Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ POV Kaysan ]


__ADS_3

Aku menggeliat pelan saat mendengar suara brisik yang mengganggu istirahat malamku.


Aku menyipitkan sebelah mataku, sebelum akhirnya mataku benar-benar terbuka sempurna. Bahkan tidak seperti sedang bangun tidur.


"Apa yang kamu kenakan!" desisku sambil merangkak mendekati Rinjani yang sedang duduk di tepi ranjang.


Ini sudah mendekati pukul setengah dua pagi. Rinjani masih terlihat bugar tanpa mengantuk sedikitpun.


"Kenapa mas Kaysan bangun, ini masih dini hari." jawabnya pelan, sambil tersenyum.


"Apa yang kamu kenakan?" Aku meneliti baju tidur berwarna hitam transparan yang Rinjani kenakan. Aku juga tidak melihat kutang yang bertaut di belakang punggungnya.


"Lingerie, Laura memberiku ini sebagai hadiah. Aku mencobanya, dan aku terlihat seksi." seru Rinjani dengan senangnya, "Aku tidak bisa tidur, mas. Maaf."


Aku mendesis, Rinjani memang terlihat seksi dan sudah dua Minggu ini aku jarang menyentuhnya. Aku tidak mau menyakiti anakku dengan membuat Rinjani mengalami pelepasan berkali-kali. Aku menahannya, tapi malam ini Rinjani begitu memikat mata dan menggoda.


Perutnya terlihat buncit, dan pantatnya terlihat semakin sintal. Apalagi buah dadanya semakin terlihat berisi.


Aku menelan salivaku, sambil duduk di samping Rinjani.


"Sudah dari jam berapa kamu terbangun?" tanyaku, karena sebelum aku terlelap Rinjani masih di dekapanku.


"Waktu mas tadi sudah ngorok, Jani lapar lalu keluar kamar, makan." Rinjani menyeringai lebar.


Astaga, istriku. Umurnya memang masih dua puluh satu tahun. Diusianya yang masih muda dan mengandung anakku, dia tampak biasa-biasa saja, tak seperti menanggung beban.


Permintaannya pun slalu aneh-aneh, ia ingin isi kulkas penuh dan diberi kebebasan untuk berlatih membuat kue di kedai Laura. Katanya mulutnya bosan diam jika hanya dirumah sendiri, sedangkan Mbah Atmoe sudah rutin pergi ke peternakan. Mertuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri, ia bekerja di kantor KBRI Melbourne sebagai office boy. Aku tak masalah, asal semua bisa hidup tenteram di negeri orang. Sedangkan eyang Dhanangjaya ikut bersama ku ke sekolah, sebagai guru kesenian juga.


"Nanti masuk angin pakai baju seperti ini, sudah ayo tidur lagi." kataku sambil mengelus punggungnya.


"Jani gerah. Jani tadi mencobanya, karena kalau siang Jani malu." Rinjani tersenyum malu-malu, ia menunduk.


Sebagai laki-laki dewasa yang masih sangat berfungsi normal organ kejantananku, aku benar-benar tergoda dengan tampilan Rinjani. Terlebih ini kali pertama aku melihatnya memakai baju tidur seksi.


"Mas kenapa? Sudah tidur lagi sana." Rinjani mendorongku, sedangkan aku bergeming.


"Kamu sudah membangunkanku dan membangunkan si kecil." Aku menunjuk celanaku. Rinjani tersenyum lebar.


"Dasar. Jani tidak ada niatan untuk menggodanya. Mas saja yang bangun saat Jani belum sempat menggantikan."


"Bagiku itu hanya alasan klasik. Sekarang, apa boleh buat. Lama aku menahannya tapi tak tahan juga." Rinjani mengecup pipiku.


Gayung bersambut, ia beranjak duduk di pangkuanku.


"Jani kira mas sudah bosan denganku, karena akhir-akhir ini mas tak seperti biasanya." Rinjani mengecup bibirku pelan.


Astaga, dia kadang seperti bocah yang sedang asyik bermain dengan dunianya. Belajar membuat kue di kedai Laura itu hanya kedoknya saja untuk menutupi tingkah kekanak-kanakannya. Ia pasti senang bisa masak-masakan dengan seseorang yang sabar menghadapi ocehannya. Ya, aku mengenal Laura, baik Keenan ataupun kakaknya yang mengajakku menjadi guru di sekolah swasta. Aku beruntung, masih ada kebaikan yang aku dapatkan di negeri orang. Tanpa memandang aku ini siapa dan darimana. Orang-orang akan menyanjungku saat di negeri sendiri, tapi disini, kepandaian dan keuletan menjadi kunci untuk menjalani hidup mandiri dan disegani.

__ADS_1


Rinjani benar-benar memiliki dua sifat yang tak aku mengerti. Dan, saat ini. Ia sedang menjadi wanita dewasa yang memuaskan aku.


Posisinya yang berada di atas tanpa melepas lingerie seksinya, tak bisa membuatku leluasa untuk menjamah tubuhnya.


Gerakan pelan yang ia mainkan, dengan hentakan lembut. Membuatku melenguh panjang. Ini nikmat sekali. Benar kata Rinjani, terlalu sering menggaulinya rasanya sudah seperti hal mekanis yang biasa-biasa saja.


Berbeda jika dilakukan dengan senggang waktu yang lama, pun tak sebentar.


"Jani capek mas." Nafasnya tersengal-sengal.


Tanpa menyakiti putriku. Gerakanku lembut, tanpa penekanan. Tapi Rinjani justru meracau tidak suka.


Dasar licik, ia tadi bermain dengan lembut dan membuatku keenakan, sekarang ia malah memintaku untuk bermain cepat. Aku menangkup kedua payudaranya, dan menghentakkan pinggulku dengan cepat.


Rinjani mendesah panjang, ia mencengkram seprai dengan erat,


"Cepat mas, cepat."


Rinjani terkekeh kecil dengan nafas yang tersendat-sendat, "Akhirnya."


Aku mengatur nafas. Sementara Rinjani sudah bangkit dari posisi sebelumnya.


"Jani mandiin baba, Jani siapkan dulu airnya."


Akhir-akhir ini Rinjani sering kali menawariku untuk membantu membersihkan diri. Bukannya ini aneh?


Aku menyaut handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Rinjani benar-benar memandikan aku, ia tersenyum tanpa menggodaku.


Beginikah rasanya jika dimandikan, ada rasa yang menggelikan, tapi juga ada rasa hangat yang mendalam.


"Suamiku sudah tampan." katanya sambil mengeringkan rambutku. Ia memakaikan baju dan parfum di ketiakku.


"Baba sudah mandi, tapi sayang bubu belum." Rinjani cekikikan, ia mencium pipiku sebentar.


Baba dan bubu adalah panggilan yang menggelikan, itu rasanya tidak seperti aku. Tapi aku senang, saat melihat Rinjani senang.


Semenjak aku tahu jika anakku nanti adalah seorang putri.


Ada rasa was-was yang menderapku setiap kali. Ada rasa siaga yang mengharuskan aku untuk menjaganya. Terlebih aku slalu dibuat penasaran dengan parasnya, bentuknya dan tingkah lakunya. Putriku, ia akan dicintai oleh Ayahanda, mungkin.


Aku takut menerka.


Kerinduanku akan tanah Jawa, kadang membuatku merasa bersalah karena meninggalkan Ibunda di rumah. Terlebih, bukan pertentangan antara aku dan Ayahanda saja tujuanku pergi dari rumah.


Kedekatan Rinjani dengan si kembar dan Nanang membuat Rinjani akan tergantung pada mereka. Dan, itu akan menyulitkan Nanang untuk move on.

__ADS_1


Semua karena salahku.


Entah. Bagaimana nanti jika Rinjani pulang ke tanah Jawa. Aku memang akan menyetujui permintaan Rinjani untuk pulang dan melahirkan di sana. Tapi, dengan siapa Rinjani tinggal dengan keadaan hamil besar. Sedangkan aku masih memiliki tanggung jawab disini. Kepalaku berputar mencari alasan yang tepat untuk membuat Rinjani mengerti, tapi itu tak akan mudah. Ia pasti akan merengek dan menangis.


Pagi menjelang, Rinjani justru tidur dengan lelap. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Terlebih, ia baru saja tidur saat kami sudah menyelesaikan tugas bertemu dengan sang hyang jagat.


Aku mengecup keningnya.


"Baba pergi kerja, jangan lupa makan siang dan minum susu." lirihku sambil mengecup perutnya, "Baik-baik dengan bubu dirumah." Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Rinjani tak merespon. Aku keluar rumah dengan harap-harap cemas.


"Mr. Kay."


Aku mendesah pasrah, Anne masih saja terus mengejarku. Ia sering menyejajari langkahku.


"Ada apa, Anne?" tanyaku, dialah gadis yang sering berteriak, Mr. kay, i love you.


"Mr. Kay, untuk sarapan." Dahiku mengerenyit saat ia mengeluarkan kotak bekal makan dari dalam tasnya.


"Saya sudah sarapan dengan istri saya tadi Anne. Makanlah." Aku menolaknya dengan halus, sambil tersenyum simpul.


Wajah Anne mendadak cemberut, "Pagi-pagi sekali aku meminta mama untuk mengajariku membuat nasi goreng, tapi Mr. Kay menolaknya."


Aku menghela nafas, "Baiklah, kali ini saya terima. Pergilah ke kelas, jam pelajaran sudah mau dimulai."


Anne tersenyum senang, ia melangkah dengan riang gembira dengan tangan yang melambaikan tangannya.


"Lagi-lagi, Kay?" Eyang Dhanangjaya yang berada di belakangku hanya bisa meracau sambil menggodaku dengan ejekannya.


"Jika Rinjani tahu, dia pasti akan marah-marah. Atau jika tidak, kamu hanya akan dikurung di rumah."


Eyang tertawa terbahak-bahak.


"Seperti tidak tahu saja bagaimana jika istriku cemburu, bisa satu bulan penuh aku tidak dapat jatah, eyang."


Aku tersenyum manis, mengingat kejadian semalam. Rinjani begitu indah, dengan lekuk tubuhnya yang seksi.


Senyumnya yang menggodaku. Duh Gusti, mesumku tidak karuan.


Eyang menepuk bahuku, menyadarkan aku dari lamunan nakalku.


"Sudah waktunya mengajar, Jani pasti sedang mimpi buruk suaminya sedang di goda anak didikmu."


Kembali lagi eyang tertawa. Tidak tahu, jika aku takut Rinjani cemburu akan berbuat nekat.


Lebih baik aku diam soal nasi goreng pembawa sial ini.

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2