Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 209


__ADS_3

"Ini saatnya. " Lilia berguman dalam hati, Lani bukan anak yang lemah. Saat itulah kedua tangan Lilia mulai mendorong tubuh Lani.


Brakkk ....


Tongkat yang dipakai Lani kini terbelah dua, membuat sang Mama terkejut dan berteriak, dia berusaha menahan Lilia agar tidak pergi dari rumahnya.


Memegang erat tangan anak tirinya itu," mau pergi ke mana kamu Lilia?"


Lilia berusaha melepaskan tangan sang mama tiri, agar ia leluasa bisa kabur dari rumah Dera." lepaskan tanganku. "


karena genggaman tangan sang mamah tiri yang begitu kuat, membuat Lilia langsung menggigit tangan Dera.


"Ahkkkk."


Pada akhirnya, Lilia bisa kabur dari rumah sang mama tiri, "Lilia, kemana kamu?"


Teriakan Dera tak membuat rasa takut pada hati Lilia, anak itu terus berlari untuk segera meninggalkan kediaman sang mamah tiri.


Lani yang merasakan rasa sakit pada kakinya, kini memanggil sang mama dengan menangis," mama, tolong Lani. "


Dengan sigap Lani mulai menolong anaknya untuk segera berdiri, " Lani, ayo nak. Berdiri. "


Sungguh disayangkan tongkat yang selalu dipakai Lani kini terbelah dua, sang ibu terlihat geram. "Kurang ajar sekali anak itu. Sialan. "


Dera berusaha membantu anak satu satunya untuk berdiri, terlihat dari raut wajah Lani, menahan rasa sakit pada kakinya.


"Aduhh, mama sakit. "


"Tenang ya nak, " ucap Dera pada anak semata wayangnya itu.


Dera berusaha membopong tubuh Lani dengan sekuat tenaga yang ia punya.


"Ya sayang. Kamu harus kuat ya. "


Lani hanya menganggukkan kepala sedangkan Dera menitihkan air mata, tak tega melihat kondisi anak semata wayangnya itu.


*******


Lilia berlari terus menerus, meninggalkan kediaman Dera, ia menatap ke arah belakang. Apakah sang mama tiri mengejar dirinya atau tidak.


Dada naik turun, kedua lutut terasa lemas karena menahan rasa lelah sehabis berlari.

__ADS_1


Lilia mulai duduk di pinggir jalan, ia memegang perut merasakan betapa terasa perihnya dan sakit, karena seharian perut belum terisi apa apa. Air minumpun tak ada.


Dera dan juga Lani begitu tega terhadap Lilia. " mereka tega sekali kepadaku. Membiarkan aku kesakitan dan kelaparan. "


Ingin rasanya menangis, namun hati tak kuasa, karena percuma saja, di situasi seperti ini tak akan ada orang yang mau mengasihani Lilia.


Berusaha tetap tegar, kini Lilia tak membawa uang sepeserpun. Sedangkan malam sudah mulai gelap, Lilia tak tahu daerah yang ia tinjakan kakinya saat ini.


"Kemana aku harus pergi. "


Mencari bantuan, tak ada satu orang pun yang mau menolongnya.


Mereka yang berjalan kaki tampak cuek saat melihat Lilia," Aku ingin pulang, kak Sarla tolong aku."


******


"Ahkkk."


Teriak Sarla dengan sepontan membuat Gunawan terkejut, ia berlari mencari sumber suara teriakan dari kamar anaknya.


"Sarla."


Anak pertamanya itu menangis menundukkan wajah, ia masih mengingat mimpi yang datang pada dirinya.


"Papah, Sarla mimpi jika Lilia terlantar dijalanan!" jawah Sarla, dengan raut wajah gelisah. Ia mengigat adiknya yang kelaparan dan kehausan di jalanan.


Merangkul bahu Sarla, Gunawan berusaha menenangkan anak pertamanya itu. " Kamu harus tenang ya, Sarla. Mana mungkin Mama Dera menelantarkan Lilia di jalanan, apalagi Lilia itu masih kecil. "


"Tapi pah. "


"Sudah kamu jangan memikirkan mimpi yang hanya bunga tidur. Besok kita akan membuat rencana yang sudah kamu susun itu. "


Sarla pada akhirnya menurut, ia mulai merebahkan tubuhnya kembali, dimana Gunawan menarik selimut dan menutupi badan anaknya.


" Kamu jangan memikirkan hal hal yang malah membuat pikiranmu steres ya, solanya kan kamu baru saja melahirkan. " Nasehat sang papah terlontar begitu saja, Sarla mengusap pelan air mata berusaha untuk tetap tenang.


"Terima kasih pah. "


Gunawan tersenyum, melihat Sarla terlihat tenang.


lelaki tua itu kini pergi keluar kamar anaknya, dimana ia terkejut dengan Wina yang sudah ada di depan pintu Sarla.

__ADS_1


"Sedang apa kamu di sini?" Pertanyaan Gunawan membuat Wina menatap ke arahnya.


"Aku ini kan bibinya Sarla, jadi wajar aku datang ke kamarnya karena panik mendengar suara teriakan!" Jawaba Wina pada Gunawan.


"Jangan mengaku ngaku sebagai bibi dari anakku, kamu hanya pendatang dan seorang pembantu, " ucap Gunawan, mempelihatkan ketidak sukaanya pada Wina.


Telunjuk tangan yang mengarah para wajah Wina, membuat wanita tua itu menghempaskannya seketika.


"Kurang ajar kamu, jangan sok soan nunjuk nunjuk kaya begitu, itu namanya tak sopan. "


Wina pergi dari hadapan Gunawan, lelaki yang pernah menjadi suami dari kakaknya.


Masuk ke dalam kamar, Tari melihat Wina tengah mengerutu kesal. " Mbak Wina.


"Apa?"


Tari menelan ludah, setelah mendengar amarah Wina yang mengebu gebu. " Mbak Wina, salah kasur. "


Wanita tua itu menatap pada wajah Tari, mempelihatkan kekesalan. " Hanya karena salah kasur, kamu marah marah begitu. "


Sontak Tari terkejut dengan perkataan Wina, membuat ia berusaha tetap tenang tak termakan emosi dirinya sendiri. Dengan mengusap pelan dada bidangnya sendiri dengan berucap dalam hati. " Dasar nenek peot, siapa yang salah siapa yang marah marah, dianya yang salah pake acara nyorocos sendiri. "


Wina mulai berjak berdiri, menyingkirkan tubuhnya di atas kasur Tari, perlahan ia duduk dan kembali menggengam ponselnya.


Sedangkan Tari mulai beristirahat untuk segera tidur karena badannya terasa amat kelelahan.


Tari lansung tertidur begitu saja, membuat Wina yang melihat pembantu Gunawana itu terasa risih karena gangguan suara Tari yang ngorok ketika tidur.


"Ahk, bisa bisanya si Tari ini tidur dengan keadaan ngorok seperti itu, menangganggu saja. " Gerutu Wina, pergi dari dalam kamarnya. Untuk segera menghampiri Gunawan.


Mengetuk pintu kamar suami dari kakaknya. " Gunawan. " Sembari berteriak memanggil nama Gunawan.


Mengacak rambut dengan kasar dan membuka pintu kamar, " ada apa lagi Wina, hah. Sudah cukup kamu mengganggu keluargaku, sekarang berteriak di malam hari begini. "


Wina mulai mengatakan kekesalannya dihadapan Gunawan. " Beri aku kamar yang layak, kamu tahu sendirikan aku adik dari almarhum istrimu. "


"Bukannya aku sudah memberi kamu kamar, bersamaan dengan Tari. "


Perkataan Gunawan tak bisa di terima sama sekali oleh Wina, membuat wanita tua itu berkacak pinggang.


"Aku ini seorang tamu bukan pembantu, jadi please lah jangan samakan aku dengan pembantu di rumahmu ini, Oke. "

__ADS_1


Sergah Wina, menurunkan kedua tangannya, memberi tahu Gunawan.


"Loh, bukannya kamu sendiri yang datang ke rumahku dengan sosok seorang pembantu dan sekarang kamu ingin di samakan dengan tamu. Pikir pake logika, tidak semudah itu aku percaya pada orang yang sudah menghancurkan keluargaku ini, karena kamu Lilia membenciku dan kini dia hilang, coba kamu pikir, apa resiko kejujuran kamu akan membuat seseorang bahagia, pada kenyataannya tidak kan, orang itu malah kecewa dan menderita. " jelas Gunawan, membuat Wina berusaha tetap tenang.


__ADS_2