
Di dalam perjalanan menuju ke rumah, Sarla memikirkan Natasha yang benar-benar berubah hanya karena seorang lelaki, gadis yang ia kenal sejak kecil sudah jauh berbeda. Menjadi sosok yang egois dan tak mau terkalahkan.
Padahal dulu Natasha adalah gadis manis yang selalu mengalah dan tak pernah egois akan masalah.
" Natasha. Aku benar-benar kecewa dengan kamu, jika memang kamu menginginkan Rafa. Bicaralah tak perlu kamu membuat sebuah permusuhan antara persahabatan kita."
Harus bagaimana lagi semua tak ada yang harus disesalkan, sudah terlambat dan tak bisa diperbaiki seperti semula.
Bisa mengikhlaskan semuanya menerima segala yang terjadi.
Sampailah Sarla di rumah, ia melihat mobil yang tak asing sudah terparkir di depan rumah.
"Seperti mobil ibu mertua?"
Dan benar saja apa yang dilihat Sarla, ibu mertua sudah menunggunya dari tadi, ya duduk sembari tersenyum saat melihat sarla pulang ke rumah.
"Ibu."
Sarla mendekat ke arah Alenta, mencium punggung tangan wanita tua itu. " Ibu sudah lama di sini? "
"Dari tadi pagi!" Jawaban ibu mertua membuat Sarla merasa tak enak hati.
"Ibu Maafin Sarla ya, Sarla nggak tahu kalau ibu datang ke sini hari ini, kalau tahu begitu Sarla nggak masuk kuliah hari ini," ucap Sarla merasa bersalah.
Ia tak tahu jika kedatangan mertuanya itu begitu mendadak. Alenta terlihat begitu menyukai Sarla yang begitu perhatian daripada Wulan yang selalu sibuk mengurusi dirinya sendiri, mengusap pelan jilbab panjang menantunya itu, Alenta menjawab," sudah tidak apa-apa jangan merasa bersalah seperti itu. Seharusnya ibu datang ke sini memberitahumu terlebih dahulu."
" Ayo kita masuk ke dalam rumah, Bu."
Sarla mulai mengajak Alenta masuk ke dalam rumah, terlihat ia begitu sibuk mengambilkan minum daripada menyuruh pembantu.
Alenta duduk di sofa, dari tadi pagi ia sengaja duduk di luar rumah. Ingin tahu reaksi menantunya yang sekarang seperti apa?
"Ini bu, minumnya."
" Loh kok. Kamu ngerjain semuanya sendiri ke mana pembantunya?"
" kebetulan pembantunya tadi pulang katanya anaknya sakit!"
" Pantas saja dari tadi Ibu. Ketuk pintu tidak ada yang membuka. "
"Iya bu, maafin Sarla ya, Bu."
" Sudah kamu tak usah minta maaf."
Alenta mulai mencicipi minuman yang disediakan menantunya itu, menyeruput minuman yang terlihat harum, membuat Alenta tersenyum senang.
__ADS_1
"Mm, ini enak. Kamu bisa bikin minuman seperti ini."
Dibalik Cadar sarla tersenyum, " Sarla sudah biasa membuat minuman di rumah seperti itu. Syukurlah kalau ibu suka."
Alenta tersenyum dengan sikap ramah yang diperlihatkan sarla untuk dirinya.
Iya penasaran sekali dengan raut wajah dibalik cadar yang tertutup itu.
"Ibu penasaran sekali dengan wajah kamu?"
Sarla mengerutkan dahi ketika mendengar perkataan wanita tua yang menjadi mertuanya itu.
"Penasaran, ya sudah Sarla tunjukan!"
Sarla memperbolehkan mertuanya itu melihat raut wajah yang selalu tertutup oleh cadar.
Perlahan, dan Alenta terkejut. "Sarla kamu cantik sekali, kenapa kamu malah menyembunyikan kecantikanmu ini?"
"Ibu terlalu berlebihan memuji Sarla, karena hanya Allah yang mampu dipuji!" jawab Sarla dengan senyuman manisnya, wanita tua itu merasa tenang dan terpukau akan senyuman yang indah diperlihatkan Sarla.
"Sarla tutup lagi ya, bu."
Alenta menganggukkan kepala.
"Kamu tidak mau kecantikanmu yang indah ini diperlihatkan pada orang lain? Sayang sekali, kamu begitu cantik jika ditutup oleh cadar.
"Ucapan kamu begitu menenangkan hati Sarla, ibu senang jika bersama kamu."
"Alhamdulilah jika ibu senang dengan Sarla."
Suara perut terdengar keroncongan dimana, Sarla mendengar suara itu, " ibu lapar?"
Alenta mengusap pelan perutnya, memang terasa lapar, entah kenapa, bagi Alenta begitu memalukkan.
"Ibu tunggu dulu di sini, biar Sarla masak dulu."
"Jangan repot repot Sarla."
"Sudah tak apa. "
Sarla bergegas memasak, ia membuat masakan sesuai keahilannya. Dari dulu sang ibu selalu mengajarkan hal di dunia perdapuran, sehingga ketika menikah Sarla jarang mengandalkan pembantu.
Alenta, seakan sengaja menguji istri kedua Daniel, entah kenapa ia suka sekali megetes Sarla.
Wanita tua itu berdiri, ia penasaran dengan cara kerja Sarla ketika di dapur.
__ADS_1
Perlahan berjalan, Sarla menyadari jika ibu mertuanya ada mengentip dibalik pintu dapur.
"Bu, ayo masuk."
Ada rasa penuh ragu, pada hati Alenta saat ia menginjakkan kaki ke dapur. Karena tak ada keinginan untuk melihat suasana dapur.
Sarla, memainkan pisau dengan lihainya, membuat rasa ketertarikan ingin mencoba.
Wanita tua itu, pertama kalinya memotong sayuran, benar benar menyenangkan.
"Sarla, kamu tahu tidak. Ibu ini pertama kalinya loh, memotong sayuran seperti ini," ucap Wanita tua itu tanpak senang, memainkan pisau, saat memotong sayuran.
"Sarla juga baru pertama kali, memasak dengan sosok seorang ibu lagi, " ucap Sarla, merasa kenangan bersama almarhum ibunya terbayang.
"Loh bukanya ibu kamu masih ada?" tanya Alenta pada sosok menantunya itu.
"Ibu sudah lama meninggal dunia, saat Sarla masih berumur lima belas tahun, yang sekarang ibu tiri. Sarla!" jawab Sarla terlihat bersedih saat mengigat ibu kandungnya sendiri.
"Ya ampun Sarla, maafkan ibu ya," Alenta merasa menyesal karena sudah membahas tentang ibu kandung menantunya itu.
"Tak apa kok bu." Sarla memaklumi ketidaktahuan orang lain kepada dirinya.
Alenta kini memberitahu menantunya, bahwa Daniel tidak akan pulang malam ini ke rumah Sarla. "Oh, ya. Sarla, tadi Daniel berpesan kepada ibu, Katanya malam ini dia tidak akan pulang ke rumah kamu."
"Oh, ya nggak papa."
Entah kenapa perasaan Sarla sedikit kecewa, setelah mendengar Daniel tidak akan pulang ke rumah malam ini, dia akan menghabiskan waktu bersama istri pertamanya.
Apa ada perasaan pada hati Sarla untuk Daniel, sehingga ia merasakan rasa kecewa yang amat dalam pada hatinya. Masakan mereka kini sudah selesai dibuat, di mana Alenta begitu senang menikmati kebersamaan bersama menantu keduanya.
Alenta berasa nyaman saat bersama dengan istri kedua anaknya, ia merasakan bahwa dirinya mempunyai anak wanita yang sebenarnya.
"Sudah selesai."
Saat mereka mulai menyantap makanan, saat itulah keduanya terkejut ketika suara bel berbunyi.
"Loh Kok tumben ada yang datang? Bukannya kata ibu Mas Daniel pulang ke rumah Mbak Wulan ya."
"Ya, Daniel sendiri yang bilang seperti itu pada ibu, masa iya dia membatalkan perkataannya."
sarla kini berjalan menuju ke pintu depan rumah, melihat siapa orang yang datang.
"Mau ibu temani."
"Boleh."
__ADS_1
Ada rasa was-was dan juga rasa takut, di dalam rumah hanya mereka berdua, tidak ada satu lelaki pun.
Satpam yang berjaga izin pulang sebentar.