Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Indah suaranya ]


__ADS_3

Walaupun lelah tapi tidak ada yang lebih membahagiakan Kaysan jika ia sudah sampai di rumah. Beberapa hari yang lalu ia sibuk mengordinir pegawai yang dulu bekerja dengannya. Meski sempat kesulitan untuk mengait karyawan karena beberapa di antaranya sudah mencari pekerjaan baru. Tapi bukan Kaysan jika tidak bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Ia membuka lowongan pekerjaan yang di peruntukan bagi pengangguran atau preman-preman pasar yang meresahkan, tentunya setelah mendapat pelantikan dari pemerintah setempat.


Seminggu setelah kedatangan Bu Rosmini, Rinjani mulai menunjukkan tanda-tanda ingin rujuk. Setiap pagi ia membuatkan kopi kesukaan Kaysan, atau seperti sore ini. Baju ganti Kaysan sudah Rinjani siapkan di atas ranjang.


Sementara Kaysan diam dan bingung ingin memulainya dari mana.


Rinjani menahan senyum, ia berdiri dibelakang Kaysan, memijit pundak Kaysan dengan lembut. Memulai melanjutkan lagi kewajibannya sebagai seorang istri.


Bu Rosmini memang penjahat. Kalau beginikan aku seperti jablay beneran.


"Ada yang salah dengan dirimu, Rinjani? Aku perhatikan akhir-akhir ini kelakuanmu aneh." ucap Kaysan yang membuat Rinjani menggerutu tanpa mengeluarkan suara.


Aneh! Dia pikir kelakuanku aneh begini untuk siapa? Tidak ngaca jika aku begini hanya untukmu, untuk kita.


Rinjani menekan punggung Kaysan semakin keras, "Dasar tidak peka!" sembur Rinjani. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Kaysan dengan cepat.


"Sekarang mulai protes punya istri aneh! Terus mau cari yang normal? Iya!? Ayo katakan di depanku sekalian, tidak perlu malu-malu." Rinjani menantang Kaysan.


Dengan sadar, Kaysan mendekatkan wajahnya. Mengecup pipi Rinjani pelan. Kaysan pria dewasa, dia juga butuh penyaluran hasrat.


"Kembalilah seperti saat kamu memintaku untuk pulang."


Rinjani meringis. Ia gugup sendiri melihat tatapan Kaysan yang menggetarkan hatinya. Rinjani memalingkan wajah, membuat Kaysan menghela nafas.


"Kenapa harus malu? Apa belum cukup kamu membalas dendam kemarin? Apa belum cukup aku meminta maaf padamu berulang kali?"


Rinjani menggeleng.


"Katakan keinginanmu?"


Rinjani gelagapan, ia masih gengsi untuk menghamburkan pelukannya.


"Apa perlu aku yang memulainya? Tatap mataku, dik."


Rinjani beranjak, ia mengatur nafasnya.


"Lebih baik mas mandi dulu, ini masih terlalu sore untuk..." Rinjani bergegas keluar kamar. Tanpa melanjutkan kata-katanya.


Kaysan tersenyum, ada-ada tingkahnya. Kaysan mengambil handuk dan bergegas mandi.


*


Makan malam diisi dengan kemeriahan pesta ulangtahun Ibunda. Laura membuatkan Ibunda sebuah kue tart tanpa hiasan, kue itu hanya di lapisi cream putih. Seperti seputih cinta Ibunda kepada Ayahanda dan anak-anaknya.


Kaysan mengecup pipi Ibunda, "Maaf."

__ADS_1


Ibunda mencubit punggung tangan Kaysan, "Jangan diulangi lagi!"


Kaysan mengangguk, kini gantian Rinjani yang memeluk Ibunda.


"Jangan menua terlalu cepat Ibunda, Jani masih butuh bimbingan Ibunda."


Ibunda mengusap punggung Rinjani, "Mana hadiahnya?"


"Ibunda mau cucu lagi?" tanya Rinjani.


"Kamu ini anak baru satu saja yang mengasuh banyak orang, apalagi anak banyak? Lama-lama rumah ini akan menjadi playground."


Rinjani melepas pelukannya, "Kata Ayahanda memang begitu, besok taman belakang akan dibuat taman bermain untuk cucu-cucunya, sedangkan Ayahanda yang akan menjadi guru paudnya."


"Mana mau bocah paud diajari bahasa Jawa dan sejarah kerajaan. Anak sepuluh saja yang mengasuh abdi-abdinya. Mengkhayal!" cecar Ibunda yang membuat Ayahanda tertawa, "Kemarilah istriku."


Ibunda mendekati Ayahanda. "Selamat bertambah usia istriku, permaisuriku. Terimakasih sudah berkorban untuk saya, keluarga dan istana. Semoga yang maha kuasa memberikan kekuatan lahir dan batin untukmu."


Ayahanda mengecup kening Ibunda.


Rinjani yang melihatnya terharu. Ia meninggalkan kemesraan Ayahanda dan Ibunda ketika Ayahanda mulai menyuapi Ibunda dengan tumpeng nasi kuning.


Rinjani duduk diantara keluarganya. Bergabung dengan Laura dan Herman.


"Mama kapan toko kuenya dibuka?" tanya Rinjani.


"Soal karyawan biar Jani yang urus. Mama tenang saja." kata Rinjani dengan santai.


"Jangan mudah merekrut karyawan, ingat siapa kamu sekarang." Bapak menasehati.


"Betul kata Bapak, lebih baik identitas owner dirahasiakan. Mama tidak masalah kan kalau status Mama sementara di sembunyikan? Aku takut, nanti ada pihak yang menyabotase toko kue mama." Kaysan menimpali.


"Terserah kalian saja, yang penting Mama bisa membuka toko kue." jawab Laura. Ia menatap Kaysan dan Rinjani secara bergantian.


"Kalian sudah baikan?" tanya Laura.


Kaysan mengangkat bahu, sedangkan Rinjani blak-blakan tentang situasi mereka. Seolah sudah biasa dengan sikap kelakar anaknya, Herman dan Laura tersenyum.


Kaysan menggeleng sambil menjewer telinga Rinjani.


"Sakit!" Rinjani sedikit emosi.


"Siapa yang mengkhianatimu?" tanya Kaysan.


"Kamulah! Siapa lagi." Rinjani tidak peduli alis suaminya yang berkerut. Ia rindu berdebat dengan suaminya.

__ADS_1


"Kamu membahasnya terus-menerus, seolah-olah aku sudah membuat duniamu runtuh." Tatapan Kaysan terlihat kesal.


Rinjani semakin tersenyum mendengar gerutuan Kaysan.


"Biarkan malam ini Dalilah tidur dengan kami." izin Laura, ia tahu Kaysan dan Rinjani butuh waktu untuk berdua.


"Jangan, Ma." sergah Rinjani, "Dalilah tidur bersama kami berdua." Rinjani tertawa kecil, menutupi kegugupannya di hadapan Kaysan. Kaysan melirik Rinjani yang terlihat salah tingkah di depannya.


Laura mengangguk tersenyum senang, berharap kedua anaknya lekas menjalin hubungan dengan mesra seperti biasanya.


*


Dalilah sudah tidur di tengah ranjang. Sengaja Rinjani menaruh Dalilah ditengah menjadi pembatas diantara mereka berdua. Bak pengantin baru, wajah Rinjani sudah tidak bisa dikondisikan. Ia menahan senyum, dengan pipi yang merona.


"Aku mencintaimu, Rinjani." Kaysan menatap mata Rinjani tajam. Penuh keyakinan. "Sadarlah, sudah enam bulan lebih hidupku sekarat. Aku butuh kamu dan Dalilah. Kalian sumber energi ku untuk hidup, untuk melewati semua hal yang membuatku bertahan hingga sekarang."


Rinjani terharu mendengar pernyataan cinta dari Kaysan. Tangan Rinjani yang sedang menepuk-nepuk pantat Dalilah, seketika di genggaman oleh Kaysan.


Sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya, Kaysan tersenyum penuh harapan. Ia mengecup punggung tangan Rinjani.


"Sayang..." panggilnya.


"Iya." jawab Rinjani gugup.


"Kamu mencintaiku?"


Rinjani mendongak, menatap wajah Kaysan tak percaya.


"Apa balas dendam ku kemarin-kemarin belum cukup membuat mas cemburu? Apa Santosa harus mencium pipiku dulu, agar mas tahu bagaimana rasa sakitnya aku melihat mas dicium wanita lain dan menari dengan dua wanita yang berbeda? Sedangkan aku saja belum pernah menari denganmu!" ucapan Rinjani yang menggebu-gebu membuat Dalilah terusik. Dalilah merengek meminta susu. Dengan bergegas Rinjani menyembulkan payudaranya.


"Hmm...," Kaysan terus menatap tonjolan yang tampak penuh dan semakin besar di depannya.


"Jangan lihat-lihat, ini milik Dalilah sekarang!" tegur Rinjani. Kaysan mengubah posisinya, kini ia sekarang berada di belakang Rinjani. Memeluknya.


"Aku akan menganggap jika kamu sudah memaafkan aku. Dan, kita akan memulainya lagi bertiga. Aku Kaysan, Kamu Rinjani, dan putri kita, Dalilah." Sejenak ketegangan diantara mereka mulai pudar. Rinjani berharap ini akan selamanya.


"I love you, Kaysan Adiguna Pangarep." Muka Rinjani merona merah mengatakan hal itu. Kaysan mencium puncak kepala Rinjani.


"Setelah ini gantian aku yang mengambil alih payudaramu. Sudah enam bulan lebih, rinduku tertahan." Kaysan menempelkan bagian bawah tubuhnya di pantat Rinjani. Ia menggeseknya pelan.


"Tidak bisakah menunggu sampai Dalilah tidur?" Rinjani kesal, tangan Kaysan sudah menjalar kemana-kemana.


"Aku hanya memastikan bahwa kamu Rinjani, istriku yang cerewet."


Kaysan meremas pantat Rinjani. Rinjani berlonjak kaget, "Jangan seperti kucing garong, Mas!!!" Kaysan terkekeh, ia menghela nafas lega. Ada kebahagiaan yang kembali menghangat dalam pelukannya. Malam yang kembali indah bagi keluarga kecil yang mengharapkan kebahagiaan sederhana, saling melengkapi kekurangan dan mengisi kebersamaan dalam harmoni cinta.

__ADS_1


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2