
Selama jasad Lastri diteliti oleh para ahli, selama itu pula aku mengirimnya bunga mawar putih sebagai bentuk rasa simpatiku padanya, aku harap dia mengerti arti dari setiap mawar putih yang ku beri.
Malam itu aku ingin berbicara dengannya, kesibukanku mengharuskan aku dan Rinjani hanya bisa berkirim kabar lewat telepon, itupun jarang sekali. Semoga dia peka dengan keadaanku, laki-laki dewasa yang sudah memikul banyak beban.
Sepuluh meter lagi mobil sudah hampir sampai di toko Bu Rosmini, tapi ku dapati Rinjani sudah membonceng ojek online. Mau kemana dia malam-malam begini, tanpa izin dariku, Hmm...., ku ikuti laju motornya dengan mata yang menajam. Hingga motor yang ia naiki sampai disebuah pemukiman penduduk.
Aku sudah berfikir jauh, tapi nyatanya dia hanya pulang ke rumah. Apa dia sudah punya firasat tentang ibunya, Malang sekali nasibmu kekasihku.
Beberapa menit aku menunggu di dalam mobil, mengamati keadaan sekitar. Ya, masih terlihat beberapa bapak-bapak yang sedang merokok di depan rumahnya. Mau tidak mau aku tetap harus menyapa bapak-bapak itu, sebelum akhirnya menemui kekasihku, Rinjani.
Selesai bercakap-cakap, akhirnya ada kesempatan untuk menemui gadis kecilku. Berkali-kali ku ketuk pintu rumahnya, tak ada suara yang menyaut dari dalam. Dimana Rinjani, apa dia sudah tidur? Dengan langkah hati-hati aku masuk ke rumahnya seperti seorang penyusup. Terdengar isakkan tangis dari sebuah kamar, jadi Rinjani sedang menangis. Jadi dia benar-benar sudah memiliki firasat buruk tentang ibunya. Bagaimanapun caranya aku harus memberitahu tentang kejujuran yang teramat pahit untuknya.
Ku sibakkan gorden ,terlihat seonggok daging manusia sedang meringkuk memegangi kedua lututnya. Dadaku sesak, mendengar tangisnya begitu pilu. Namun aku tercekat saat dia mendongak dengan mata yang merah dan bengkak, dan berkata "Siapa kamu, kenapa disini?"
Apa secepat itu dia lupa denganku, karena aku tak pernah menghubunginya selama dua Minggu. Tanpa sadar aku menjewer telinganya, mulutnya meracau menyebutku seperti hantu, "Datang tak diundang, pulang tak diantar." Tangannya mulai berhambur memelukku, hingga kemejaku basah dengan air mata dan ingusnya. Dia benar-benar gadis yang berani tak peduli siapa aku. Memang benar aku harus melepas gelar jika ingin mendekatinya. Ku biarkan dia memelukku cukup lama.
Bibirnya mulai cerewet, tapi aku suka. Karena dia melengkapiku. Ku lihat wajahnya pucat, aku semakin tak berdaya untuk mengatakan sesungguhnya tentang ibunya, hingga malam itu aku akhiri dengan cepat.
*
Setelah semalam aku berdiskusi dengan Dhanangjaya. Siap tidak siap, Rinjani harus tahu kebenaran ibunya. Agar Lastri juga tenang dan mendapatkan Do'a dari anaknya.
Bertemu dengannya adalah obat rinduku, tapi sebuah pusara dengan banyaknya bunga tujuh rupa sudah menantinya. Aku dilanda bimbang, saat wajahnya masih terlihat pucat.
__ADS_1
Percakapan panjang terjadi selama perjalanan, aku tidak menyangka jika dia menganggapku seperti mangga tua. Apalagi dia slalu memintaku untuk tidak tersenyum, memang ada yang salah dengan senyumku?
Setelah ku perhatikan, dia memang slalu tersipu saat aku tersenyum. Aku mulai tak berdaya untuk menggodanya, ini lucu sekali batinku. Seorang gadis sedang malu-malu duduk disamping ku, sambil menutup bibirnya matanya membulat untuk menyudahi senyumanku. Bibir yang begitu menggemaskan, hingga akhirnya terbesit ide untuk menggodanya lagi. Aku menyukai saat keningku menyentuh keningnya, hanya sedekat ini keberanianku. Matanya terpejam, 'hahaha'. Aku tahu dia mengira aku akan menciumnya.
Tidak, untuk sekarang! Akhirnya ku jentikkan jari di dahinya. Dia mengaduh, sambil bibirnya mengerucut. Semakin terlihat gemas.
Mobil sampai di rumah makan bakmi Jawa langganan keluargaku. Dulu, dulu sekali aku sering mengajak Nurmala Sari kesini. Pemilik kedai ini tahu betul siapa aku dan keluargaku.
Ada sebuah ketakutan jika pemilik kedai ini berbicara tentang kisah lalu. Hingga aku menarik paksa tangan Rinjani. Dia sedikit berteriak, aku memahami kesalahanku. Karena memang aku belum bisa bercerita banyak tentang Nurmala Sari.
Seperti biasa, setiap kata yang aku katakan akan selalu dijawab 'pandai' olehnya. Tentu dengan sikap usil yang ia miliki. Bersama Rinjani adalah sebuah kebetulan yang membuatku lebih percaya diri untuk memulai hal baru.
*
Aku terpaksa harus menutup matanya, selama perjalanan menuju pemakaman Mirisewu. Aku takut Rinjani akan menduga-duga dimana ibunya, menduga jika aku hanya bersandiwara dengan kematian ibunya.
Pemakaman yang terletak di atas perbukitan ini, mengharuskan aku menuntun Rinjani sampai ke atas. Tapi sebelumnya aku harus menyesap rokok agak menjauh dari Rinjani untuk menetralkan keraguanku, hanya dengan begini aku bisa sedikit tenang. Kulihat Rinjani terus mencariku, meraba-raba udara.
Akankah dia mau aku nikahi setelah tahu ibunya sudah tiada, akankan dia percaya dengan pusara di depannya nanti. Hanya satu jawabannya, membuka penutup matanya. Aku percaya gadis ini tidak pernah ingkar janji dengan ucapannya, apa lagi jika dia tahu berapa upah yang harus aku keluarkan untuk mencari ibunya.
Ku buang putung rokok dan mulai memapahnya naik menuju pemakaman. Dia terus mengeluh jika kakinya semakin pegal, rasanya aku ingin menggendongnya, tapi tidak mungkin. Disini ada abdi dalem yang menjadi juru kunci pemakaman, tidak etis jika aku menggendong seorang gadis menuju pemakaman keramat yang isinya adalah makam leluhur kami.
Rinjani mulai menduga-duga, dadaku sesak seperti ada sesuatu yang menekan.
__ADS_1
Tidak bisa aku pungkiri, jika tangisan gadis ini seperti tangisan anak kecil yang meminta ibunya kembali. Aku sudah hilang arah, mataku sudah merah seperti rasa sakit yang Rinjani rasakan menjalar ke bagian jiwaku. Rasa sakit yang teramat sakit.
Ku biarkan Rinjani menangis sambil memeluk nisan ibunya, ku elus rambutnya sambil memintanya untuk mengirim hantaran Do'a. Hingga akhirnya dia limbung, wajahnya pucat pasi.
Berkali-kali ku tepuk wajahnya, dia sama sekali tak merespon. Hingga juru kunci makam menyuruhku untuk membopongnya pulang. Dia hanya berkata, "wes loro tambah loro, muliho. tak jogo makam ibumu." (Sudah sakit tambah sakit, pulanglah. Ku jaga makam ibumu.")
Melalui anak tangga yang berjumlah puluhan, aku membopong tubuh Rinjani. Tubuhnya yang kecil memudahkan ku untuk membawanya cepat-cepat pulang ke rumah. Disepanjang perjalanan, dia sama sekali tak menunjukkan respon saat aku mencubit pipinya, atau sekedar mengoyangkan bahunya. Dia seperti terbawa arus mimpi dan tak ingin kembali.
Khawatir sudah pasti, apa lagi jika dia masih tidak percaya.
Sesampainya di rumah, aku membawanya ke kamarku. Memang dilarang, tapi untung ada Ibunda. Ya, Ibunda memang seseorang yang tidak begitu kolot dengan aturan. Selama itu masih bisa di jelaskan, Ibunda pasti mengerti.
Kali ini aku terpaksa harus meminta Nurmala Sari untuk datang ke rumah, hal yang harusnya tidak aku lakukan. Apa lagi, kedatangan Nurmala Sari untuk memeriksa kondisi Rinjani.
Pikiranku sedemikian buntung, hanya dia orang yang bisa dipercaya untuk saat ini.
Aku melihat satu wanita yang sudah berhasil meraih impiannya, impian yang ia harapkan akan membuatnya menjadi manusia yang memiliki nilai penting dalam kehidupan. Dia Nurmala Sari, kekasih yang mengisi hatiku selama lima tahun. Anggapan jika semakin lama sebuah hubungan akan semakin mempererat tali kasih, nyatanya itu hanya seperti bualan asap. Dia lebih memilih untuk fokus mengejar impian-impiannya, mengabaikan impian ku dan keluarga.
Lama menunggu, akhirnya aku menyerah. Aku membuat suatu kesalahan. Menciumnya disaat yang tidak tepat. Dia marah, bahkan sesuatu yang 'menjaganya' juga ikut serta memarahiku. Akhirnya kisah Lima tahun itu terbuang percuma, menyisakan satu persatu kenangan yang mulai sirna.
*
Di dalam apotek aku kebingungan, bagaimana caranya untuk membeli sebuah pembalut. Untuk menyebutnya saja mulutku sudah kaku, alhasil aku hanya menunjuk plastik berwarna oranye dengan sayap. Apoteker tersenyum lebar, dia seperti mengerti kegundahan hatiku. Sesuatu mengelitik perutku, baru kali ini dalam hidupku, aku membeli sebuah pembalut demi kekasihku yang sedang "Bocor Alus"
__ADS_1
[Flashback POV Kaysan] ^_^