
Sydney Airport, New South Wales, Australia.
Kami tiba di bandara tepat pukul 15.30, aku melangkahkan kakiku dengan lemas, kepalaku sedikit pusing, badanku kaku semua, perjalanan kali ini sungguh membuat bokongku semakin tipis. Aku lebih suka rekreasi spiritual dengan 'mbah Atmoe di pemakaman Leluhur, bersemedi sambil mencari jalan ninjaku sesungguhnya.
Kaysan sudah menghamburkan pelukannya, berkali-kali juga ia mengecupi keningku.
"Malu dilihat orang mas."
"Bagaimana, seru?" tanyanya kepada Nakula dan Sadewa.
Sadewa hanya mengangkat bahunya, sambil menguap. Nakula mendengus kesal sambil menyeret kedua kopernya menjauhiku dan Kaysan.
Mobil jip putih yang dibawa Kaysan untuk menjemputku dan si kembar sudah selayaknya mobil penjelajah. Banyak peralatan kemah yang sudah di taruh di atas mobil, terlihat juga alat memancing ikan, dan semuanya di tutup menggunakan tali jala.
"Bukankah kita mau bulan madu, mas. Kenapa malah bawa peralatan kemah? Mas tidak akan membawaku pergi ke hutan rimba dan membuatku menjadi santapan lezat hewan buas, 'kan?"
"Tidak perlu terlihat besar dan garang untuk menjadi seekor hewan buas, seekor kodok berbisa yang terlihat cantikpun bisa membunuhmu meski hanya terkena racunnya."
"Baiklah, mungkin aku bisa memeliharanya."
"Untuk apa? Jangan macam-macam!"
"Untuk mati dengan mudah."
Kaysan memiting leherku, sambil diseretnya aku dan koper bersamaan menuju mobil petualangan.
"Begini caranya mati perlahan, ketiakmu mendadak bau mas. Rinjani tidak suka."
"Sejak kapan tidak suka? Ini sudah pakai deodoran mahal." kata Kaysan sambil membuka pintu mobil dan menyuruh Sadewa untuk menaikkan koperku.
Kaysan menganggat badanku saat mobil jip ini begitu tinggi.
"Terimakasih mas."
Mobil seketika melesat cepat keluar dari parkir bandara. Tak jauh dari bandara kami sudah tiba di hotel Stamford Sydney Hotel. Hotel bintang lima dengan pemandangan hamparan lautan.
"Kalian berdua mau satu kamar atau terpisah?" tanya Kaysan dengan si kembar.
Kedua kembar itu saling menatap, lalu satu diantara mereka berkata, "Terpisah."
"Rinjani tahu mas, pacarnya Sadewa besok mau nyusul kesini, jangan biarkan Nakula tidur sendiri. Nanti Sadewa macam-macam dengan pacarnya. Dosa."
"Dengerin itu kata, Mbakmu 'wa." Kaysan hanya tersenyum simpul sambil berjalan ke arah resepsionis.
Sedangkan aku dan si kembar duduk di ruang tunggu. Mataku mengedar menatap kemegahan hotel ini, ballroom hotelnya besar sekali, lampu hiasnya menggantung dengan kerlip yang menawan. Sungguh sejujurnya aku tak mampu menahan rasa kagumku, mataku terus mengedar, hingga Nakula dan Sadewa menggeleng dengan sikap ndesoku.
"angel tenan tuturane." [ susah sekali dibilanginnya ]
"Itu... itu, laki-laki tadi yang dibandara." Aku menangkap sosok laki-laki yang sama. Aku beranjak dari tempat duduk.
__ADS_1
"Sayang, mau kemana?" Kaysan mencekal tanganku.
"Di negeri orang aja panggil sayang, di negeri sendiri panggilnya adek." Aku berdecih, mataku masih menangkap laki-laki tadi yang berdiri di depan meja resepsionis.
"Mau kemana? Di negeri orang jangan pergi sendiri, nanti kamu hilang. Hatiku yang repot."
Aku mendongak menatap mata Kaysan, sambil telunjukku menusuk-nusuk dada Kaysan.
"Repot kenapa? Tidaklah senang jika Rinjani hilang. Mas bisa mencari istri lagi yang sepadan."
"wes... wes, gagal piknik, yang punya hajat malah ribut." celetuk Sadewa.
"Nomer berapa mas kamarnya?" tanya Nakula.
"Mas hanya pesan satu kamar, simpan kuncinya, kamarnya ada di lantai 8." kata Kaysan sambil memberikan key id card.
"Mas dilantai berapa?"
Kami berempat berjalan menuju lift, Kaysan menyeret koperku, sedangkan koper-koper milik si kembar di bawa oleh bellboys.
"Mas dan Mbak dilantai 10. Kamar 79."
"Jadi mau keluar jam berapa nanti, Mas?"
"Jam 7, kalian istirahat dulu."
"Sadewa daritadi tidur di pesawat, dia tidak tahu apa saja yang terjadi di kabin mas, seru."
Aku mengangkat bahu, "Karena hanya Nakula yang mau menemaniku."
"Maaf."
"Sudah-sudah, bikin anak saja sana daripada ribut. Gak dirumah, gak di negeri orang. Mau kawin aja repot." celetuk Sadewa.
Mereka berdua keluar dari lift, meninggalkan Kaysan yang sudah merangkul bahuku.
"Beraninya di negeri orang. Di negeri sendiri seperti kerupuk mlempem."
"Apa kamu mau haid, Rinjani? Sayang sekali kalau begitu, paket honeymoon kita sia-sia."
Pintu lift terbuka, Kaysan menggandeng tanganku mengajakku menuju kamarnya.
Setibanya di kamar, Kaysan menyuruhku untuk istirahat. Tapi karena jet lag, aku memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang sambil membuka HPku.
"Tadi Rinjani bertemu dengan laki-laki yang mirip mantan kekasih dulu, dia juga pakai jaket metal. Di Sydney tidak ada konser metal, 'kan mas?"
"Ada, kamu mau melihatnya?"
Kaysan ikut berbaring di sampingku, kami berdua hanya sama-sama menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Apa tujuan mas mengajakku kesini?"
"Aku hanya ingin menebus waktu yang terbuang karena kesibukan kerja. Jika hanya dirumah, tak akan pernah ada waktu untuk bersama."
"Bukankah mas berjanji, mengajak ku untuk bertemu bapak?"
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu Rinjani. Setelah selesai, aku janji akan membawamu ke rumah bapak."
"Apa itu, katakan saja sekarang."
"Nanti malam dandanlah yang cantik, ada seseorang yang harus kamu temui di Sydney Harbour."
"Siapa?"
Bukankah aku ke Sydney untuk berbulan madu untuk yang kedua, kenapa disini aku malah disuruh untuk bertemu seseorang. Dan, siapa orang itu, tidaklah ini membuatku penasaran.
"Istirahatlah, kamu lelah, 'kan." Kaysan merengkuh tubuhku. Kakinya sudah menindih kakiku.
"Rinjani seperti masuk angin. Mas bawa uang koin?"
Kaysan menyeringai, "Bawa, mau di kerik?"
"Tolong matikan AC nya dulu, mas."
Kaysan mencari remote AC sedangkan aku mencari minyak kayu putih di dalam tas. "Hati-hati ya mas, kulit Rinjani tipis." Ku taruh minta kayu putih di dekatnya.
"Iya."
Kaysan menyingkap bajuku, dan melepas penaut bra yang aku kenakan. Namun bukan tangannya mengerik punggung, justru bibirnya yang mengecupnya.
"Rinjani masuk angin, mas. Bukan minta di cium, belum mandi."
"Hanya menciumnya saja." Kaysan menarik tubuhku agar mendekatinya.
"Besok kita pulang bersama atau sendiri-sendiri lagi mas?"
Tangan Kaysan sudah mengerik punggungku dengan uang koin, rasanya enak, apalagi saat tangan kekarnya justru memijit punggungku setelah selesai menyelesaikan tugas memberi tatto temporary berwarna merah.
"Mau mandi air hangat? Biar otot-ototmu meregang." katanya sudah berjalan ke jaccuzi yang menghadap ke hamparan laut lepas. Jaccuzi ini sungguh menakjubkan, sungguh Kaysan memang menyuguhkan kesan mewah untuk bulan madu jilid dua ini. Bulan madu yang sesungguhnya tidak aku harapkan, karena dimanapun kami bercinta rasanya sudah seperti bulan madu, kasih yang aku miliki lebih dari segalanya tanpa perlu embel-embel kemewahan.
Kaysan menghidupkan keran dan mengatur temperatur suhu air. Ia juga membawakan bathrob ke arahku.
"Sudah siap tuan putri, mau pakai aromaterapi atau tidak?" Kaysan menyelipkan anak rambutku, tangannya mengangkat daguku.
"Hey, lihat mataku."
"Matamu slalu sama mas, masih mengisyaratkan rahasia di dalamnya." kataku sambil beranjak berdiri.
Jaccuzi ini tidak terhalang oleh apapun, bahkan dari sudut mana saja bisa terlihat.
__ADS_1
Kaysan duduk di sisi ranjang, dia sama sekali tidak menerkamku padahal aku sudah tidak memakai baju sama sekali. Saat aku menoleh ke arahnya, dia hanya tersenyum lalu kepalanya menunduk lesu. Apa karena aku memakai tatto temporary dia jadi tidak berselera mendekatiku.
Like, vote dan share, terimakasih ๐