Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 240


__ADS_3

Datang membuka pintu rumah, Tari terkejut dengan penampakan Amir, " Pak Amir, ada apa?"


Amir mengusap pelan perutnya, ia memberi kode jika perutnya keroncongan.


"Pak Amir, dasar. Ya sudah biar Tari sediakan makanan untuk bapak. "


Lelaki tua itu tersenyum setelah mendengar perkataan Tari, ia mempelihatkan jempol tangannya, " wah terima kasih Tari, aku akan menunggumu di depan. "


"Iya."


Menutup pintu rumah, Tari mengusap pelan dadanya, perasaanya tak menentu, " sekarang bukan waktunya membawa kabur Mbak Wina, karena ada Pak Amir, dia pasti curiga kepadaku. "


Tari datang kembali menghampiri Wina, melihat keadaan wanita tua itu. Terlebih dahulu, ia mulai memandikan Wina hingga bersih.


Terlihat Wina tampak segar setelah dimandikan oleh Tari. " Akhirnya beres juga."


"Tari, gimana makanannya sudah beres belum. "


Teriakan Amir membuat Tari terkejut.


"Pak Amir sepertinya sudah kelaparan. " Gumam hati Tari. Gadis yang menjadi pembantu di rumah Gunawan kini mengusap pelan rambut yang tercium wangi itu.


"Mbak Wina, sekarang sudah bersih. Ruangan sudah saya pel, sekarang Mbak Wina bisa tidur nyeyak. Oh ya, saya akan mengikat lagi tangan dan kaki Mbak Wina ya. Agar Tuan Gunawan tidak mencurigai saya sementara waktu. "


Mendengar perkataan Tari, membuat wajah wanita tua itu sayu. " Tari, aku ingin pergi dari sini, apa kamu bisa membantuku. "


"Mbak Wina, aku bisa saja melepaskan mbak, tapi aku takut, jika nanti resikonya malah berat. "


"Resiko apa maksud kamu. " Aku takut nanti Tuan Gunawan malah mencari Mbak Wina dan membunuh Mbak, dan saya di sini pastinya akan menjadi korban utaman Tuan Gunawan, sebaiknya Mbak Wina sabar dulu ya. "


Tari berharap jika wanita tua yang dihadapannya mengerti tentang bahaya yang kini menyintai dirinya.


"Tapi Tari, saya sudah lelah dikurung di gudang ini. Apalagi saat tidak ada kamu, saya serasa ingin mati, " keluh Wina. Pelukan Tari kini menghangatkan tubuh wanita tua itu, rasa senang tiba tiba dirasakan Wina.


"Mbak Wina yang sabar ya. "


Tangisan pecah begitu saja, hanya rasa sabar yang bisa mereka lakukan, tanpa harus berbuat apa apa. Karena semua gerak gerik mereka tengah diawasi oleh Gunawan.


Amir yang tak sabar ingin menyantap masakan Tari, kini menggerutu kesal ia mengusap perutnya yang buncit itu dengan berkata, " kemana ini teh si Tari, kenapa nggak nonghol nonghol dari tadi, padahal sudah lapar banget. "


Amir nekad masuk ke dalam rumah, ia takut jika Tari kenapa kenapa, melangkah ke arah dapur.


"Pak Amir. "

__ADS_1


Terkejut bukan main, Amir melihat Tari ada dihadapannya.


"Tari, kamu ini bikin saya jantungan, bisa bisanya nonghol pas di depan muka. "


Tari malah tersenyum melihat Amir, mengusap pelan dada bidangnya. " Ya maaf pak, saya kira bapak tidak terkejut. "


"Ahk, kamu mah, mana makanan saya?"


"Tenang pak, sudah Tari siapkan!"


Tari menenteng makanan yang terlihat menggiurkan, dimana Amir tak sabar ingin segera menyantap makanan itu.


"Wah, pasti enak rasanya. "


"Ya pastinya dong, ayo makan. "


Menganggukan kepala, mengambil makanan itu, pada akhirnya Amir keluar dari rumah untuk segera menyantap masakan yang sudah dibuatkan Tari.


Tari yang melihat kepergian Amir, kini mengusap pelan dada bidangnya, " syukurlah, tidak ketahuan. "


Berjalan pergi untuk membereskan rumah, sampai dimana suara bel berbunyi.


"Sepertinya itu, Tuan Gunawan. "


Dan Ceklek.


Dugaannya benar, orang yang menyembunyikan bel rumah ternyata Gunawan, sang majikan.


"Tuan, nyonya. " Sapa Tari dengan senyuman lebarnya.


"Tari, kamu sudah pulang?" tanya Sarla terlihat senang dengan kedatangan pembantunya itu.


"Iya nyonya, baru saja!" jawab Tari, menundukkan pandangan. Dimana tatapan Gunawan terlihat begitu menyeramkan.


Namun Tari bersikap tenang berusaha tak mempedulikan tatapan menyeramkan Gunawan.


Sarla memanggil Lani untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Ayolah Lani masuk. "


Anak berumur sepuluh tahun itu berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, dimana Tari mendelik kesal dan tak suka dengan wajah sombongnya Lani.


"Idih, ngapain coba anak itu datang lagi ke rumah ini. " Gumam hati Tari. Melihat sinis kearah Lani.

__ADS_1


"Tari. Tolong kamu antarkan Lani ke kamarnya ya, Kasihan dia sepertinya kecapean sekali," ucap Sarla memperlihatkan perhatiannya terhadap adik tirinya itu.


Tari menganggukan kepala, mendekat ke arah Lani untuk merangkul bahunya," Ayo Nona. "


Namun sikap Lani terlihat tak ramah, anak berumur 10 tahun itu menghempaskan tangan Tari, " aku bisa jalan sendiri tanpa kamu antar."


Sarla dan Gunawan yang melihat tingkah Lani hanya diam, di saat anak itu pergi dengan berjalan penuh kemarahan.


Sarla hanya menggelengkan kepalanya, mendekat ke arah Tari dan berkata, " maafkan atas kelakuan Lani yang tidak sopan ya Tari,"


Tari hanya tersenyum, " tak apa-apa Nyonya itu hanya hal biasa. Namanya juga anak kecil. "


"Maklum saja Lani begitu, karena Mamah Dera sudah meninggal dunia, jadi kamu harus memaklumi sikapnya yang egois itu ya, "


"Baik nyonya. "


Tari bergegas pergi mengikuti langkah Lani yang masuk ke dalam kamar, terlihat langkah anak berumur 10 tahun itu tiba-tiba saja berhenti.


Lani mengembalikan badannya menatap ke arah tarik dengan tetapan begitu sinis. " Siapa yang suruh kamu mengikuti langkah kakiku?"


Terdengar ucapan yang kurang menyenangkan dari mulut Lani membuat Tari berusaha tetap sabar.


Lani melipatkan kedua tangan seperti nyonya besar di dalam rumah, " badan kamu bau, aku suka dekat-dekat dengan kamu Tari. sebaiknya kamu cepat mandi lalu buatkan aku minuman dingin."


Mau tidak mau Tari harus melayani Nona kecil itu, walau mungkin ada rasa kesal yang mendera dalam hati Tari karena sikapnya terlihat tak sopan.


" Cepat, kenapa kamu malah diam saja dan berdiri di sana, " perintah Lani dengan sedikit membentak sang pembantu di rumah Gunawan.


Dengan terburu buru Tari berjalan menuju ke dapur untuk segera membuatkan minuman dingin.


"Eh, tunggu Tari. " Teriakan Lani membuat Tari seketika berhenti.


Tari membalikkan badan menatap ke arah sang nona kecil, " Ada apa nona?"


"Tolong buatkan aku makanan juga ya, jangan lama-lama aku sangat lapar sekali!" balas Lani, memperlihatkan raut wajah juteknya.


"Baik Nona. " Tari sebagai seorang pembantu harus bersikap sabar menghadapi Lani yang terlihat menyebalkan itu.


Ia berjalan kembali ke arah dapur untuk segera membuatkan makanan dan juga minuman kesukaan Lani.


Dengan terburu-buru membuatkan minuman, Tari ini menggerutu kesal dalam hati, " dasar bocah tengik, bisa-bisanya dia tidak sopan memerintahku, sifatnya tak jauh berbeda dengan ibu, menyebalkan sekali."


Tiba-tiba saja Lani berada di hadapan Tari, anak berusia 10 tahun itu menatap raut wajah kesal Tari, membuat ia bertanya, " kamu kenapa Tari?"

__ADS_1


__ADS_2