Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 131. [ Gelak sedih ]


__ADS_3

Selentingan kabar jika Kaysan di asingkan selama masa-masa menuju sayembara adalah hal yang membuatku risau. Dikamar ini aku meringkuk, memikirkan suamiku ada dimana.


*


Suaminya duduk di trotoar, sambil menyesap rokok ditangannya. Beberapa putung rokok sudah tersebar di depan kakinya. Wajahnya kacau, babak belur dihajar prajurit Ayahanda.


Asap rokok bergelung-gelung, kembali lagi menerpa wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras. Semangat hidupnya buyar, tatkala Nurmala Sari memberi kabar jika ia menyetujui sayembara joged yang Ayahanda titahkan.


Siang itu setelah Kaysan melakukan wawancara dengan pewarta mengenai dirinya yang menjalin cinta dengan penari istana. Kaysan di seret menuju ruang khusus yang terdapat Ayahanda dan prajuritnya.


Jika Rinjani akan duel lima hari lagi, Kaysan sudah di tuntut untuk duel hari ini juga. Prajurit-prajurit pilihan Ayahanda bergantian, bertarung melawan Kaysan. Tentunya bukan tarung gaya bebas, ada aturan-aturan tertentu dan larangan. Namun, Kaysan yang sudah dibakar amarah. Membabat habis prajurit Ayahanda, tak ada nyawa yang melayang. Hanya berujung pada daftar nama pasien UGD.


Mobil kodok berhenti tepat dibelakang mobil Kaysan. Ia menggeleng mengetahui keadaan Kaysan sekarang. Bajunya masih berlumuran darah, sudut bibirnya membiru.


"Pulang, mas." Nanang duduk disamping Kaysan. Mereka sama-sama memegang rokok ditangan dan menyesapnya.


Lengang... Kaysan tak menghiraukan ucapan Nanang. Ia masih asik menyebulkan asap rokok dari lubang hidungnya.


"Kebanyakan rokok akan membuatmu cepat mati, Mas. Dan, Rinjani akan menjadi janda!"


Kaysan menoleh dan berdecih, "Bukankah kamu suka, Nang. Bukankah itu menjadi kesempatan untuk mendekati, Rinjani lagi?" Kaysan tersenyum sinis.


"Aku masih mau perawan, Mas. Aku masih ingin lubang sempit." Nanang tersenyum lebar, "Rinjani, sudah bolong. Sudah banyak jejak yang kamu tinggalkan, Mas."


"Brengsek!" Untuk kali pertama Kaysan mengumpat di hadapan adiknya.


"Rinjani suka yang besar, suka yang tangguh-tangguh. Sedangkan aku, nonton bokep saja sudah basah dan menegang."


Kaysan tergelak sesaat, "Pulanglah, aku tak butuh hiburanmu." Kaysan menepuk bahu Nanang, "Tidak mungkin juga kamu nonton bokep, hanya akal-akalanmu saja."


Nanang menginjak putung rokoknya, "Rinjani tak selemah yang kamu bayangkan, Mas. Dia adalah gadis ceria yang slalu menyembunyikan rasa sakitnya. Dia mempunyai tempat sendiri di hati masyarakat yang mengenalnya. Aku akan ada dibalik layar, sedangkan mas hanya perlu menjadikan Rinjani satu-satunya istri. Itu pesanku sebagai mantan kekasihnya sekaligus adikmu." Nanang beranjak berdiri, "Jangan sampai kecewa menjadi pengisi hati dikemudian hari."


Nanang pergi, meninggalkan Kaysan yang masih termenung sendiri.


*


Kabar di adakannya sayembara menari untuk mendapatkan hati seorang Pangeran, menyebar begitu luas dari mulut ke mulut. Media sosial terus menggembor-gemborkan kabar, hingga tak sedikit kawan Rinjani dikampus menjadikan isu tersebut topik hangat pembicaraan. Ada yang acuh tak acuh, ada pula golongan 'ada nasi siap mendukung', tak terkecuali Anisa. Ia terpogoh-pogoh mengejar Nanang di koridor kampus. Nafasnya terengah-engah,


"Jadi benar?"


Nanang menoleh sesaat, "Apanya?"

__ADS_1


"Rinjani dan kakakmu?"


"Kamu tahu?"


"Dimana, Rinjani? Dimana dia sekarang?" Anisa sudah tak sabar saat Nanang malah mengulur pertanyaan.


"Rinjani disembunyikan. Datang saja di bangsal kencana, jika kamu mau mendukungnya." Nanang berlalu, tapi tangan Anisa mencekal tangannya, "Aku ingin mengatakan sesuatu."


Di dalam kelas bahasa, Anisa menceritakan sewaktu Rinjani yang meminta tolong menerjemahkan bahasa Kawi yang ditulis oleh seseorang.


"Siapa kamu sebenarnya?"


"Aku Anisa. Teman kelasnya Rinjani." Anisa mengulurkan tangan.


"Aku tidak mengajakmu berkenalan." Tepis Nanang dengan belagunya. Anisa tersenyum kecut, sambil menarik kembali tangannya.


"Pantas saja waktu itu, Rinjani berani berkata bahwa ia mencintai rektor itu. Ternyata mereka memang berpacaran. Belum lagi Rinjani pernah di hukum diruangan rektor itu, jadi mereka mencuri waktu untuk bertemu." Anisa berbicara sendiri, dengan pipi yang bersemu merah membayangkan Rinjani dan Kaysan berpacaran diruang rektorat.


"Sudah mengkhayalnya?" cela Nanang.


"Baiklah aku akan berada di belakang Rinjani." Anisa mengepalkan tangan dan ia angkat ke udara.


*


Bu Rosmini yang sibuk melihat infotainment di depan televisi ternganga melihat wajah Rinjani berada dibalik layar kaca.


"Secepat ini, Nduk!" Mata Bu Rosmini berkaca-kaca, "Kamu pasti sedang kesusahan, ya Allah ampuni dosa-dosa Rinjani dan lapangkan jalannya menuju kebahagiaan." Bu Rosmini mengamini doa-doanya. Ia bergegas menuju rumah ketua RT dan seorang ustadz untuk mengadakan pengajian di kediamannya.


"Mak, kumpulkan ibu-ibu arisan empat hari lagi. Bawa sapu, panci, spatula, wajan, serok, kalau perlu bawa kompor gas dan tepung bakwan!" Bu Rosmini mengebu-gebu. Anaknya yang memiliki keterbatasan fisik menunjuk-nunjuk dirinya.


"Kamu ikut! Buktikan jika putriku Rinjani juga bisa berbahasa isyarat." Senyum gagu itu melebar, tangannya bertepuk tangan. Kepalanya berkali-kali mengangguk.


"Saya siapkan pasukan deterjen, Bu. Bilas tuntas!" balas Mak'e tak kalah antusiasnya.


*


Dari sudut kota yang jauh disana. Seorang pekerja bangunan membawa koran harian dari tempat kerjanya.


"Miss Jani." Tian menunjuk-nunjuk foto Rinjani yang tercetak besar di halaman depan koran. Iseng-iseng membuka koran yang dibawa paklik. [ Bapak cilik : Om ]


Tian tak sengaja melihat wajah guru bahasa Inggrisnya yang selama ini ia rindukan. "Dadi Iki alasanne Miss Jani ra tau ndene. Konco-koncoku kudu reti." [ Jadi ini alasannya Miss Jani gak pernah kesini. Teman-teman ku harus tau. ]

__ADS_1


Tian bergegas mandi, lalu mengenakan baju koko dan bergegas ke surau untuk mengaji dan menyiarkan kabar penting. Suara toa berisi ultimatum kepada seluruh warga yang tinggal dan mengenal Rinjani, diminta untuk bergabung menuju istana.


Siapa warga yang tak mengenal Rinjani, berkat kedatangan seorang laki-laki yang sedang mencari tambatan hati. Ruang belajar yang semula hanya beralaskan karpet kini berubah beralaskan keramik, dindingnya berubah menjadi tembok semen, dan atapnya tak akan rubuh di terjang badai ataupun hujan yang mengguyur deras.


Perekonomian yang semula berada di posisi bawah, berubah menjadi UMKM berkat bantuan tenaga ahli dan pihak-pihak aparatur sipil yang mulai memberdayakan masyarakat yang memiliki potensi besar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.


Rinjani tak pernah mengepakkan sayapnya, ia terbang dengan caranya sendiri membentuk sebuah keindahan. Keindahan sederhana untuk menikmati kehidupan yang jauh dari kata sempurna.


Musik metal tak ubahnya menjadi musik yang membuatnya berdiri tegar, menjadi sosok yang apa adanya, senyumnya yang ceria dan kekonyolannya telah melekat di hati siapa saja yang mengenalnya, tak terkecuali Kaysan yang telah menjadikannya Ratu dihatinya.


*


Hari-hari penuh tekanan terus aku lalui bersama suka duka. Suka karena banyak sekali abdi yang membantuku, namun dukanya juga banyak abdi yang meragukanku.


Malam-malam terus aku lalui dengan perasaan tidak tenang. Bunyi-bunyian terus terdengar mengganggu istirahat malamku. Ada saja kelakuan manusia untuk menghasut manusia lainnya. Aku tak memaksa untuk menerima keberadaanku, hanya saja aku tak suka jika ada yang mengusikku.


Seonggok rindu ini sudah menjadi pengacau hatiku, jangan sampai manusia bertopeng itu menjadi sasaran empuk kejengkelanku.


Setelah mengumpulkan keberanian dan membawa satu senjata andalan 'semprotan cabe', diam-diam aku membuntuti seseorang yang aku intip dari balik jendela.


Orangnya tak begitu tinggi, tak juga pendek. Aku pastikan dia laki-laki, karena memakai sarung sebagai penutup kepalanya. Jika dia memang biang keroknya, biarkan ia kepanasan merasakan cabe rawit yang aku campur dengan merica bubuk.


Keadaan cukup sepi dan remang-remang, di balik pilar ia memulai aksinya. Dibalik pilar lainnya aku mulai menyergapnya.


"Siapa kamu?" tanyaku lirih memegang bahunya. Ia terpaku sebentar, lalu menyergap tanganku dan memelintirnya.


"Diam dan rahasiakan! Jika tidak tanganmu akan patah." Aku tersenyum kecut, belum pernah aku mengeluarkan jurus jitu selain jurus ngambek.


Botol spray aku keluarkan dari kantong celanaku. Berkali-kali semprotan mengenai wajahnya. Ia mengaduh dan melepas tanganku. Dikesempatan ini aku menarik sarung di kepalanya. "Parto!" Mataku membulat tak percaya, ia mau memboikot sayembara!


"Cah edan! Aku diminta Gusti pangeran untuk menjagamu, malah di semprot cabe." Bibirnya misuh berkali-kali, karena tak tega aku menariknya menuju kran air di dekat taman. [ misuh : mengumpat ]


"Gimana ceritanya?" tanyaku setelah matanya sedikit membaik.


"Panjang... Intinya hanya suruh mengawasi diam-diam." jawab Parto.


"Diam-diam tapi brisik, aku ra iso turu." [ Aku gak bisa tidur ] Aku mengawasi sekeliling, "Sudah pulang saja, sampaikan rinduku pada mas Kaysan. Dan, maafkan aku sudah curiga."


Di hari yang sudah larut ini, aku bisa bernafas lega. Entah esok pagi, karena nanti adalah hari terakhir ku untuk menjalani ritual khusus sebelum diselenggarakan sayembara.


POV campuran. Rinjani dan author. Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2