Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 54


__ADS_3

"Kenapa kalian diam saja. " Alenta bertanya dengan nada tegasnya.


"Bu, tadi itu. Wulan bercerita katanya dia mau daging, kalau sudah keluar rumah sakit. " Ucap Daniel, merasa tak masuk akal dengan perkataanya itu.


"Iya, bu. Itu, kalau Wulan keluar dari rumah sakit, Wulan pengen makan daging asap manis peda," timpal Wulan, membuat Alenta mengerutkan dahi. Wanita tua itu tersenyum mendekat ke arah menantunya, manusia perlahan perut Wulan dan berkata." kalau lagi ngidam memang bawaannya pengen ini itu. Jadi besok kita akan makan makan."


Daniel tertawa dan begitu terlihat ceria dengan kepura-puraannya, " wah, yang benar?"


"Ya."


Lelaki berbadan kekar yang bergelar sebagai CEO itu, tidak ingin melihat sang ibunda jatuh sakit, apalagi syok dan kaget setelah mendengar kenyataan yang begitu pahit jika diceritakan.


Alenta kini berpamitan kembali kepada kedua anak-anaknya, untuk segera pulang mengambil barang yang ketinggalan.


"Ibu lupa naroh kunci, eh nyatanya ada di sini."


Wanita tua itu langsung membuka pintu ruangan untuk segera pergi. Dimana Daniel mengusap pelan dada bidang.


"Kenapa kamu tidak mencari pembelaan ibumu? Malah berpura-pura begitu baik dan menerima keadaanku saat ini. " Wulan bergumam dalam hati, menatap ke arah suaminya itu.


"Bi Siti. "


Daniel kini memanggil pembantunya, di mana Bi Siti masih stand by di luar ruangan.


"Ya, Tuan. " wanita tua itu menundukkan pandangan menghormati sang majikan.


"Bi, tolong jagain Wulan ya, saya mau keluar sebentar, ada urusan," ucap Daniel kepada pembantunya itu, dimana Bi Siti menganggukkan kepala dan berkata, " Baik, tuan."


Namun ada hati yang tak menerima kepergian Daniel," tunggu."


Langkah yang sudah dekat, di ambang pintu kini berhenti seketika, dimana Daniel berkata," ada apa?"


"Bukannya kamu sudah berjanji pada ibu akan menungguku di sini, tapi kenapa kamu malah menyuruh Bi Siti menemaniku saat ini!"


Daniel enggan menatap istrinya itu, iya benar-benar terlihat cuek dan tak peduli, seperti sengaja ingin balas dendam terhadap istrinya itu.


" Aku kan berjanji. Pada Ibuku bukan kepada kamu! "

__ADS_1


Jawaban menyakitkan bagi Wulan, di mana Daniel begitu cuek sekali terhadapnya." Kenapa kamu menjadi sosok yang cuek dan tak peduli kepadaku?"


Pertanyaan Wulan membuat Daniel tersenyum kecil, " kenapa kamu malah bertanya kepadaku? Tanyalah pada diri kamu sendiri kenapa aku berubah seperti ini!"


Daniel meneruskan langkah kakinya, ia seperti sosok orang lain yang tak pernah hadir di kehidupan Wulan.


Wulan seakan depresi dengan tingkah suaminya itu, dia memecahkan gelas yang berada di meja.


"Nyonya, eling."


Bi Siti berusaha menahan amukan Wulan, tangisan kini terdengar pecah kembali, Wulan memeluk pembantu yang selalu mengerti dirinya." Hanya karena satu kesalahan, dia begitu kejam padaku bi. "


Megusap pelan punggung Wulan, Bi Siti berusaha menenangkan majikannya," Nyonya harus sabar ini semua ujian hidup, kita sebagai manusia hanya bisa berserah diri kepada sang maha kuasa, meyadari kesalahan yang sudah kita lakukan, bertaubat, eling. Karena gusti Allah maha pemaaf dan bisa membulak balikkan hati manusia. Banyak banyak berdoa, beristigfar. "


"Iya, bi."


Entah apa yang ada di pikiran Wulan saat itu, ia hanya melamun, menatap pada selimut tebal yang menyelimuti kakinya.


Daniel, berjalan menjauh dari ruangan sang istri, raut wajahnya memperlihatkan ada niat balas dendam kepada Wulan. Walaun mungkin tak menyakiti fisik tapi mampu membuat luka hati Daniel sedikit mereda.


*********


Alenta sudah berada di dalam mobil taksi, dimana ia pulang dengan raut wajah sedihnya.


Ucapan kedua anak anaknya, membuat relung hati Alenta sakit, ia tak mengerti dengan akal pikiran Wulan.


Kedua mata berkaca kaca, ada rasa kuatir jika Daniel dan juga Wulan bercerai.


"Wulan, saya tak menyangka jika kamu sebagai wanita terhormat bisa mengikuti langkah kaki ibunya sendiri."


Bergumam dalam hati, Alenta berusaha tenang, kenapa bisa Daniel menyembunyikan ke busukan Wulan kepadanya, padahal jika berkata jujur Wanita tua itu akan menerima dengan lapang dada. Tak akan ada rasa kecewa dan membuat penyakit jantungnya kumat.


"Wulan, sebagai seorang menantu, kamu sudah mengecewakan keluarga kami," ucap pelan Alenta di dalam mobil.


Padahal jelas jelas, Wulan itu dulu sosok wanita lugu dan berpenampilan terlalu seksi seperti wanita penghibur. Alenta sebagai orang tua merasa heran dengan anaknya Daniel, kenapa bisa ia begitu terpincut dengan Wulan.


(Bu, apa ibu akan balik lagi ke rumah sakit?)

__ADS_1


Pertanyaan Wulan menggetkan Alenta, dimana menantunya itu, mengirim emojik sedih.


Apa ada sesuatu aduan yang ingin dikatakan Wulan kepada mertuanya itu.


(Kamu tenang saja, ibu pasti balik lagi ke sana.)


Wulan senang dengan perkataan mertuanya, hingga dimana ia membalas. ( Sebenarnya Daniel pergi lagi bu, Wulan hanya ditemani Bi Siti.)


Mendengar apa yang dikatakan Wulan, tak membuat Alenta terkejut.. Sekarang ia sudah berada di pihak anaknya sendiri,( Daniel itu, memang ya, tak bisa dibiarkan biar ibu kasih tahu.)


Alenta berpura-pura mengirim pesan bahwa dirinya akan memarahi Daniel, padahal Ia hanya berpura-pura ingin melihat reaksi menantunya itu.


( sudah bu, tak perlu memarahi Daniel.)


(Entahlah, Kenapa Daniel menjadi seperti itu, apa terjadi masalah dengan kalian berdua.)


Alenta mulai memojokkan menantunya, dia ingin mendengar kejujuran dari Wulan.


(Tidak ada bu. Padahal kita baik-baik saja, hanya saja ....)


Wulan tak meneruskan ketikannya, seakan membuat sebuah pertanyaan untuk Alenta kepada Wulan.


(Hanya saja kenapa?)


Ini saatnya Wulan mengatakan hal yang tak terduga, di mana ia akan menyusun rencana untuk bisa membuat wanita tua itu begitu percaya kepadanya, tapi dalam kenyataan lain semua orang sudah mengetahui kebusukan dan juga perselingkuhan Wulan.


(Sarla.)


Alenta sudah menduga dengan hal ini, pastinya Wulan akan melibatkan Sarla dalam masalahnya, tapi bagi Alenta, gadis yang kemarin dinikahi oleh anaknya adalah perempuan baik tak pernah membuat sebuah masalah atau pertikaian.


(Kenapa dengan Sarla.)


( Sepertinya Daniel berubah kepada Wulan karena ada Sarla, apa Ibu bisa membantu Wulan menjauhkan Daniel dengan Sarla, walau dalam kenyataannya mereka kawin kontrak. Tapi tetap saja perubahan Daniel lambat laun akan mengarah kepada Sarla, Wulan akan dilupakan begitupun dengan anak yang dikandung Wulan saat ini, Ibu juga tidak mau kan jika anak yang dikandung Wulan ini menderita. Apalagi anak ini adalah darah daging Daniel dan cucu ibu sendiri.)


"Pesan macam apa ini." Gerutu wanita tua itu, membaca pesan panjang lebar dari menantu pertamanya.


Alenta berpikir, jika Wulan Seolah-olah ingin mengadu domba Alenta dan juga Sarla. " kenapa bisa dia melakukan hal semacam ini, padahal aku sebagai seorang mertua akan menerima dengan lapang dada, tapi dia seperti tak menyadari dirinya sendiri." Gumam hati Alenta.

__ADS_1


__ADS_2