Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 148


__ADS_3

Alenta terpaksa melakukan semua itu, demi membuat Daniel tidak kembali drop lagi.


Terpaksa ia berbohong jika Wulan tengah melaksanakan program hamil.


"Eeh, iya." Jawaban yang terdengar ragu dari mulut Wulan, padahal ia baru menjalankan oprasi mana mungkin menjalankan program hamil.


"Kenapa jawaban kamu ragu seperti itu? Apa ibu berbohong," ucap Daniel, melirik sekilas ke arah Alenta.


Bi Siti berusaha membuat Wulan tenang, ia tak mau keraguannya diperlihatkan dicurigai oleh Daniel.


Memegang bahu sang nyonya dan berkata, "Nyonya harus tenang. "


Perkataan Bi Siti yang begitu pelan, pada akhirnya membuat Wulan mengerti, " Baik bi."


Wulan mulai memperlihatkan wajah tenangnya, " Daniel, aku bukan ragu. Aku awalnya ingin memberi kamu kejutan, tapi ibu malah membocorkan semuanya. "


Daniel tersenyum lalu berkata, " oh gitu, ya sudah tak apa, kalau tidak dibikin ke jutan juga. Aku senang jika kamu ingin menjadi ibu seutuhnya."


Wulan menyadari jika dirinya dulu terlalu egois, hingga ia kini diberi kesempatan untuk merubah rumah tangganya yang pecah karena pertikaian isu peselingkuhannya.


"Sayang, tunggu aku pulang. Kamu jangan cape cape, kata ibu kamu sudah tidak bekerja lagi jadi model?"


"Iya sayang, aku sengaja berhenti demi kamu!"


"Ini yang aku inginkan dari dulu, kamu yang mau menurut kepadaku. "


Wulan tersenyum lalu berkata lagi, " Aku ingin rumah tangga kita itu utuh sayang. "


Senyuman Daniel mempelihatkan betapa ia begitu mencintai Wulan. " Aku mencintaimu. "


"Aku juga."


Obrolan itu terhenti seketika, dimana Wulan berbohong untuk pamit tidur siang.


Wulan masih merasa tak percaya ia menatap ke arah Bi siti dengan berkata, " akhirnya bi, apa yang aku inginkan terkabul, Daniel balik lagi kepadaku, walau dengan cara dia hilang ingatan. Dimana ia hanya mengigatku saja."


"Karena itu Allah itu sayang sama Nyonya. "


"Iya bi. "


*******


Daniel memberikan ponsel kepada Alenta dengan berkata, " Syukurlah jika Wulan berubah."

__ADS_1


Alenta yang mendengar perkataan Daniel seperti itu, hanya tersenyum lalu berkata, " iya ibu juga senang dengarnya. "


Sang ibu hanya bisa menutupi semuanya, demi kesembuhan Daniel, padahal dalam lubuk hati yang sebenarnya ia ingin memberi tahu bahwa Wulan adalah wanita yang tak baik dan sudah berselingkuh menghianati dirinya.


Namun posisi Daniel hilang ingatan seperti sekarang, mana mungkin Daniel akan mengigat hal menyakitkan itu yang ada kondisinya akan down.


"Daniel?"


"Apa kamu mengigat sesuatu yang begitu indah selain dengan Wulan!"


Perlahan rasa penasaran membuat Alenta bertanya, walau mungkin ini dibilang sebuah resiko berat.


Mengerutkan dahi, lalu menggelengkan kepala dan berkata, " Tak ada bu, hanya ada Wulan dalam ingatanku saat ini."


"Wulan saja tak ada yang lain. "


"Tak ada satupun. Hanya Wulan saja, memang kenapa, bu. "


"Mm, tidak kenapa kenapa kok sayang."


Alenta merasa heran, Daniel bisa dengan cepat melupakan kenangan indah dengan Sarla, istri keduanya dimana ia tengah mengandung darah daging Daniel.


"Kamu istrirahat sekarang, ibu mau mengisi perut ibu yang kerocongan ini."


"Baiklah bu. "


Dengan terpaksa Alenta hanya menghubungi Sarla, mencoba menelepon menantu keduanya.


"Halo, Sarla apa kamu baik baik saja di sana."


Sarla mencoba menenangkan diri, mengusap pelan air matanya lalu berucap, " ibu. Sarla baik baik saja kok. "


Wanita tua itu mendengar jika Sarla seperti habis menangis, " kamu menangis sayang. "


Sarla mencoba menenangkan hati, agar tidak membuat mertuanya kuatir. " Tidak bu, Sarla hanya sedang plu saja. "


"Jangan bohong kamu Sarla, ibu meresakan apa yang kamu rasakan. Kamu sakit hatikan dengan kenyataan ini?"


Sarla berusaha tetap tegar, menjadi sosok wanita yang selalu menyimpan pendirian dan jajinya.


"Tidak bu, Sarla sudah menerima apapun yang terjadi dengan Daniel, mungkin dengan cara ini Sarla bisa pergi setelah bayi ini lahir. Bukannya ibu tahu sendiri dari awal perjanjian tetap perjanjian."


Mendengar hal itu membuat Alenta sedikit bersedih, jika Sarla terus mengikuti perjanjian itu dia tidak akan ada kesempatan bersama Daniel. Padahal Alenta begitu menyayangi Sarla, karena sifatnya yang tak serakah, dan tetap menurut terhadap suami, walau cara mereka bertemu hanya karena sebuah perjanjian diatas kertas.

__ADS_1


"Sarla, kenapa kamu berbicara seperti itu, ibu dengarnya sedih. Kalau kamu menuruti perjanjian itu ibu tidak akan mempunyai menantu sebaik kamu, ibu sangat menyayangi kamu Wulan."


Siapa yang tidak tersentuh akan perkataan Alenta, Sarla juga merasa nyaman dengan mertuanya itu, " Jika Salra bercerai atas dasar perjanjian itu selesai, Sarla akan mengujungi ibu kok, ibu tenang saja ya."


"Sarla kamu memang menantu ibu yang baik. "


"Ibu terlalu memuji Sarla berlebihan."


Senyum tergambar dari raut wajah Sarla dimana Alenta juga sama seperti menantunya.


"Sarla, ibu juga minta maaf atas kejadian tadi. Jika ibu mengatakan kamu adalah sahabat ibu di depan Daniel, karena ibu terpaksa, takut jika Daniel drop lagi. "


"Alenta mengerti kok, bu. Sudah ibu jangan terlalu menyalahkan diri ibu, tetap bagaimanapun ibu yang terbaik untuk Sarla. "


"Terima kasih ya, nak. "


Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, dimana Sarla akan merasakan hari harinya tanpa kehadiran Daniel, ia hanya menjalankan tugas terakhirnya, yaitu melahirkan sang buah hati lalu menyerahkannya begitu saja.


Mengusap perut yang semakin hati semakin terlihat, Sarla berkata, " maafkan mama ya sayang. Mama bukan tak tega, tapi semua ini demi kebaikan kamu?"


Sarla mengusap pelan wajahnya, lalu berkata," Semua sudah menjadi takdir dan juga nasibku, harus diapakan lagi. "


Menatap layar ponsel yang tak berkedip, " Daniel mungkin dengan cara kamu hilang ingatan perpisahan tidak akan terasa menyakitkan, kamu akan melupakanku dan hidup bersama Wulan selamanya."


"Nyonya."


"Ah, iya bi. Kenapa?"


"Makan siang sudah siap, dari tadi saya dan juga Nona Lilia panggil nyonya, tapi gak jawab jawab."


"Ya bi, saya sebentar lagi nyusul. "


"Baik nyonya. "


Sarla seperti tak bersemangat, ia hanya bisa menjalankan hidupnya untuk menjadi lebih baik lagi.


"Ayo Sarla, jadilah dirimu sendiri. Terima semuanya, kamu harus tahu jika semua ini sudah suratan takdir yang maha kuasa. "


Sarla mencoba berdiri, untuk pergi ke meja makan, karena memang perutnya terasa keroncongan sekali, ia harus mengisinya saat itu juga.


"Kak Lilia akhirnya turun juga, kami sangat menghuatirkan kakak loh, kakak ini kenapa semenjak pulang dari rumah sakit malah mengunci diri di dalam kamar?"


Pertanyaan sang adik malas sekali dijawab oleh Sarla, ia tak mau jika Lilia tahu, bahwa hati Sarla sedang tidak baik baik saja, karena hilang ingatannya Daniel. Yang sama sekali tak mengigat dirinya sama sekali.

__ADS_1


"Kakak Sarla. "


"Ahk, iya kenapa?"


__ADS_2