Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 50 Bukan paksaan.


__ADS_3

Entah apa yang akan Daniel lakukan kepada Sarla, sampai dimana Daniel menarik cadar dari wajah Sarla, lelaki dengan tubuh kekarnya itu seperti ingin menerkam Sarla saat itu juga.


"DANIEL."


Baru pertama kali Sarla melayangkan sebuah nama suaminya, dimana Daniel tersenyum senang. "Manis, aku suka saat kamu menyebut namaku, Sarla."


Semakin Sarla memberontak, semakin Daniel suka. " Lepaskan, saya tidak mau melakukannya dalam keterpaksaan. "


Daniel, mencoba menarik baju istrinya itu." Bukannya kamu menikah denganku juga karena terpaksa?"


Pertanyaan menjebak dan membuat Sarla terdiam pilu," itu karena .... "


Jari tangan kekar itu mulai menempel pada bibir Sarla, " Suutt. "


Jantung Sarla seakan berdetak lebih cepat dari sebelumnya, ia terlihat ketakutan. " Kamu kenapa? Takut."


Badan terasa bergetar, membuat hawa panas semakin terasa, pelahan lahan. Naik, dan naik ke puncak yang diinginkan, di mana Daniel sudah ingin melepaskan h*sr*tnya sebagai seorang lelaki, untuk segera mengauli istrinya. Kecupan mendarat pada bibir tipis Sarla, ingin memberontak, namun Sarla ingat setatusnya sebagai seorang istri.


Pasrah dan melayani Daniel segenap jiwanya, senyuman dingin, dipelihatkan sang pemilik bola mata biru pada Sarla. Tatapan penuh napsu dan rasa cinta yang tak bisa diungkapkan dengan sebuah kata-kata.


"Sarla, aku ingin kamu melahirkan anakku.".


Deg ....


Bisikan Daniel membuat Sarla terdiam, setiap sentuhan terus dilayangkan Daniel. Dalam hati Sarla, tak ada keinginan seperti itu, tapi Daniel begitu mengiginkannya.


Permainan sudah selesai, Daniel tertidur dengan begitu lelapnya, sedangkan Sarla bangun menatap jam di dinding. Sudah menunjukkan pukul dua malam, Sarla turun dari ranjang tempat tidurnya. Ia bangkit untuk melangkahkan kaki menuju kamar mandi, perasaannya bercampur aduk tak karuan.


Menggingat saat sentuhan itu terjadi, bisikan mesra dan keinginan seorang anak terbayang pada pikirannya. "Kenapa dia begitu mengiginkan seorang anak dariku, bukannya Wulan sudah memberikan seorang anak untukknya. Garis keturunan dari seorang istri yang begitu ia cintai."


Air yang turun, membasahi rambut Sarla, mengosok perlahan dengan sampo yang ia pakai, rasanya menyegarkan, mandi dijam dua malam.


Mengigat tatapan Daniel begitu tajam, membuat hatinya tak bisa berbohong lagi, sepertinya pelahan demi perlahan ada rasa yang tak biasa dalam hati Sarla.


"Apa aku jatuh cinta padanya? Jika itu terjadi, pastinya akan menyakitkan nantinya, bagaimana pun aku harus tahan rasa cinta dan keiginan memiliki Daniel, karena itu hal yang tak memungkinkan bagi diriku. "


Busah sabun sudah mengumpal pada tangan Sarla, perlahan ia usapkan agar membersihkan permukaan kulitnya.


******


Tangan kekar, meraba kesetiap kasur didekatnya, ia tak menemukan tubuh sang istri yang jelas jelas berbaring disampingnya.


Hawa ACE semakin menusuk pada kulit Daniel, ia mencoba bangkit untuk mencari selimut dan ingin mendekap istrinya saat itu juga.

__ADS_1


"Sarla."


Memanggil nama sang istri, Daniel terkejut tak ada Sarla di sampingnya. Ia mencoba turun dari ranjang tempat tidur, sosok sang istri ternyata tengah menjalankan salat malam.


Senyuman tergambar dari raut wajah Daniel, saat menatap sang istri tengah melantunkan doa yang begitu terdengar pelan.


Daniel mencoba menarik selimut, menutupi tubuhnya, ia melihat Sarla selesai salat dan kini melantunkan ayat suci al-Quran. Terdengar merdu, membuat ketenangan pada hati dan pikiran Daniel.


"Sarla apa aku bisa melepaskanmu nanti." Gumam hati Daniel.


Selesai mengaji, Sarla mulai bangkit, untuk segera merapikan mukena, ia membalikkan badan dan betapa terkejutnya. Melihat Daniel duduk di atas ranjang tempat tidur, memperhatikkannya begitu serius.


"Kenapa, kamu terkejut melihatku seperti ini?" Sarla terdiam, ia menundukkan wajah. Mengabaikan ucapan suaminya.


Sarla mulai berjalan, melewati sang suami, untuk kembali tidur, karena jam baru menunjukkan pukul tiga malam.


Daniel yang terkenal jahil kini menarik tangan istrinya, dimana Sarla kembali terkejut, kedua matanya membulat, Daniel melihat raut wajah kegelisahan istrinya kini tertawa.


Sarla baru pertama kali melihat senyuman lepas yang diperlihatkan oleh suaminya itu, karena Daniel biasanya selalu terlihat jutek dan bermuka masam.


"Kenapa?"


Pertanyaan Daniel, membuat Sarla tersadar dari lamunannya. Ia tanpa gugup dan menggelengkan kepalanya di hadapan sang suami.


"Tidak ada?"


Daniel dengan sengajanya menarik tangan Sarla, membuat Sarla sepontan berkata," lepaskan."


Tangan kekar itu, kini mencekram erat tangan Sarla, menggengam penuh dengan tenanga.


"Kenapa? Kamu masih takut denganku, atau ragu."


Daniel dengan sengajanya melingkarkan tangan pada pinggang Sarla, memeluk erat tubuh Sarla dan berkata," diam saja lepaskan."


Sarla tak bisa berbuat apa apa lagi, tubuhnya terasa lemas karena tenaga Daniel cukup lumayan besar, kini Sarla berada dipangkuan Daniel, dimana lelaki itu kini memeluk erat tubuh istrinya.


"Bagaimana? Hangatkan?"


Sarla tidak bisa membohongi dirinya sendiri, memang pelukan Daniel begitu menghangatkan tubuhnya, ia tak bisa bersuara sedikitpun.


"Jam segini kamu sudah mandi?"


pertanyaan Daniel tetap diabaikan oleh sarla, tak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


"Ya."


Daniel mulai membaringkan tubuhnya, di mana Sarla menghempit badan sang suami. " Sarla tubuh kamu ternyata berat juga ya."


Sarla sengaja menekan tubuhnya pada tubuh Daniel," Ahk, pengap Sarla."


Entah kenapa makin ke sini, Daniel semakin membuat Sarla seperti anak kecil, padahal Sarla mengira hidupnya akan tersiksa dengan wajah kejam sang CEO.


"Siapa suruh anda menarik saya?"


Sarla semakin menekan tubuhnya hingga Daniel bersuara kembali. " Ahk."


"Anda kenapa? Kesakitan, tuan?"


"Tidak!"


Daniel kini membalikkan badannya, dimana yang terhempit itu tubuh Sarla.


"Sekarang terbalikkan. "


"Anda keterlaluan."


Daniel memeluk tubuh Sarla dengan begitu erat," terus kamu mau apa, jika saya keterlaluan. "


Adegan ini baru pertama kali, dilakukan Sarla, apalagi saat bersama sosok seorang lelaki, membuat kedua pipi Sarla memerah.


"Ternyata kamu itu cantik. "


Deg ....


Pujian baru terdengar dari mulut Daniel untuk Sarla, " apa saya tidak salah dengar dengan apa yang anda katakan?"


"Mm, tentu tidak. Awalnya saya mengira jika anda itu wanita yang jerawatan dan korengan, karena wajah yang tertutup cadar. Tapi ternyata wajah dibalik cadar itu, begitu indah nan mempesona."


Pujian Daniel malah membuat Sarla tertidur nyeyak, dimana sang CEO menatap dalam dalam ke arah sang istri, ia hampir saja mencubit hidung Sarla.


"Kasihan juga, kalau aku ganggu. Biarkan saja dia tidur dan bermimpi indah saat ini, karena malam ini dia sudah menghilangkan rasa kesal dan kecewaku terhadap Wulan, wanita yang aku cintai ternyata sudah mengandung benih laki-laki lain di dalam rahimnya. "


Suara ponsel kembali berbunyi tentu mengagetkan sang pemiliknya, Daniel Mulai mengambil ponsel yang terus bergetar di atas meja di sampingnya, ia melihat tampilan telepon dari sang ibunya memanggil dirinya berulang kali.


"Ibu, untuk apa dia menelepon."


Menaruh kembali ponselnya, ia kembali tertidur dan memeluk Sarla.

__ADS_1


__ADS_2