Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Kenangan terindah ]


__ADS_3

Saat semua keramaian di rumah ini lenyap, seketika menjadi senyap yang semakin menyublim rasa rinduku. Bukan menyelusup, tapi aku rindu memori indah yang berlari kecil di kepalaku.


Satu hari, dua hari, bahkan satu Minggu aku tak mengapa.


Dua Minggu dan seterusnya, waktu bergerak lambat dan membelenggu rinduku.


Aku sepi.


Aku sunyi.


Sadewa dan Nakula sudah kembali ke kampus. Mereka akan di rumah saat sore hari, itupun jika mereka tidak ada jadwal berkencan. Bunda Sasmita sibuk bekerja, pergi arisan atau mengisi seminar dan workshop.


Di rumah aku hanya ditemani bibi yang terus mengawasi gerak-gerikku. Termasuk pengawal Ayahanda, yang setia menjaga setiap pintu keluar-masuk.


Rumah ini memang penjara mewah, apa saja ada, apa saja yang aku inginkan akan di turuti. Tapi, bukan itu kebahagiaanku. Kebahagiaan ku saat aku bisa bersenda gurau dengan orang-orang terdekatku.


Sudah lama Kaysan tidak menghubungiku, bukan lengah tapi aku hanya memberinya kesempatan untuk sendiri dan menemukan bahagianya. Entah, bahagia dalam bentuk apa. Karena yang aku tahu, titik kelemahan dan kebahagiaan Kaysan hanya pada diriku.


Hanya Bapak yang bisa aku hubungi, itupun Bapak hanya mengatakan jika Kaysan baik-baik saja dan sehat. Selebihnya, Bapak seakan menutupi sesuatu. Intuisi ku berkata jika Kaysan tidak baik-baik saja.


Suara gerbang terbuka, membuyarkan atensiku atas pemikiran buruk dalam pikiranku.


Duduk di paviliun Rinjani, aku menoleh pada sumber suara. Itu adalah Nanang dan Anisa.


Pintar sekali mereka memilih waktu berdua saat rumah lagi sedang sepi-sepinya.


Ingin aku menggoda mereka, tapi untuk beranjak dari tempat dudukku sekarang. Aku malas. Pikirkan ku sudah terpaku pada Kaysan.


Nanang sekilas menatapku, lalu tatapannya tertuju pada kaosnya yang aku kenakan. Ia memincingkan matanya, lalu bergerak mendekatiku.


"Itu bajuku?" tanya Nanang, sambil menarik ujung kaosnya.


"Hmm..." Aku menoleh, tak mau menatapnya.


"Kamu membuka almari ku?"


"Hmm..."


Nanang menggeram kesal, dengan langkah lebar-lebar ia masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit, terdengar suara teriakan memanggil namaku.


"Lebih baik kamu disini ya Anisa. Biar aku urus pacarmu sebentar." kataku dengan baik. Bermaksud agar Anisa tak mendengar percakapan ku dengan Nanang yang 'bisa jadi' akan menyakiti hatinya.


Anisa tersenyum, kemudian ia duduk di paviliun.


Aku melangkah menuju kamar Nanang.


Tumpukan bajunya yang rapi menjadi berantakan. Ia terlihat seperti seorang kebingungan. Aku tahu apa yang dia cari, aku melangkah menuju nakas tepat ku menyembunyikan foto-foto itu. Foto kita berdua. Dimana? gumamnya lirih yang biasa ku dengar.


"Buanglah, jika perlu di bakar."

__ADS_1


Aku mengulurkan foto-foto itu ke tangan Nanang. Ia tak menanggapinya. Wajahnya sedikit terangkat dengan helaan nafas panjang.


"Hanya itu yang aku punya, setelah hatimu bukan untukku-lagi." ucap Nanang lirih, ia mengambil foto-foto itu dari tanganku. Matanya mengamati satu persatu lembar demi lembar foto yang membuat sudut matanya berair.


"Kenangan kita biar saja tersimpan di dalam hati. Tak perlu ada benda mati yang semakin memperkeruh suasana. Nang..., ada Anisa yang perlu kamu jaga." kataku sambil mengambil asbak rokok di atas meja belajar Nanang.


"Aku menunggu." kataku sambil tersenyum. Nanang menatapku sejenak dengan mata terpejam, lantas ia mengangguk.


Nanang mengambil korek gas dari kantong celananya. Ia membakar satu persatu foto itu. Hingga foto terakhir, kami masih terdiam.


Kini semua menjadi abu, hanya satu lagi untuk membuatnya sirna. Terpaan angin.


Aku membawa asbak itu menuju jendela yang memang sudah terbuka. Aku membuangnya begitu saja di atas rerumputan karena menunggu terpaan angin yang berhembus kencang di dalam kamar akan membutuhkan kipas angin yang tak aku tahu dimana letaknya.


Nanang menatap ku.


"Kamu pernah menjadi yang terindah."


"Now, it's gonne." jawabku.


"Not yet." sergahnya.


Dalam derap langkah kaki yang tak terdengar, Nanang mendekatiku.


"Bolehkah aku memelukmu, untuk terakhir kalinya." kata Nanang. Dan, kini aku terjebak sendiri dalam ruang sepi tanpa pengawasan.


Tanpa seizin dariku, Nanang sudah memelukku dengan perut buncit yang terhimpit pelukannya.


Aku bergeming, tak mampu berkata apapun. Akupun takut jika Kaysan tahu, kami berdua akan di bunuh bersamaan.


*


POV Anisa.


Sekuat apapun aku menyanggahnya, Nanang tetap menjadikan Rinjani kenangan terindah di hidupnya. - Anisa.


Aku bosan menunggu, karena di dalam rumah itu sama sekali tak terdengar suara Nanang ataupun Rinjani. Pikirku, Nanang akan marah, atau Rinjani yang berteriak. Aku curiga, sekaligus parno. Dua manusia berlawan jenis berada dalam satu kamar, kata orang-orang akan ada setan yang menjadi orang ketiga---sekaligus menjadi penghasut untuk berbuat macam-macam.


Nanang bercerita jika kamarnya sedang di ambil alih Rinjani. Sedangkan, Nanang tadi berkata bahwa ia ingin mengambil beberapa buku dan baju gantinya. Selepas kuliah pagi, kami memutuskan untuk mengambilnya bersama. Karena semenjak hubunganku dan Nanang mendapat lampu hijau, kami sering menghabiskan waktu berdua. Dengan alasan memberitahu masih ada kelas tambahan. Aku berjalan menuju kamar Nanang. Kamar yang mudah di cari, karena di depannya ada poster band metal favoritnya.


Aku berdiri di balik pintu, diam.


Menyaksikannya Nanang memeluk Rinjani.


... pakailah bajuku manapun yang kamu suka.


... boleh?


... untuk Dalilah pasti boleh.

__ADS_1


... terimakasih om Nanang.


... sama-sama mama Dalilah.


... bukan Mama, tapi bubu.


... bubu. jelek!


... Nanang!!!


Tawa mereka berputar-putar di kepalaku. Aku mendadak pusing dan tak sanggup menghadapi situasi ini.


... anisa... anisa... sayup-sayup terdengar suara laki-laki memanggil namaku dengan panik.


... anisa, bangun. kamu kenapa?


... dia pasti melihat kita tadi. Waduh gawat, bisa-bisa anisa cemburu terus pingsan.


... cemburu tidak menyebabkan pingsan, Mbak. lebay.


... bisa jadi, nang. kasih nafas buatan, coba saja. waktu itu aku main dokter-dokteran dengan mas kaysan, dia pura-pura pingsan. pas aku kasih nafas buatan mas kaysan terus bangun dan tersenyum.


... yakin?


Aku tak sanggup menghadapi kegugupan ini saat Rinjani menyuruh Nanang memberi nafas buatan untukku. Terlebih saat Rinjani berkata ia main dokter-dokteran? Sungguh mas Kaysan melakukan itu. Aku ingin tergelak, Rinjani memang memiliki magnet dengan kekuatan maksimal. Kekuatan ngambek dan keras kepala yang membuat mas Kaysan kelimpungan.


Jantungku berdegup kencang, dan pastinya aku sulit menguasai diriku sendiri. Saat aku menyipitkan mataku, aku menyadari mata Nanang terpaku pada bibirku.


... cium, nang. cium.


... brisik. ini tidak mudah.


... jadikan anisa ciuman keduamu.


... aku tidak mungkin mencium anisa.


... kenapa?


... aku ingin seperti mas Kaysan. menjadikan ciuman keduaku menjadi ciuman selamanya. sepertimu dan mas.


... so sweet.


... kita tinggalkan saja anisa tidur disini. lagian pasti dia hanya salah paham melihat kita tadi berpelukan.


... yasudah, ayo ke dapur, nang. aku lapar.


... ayo, aku akan membuatkan makan siang untuk Dalilah.


Pura-pura pingsan adalah hal konyol yang aku lakukan saat mendramatisir keadaan. Bagaimana tidak, saat aku ingin lalu aku menabrak sebuah pohon imitasi yang berada di samping pintu kamar.

__ADS_1


Lain halnya jika aku menabrak pohon beneran, aku akan benar-benar pingsan dan tidak perlu mendengarkan obrolan mereka yang membuat perutku kram menahan tawa. Sungguh, aku membuat diriku sendiri melengkapi semua keruwetan yang terjadi di keluarga ini.


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2