunya.
"Kita sudah terlalu lama meninggalkan Dalilah. Ayo kita kembali ke kamar." Aku harus mengalihkan pembicaraan, jika tidak pipiku merah.
"Haha... jangan kamu jadikan Dalilah alasan. Aku ingin makan malam denganmu, berdua." Kaysan menarik tanganku.
Suara gemerisik daun yang di terpa angin menemani makan malam kami berdua di pendopo belakang.
"Maaf tidak romantis." katanya, aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Kaysan memberiku bunga sedap malam yang ia ambil paksa dari vas bunga Ibunda.
"Tidak buruk tapi ada baiknya kita kembalikan ini, Ibunda bisa marah karena bunganya hilang."
"Itu hanya properti, ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu?" ujar Kaysan yang sudah menunjukkan wajah seriusnya.
"Ssttt..." Aku menempelkan jari telunjukku di bibir Kaysan.
"Boleh bubu makan dulu? Siapa tahu ada persoalan berat yang ingin mas katakan dan membuatku ma-par." Aku tersenyum, Kaysan mengacak-acak rambutku dengan gemas.
"Baiklah ibu menyusui, jangan malu-malu. Silahkan dinikmati." ujar Kaysan yang langsung melahap sajian makan malamnya.
"Tidak romantis sekali!!!"
Kaysan mendongkak, ia meringis saat melihatku mengerucutkan bibirku.
"Baba juga butuh makan, dik. Siapa tahu nanti bubu marah-marah dan membuatku harus merayu mu. Itu lebih menyulitkan dibanding harus merayu Ayahanda."
Aku mendengus kesal, "Baguslah, itu artinya mas juga tidak bisa merayu cewek-cewek di luar sana." Aku melahap semua makanan yang Mbok Darmi sajikan. Setelahnya, semua berubah menjadi serius.
"Aku akan kembali lusa, dik." ujar Kaysan dengan suara yang terdengar bergetar.
"Tiga bulan lagi kita baru bisa bertemu." Lanjutnya lagi.
Aku menghela nafas panjang, dan hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Rumah adalah tempat terindah untuk kembali, pulanglah dan jangan lupa Bapak, Laura dan Keenan harus ikut bersamamu."
"Tunggulah aku kembali dan percayalah padaku."
Kita akan kembali menikmati permainan menunggu... menunggu sampai waktunya kami bersatu dalam balutan desah rindu.
Happy reading ๐
__ADS_1