
Aku merasa berantakan saat berada di kamar Nanang. Entah apa yang harus aku lakukan saat mengetahui jika Nanang masih menyimpan semua barang pemberian ku. Harganya memang tidak seberapa, bahkan terbilang murah, tapi Nanang dengan setia memajangnya di etalase kaca, tersemat diantar action figure dan kaset-kaset lawas sebagai benda koleksinya.
Kepala ku bersandar pada kaca, menatap sendu keluar jendela. Pias mentari membuat mataku berkali-kali mengerjap, "Keluar sana... Tidak baik kau dan aku ada dalam satu kamar!" Nanang menggeretakku.
Aku tak bisa membantahnya, memang tidak baik kami berdua ada dalam satu kamar, meski sebenarnya bunda Sasmita asik duduk di depan meja belajar Nanang.
Ooh baby, it's still raining in my heart
In my heart
No one understands the heartache
No one feels the pain
No one ever sees the tears
When you're crying in the rain
Bunda Sasmita bernyanyi sepotong lirik lagu dari Whitesnake berjudul Crying in the rain. Sambil berputar di kursi, Bunda beranjak menuju ranjang Nanang. Entah kenapa melihat Bunda Sasmita merangkul bahu Nanang, seperti melihat seorang kakak yang sedang menyemangati adiknya yang gundah gulana karena cinta.
"Waktu itu kacau sekali kamar ini cantik." jelas Bunda Sasmita. Aku bergeming, masih asyik bersandar di jendela.
"Bun... sudah! Jani sudah bahagia dengan mas Kaysan." Nanang merajuk, katanya sambil menengkulupkan badan. Kepalanya ia tutup dengan bantal.
"Cantik tahu enggak, waktu itu dia nangis. Marah sama Bapaknya. Seharian suntuk cuma dengerin lagu di kamar, tidak mau makan. Ah! Patah hati sekali dia." Bunda Sasmita menggeleng, mengingat tingkah laku Nanang saat ia sedang patah hati, "Bunda bermaksud ingin menemuimu untuk mencari kebenaran, tapi sayang. Laki-laki di rumah ini melarang bunda. Katanya sudah putus ya waktu Kaysan mendekatimu?"
Aku mengangguk, "Kita dulu putus karena Nanang memilih untuk fokus kuliah, lagian Nanang juga bohong sama aku Bunda." Aku mendekati mereka berdua, ikut Bunda Sasmita duduk di tepi ranjang.
Berada di ruangan bernuansa retro klasik membuatku nyaman, ditambah semilir angin yang berhembus dari celah-celah ventilasi udara membuatku mengantuk.
__ADS_1
"Karena terlalu sering bersamamu, dulu Nanang sering sekali tidak mengerjakan tugas kuliahnya. Bunda geram, bunda yang menyuruh Nanang untuk fokus dengan pendidikannya. Sayang, ternyata bukan kamu yang menghambat Nanang. Bunda ingin menyesal, tapi semua sudah terjadi." Bunda Sasmita menghela nafas panjang.
"Sudah Bun, sudah! Aku malu!" sergah Nanang dengan cepat. Ia semakin menyembunyikan wajahnya.
"Sayangku Rinjani. Apapun pilihanmu dan Kaysan nanti, kami tetap akan mendukung kalian berdua. Bunda, Nanang, Sadewa dan Nakula siap menjadi tim sukses kalian. Berusahalah." Bunda menepuk pundakku, "Kelak anakku ini akan mendapat gadis cantik seperti mu, benar kan Nang?" tanya Bunda Sasmita yang langsung di iyakan oleh Nanang.
"Nonton yuk, Ayahanda sudah ada di home teater." Aku menahan lengan bunda Sasmita, saat beliau sudah beranjak berdiri.
"Ayahanda tidak kerja?" tanyaku heran.
"Sudah di handle sama orang lain. Ayo bersenang-senang, Ayahanda bilang kalau kalian berdua tidak akan bertemu lagi. Jadi ayo, kita bikin kenangan indah di rumah ini. Sebagai gantinya saat berpacaran dulu." Aku menoleh ke arah Nanang saat ia beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku mau nonton film action, Bun."
Bunda Sasmita mengacungkan jempolnya, "Ajak Jani ke ruang home teater, bunda mau bikin popcorn sama minuman." Bunda meninggalkan ku dengan Nanang. Aku yang tak mau di hasut oleh keadaan dan setan, akhirnya berlari kecil ke luar kamar, "Ayo... nanti kita di ceramahin Nina kalau dia tahu kita berada di dalam kamar berdua."
Nanang tersenyum masam, "Apa Nina tahu kita menjadi satu keluarga?" tanya Nanang saat kita berjalan beriringan.
Nakula dan Sadewa meringsek melewati kami berdua, "Kalian berdua tidak di pendopo agung? Wah wah, ada apa ini? Apa kamu yang merayu Ayahanda untuk membawa Mbak Jani kesini? Wah wah wah..." Sadewa menggeleng tak percaya.
"Jika mas Kaysan tahu, kita benar-benar akan di asingkan ke planet mars." celetuk Nakula.
"Kalian kenapa gak ke kampus? Hah?"
Kedua kepala itu mendongak menatap langit-langit, mulutnya bersiul, bersamaan dengan itu Ayahanda keluar dari salah satu ruangan paling ujung.
"Anak-anakku, kemarilah, ada beberapa hal yang mau Ayahanda bicarakan."
Ya Tuhan apa lagi yang mau Ayahanda bicarakan, belum kelar masalah ini, mau bikin maslahat apa lagi Ayahanda.
__ADS_1
Kami berempat bergegas menuju ruang home teater. Disana sudah ada Bunda Sasmita yang memilih film action permintaan Nanang.
"Ayahanda, apa tidak sebaiknya nonton filmnya malam hari? Ini masih terlalu pagi untuk melihat film action." Sadewa meletakan tas ranselnya, lalu menjatuhkan dirinya di sofa.
"Apa anak-anak Ayahanda tidak mau menemani sebentar saja?"
"Nang, nonton Venom aja gimana?"
"Terserah bunda."
"Putriku Rinjani, duduk di samping Ayahanda."
"Hah..." Aku menunjuk diriku sendiri.
Nonton film di samping Ayahanda sudah seperti nonton film horror dan aku sendiri pemeran utamanya. Menakutkan.
Aku menggeleng cepat, "Bunda Sasmita saja yang duduk di dekat Ayahanda." tawarku.
Gelagatku terbaca oleh satu keluarga ini, ingin aku mengumpat kesal, saat mereka tertawa kecil karena melihat aku yang ketakutan.
"Kemarilah putriku, saat dirumah Ayahanda tetaplah seorang ayah untuk seorang anak. Hanya saja dengan suamimu Ayahanda harus bersikap tegas." Aku menatap Nakula, yang ditatap pura-pura mengambil popcorn. Sadewa sudah memilih posisi rebahan diatas permadani. Nanang sibuk menyeting suara speaker agar dentumannya menggelegar seisi ruangan.
Sedangkan Bunda Sasmita menyiapkan minuman.
Aku bimbang, duduk di dekat Ayahanda sama saja tidak bisa menikmati film, apalagi duduk di samping Nanang, jelas akan menimbulkan konflik baru.
"Sudahlah cantik, duduk saja di dekat Ayahanda. Harap maklum, anak perempuan satu-satunya sudah memilih jalan lain." Bunda Sasmita menarik tanganku dan memaksa aku duduk disamping Ayahanda.
Tuhan...degub jantungku berdetak kencang, tanganku dingin. Ini lebih menakutkan dibanding harus menghadapi ujian semester ataupun Sayembara yang akan aku hadapi sebentar lagi.
__ADS_1
Akhirnya demi kebaikan bersama, nonton film kali ini aku duduk di samping Ayahanda, tentunya dengan jarak aman. Selama berlangsungnya film Venom yang mengisahkan seorang dokter yang berencana membuat mahluk hidup dengan symbiote. Semua tampak khidmat menikmati setiap adegan demi adegan. Ke tiga anak Ayahanda memilih duduk di atas permadani. Rebahan sambil menyantap camilan, sedangkan aku PUCAT PASI.
Happy Reading 💚