Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 225


__ADS_3

"Aku lapar. "


Regekan terus dilontarkan oleh Lilia dengan tangan kanan yang memegang perut, kedua mata tampak berkaca kaca.


Dari semalaman iya terus menahan rasa laparnya, berharap keajaiban datang kepadanya, sebuah makanan dan juga minuman yang mampu membuat perutnya tak lagi keroncong.


Tenaga seakan tidak ada lagi, Lilia sudah tak sanggup lagi untuk berjalan, orang yang melintas ke arahnya, begitu tak peduli padanya.


"Kak Sarla, papah. Aku lapar. "


********


Di pagi hari.


Lani dan Dera terlihat begitu sibuk, mereka bersiap siap untuk mencari keberadaan Lilia.


"Lani, ayo."


"Iya, mah. Sabar dikit, kenapa?"


"Bukan sabar sabarnya, sekarang kita itu harus cepat mencari kakak tiri kamu. Mama yakutnya nanti Papa Gunawan datang menjemput Lilia dengan membawa sertifikat rumah, dan juga harta gono gini yang dimiliki Papa Gunawan. "


Terlihat Lani begitu tak bersemangat Ketika sang mama, mengajaknya untuk mencari keberadaan Lilia. Iya berharap sekali jika Lilia mati kelaparan pada saat itu juga.


Agar tidak ada yang menggantikan posisi dirinya, menjadi anak sang papah, terdiam melamuni Lilia yang sudah ada di bayangan otaknya. Jika ia tengah sengsara di jalan.


Dera mulai menarik tangan anaknya, untuk segera berdiri." kamu ini malah santai santai saja."


Baru saja melangkahkan kaki keluar rumah, Dera terkejut. Jika suami dan juga anak tirinya sudah berada di depan pintu rumah.


"Papah?"


Gunawan memperlihatkan kekesalannya di hadapan sang istri, terlihat berkas berwarna biru sudah ada di tangan Sarla.


"Kemana Lilia?" tanya Gunawan, dengan tatapan kedua mata yang memperlihatkan amarah.


Sarla mendekat ke arah Mamah tiri dan juga adik tirinya." kami berdua sudah membawa berkas yang kalian inginkan, dan sekarang tinggal kalian memberikan Lilia kepada kami berdua. "

__ADS_1


Kedua tangan Dera tampak beradu, ia seperti orang yang sedang kebingungan. Menatap sekilas ke arah anaknya, berusaha percaya diri jika Lilia sedang berada bersamanya.


"Kami akan memberikan Lilia, asalkan kami melihat dulu berkas itu."


Sarla melihat ke arah sang papa, di mana lelaki tua itu menganggukkan kepala, menyuruh anak pertamanya untuk memberikan berkas kepada Dera.


Saat Sarla menyodorkan berkas itu, di mana tangan Dera dengan terburu-buru meraih berkas itu, iya dengan keserakahannya menatap berkas yang selama ini ia inginkan.


kedua mata membulat, melihat berkas yang memperlihatkan nominal uang yang sangat besar. Lani kini ikut melihat berkas itu, iya Ikut tersenyum dikala sang mama juga tersenyum.


Sarla melipatkan kedua tangan, bertanya di hadapan adik tiri dan juga mama tirinya, " jadi bagaimana?"


keduanya berusaha tetap tenang, tidak terlalu terburu-buru. "Kami akan memberikan Lilia, setelah kami mencarikan uang dalam berkas ini. "


Keduanya saling menatap satu sama lain, ternyata Dera tak sebodoh yang dipikirkan Sarla.


"Loh, kok begitu. "


Sarla terkejut, ia berusaha mengambil berkas yang berada di tangan mama tirinya.


Namun dengan Sigap, Dera menyingkirkan tangan anak tirinya itu. " Et, kamu mau mengambil berkas yang sudah kamu berikan kepadaku, itu tidak bisa. kamu sebagai anak tiri jangan seenak-enaknya ya."


"Jangan berbuat curang kamu ya. "


Menujuk ke arah Dera, Sarla seakan hilang kendali, rasa sabarnya tak bisa di tolerasi lagi. Ia sudah tak percaya akan apa yang dikatakan Dera.


Mengibas ngibaskan berkas itu, pada wajahnya sendiri, tersenyum lalu berkata, " siapa yang berbuat curang, mungkin itu semua perasaan kamu saja. "


Dera merangkul bahu Lani, untuk segera pergi dari hadapan Sarla dan juga Gunawan.


"Kalian mau pergi ke mana? Sekarang cepat berikan Lani kepada kami."


Sarla terus meminta Dera untuk memberikan Lilia kepada mereka berdua." Dimana Lilia, hah. Bukannya sesuai perjanjian, kalian akan memberikan Lilia kepada Sarla dan juga papa. Tapi sekarang kenapa kalian malah ingkar janji.


Keduanya saling menatap satu sama lain, seperti menyepelekan ucapan yang terlontar dari mulut Sarla.


"Besok kami akan mengatarkan Lilia, jadi kamu tenang saja, Sarla. "

__ADS_1


Kesal sudah apa yang dirasakan Sarla, ia kini menarik tangan Lani, Dera yang melihat pemandangan itu membuat ia berkata, " Sarla, apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan Lani. "


Sarla malah tersenyum dan menjawab, " aku bisa saja melepaskan Lani, jika mama menyerahkan Lilia sekarang juga. "


Dera terlihat gelisah, ia kebingungan sendiri, " aku akan memberikan Lilia, tapi besok. "


Sarla tetap ragu dengan perkataan yang terlontar dari mulut mama tirinya, " apa, besok. Jangan gila kamu, kami sudah memberikan apa yang kamu inginkan hari ini juga. Dan sekarang waktunya kamu memberikan apa yang kami inginkan."


Lani berusaha menggit tangan Sarla, hingga pelukan tangan itu terlepas, anak yang memakai tongkat itu berusaha berjalan cepat ke arah sang mama.


"Ahk, sialan. "


Tangan terasa perih, membuat perasaan Sarla semakin kesal, ia tak bisa mengendalikan diri berusaha menarik tangan Lani lagi. Namun apa daya kekuatanya sudah melemah.


Lani kini masuk ke dalam mobil bersama dengan Dera.


Gunawan mendekat dan berkata, " sudah, sebaiknya kita tunggu besok, jika memang mereka tak memberikan Lilia pada kita. Kita cari jalan terbaik dengan melaporkan pada polisi, karena papah sudah merekam perkataan mama tiri kamu itu tadi. "


Sarla menatap ke arah rumah yang ditepati Dera, membuat ia menunjuk rumah itu dan berkata, " apa mungkin. Lilia berada di rumah ini. "


Perasaan Sarla merasa tak karuan, ia begitu menghuatirkan adik kandungnya yang sekarang tak tahu bagaimana dengan nasibnya.


" Sarla. Ayo kita pulang, setelah ini kamu juga masih banyak urusankan. "


Sarla hanya menganggukkan kepala dan menantap sayu ke arah sang papah," Tapi pah, nasib Lilia gimana, Sarla takut terjadi apa apa dengan Lilia, karena mimpi yang semalam itu. "


Merangkul bahu Sarla, mengusap perlahan dengan menenangkan anak pertamanya itu.


"Papah tahu apa yang kamu takutkan sekarang, kamu, dan apa yang kamu kuatirkan sekarang. Papah tahu itu, sekarang kamu harus tetap menyelesaikan masalahmu. Biar papa pikirkan tentang Lilia. Mudah mudahan saja kita dapat titik terangnya besok. Sekarang kita pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan bayi kamu."


"Iya pah, aku juga mau memberitahu Daniel, jika sebentar lagi kasus ini akan semakin merambat dan dipastikan masuk ke jalur hukum. Karena semua ini sama saja dengan penganiayaan seorang ibu tiri dan ayah kandung terhadap bayi Sarla. "


"Jika keinginan kamu seperti itu, papah hanya bisa mendukung dan mengikuti langkah kamu Sarla. "


"Terima kasih papah, hanya papah yang mengerti Sarla saat ini. "


Gunawan tersenyum, ia merasa bahagia jika Sarla sudah mau menerimanya sepenuh jiwa. Sarla juga tak pernah mengungkit kesalahan Gunawan di masa lalu.

__ADS_1


"Sarla, kamu memang anak tebaik papah, sifat kamu seperti ibu kamu sendiri. Lembut dan juga baik. " Gumam hati Gunawan.


__ADS_2