
Sarla mendekat pada sang papah dan bertanya, " kenapa pah, kok kelihatan senang begitu?"
Gunawan menatap ke arah Sarla, ia menjawab dengan nada senangnya. " Tentu saja papah senang, karena mama tiri kamu terjebak akan tipuan kita. Mungkin dia berpikir kita bodoh. "
"Sudah Sarla duga dari awal, makanya Sarla membuat semua serba palsu agar kita tak tertipu oleh Mama Dera terlebih dahulu. "
"Hanya saja papa masih bingung dengan keberadaan Lilia sekarang, dia ada dimana. Papah sangat merindukan adik kamu. "
Memegang bahu, Sarla menguatkan rasa sedih sang papah. " Insa allah kalau kita berdoa terus menerus, agar Lilia di lindungi sang maha kuasa, pasti Lilia baik baik saja. "
"Papah sangat berharap sekali adik kamu itu baik baik saja, jika dia kenapa kenapa, yang pertama kali papah salahkan mama tiri kamu. "
Memeluk erat sang papah dari belakang, terlihat Tari tampak gugup saat mendekat ke arah Gunawan.
"Maaf Tuan, nyonya. Mengganggu waktunya, saya mau izin pulang ke rumah selama dua hari ini saja. "
Gunawan terkejut dengan perkataan Tari, ia membulatkan kedua matanya, berusaha tetap tenang. " Kenapa kamu mau pulang Tari, apa alasanmu?" Gunawan tiba tiba saja bersikap tegas dihadapan pembantunya itu.
Tari yang mendengar ketegasan itu, membuat tangannya bergetar ketakutan, " maafkan saya Tuan, saya ingin melihat ibu saya yang sakit. "
"Mm, ya sudah saya izinkan kamu. "
Tari terlihat agak senang, dan juga masih marasa takut akan tatapan yang diperlihatkan sang majikan. " Terima kasih, tuan. "
Gunawan hanya menganggukkan kepala, pergi dari hadapan Sarla.
"Tari."
Baru saja Tari ingin melangkah pergi dari hadapan Sarla, ia kini menjawab panggilan sang nyonya. " ada apa nyonya. "
Mengerutkan dahi, terlihat sekali jika Sarla merasa nyaman dengan Tari, membuat ia memberikan uang lebih untuk Tari pulang kampung.
"Saya doakan ibu kamu cepat sembuh ya. "
"Amin, terima kasih nyonya. Hanya saja ini uang tidak berlebihan nyonya, baru saja kemarin saya gajian. "
"Sudah anggap saja itu bonusa kamu bekerja disini dengan baik, saya ikhlas kok. Untuk tambah tambah biaya berobat ibu kamu. "
__ADS_1
Menganggukkan kepala dan berkata lagi, " terima kasih nyonya. "
"Sama sama. "
Tari terburu buru pergi dari hadapan Sarla, dengan raut wajah gelisanya.
Gunawan yang melihat pemandangan itu hanya bisa mengepalkan kedua tangan, takut jika nanti Tari membocorkan keberadaan Wina yang ia sekap di dalam gudang.
Sarla melihat jam tangan, dimana jam itu menunjukkan pukul sebilan pagi, padahal baru saja menemui Dera dan Lani, sekarang sudah jam sebilan saja, waktunya Sarla pergi ke rumah sakit.
Kebetulan sekali, karena berkas pelaporan Daniel, ia lupa bawa di dalam rumah.
Bersiap siap, dengan hati penuh rasa bimbang dan ragu, tapi Sarla berusaha menata diri untuk tetap menemui Daniel di rumah sakit.
*****
Gunawan masih merasakan rasa ragu, ia berjalan ke arah kamar pembantunya. " Tari. "
Suara Gunawan memanggil nama Tari, membuat ia sedikit takut. " Tuan Gunawan. "
Menundukkan wajah, lalu mendekat," ada apa, tuan. Memanggil saya. "
Karena hanya Tari yang tahu jika Wina di sekap dan di perlakukan tidak baik oleh Gunawan.
"Saya hanya memastikan saja, jika kamu benar benar pulang, karena menemui ibumu. Bukan karena kamu ingin lari dariku."
Mendengar perkataan itu, membuat Tari terlihat ragu, sampai tangannya bergetar ketakutan.
"Saya tidak ada niat, mengatakan semua kejahatan tentang tuan pada siapapun. Saya ini memang murni ingin pulang ke rumah melihat ke adaan ibu saya yang sakit. "
Mengusap perlahan dagu, Gunawan mempelihatkan kedua matanya yang terlihat tak percaya pada Tari.
" Sebenarnya saya ini tidak percaya sama sekali pada kamu, saya mencurigai kamu. Jika kamu ini hanya ingin berpura-pura pulang dan melaporkan saya ke polisi karena saya sudah menyikapi Wina beberapa hari ini."
"Mana mungkin saya melakukan itu semua tuan, karena saya tidak mempunyai bukti sama sekali. "
Menghembuskan napas, Tari berusaha meyakini majikannya itu," Tuan tenang saja saya akan kembali lagi selama 2 hari ini. Saya tidak akan melaporkan apapun kepada polisi. "
__ADS_1
Gunawan memberi kesempatan pada Tari, dia menjawab dengan suara pelan dan sedikit mengancam, " saya akan percaya hari ini kepada kamu. Namun jika kamu menghilangkan kepercayaanku, aku tak segan-segan membuat kamu menderita pada saat itu juga."
"Baik tuan. "
Gunawan pergi meninggalkan Tari, ya berjalan dengan begitu santai, hingga berpapasan dengan anak pertamanya itu. " Loh, papah habis dari mana. "
Terlihat Gunawan gugup sekali menjawab pertanyaan sang papah, ia hanya tersenyum kecil lalu berkata," Papa kasihan terhadap Tari, di papa kasih uang lebih untuk dia."
"Mm, Papa baik banget. Kebetulan sekali aku juga mau pergi ke rumah sakit untuk menyerahkan surat laporan ini, dan lagi sekalian aku akan mengajak Tari untuk naik ke mobilku. "
Gunawan menganggukkan kepala lalu menjawab perkataan anaknya," ide yang sangat bagus, lumayan buat Tari agar menghemat uang ongkosnya untuk pulang."
Sarla tersenyum manis ketika mendengar jawaban dari Gunawan, baru saja Tari keluar dari dalam kamarnya, dengan membawa koper.
" Kebetulan sekali Tari, kamu sudah siap-siap. Ayo sekarang kamu ikut mobil aku. "
Tari terkejut mendengar perkataan Sarla secara tiba-tiba," tapi nyonya."
Sarla tahu jika pembantunya itu adalah sosok seorang gadis pemalu, menarik tangan Tari untuk segera masuk ke dalam mobil." Ayo cepat Jangan banyak tapi-tapian, mumpung kita searah, lumayan kan buat menghemat uang kamu, pulang kampung. "
Tari tersenyum lebar menatap ke arah Sarla yang begitu baik hati, pernah membeda-bedakan antara pembantu dan juga orang sederajat dengan dirinya.
Gunawan yang melihat hal itu, hanya bersikap biasa saja, karena ia sudah memberitahu dan juga mengancam Tari, agar tidak mengatakan hal-hal yang malah membuat Gunawan dibenci oleh semua orang dan juga anak-anaknya.
Dengan rasa ragu yang ada pada hati Tari, Sarla terus memaksa pembantunya itu untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Nyonya."
"Sudah, jangan banyak menolak kamu ini, cepat duduk yang manis, nanti aku antarkan kamu ke stasiun bus agar kamu cepat pulang ke kampung dan menemui ibumu di sana."
Pada akhirnya Tari menurut, dia hanya duduk manis sembari menundukkan pandangannya, berusaha menutup mulut agar tidak mengatakan hal-hal yang malah membuat Sarla nantinya menjadi curiga.
Sarla kini menatap pada kaca di mobilnya, ia terlihat heran dengan raut wajah muram yang diperlihatkan oleh pembantunya itu.
"Seharian ini, kamu terlihat berbeda Tari, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Atau kamu pendam saat ini. Ayolah cerita kepadaku Tari. "
Deg ....
__ADS_1
Pertanyaan Sarla seperti membuat peluang untuk Tari berkata jujur.