
" Sudah pah, jangan tahan lagi. Aku muak dengan kemarahanmu itu. Biarkan kami pulang berdua menaiki taksi."
Dera mencoba mengabaikan sang suami, ia merangkul tangan anaknya untuk pergi dari hadapan Gunawan.
"Dera, tunggu. "
Gunawan mulai berlari untuk menaiki mobil, menyusul sang istri yang sudah menaiki taksi.
Lilia hanya tersenyum senang dalam suasana yang membuat hatinya puas.
"Ini yang aku harapkan dari dulu. "
Mengejar taksi yang ditumpangi sang istri, membuat Gunawan kewalahan, ia kehilangan jejak mobil taksi itu. " Sialan, kemana mobil taksi itu."
Gunawan melihat jika mobil taksi yang membawa istrinya itu tidak pulang ke rumah, sepertinya Dera pergi untuk menghindari Gunawan.
"Ahk, sialan kemana itu mobil."
Gunawan mencoba meraih ponselnya untuk segera menelepon Dera sang istri, dia takut jika Dera pergi dalam hidupnya.
Namun Dera sama sekali tak mengangkat panggilan telepon dari Gunawan, ia berusaha berpikir, mengingat-ngingat jika istrinya pergi kemana saat sedang marah.
Hingga di mana Gunawan terpikirkan, ketika ia pernah bertengkar dengan sang istri. Dera pulang ke rumah saudaranya.
lelaki tua itu lalu melajukan mobilnya untuk segera pergi menyusul sang istri.
Sedangkan di dalam mobil Dera masih menangis terisak-isak, Lani yang melihat sang ibunda, membuat ia langsung memeluk erat Dera.
"Ma, apa yang sudah dilakukan Papa sampai Mama menangis seperti ini?"
Dera berusaha menyimpan kesedihannya itu, yang mengusap pelan rambut panjang Lani, lalu mencium dahinya dan berkata, " Papa tidak melakukan apa-apa kok Sayang."
Lani memegang tangan sama mama mengusapnya dengan begitu lembut," Mama jangan bohong sama Lani."
Anak semata wayangnya itu begitu tegas, ya terlihat memperlihatkan keberaniannya," Lani tahu Mama sekarang sedang berbohong."
Menarik napas, mengeluarkannya terasa berat. Dera berusaha mengusap kasar air matanya yang terus mengalir mengenai pipi, " sebenarnya papa kamu sudah menampar mama. "
Pada akhirnya kejujuran itu terlontar dari mulut sang Ibu Mama, tentulah membuat Lani terkejut. " Kenapa papa begitu tega, pasti ini semua gara-gara Lilia kan?"
Dera menggelengkan kepalanya, membuat Lani bertanya lagi?" Terus siapa yang sudah membuat Mama seperti ini. "
"Sarla."
"Apa, Kak Sarla. "
__ADS_1
Dera mulai menganggukkan kepala setelah Lani menyebut nama sang kakak. " Tega teganya kak Sarla membuat mama tersalahkan dihadapan papa, semua ini tak bisa dibiarkan."
Dera berusaha membujuk anaknya agar tidak membuat hal yang konyol," sudah kamu jangan ikut marah biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan, Mama sekarang ingin tenang, sementara waktu tak ingin melihat papa kamu. "
Lani tak meneruskan perkataannya, pada akhirnya dia hanya diam. Mereka merencana pergi untuk menenangkan diri, ke sebuah tempat yang tidak akan diketahui oleh Gunawan.
" Sekarang kita mau ke mana Mah?"
Dera membalikkan wajahnya ke arah Lani, iya mulai menjawab perkataan anaknya?" kita pergi ke sebuah tempat yang tidak diketahui oleh papah kamu."
Lani hanya menganggukkan kepala menuruti Apa perkataan sang mama.
********
Gunawan sudah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, dan pada akhirnya ia sampai ke tempat tujuan. Melihat ke arah rumah yang baru saja iya datangi.
Suasana rumah itu tampak sepi, tak ada satu orang pun yang berada di sana, biasanya jika Gunawan menemui Dera. Istrinya itu tengah duduk di depan pintu.
Namun sekarang tak ada pemandangan yang ia lihat, suasana benar benar sepi. Tak asa satu pun orang yang berada di luar rumah itu.
Gunawan memberanikan diri mengetuk pintu,
Tok .... Tok ....
Beberapa kali mengetuk pintu tak ada Jawaban sama sekali, membuat Gunawan benar-benar terkejut, padahal Ia sangat mengharapkan sekali jika istrinya ada di rumah itu.
Sampai salah satu orang melintas, Gunawan yang penasaran mulai bertanya kepada orang itu," maaf pak, bisa saya bertanya sebentar."
"Iya, kenapa pak?"
"Pemilik rumah ini ke mana ya!"
"Loh, bapak keluarganya?"
"Ahk, iya. Saya keluarganya!"
" Saya kira anda tahu kepergian keluarga ini ke mana, baru saja kemarin mereka pindah dari rumah ini."
"Pindah kemana?"
" Saya kurang tahu mereka pindahnya ke mana?"
"Mm. Baiklah kalau begitu terima kasih. "
"Sama sama."
__ADS_1
Ternyata sudah tidak ada penghuninya di rumah yang biasa disinggahi oleh istrinya, Gunawan tambah gelisah, ya kebingungan harus mencari istrinya ke mana.
Menaiki mobil lalu meninggalkan kediaman itu, " Dera Lani kalian ini ke mana."
Gunawan hampir lupa anak keduanya, yaitu Lilia. ia mulai menyusul kembali anak kandungnya.
Dengan menyalahkan mesin berkecepatan tinggi, akhirnya Gunawan tak harus menempuh jarak yang begitu lama, ia sudah sampai di tempat Sarla.
Turun dari dalam mobil, Lilia datang menyusul sang Papah yang menjemputnya. Ia berpura-pura terlihat sedih setelah melihat kepergian sang mama.
"Gimana pah, apa Mama sudah ketemu?"
Gunawan menggelengkan kepala, ya terlihat begitu bersedih," Papa tidak menemukan Mama kamu, entah pergi ke mana dia."
Lilia tersenyum kecil, dia tanpa senang jika sang mama tiri tidak ditemukan, berpura-pura peduli dan berkata," apa Papa sudah menghubungi Mama?"
"Sudah, tapi nomor Mama kamu itu tidak aktif."
Sarla keluar dari rumahnya, ia melihat kesedihan sang papa. " Papah mana mama?"
lelaki tua itu menatap ke arah tangannya, ya meneteskan air mata setelah Dera pergi akibat tamparan darinya.
"Mama kamu pergi Setelah Papa tidak sengaja menamparnya."
Lilia berusaha mencari situasi yang tepat untuk berbicara, dimana ia berucap. " Sebenarnya apa yang dilakukan papah itu sudah benar, Papa membela anak papa sendiri daripada harus membela wanita itu yang tentu saja dia bersalah. "
Gunawan menatap ke arah Lilia," Apa yang kamu katakan memang benar Lilia, tapi mama kamu itu sudah pergi."
Lilia seorang anak kecil yang pandai berbicara seperti orang dewasa, kini mendekati arah sang papa," pah, percaya sama Lilia, kepergian Mama itu tidak akan lama, Mama itu seperti anak kecil yang selalu plin-plan, nanti juga dia pulang sendiri kok kalau butuh papa."
Gunawan lalu tersadar dengan omongan Lilia, ia meredamkan kesedihannya, " benar apa yang kamu katakan, Kenapa Papa malah tidak berpikir seperti itu ya. "
" karena Papa takut kehilangan mama, tidak seperti dulu."
Deg ....
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Lilia, membuat Gunawan mengerutkan dahinya, " Apa maksud kamu Lilia?"
" Lilia tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin mengungkapkan perasaan Lilia yang selama ini terpendam!"
" Perasaan. Apa maksud kamu, nak?"
Gunawan tetap saja tidak peka dengan perkataan anaknya sendiri, ia selalu mementingkan istrinya daripada anak-anaknya sendiri.
Sarla yang berada di hadapan mereka berdua hanya mendengarkan, mencoba tidak ikut campur. Apalagi dengan perasaan adiknya yang selama ini terpendam karena kemarahan.
__ADS_1