
Danang Sutawijaya adalah nama Panembahan Senopati semasa muda, dulu sebelum mendirikan kerajaan di alas Mentaok. Danang Sutawijaya melakukan ritual tirakat dengan bersemadi di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta.
Dengan kesaktian dan laku prihatin yang tinggi, Danang Sutawijaya mampu menembus istana Ratu Kidul dan berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul sangat mengharapkan persahabatan dengan Danang Sutawijaya. Konon katanya Kanjeng Ratu Kidul sudah kesengsem dengan Danang Sutawijaya saat melakukan semedi. Bahkan, Kanjeng Ratu Kidul bersedia menjaga Kerajaan Mataram hingga turun temurun.
Setelah perjanjian disepakati oleh Danang Sutawijaya dan Kanjeng Ratu Kidul, terjadilah pernikahan batin atau gaib.
Danang Sutawijaya berhasil mendirikan Kasultanan Mataram Islam dan memiliki gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Kerajaan Mataram Islam yang berdiri di Kota Gede, Yogyakarta.
Cucu dari Panembahan Senopati sendiri menjadi Raja Mataram ke tiga yang tak lain adalah Sultan Agung yang terkenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, dan yang paling mengejutkan Raja Mataram ke empat tak lain dan tak bukan adalah Amangkurat I yang jatuh cinta kepada selir Kinasih Ratu Mas Malang. Hingga pada akhirnya secara turun temurun, Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi dua yaitu Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kerajaan Kasunanan Surakarta.
Dari sanalah, kisah cinta beda dimensi berawal. Kisah cinta yang sulit di cerna oleh akal sehat tapi benar adanya.
*
"Kamu mengerti, Rinjani?" tanya Kaysan setelah menceritakan kisah percintaan beda dimensi.
"Lalu apa hubungannya dengan selendang hijau ini mas?" Tanganku gemetar saat menerima uluran selendang hijau yang beberapa waktu lalu membuat ku pingsan.
Setelah menghabiskan waktu berdua di Villa. Malamnya kami sudah kembali ke rumah, karena besok kami sudah kembali kuliah dan bekerja.
Di ruangan yang menyimpan keris dan batu-batu akik milik Kaysan. Bau harum dupa begitu menyeruak seisi ruangan.
Kami berdiri, aku bergeming. Masih terpaku dengan sesuatu yang aku pegang. Sedangkan Kaysan asik memegang keris miliknya.
"Mas, mas... Apa selendang hijau ini memiliki karomah?"
Kaysan tersenyum, dan mengangguk. "Itu punya leluhur, pakailah saat kamu ingin menari. Tidak apa-apa, tidak perlu takut, aku sudah meminta izin."
"Meminta izin dengan siapa mas? Dengan pendamping gaib mas Kaysan?" Kaysan menaruh kembali keris pusakanya, lalu ia mengambil selendang hijau dan mengendusnya dalam-dalam. "Aku... memiliki pendamping gaib, dan kadang kala aku perlu menemuinya."
Aku ternganga dengan penjelasan Kaysan, "Lalu apa mas juga berhubungan intim dengannya?" Aku tidak siap dengan kejujuran yang Kaysan akan katakan.
Kaysan menarik tanganku, "Hanya pendamping spritual. Tidak lebih."
"Jika Ayahanda sudah mangkat, sepenuhnya pendamping gaib itu akan menjagaku, menjagamu juga, Rinjani. Dan, itu berlaku turun temurun."
"Termasuk anak kita nanti mas?"
Kaysan membelitkan selendang hijau itu di pinggangku, lalu tangannya mengatup dan mengucapkan rapalan Do'a dalam bahasa Jawa kuno.
"Tidak pingsan, kan? Itu bertanda jika beliau merestui. Pakailah, jika nanti Ayahanda menginginkan mu menari."
"Mas, Rinjani tidak paham dengan maksudnya? Apa dia hantu?"
Kaysan merangkul bahuku, "Hantu adalah sukma manusia yang gentayangan dan belum bisa kembali ke sang pencipta. Sedangkan beliau sudah di ciptakan sebelum manusia di ciptakan di bumi."
"Maksudnya Jin?"
Kaysan tersenyum, "Semakin kamu tahu semakin membuatmu penasaran."
"Mas seperti Nakula, gitu jawabnya kalau aku tanya."
__ADS_1
"Denganku saja sudah mengganggu pikiranmu. Apalagi dengan sesuatu yang tak pernah bisa kamu temui, sudah lebih baik kita tidur."
"Lalu mau di apakan ini selendangnya, Rinjani takut memilikinya."
"Jangan dipakai kalau kamu sedang haid, itu saja pantangan. Satu lagi, bawalah bunga sedap malam sebelum memakainya sebagai bentuk rasa terimakasih dan hormat kepada beliau."
"Rinjani takut mas... Ayo lepasin." Aku menggeretakan kakiku dilantai berkali-kali, "Mas jangan bercanda! Ayo lepasin ini. Rinjani belum siap."
Kaysan semakin terkekeh dibuatnya, "Seharusnya dulu aku tidak boleh menghilangkan keperawananmu hingga kamu di nobatkan sebagai Ratu, tapi apalah dayaku Rinjani. Aku perjaka tua yang butuh kasih sayang." Kaysan melepas selendangnya dan menaruhnya kembali ke lemari kaca.
"Sudah ayo temani ke kamar."
"Tidak ada jatah malam ini." kataku mengingatkan.
"Tidak bisa, jatahmu malam ini tidur di kamarku sebagai hadiah untukku karena sudah mengizinkanmu memakai selendang hijau itu."
"Jadi mas butuh imbalan?" Kaysan mengangguk, "Sesuatu yang tidak ikhlas itu tidak baik, apalagi meminta imbalan." Aku sengaja menyindir Kaysan, tidak di mintapun aku akan menemaninya.
"Astaga, Rinjani. Pahamilah suamimu ini."
"Udah gak tahan ya? Kasian." Aku menjulurkan lidah, sambil berlari kecil menjauhi Kaysan.
"Adinda, tunggu kakanda." teriak Kaysan sambil merenggangkan tangannya
Di selasar kamar aku tergelak, "Kanda, bisakah tidak terlalu mendramatisir keadaan. Lebay banget." Tanganku terulur menggapai tangan Kaysan.
"Temani aku malam ini, aku tidak bisa jika harus bersama Kitty sepanjang malam."
Setelahnya hanya kami habiskan dengan bersendu gurau di dalam kamar, hingga satu persatu mata kami saling terpejam.
*
Keesokkan paginya di ruang keluarga, Nakula sedang membereskan barang bawaannya. Terlihat ia sedang dalam kondisi yang berbinar-binar, bibirnya kadang tersenyum sendiri. Aku tergelitik ingin mengetahui sebenarnya kenapa adik iparku ini.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?"
Aku melongo, mataku membulat.
"Nakul, kamu sedang tidak salah makan, kan?" tanyaku heran.
"Aku sedang baik-baik saja, Mbak. Sudahlah, Mbak mau ke kampus bareng atau mau bawa motor sendiri?" tanyanya sambil menyampirkan tas selempangnya di bahunya.
"Bareng aja, terus nanti anter Mbak ke rumah sakit."
"Mbak sakit? Apanya? Hatinya?" tanya Nakula dengan antusias.
"Semprul!"
"Bercanda Mbak." Nakula tersenyum jenaka, "Sudah kena ragi cinta sang psikiater ya?"
__ADS_1
"Ngomong opo Mbak!" Nakula mendahului langkahku menuju pelataran parkir. Bukan lagi mobil kodok yang ia gunakan, tapi sedan keluar Jerman dengan tipe yang sama dengan milik Kaysan.
"Demi seorang wanita kamu rela menukar si kodok dengan sapi limousin, kasian dia." ocehku sambil menutup pintu mobil.
"Namanya juga usaha." Nakula bergegas keluar dari gerbang rumah.
Tiba di persimpangan jalan Nakula menghidupkan radio dari dashboard mobil, terdengar lagu yang begitu ingin membuat ku dan Nakula bernyanyi, meski suara kami hanyalah suara tanpa irama.
Temani aku yang terjatuh
Dan sentuh jiwa sepiku
Terangi pagiku
Bangunkan dari tidurku
Tak ada yang lebih berarti
Dari apa yang kau beri
Tetaplah disini
Hingga semuanya nanti berakhir
Aku dan Nakula tertawa saat menyudahi dendangan lagu dari Noah.
"Aku suka melihatmu tertawa Nakula."
"Berkat bantuan Mbak."
"Sebagai bentuk terimakasihmu, nanti kamu pura-pura menjadi suamiku."
Dengan bodohnya Nakula menginjak rem di tengah jalan, hingga membuat beberapa pengendara motor mengklakson dan mengumpat kesal.
"Nek mati piye?" [ kalau mati gimana? ]
"Di kubur! Aku wegah dadi bojomu." [ Aku gak mau jadi suamimu ]
"Nakul, cuma pura-pura." Aku mengiba.
"Mas Nanang lebih cocok jadi bojomu, chemistry kalian bakal dapet." Nakula kembali melajukan mobilnya menuju kampus.
"Kamu gitu setelah mendapat bribikan baru, kamu mulai gak peduli sama Mbak." Aku membuang muka, bibirku mengerucut.
"Nesu, nesu, nesu, mecucu koyo clurut." [ Marah, marah, marah, cemberut seperti clurut;tikus ]
"Mbak mau periksa kandungan, terus nanti suaminya di tulis nama siapa? Kan gak bisa kalau nulis nama mas kaysan." Aku menghela nafas, "Kasih nama asal sajalah, biarin wes daripada pusing." Aku berusaha cuek, anggap saja nama suami tidaklah penting, yang penting tahu aku ini hamil atau tidak, karena akhir-akhir ini aku merasakan ada yang aneh dari tubuhku.
[ pernikahan gaib atau batin hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki ilmu ]
Happy reading 💚
__ADS_1