
Bulu kudukku refleks meremang saat Kaysan menyingkap kaos ku. Entah sudah berapa kali, ia suka sekali mengusap perutku. Menciumnya berkali-kali.
Sungguh aku sebenarnya geli, tapi Kaysan slalu memaksa. Ia bilang, 'kangen', entah kangen dengan sang jabang bayi, atau kangen denganku.
"Sudah, mas. Aku nanti masuk angin."
Aku mengacak-acak rambut Kaysan, ia tidak ngomel-ngomel justru malah menaruh kepalanya di pahaku.
Tangannya masih asik mengusap perutku, sambil merasakan tendangan bebas dari sang jabang bayi. Kaysan selalu tersenyum jika anaknya membalas sentuhannya.
"Dik, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Kaysan.
"Entah, satu bulan lagi baru periksa jika tidak ada keluhan dariku." jawabku.
"Bagaimana kalau kita buat keluhan. Aku penasaran dengan jenis kelaminnya."
Aku mencubit pipi Kaysan.
"Kenapa? Memang mas sudah menyiapkan nama untuk anak kita?"
Kami berdua sedang bersantai di atas kasur. Besok pagi, kami akan ikut pergi ke peternakan sapi. Liburan sekaligus menemani Mbah Atmoe bekerja.
"Memberi nama itu sulit, makanya aku ingin tahu jenis kelaminnya dulu. Agar bisa menyiapkan nama dengan bagus." kata Kaysan. Lagi-lagi janinku menendang.
"Lihat, dia suka dengan kehadiranku."
"Iya dia suka, tapi kepala mas berat." Aku cekikikan saat Kaysan mengubah posisinya.
Kini dia ikut bersandar di sandaran ranjang, "Rinjani."
Kata-kata itu mendebarkan jantungku. Sudah lama Kaysan tidak memanggil dengan panggilan 'Rinjani', apalagi aku lihat senyum manisnya yang membuat hatiku meleleh.
"Genit." Aku mencubit perut Kaysan, ia terkekeh geli dan menahan tanganku.
"Aku mencintaimu, Rinjani." Pipiku tersipu saat kecupan lembut berlabuh di bibirku. Aku menatap Kaysan tepat di manik matanya. Mata yang dulu membuatku takut untuk menyelaminya. Semakin dalam, semakin aku tenggelam.
Kami tertawa setelah itu.
"Apa sih mas! Jangan romantis. Nanti Jani berbunga-bunga terus lupa diri."
Aku masih tertawa saat Kaysan hanya meresponsnya dengan anggukan.
"Kenapa jadi melankolis?"
"Memang salah jika aku ingin romantis, dengan istri sendiri."
"Astaga." Aku mengulurkan tangan, menyentuh lengan Kaysan, "Minta jatah?" tanyaku. Kaysan menggeleng.
"Baguslah. Karena kakiku sudah capek, tadi di kedai Laura rame banget."
"Mau aku pijit." Kaysan tersenyum
penuh arti.
"Modus lama terulang kembali."
Kaysan mencubit hidungku, "Harusnya kamu peka. Jika suamimu memiliki nafsu seksualitas yang tinggi."
Terang-terangan Kaysan menggodaku.
"Iya Jani tahu. Tapi, perut ini sudah menonjol. Dan, akhir-akhir ini mulai dilanda kesulitan tidur, mas." jelasku, Kaysan mulai memijat kakiku.
"Itu lumrah, aku bisa menemanimu sepanjang malam."
__ADS_1
Tanpa ampun, aku cubit pinggang suamiku.
"Mas slalu pintar menggunakan kesempatan."
"Laki-laki memang harus menggunakan kesempatan dengan baik. Sambil menyelam, jangan lupa minum susu." kata Kaysan.
"Mesum mu kebangetan, mas!" Aku menggeleng.
"Aku buatkan dulu susu untuk anakku."
Kaysan merangkak turun dari ranjang sambil lalu keluar kamar.
*
Segelas susu coklat hangat Kaysan berikan padaku.
"Habiskan. Setelah itu aku akan menuai hasilnya."
Aku menghabiskan semua isi dalam gelasnya, "Buatmu memang enak, pantas saja Jani tambah gendut." Berat badanku sudah naik sembilan kilogram. Dan, itu membuat sebagian celana jeans ku tidak muat.
"Memang, semua yang aku lakukan memang membuatmu enak. Apalagi yang kamu inginkan?"
Kaysan merangkak naik ke atas ranjang. Aku merentangkan kedua tanganku.
"Sini, Jani beri hadiah." Kaysan menganggat tubuhku, dan membiarkan aku duduk di pangkuannya.
"Kadang aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Menyentuhmu seperti memberiku energi sendiri."
"Kalau tidak berenergi berarti loyo." Aku merangkul leher Kaysan.
"Aku jadi ingat waktu malam pertama dulu. Mas pasti yang menyembunyikan tas ranselku." Kaysan mengangguk,
"Iya, aku melakukan itu dengan sengaja. Apalagi, kamu malu-malu kucing. Jadi aku tambah berniat mengerjaimu."
"Lama-lama kamu berat juga, dik."
"Baru juga naik sembilan kilogram, kalau naiknya enam belas kilogram gimana?"
"Tambah besar dan empuk."
Kaysan mencolek daguku, "Mau dik?"
"Emang Jani bisa nolak, kalau mas sudah minta?"
Kaysan memberi jeda waktu untuk melepas pakaiannya.
"Yang benar saja mas. Belum apa-apa sudah telanjang bulat. Malu Jani lihatnya."
"Aku sudah siap."
"Terus." Aku menutup wajahku, malu melihat tingkah Kaysan.
"Jangan lupa, bakti istri adalah surga. Sudah kerjakan, sebelum nanti aku puasa lagi."
"Kerjaan yang bikin senang dan dapat pahala ya begini."
Aku terkejut, belum juga pemanasan Kaysan sudah menyerangku. Ia menciumku tanpa jeda, tangannya mengeksplor berbagai kenikmatan yang tiada terkira.
Nafasku tersengal-sengal, aku melepas ciuman.
"Jani yang diatas, jadi Jani bisa memastikan apakah masuk semuanya atau setengah. Beda kalau mas yang menguasai permainan." Entah Kaysan mendengar suaraku atau tidak, ia hanya manggut-manggut saja.
"Jani sudah gak tahan!" bisikku di telinga Kaysan. Aku mengigit cuping telinganya.
__ADS_1
"Katanya mau menguasai permainan, sudah balikan tubuhmu." pinta Kaysan.
Aku menuruti keinginannya untuk melakukan hal Kaysan inginkan. Terlebih posisi ini tidak menekan perutku.
Kaysan terus meningkatkan ritme permainannya. Tanpa memberiku jeda untuk bernafas lega.
Aku menggeleng cepat. "Pelan-pelan, mas! Nanti bayinya ikut goyang. Kasian."
"Alasan." Suara serak nan basah tadi tersengal. Akhirnya Kaysan sendiri yang mempercepat ritme bercintanya.
Awalnya dulu aku hanya ingin mencoba mencintai Kaysan. Tapi ternyata aku keterusan hingga sekarang.
"Mas, Jani gerah." Peluh masih membasahi tubuh kami berdua seusai bercinta.
Musim panas di Melbourne akan berakhir satu Minggu lagi, dan akan berganti dengan musim gugur. itu artinya bulan ini memasuki akhir bulan Februari.
"Mau mandi?" tanya Kaysan. Ia sudah turun dari atas ranjang dan memakai kaosnya.
"Boleh, tapi pakai air dingin."
"Air hangat, aku siapkan dan kamu bereskan ranjang."
Seperti inilah rutinitas seusai bercinta. Kurang lebih ada empat seprai yang harus kami cuci setiap minggunya. Dan, itu benar-benar membuatku letih.
*
Diiringi musik country, dan hamparan lahan peternakan. Aku dan Kaysan duduk sambil menikmati pemandangan sapi-sapi yang sengaja di lepas liarkan di lahan yang ditumbuhi rumput-rumput.
"Pantas saja Mbah Atmoe betah disini." ucapku sambil menyandarkan kepalaku di lengan Kaysan.
Terlihat Mbah Atmoe sedang belajar menggembala sapi. Kata Laura lahan peternakan ini di sewakan untuk mereka yang ingin memiliki hewan ternak tapi tidak memiliki lahan pekarangan yang luas. Terlebih di sini ada aturan tentang memelihara hewan ternak yang tidak bisa leluasa bergerak di dalam rumah.
Kaysan termenung. Ia menikmati keindahan alam sekitar.
"Mas, Jani boleh bertanya sesuatu?"
"Hmm... katakan saja."
"Mas rindu Ayahanda?"
Kaysan menoleh sebentar, matanya terpejam.
"Siapa yang tidak rindu orangtua, Jani. Kalau saja aku ada keberanian untuk menyatakan itu. Aku pasti sudah mengatakannya kepada Ayahanda. Tapi, memang belum waktunya."
"Seandainya obat merah memiliki fungsi mengobati rindu. Aku rasa, aku bisa menjadi dokter spesialis rindu."
Aku menggoda Kaysan, dan itu memberiku ide.
"Jani pengen main dokter-dokteran, mas!"
"Ini di peternakan, kamu bisa berpura-pura menjadi dokter hewan."
"Tapi Jani takut di seruduk sapi."
"Tidak, asal yang kamu periksa bukan sapi metal yang salah pergaulan."
"Maksudnya?"
"Sapi metal kalau salah pergaulan jadinya seperti kamu, liar dan susah di atur."
Aku terkena bumerang. Saat aku ingin mengerjai Kaysan, justru aku yang terkena batunya. Aku terkikik sebentar saat Kaysan tersenyum lebar.
"Tapi yang liar dan susah diatur memang tidak mudah untuk di mengerti, ia punya keberanian tersendiri dalam menjalani kehidupannya. Seperti kamu yang berani mencintaiku dan mau belajar menjadi sepertiku. Banyak yang ingin menjadi/seperti aku, tapi itu tidak mudah. Dan, kamu mau melewatinya. Aku bangga denganmu, istriku. Mantan anak metal."
__ADS_1
Happy Reading ๐