Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 100


__ADS_3

Memegang kedua tangan Wulan, Daniel lalu bertanya?" Apa yang kamu katakan kepada Sarla?"


Wulan sudah menduga jika Daniel akan mempertanyakan hal itu, karena ia tahu rekaman CCTV di rumah Sarla diawasi olehnya.


"Hanya karena itu, kamu memperlakukan aku seperti ini? Begitu pentingnya dia untukkmu?"


"Iya, dia begitu penting bagiku, karena dia akan melahirkan garis keturunanku, tidak seperti kamu yang melahirkan garis keturunan laki-laki lain!"


Deg ....


Ungkapan itu benar-benar menyayat hati Wulan, dimana kedua mata wanita yang menjadi istri pertama Daniel berkaca-kaca, " Kenapa kamu selalu berkata seperti itu, jelas anak yang aku kandung ini, adalah anakmu sendiri. Kenapa kamu tidak mau mengakuinya?"


" Cukup, jangan selalu mengatakan kebohongan kepadaku, jelas-jelas anak yang kamu kandung itu bukanlah darah dagingku, aku tahu anak dalam kandungan itu adalah anak selingkuhanmu."


Kedua mata Wulan semakin basah, di mana ia meneteskan air mata hingga mengenai pipinya," hanya dengan menangis yang bisa kamu andalkan saat ini?"


"Lalu apa lagi Daniel, kamu itu terlalu menyalahkanku, sedangkan dirimu tidak intropeksi diri akan kesalahanmu sendiri, kamu terlalu egois Daniel!"


Wulan mulai beranjak berdiri, yakini pergi dari hadapan Daniel, tak ingin membahas lebih jauh lagi masalah tentang anaknya, karena sudah cukup perlakuan Daniel membuat dirinya sakit hati.


Daniel tiba-tiba saja menahan tangan Wulan, membuat Wulan kesal lalu berkata, " lepaskan tanganku. Kenapa kamu berbuat seperti ini."


"karena. Aku tidak suka dengan cara licik mu itu, setelah kehamilanmu ini kamu tidak pernah jujur kepadaku."


" Jika kamu memang tidak percaya kepadaku dan selalu menganggap aku ini berbohong. Kenapa kamu tidak Ceraikan aku saja sekarang juga."


" Apa dengan perceraian bisa menyelesaikan masalah?"


"Ya, karena aku bisa jauh darimu, dari penyiksaan dan ketidakpercayaanmu pada diriku."


"Tidak bisa, aku tidak akan mencaraikanmu sampai kapanpun."


" Jangan jadi lelaki egois kamu Daniel.".


"Lalu kamu?"


Daniel membalikkan semua perkataannya, dimana Wulan diam dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.


"Cepat lepaskan tanganmu ini Daniel, Aku tidak ingin terkekang olehmu. "

__ADS_1


" kamu merasa aku mengekangmu saat ini Wulan, karena kamu sudah membuat Bara Api dalam hidupku, hingga bara api itu semakin hari semakin membesar dan membuat aku ingin membalaskan perbuatanmu yang sudah menghianatiku dengan berselingkuh."


Daniel boleh bertanya lagi soal Sarla," aku tanya sama kamu, Untuk apa kamu menemui istri kedua?"


" kamu ingin tahu kenapa aku menghampiri istri keduamu. "


"Cepat jawab?"


"Baiklah, aku akan menjawab semua keingin tahuan kamu."


" Cepat katakan sekarang juga, jangan banyak basa-basi Wulan."


"Aku datang ke rumah sarla untuk meminta dia agar bercerai dengan kamu. "


Plakkk ....


Tanpa di duga, tangan kekar itu melayang memukul pipi Wulan dengan begitu keras, " Daniel, tega kamu."


Daniel, mengepalkan kedua tangannya, amarahnya semakin memuncak, ia mendorong lagi sang istri pada kasurnya.


Telunjuk tangan menuju ke arah Wulan, " Jangan pernah seenaknya berkata seperti itu terhadap istri keduaku."


Wulan berusaha bangkit dari perlakuan tidak baik Daniel, " apa yang aku katakan ini benar adanya, aku menyuruh Sarlah untuk bercerai dengan kamu itu karena aku sudah mengandung anak kamu."


"Aku menjadi seperti ini karena ulahmu sendiri, andai saja kamu seorang istri yang menurut dari dulu, mungkin aku tidak akan memperlakukanmu seperti ini, aku akan terus menyayangimu menerima kamu apa adanya."


Wulan memegang pipinya masih merasakan rasa sakit, dimana Daniel kini meninggalkannya sendirian di dalam kamar.


Wulan menangis histeris lalu melemparkan sebuah vas bunga, pada pintu kamarnya.


Daniel yang baru saja keluar dari kamar, ternyata bisa menghindar dari lemparan vas bunga yang dilayangkan oleh istrinya.


"Tuan."


Bi Siti yang terlihat begitu kuatir, kini memegang tangan majikannya, " Tuan, apa Nyonya Wulan baik-baik saja. "


Daniel menghempaskan tangan sang pembantu yang memperdulikan istrinya, di mana Daniel memperlihatkan wajah jutek dan kesalnya di hadapan Wulan.


"Tuan."

__ADS_1


"Bi, Saya sudah pernah bilang jangan urusi Wulan, apalagi sampai memanjakannya."


Entah setan apa yang merasuki pikiran Daniel, iya tega berkata seperti itu di hadapan pembantunya.


Daniel pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Iya tak ingin membahas lagi soal Wulan.


Alenta datang dan bertanya," Daniel apa yang sudah kamu lakukan terhadap Wulan, Kenapa Ibu mendengar dia menjerit histeris dan juga menangis?"


Daniel berusaha menahan kemarahannya, ya tak menjawab satu patah kata pun pertanyaan sang ibunda.


"Daniel, ibu tanya kepada kamu kenapa kamu tidak menjawabnya."


Padahal tadi Alenta melihat Daniel begitu ramah dalam menjawab perkataannya, sekarang Alenta melihat kekesalan dan juga amarah masih meluap pada wajah sang anaknya.


"Daniel."


Teriakan kini dilayangkan lagi oleh Alenta di mana Daniel tetap saja berjalan tak mendengarkan teriakan itu.


"Kenapa dengan anak itu."


Alenta sedikit khawatir takut terjadi apa-apa dengan Wulan, hingga di mana Daniel membalikkan badannya lalu berkata. " sudah, Biarkan saja dia berada di dalam kamarnya. Aku sudah membuat pelajaran untuk dia agar tidak menjadi wanita yang kurang ajar. "


Alenta kini mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar sang menantu, di mana ia langsung melanjutkan niatnya untuk pergi berkumpul dengan kawan kawan arisan.


Di sisi lain, Wulan tampak bersedih sendirian di dalam kamar, seorang teman satupun, masih merasakan rasa sakit akibat tamparan keras dari Daniel.


Berjalan ke arah kaca, Wulan menatap wajahnya penuh dengan deraian air mata, Iya memegang kaca itu.


Tok .... Tok ....


"Nyonya Wulan."


Mendengar suara teriakan Bi Siti, membuat Wulan kini berjalan ke arah pintu kamarnya," Nyonya di dalam baik-baik saja. Tolong buka pintu kamarnya nyonya. "


Padahal Wulan tidak mengunci pintu kamarnya, di mana ia berusaha membuka pintu kamarnya sendiri. Namun ternyata kamar itu benar-benar terkunci.


"Nyonya buka."


"Tidak bisa bi, Daniel sudah mengunci kamarku, aku tidak bisa ke mana-mana sekarang bi."

__ADS_1


Bi Siti merasa heran dengan kelakuan tuannya, bisa-bisanya menyiksa istri yang sedang hamil apalagi sampai mengunci pintu kamar dan mengurungnya sendirian, " Nyonya jangan lakukan hal yang aneh ya di sana, Bibi akan cari tuan Daniel dulu untuk meminta kuncinya dan membuka pintu kamar ini."


" Tak usah lah Bi. Biarkan saja aku sendirian di dalam kamar ini, aku takut Bibi nanti kena marah oleh Daniel. Karena selalu memperdulikan aku dan juga mengkhawatirkan Keadaanku saat ini."


__ADS_2