Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 88 Hampir saja


__ADS_3

(Tolong kakak, kasih tahu Kak Lilia, jangan marahin lagi Lani.)


Pesan dari Lani datang kembali, dimana Sarla sudah menduga dengan adik tirinya yang pastinya akan mengadu tentang Lilia yang sudah menjahatinya.


Memang dari dulu Lani itu lemah tak berdaya, jika. Lilia menjahatinya dengan mengancam atau terkadang membuat Lani sakit hati.


(Biar kakak kasih tahu dia nanti ya. Sayang.)


Lani mulai mengirim emojik tersenyum, dengan kedua mata berkaca kaca, Sarla tahu Lani berharap jika dirinya berpihak padanya.


"Lani, Lani, coba kamu terus jadi anak baik. Kami tidak akan melakukan semua ini."


Baru saja selesai mengirim pesan suara ponsel bergetar kembali


(Kamu sedang apa, Sarla?)


Membulat kan kedua mata, nampak Sarla terkejut dengan nomor baru yang datang, pada ponselnya.


(Siapa ini!)


(Aku Rafa.)


Sarla tak suka jika ada laki laki lain yang menghubunginya, apalagi itu adalah Rafa, keponakan suaminya sediri. Membiarkan dan tak membalas pesan dari Rafa.


Namun ponsel Sarla bergetar lagi, Rafa menelepon. "Rafa. Ada apa dia menghubungiku, mengganggu sekali."


Sudah jelas kemarin kemarahan Daniel disebabkan oleh Rafa sendiri, ia sudah membuat Sarla kesal terlebih lagi sifat Daniel berubah derastis. Benar benar membuat hati dan pikiran Sarla menjadi kacau sekarang.


Namun Sarla berusaha tetap tenang, ia membelokir nomor Rafa, agar tidak ada kemarahan Daniel lagi.


"Demi kenyamananku, aku harus menghindarkan sesuatu yang membuat Daniel marah."


Baru saja membelokir nomor Rafa, suara ketukan terdengar dari luar.


Tok .... Tok .... Tok.


Sarla tekejut, ia berusaha tak membuka pintu rumahnya, menghubungi satpam di rumah. Namun tak kunjung diangkat.


"Kemana satpam?"


Sarla penasaran, pada akhirnya ia mengintip, melihat pada jendela rumah.


"Ternyata Rafa, berarti dia niat sekali dia mengganguku. "

__ADS_1


Sarla berusaha tak membuat kemerahan pada diri Daniel, karena ia takut jika nanti dirinya akan tersalahkan dan pastinya Sarla akan tersered dari masalah yang membuat hidupnya semakin menderita.


"Sa, buka pintunya. Kenapa kamu malah membelokir nomorku, aku ingin berbicara kepadamu, karena ini urusan yang sangat penting. "


"Sa, buka, sa. "


Sarla berusaha menarik napasnya mengeluarkan secara perlahan. " Pergi saja kamu dari sini Rafa, tolong jangan ganggu aku di sini. "


Sarla membalas teriakan Rafa, dengan mengusirnya, ia tak mau jika nanti ada kesalahpahaman terjadi pada dirinya dengan Rafa.


"Sarla, aku hanya ingin membicarakan hal penting bersama kamu, ini demi keselamatan kamu, agar kamu bisa bebas dari jeratan Daniel. Pamanku sendiri. "


Sarla tak percaya jika Rafa bisa menyelamatkannya, karena ia tahu siapa Daniel yang sesungguhnya.


Lelaki bergelar sebagai CEO itu, bukan lelaki sembarangan yang bisa dihancurkan begitu saja, Daniel bisa saja melakukan hal yang membuat seseorang yang sudah sengaja menghianatinya menjadi menderita.


" Aku tak peduli dengan ucapan kamu, sebaiknya kamu pergi dari sini. "


Beberapa kali Sarla mengusir Rafa untuk pergi dari depan rumahnya.


Namun Rafa tetap bersi kuku ingin menyelamatkan Sarla, wanita yang sangat ia cintai dari jeratan Daniel.


"Sa, dengarkan aku dulu, sebelum kamu mengatakan hal itu."


"Dengarkan apa lagi, sudah cukup sebaiknya kamu pergi dari rumahku. Aku tak mau Daniel tahu tentang kedatanganmu, yang nantinya malah membuat aku semakin menderita. "


" Cepat pergi dari sini Rafa, jangan pernah membuat kesalahan yang malah membuat aku dalam bahaya."


"Buka hatimu Sarla, kamu itu seharusnya bebas dari dekapan Daniel, kamu harus menikmati hidupmu."


Berulang kali Sarla berusaha mengusir Rafa, namun lelaki itu tak kunjung pergi, ia seperti sengaja membuat emosi Sarla semakin meluap-luap, " sudah cukup jangan pernah menasehatiku, cepat pergi dari rumahku saat ini juga."


Sarla mencoba menghubungi satpam di rumahnya, agar bisa mengusir Rafa yang masih ngeyel berada di depan rumah.


"Ayo angkat pak."


Pada akhirnya satpam itu mulai menangkap panggilan telepon dari Sang Nyonya. Yang tak lain ialah Sarla.


"Halo, Nyonya?"


"Pak, tolong usir orang yang berada di depan pintu rumah sekarang juga!"


"Baik Nyonya. "

__ADS_1


Akhirnya satpam itu dengan gesit mulai mengusir Rafa begitu saja, di mana Sarla mulai mengusap pelan dadanya, hatinya tenang.


"Rafa, kenapa dia datang ke sini?"


satpam itu mulai menyeret paksa Rafa.


"Lepaskan pak, kenapa anda menyered saya."


"Anda sudah membuat Nyonya Sarla merasa tak nyaman, jadi sebaiknya anda pergi dari rumah ini."


Satpam itu mengusir Rafa, dengan manarik tubuhnya lalu mendorong keluar gerbang.


"Pak Satpam. "


Gerbang dikunci, Rafa tak bisa masuk kembali untuk menemui Sarla, mengirim pesanpun tak bisa, karena Sarla sudah membelokir nomor whats aap ya.


"Ahk, gagal lagi, pertarungan untuk mendapatkan Sarla begitu berat, banyak perjuangan yang harus aku lalui. Sarla, Sarla, kenapa kamu keras kepala, masih saja bertahan dengan lelaki seperti Daniel itu, lelaki menyebalkan yang sudah membuat kita tak bisa bersama."


Rafa menggerutu kesal dirinya sendiri, iya tak bisa berbuat apa-apa, sekarang hanya bisa memikirkan cara untuk bertemu dengan Sarla.


Daniel ternyata belum berangkat dari rumah, Iya tengah memandangi keponakannya yang gagal masuk ke dalam rumah.


"Sudah aku duga, Rafa pasti akan datang ke rumah, kenapa? Karena aku sudah melarang Sarla kuliah. "


Tepuk tangan dilayangkan Daniel di hadapan keponakannya," ternyata kamu sebagai keponakanku nekat juga, Rafa. "


"Om Daniel. " membuang raut wajah, enggan menatapnya saat itu, Rafa tak suka sama sekali dengan Daniel yang sekarang, Daniel sudah menikahi wanita yang sangat ia cintai.


" Kenapa raut wajah kamu seperti itu, apa kamu membenciku sebagai pamanmu."


Rafa tak segan-segan membalas perkataan pamannya sendiri," ya. Aku sangat membenci kamu, karena kamu sudah menjadi paman yang egois, tak mau melepaskan Sarla begitu saja untukku, kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri."


Daniel tertawa terbahak bahak, di depan keponakannya. Rafa yang melihat tawa itu, merasa kesal, hingga pada akhirnya, ia pergi tanpa berpamitan.


Entah kenapa ada sosok seperti Daniel, lelaki yang kini terlihat sifatnya, sangatlah menyebalkan.


Rafa pergi menaiki mobil dengan perasaan kesal, marah.


Menatap di dalam mobil, Daniel sedang menatap layar ponselnya, Rafa bergugam dalam hati," lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini, akan menyesal Daniel."


Rafa mulai pergi meninggalkan kediaman Daniel, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sial, aku gagal. Hari ini aku tidak bisa menaklukan hati Sarla, yang ada aku malah mendapatkan kekesalan."

__ADS_1


Dari kemarahan Rafa, hampir saja Ia menabrak seseorang yang ingin melintas, "sialan, hampir saja aku menabrak orang lain."


Rafa mulai turun dari dalam mobil, siapa orang yang hampir ia tabrak.


__ADS_2