Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 160


__ADS_3

"Daniel, bagaimana keadaan kamu?" tanya sang ibunda yang kini duduk dikursi, menatap ke arah anak semata wayangnya yang terbaring lemah diranjang tempat tidur.


"Keadaanku lumayan baik, ibu!" balas Daniel, terlihat raut wajah nampak sayu, sepertinya Daniel tengah memikirkan sesuatu setelah sang dokter pergi dari kamarnya.


Alenta duduk di samping Daniel, ia perlahan mengusap kepala anaknya itu," apa yang sekarang kamu pikirkan? Katakanlah pada ibu jangan sampai membuat keadaanmu drop lagi."


"Tidak ada bu."


Daniel tak bisa mengungkapkan kebenaran yang ia rasakan, sebagai seorang lelaki Daniel begitu lemah tak bisa memilih pilihannya sendiri, sifatnya yang berubah ubah selalu membuat hidupnya merasa gelisah.


"Coba katakan yang sejujurnya, " balas Alenta, dimana wanita tua itu memegang puggung tangan anaknya," Jangan membohongi diri kamu sendiri apalagi sampai membohongi orang lain, semua itu tidak akan membuat kamu bahagia yang ada kamu akan tersiksa dan juga menderita. "


Daniel kini diambang kebingungan, antara harus mengakui dirinya berpura-pura atau terus melanjutkan ke pura-puraan itu semua.


" Daniel. Jika kamu berkata jujur kita akan mencari jalan solusinya."


Daniel mulai tersenyum lebar, ya lalu berkata, " tidak ada apa apa. Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Daniel."


Lelaki berbadan kekar itu kini membungkam mulutnya, Dimana Alenta tak habis pikir jika Daniel selalu menutupi rahasia yang tak pernah ia tahu.


"Ibu ini orangnya mau melahirkan kamu, ibu tahu ketika kamu sedang bersedih, apalagi ketika kamusedang berbohong."


"Tidak ada rahasia apapun, bu. "


Alenta menyerah dengan pertanyaan yang ia layangkan kepada Daniel, karena Daniel terus saja membungkam mulutnya. Tak mau mengatakan apapun.


"Ibu berharap kamu bisa menenangkan diri kamu sendiri, ibu tinggalkan kamu dulu sendiri di kamar ya. "


Daniel hanya mengagukan kepala, ia menatap ke arah jendela kamarnya. Sang ibu tahu anaknya tengah berpikir.


Keluar dari kamar Daniel, Wulan sudah berdiri di depan pintu kamar. " Kamu lagi Wulan, ada apa?"


Wulan menunggu keluarnya sang ibunda, hanya ingin menanyakan keadaan Daniel, ia merasa bersalah sekali karena sudah mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakatan.


"Bu."


" kamu jangan berani masuk ke dalam kamar Daniel, jika kamu melakukan hal itu aku bisa saja mengusir kamu dari sini sekarang juga."


Wulan hanya menuruti perkataan sang mertua, ia pergi menjauh dari pintu kamar suaminya.


*******


Sedangkan sarla begitu sibuk dengan kehamilannya sendiri, dibantu oleh sang papah yang selalu datang menemani.

__ADS_1


Tampak lelaki tua itu seperti bahagia melihat kandungan anak pertamanya yang setiap bulan semakin membesar.


"Tak terasa Sarla kandungan kamu semakin membesar."


"Iya, pah. "


Sarla malah menangis, dimana sang papah mengerutkan dahinya dan bertanya?" kenapa kamu malah menangis, nak?"


Sarla perlahan mengusap air mata yang menetes mengenai kedua pipi," walau kandunganku ini semakin membesar, dan nanti anak ini lahir. Aku tidak akan ada di dekat. "


Gunawan mengerti akan kesedihan yang dirasakan anaknya," semua ini salah papa. Papa selalu mengandalkan obsesi untuk menjadi pengusaha sukses, hingga papa mengorbankan kamu. "


"Sudah pah, jangan membahas hal itu lagi, aku sudah melupakan semuanya."


Gunawan memeluk anak pertamanya itu, ya lalu menangis meneteskan air mata," papah tidak akan melakukan hal itu lagi, papah janji kepada kamu. "


"Oh ya pah, semalam aku bertemu dengan sosok wanita yang memakai baju hitam, raut wajahnya penuh dengan luka bakar, aku menaiki mobilnya lalu mengobrol dengannya. "


"Apa dia mengatakan sesuatu kepada kamu?"


"Tidak ada percakapan di antara kami berdua, namun aku melihat gelang yang dipakai wanita tua itu sama seperti gelang yang dipakai almarhum ibu. "


"Apa hanya kebetulan saja?"


"Tapi bisa saja kan, ada yang menyerupai gelang ibu walau dengan harga murah."


"Mungkin, sudahlah kamu jangan terlalu memikirkan ibu ibu itu lagi, mungkin semua hanya kebetulan saja, sekarang kita fokus dengan kehidupan kita."


Mendengar perkataan sang papah tidak membuat Sarla puas mendengarnya, ia tetap penasaran ingin tahu tentang wanita yang memakai gelang sama percis dengan gelang sang ibunda.


Sarla mulai menghampiri Lilia, ia mendekat dan berkata, " Lilia, apa kamu bisa bantu kakak?"


"Bantu apa kak!?"


Sekilas Sarla menatap ke arah sang papah yang masih duduk menonton televisi di rumahnya.


"Bantu melihat penyimpanan mas berharga milik Mama Dera! Apa di sana masih ada gelang alamarhum ibu. "


"Gelang?"


"Masa kamu lupa, gelang kesayangan ibu. Saat ibu masih hidup!"


"Mm."

__ADS_1


Lilia berusaha mengingat ngigat gelang yang dimaksud sang kakak, dimana ia mulai terbayang akan gelang sang ibunda.


"Gimana apa kamu sudah mengigatnya."


"Ya aku ingat, gelang model giok bukan?"


"Iya benar!"


"Tapi, masuk ke dalam kamar papa rasanya sulit, karena setiap kali papah keluar selalu di kunci!"


"Mm, kakak nanti cari ide. "


"Oke."


Setelah membisikan perkataan itu, perlahan aku mulai berjalan, menghampiri sang papa dimana ia tengah tertawa melihat tontonan comedy dilayar televisi.


"Papah, gimana kabar Mama Dera, apa dia pulang ke rumah. "


Lelaki tua itu itu tiba tiba memudarkan senyumannya, ia menatap ke arah Sarla, "Entahlah, tidak ada kabar sama sekali tentang Mama Dera, papa juga bingung. Sebegitu kesalnya ia sampai tiga bulan lamanya tak pulang pulang."


"Apa papa merindukan mereka?"


"Rindu, entahlah, papa juga tak mengerti dengan perasaan papa sekarang, bingung karena mereka tak bisa di kasih tahu selalu ngeyel dan ingin menang sendiri!"


"Sarla berharap jika Mama Dera sadar akan sifatnya yang egois itu, karena dia juga harusnya memikirkan keadaan papa di rumah. "


Sembari mengobrol, Sarla melihat gerak gerik tangan sang papa, dimana tangan yang terangkat itu memeplihatkan kunci yang menempel pada sabuk sang papa.


"Apa itu kunci kamar papa?" Gumam hati Sarla.


"Papa juga berharap seperti itu, entah kenapa mama tirimu itu tidak menyukai kamu dan juga Lilia, padahal kurang apa mama tirimu itu diberi kesempatan untuk kalian menjadi nyonya rumah. "


"Begitulah pah, jika seorang wanita egois selalu serakah akan keinginannya, tak peduli dengan orang orang sekitar."


"Sarla?"


"Iya pah!"


"Apa kamu mau membujuk Mama Dera agar pulang ke rumah?"


Sarla terkejut dengan perkataan sang papah, ia menunjuk dirinya sendiri lalu berkata lagi!" Iya kamu, jika Mama Dera mendapatkan bujukan kamu mungkin dia akan pulang ke rumah. "


Lilia yang mendengar pekataan sang papa langsung mengelak dengan berkata, " Lilia tidak setuju pah, dengan cara papa seperti itu. "

__ADS_1


Deg ....


__ADS_2