
Dera berusaha mengetuk pintu kamar anaknya, berulang-ulang, berharap jika anak satu-satunya itu mengerti.
"Lani, buka sayang. Kamu ini kenapa marah-marah tak jelas, mama itu sayang kamu mama itu melakukan semua ini demi kamu. "
Tak ada jawaban sama sekali dari balik pintu kamar Lani.
Anak berumur 9 tahun itu tak bersuara sama sekali, "Lani."
Berharap jika Dera mampu membujuk Lani kembali, namun sayangnya Lani tetap saja tidak menjawab perkataannya, anak itu tetap saja mengurung diri di dalam kamar.
Sampai akhirnya Dera menyerah membujuk anaknya sendiri, ya berjalan perlahan untuk segera mengisi perutnya yang terus berbunyi.
Mengusap-ngusap, badannya terasa lemas, melihat ke arah meja makan tidak ada Gunawan sama sekali, ia duduk dengan posisi harus menunggu suaminya datang kembali.
Padahal dulu setiap makan tak ada peraturan seperti sekarang, harus menunggu orang yang belum makan di meja makan.
Wina datang dengan menenteng sayuran pada tangannya, Dera yang melihat Wina langsung menyuruh dirinya datang," kamu ke sini cepat. "
"Ada apa?" terlihat dari raut wajah Wina, ya begitu enggan menatap Dera sama sekali.
Wanita tua yang sudah 3 bulan bekerja di rumahnya, terlihat seperti orang asing yang menghindari printahnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku bahwa Lilia, tidak menyukai wajah kamu, apa Kamu sengaja ingin membuat aku tersalahkan lagi. "
Wina malah tersenyum dengan perkataan yang terlontar dari mulut Dera, " kenapa anda malah berkata seperti itu, bukannya sekarang saya bukan suruhan kamu lagi. Jadi tak haruslah saya memberitahu kamu, toh kamu juga tidak membayarku sama sekali. "
"Kurang ajar kamu. "
Wina tersenyum, " sebaiknya kamu cepat keluar dari rumah ini, atau aku akan menyuruh suamiku untuk mengeluarkan kamu sekarang juga."
"Tidak semudah itu, kamu mengeluarkan aku dari rumah ini, Kalau kamu masih mempunyai hutang kepadaku."
"Hutang?"
"Sudahlah jangan berpura-pura selama aku bekerja menjadi suruhanmu kamu tidak pernah membayarku sama sekali, jadi aku akan menganggap semua itu adalah hutang, sebelum kamu membayar semuanya aku akan tetap ada di sini. Tapi jika kamu tidak berniat membayarnya aku akan membongkarkan semuanya kepada orang-orang di rumah ini. "
Ingin rasanya Dera menampar pipi wanita tua itu, namun perasaannya tak karuan. " Kenapa bisa bisanya kamu mengatakan hal itu."
"Kenapa malah bertanya, jelas kamu sudah memakan ludahmu sendiri Perkataanmu berbalik pada dirimu sendiri."
Wina pergi dari hadapan Dera, " Wina. "
Teriakan Dera tak dijawab sama sekali, Wina tetap berjalan sembari menenteng semua bahan-bahan makanan untuk ia masak.
__ADS_1
Melipatkan kedua tangan, ingin rasanya Dera menghancurkan semua makanan yang berada di depan matanya, agar segala keresahan dan emosi yang mengganggu dalam pikiran dan juga hatinya terluapkan.
Dera duduk di atas kursi, telihat iya begitu stress menghadapi semuanya.
******
Sedangkan di dalam kamar Lilia, Gunawan berusaha membujuk anak keduanya itu," Lilia, ayo kita makan nak. "
"Aku nggak mau pah. "
"Kenapa, makannya nggak enak. "
"Aku nggak suka sama Bi Wina, napsu makan Lilia seketika hilang jika melihat Bi Wina. "
" kamu nggak boleh begitu sayang, bagaimanapun Bi Wina itu manusia biasa, dia mempunyai kekurangan fisik yang harus kamu terima."
Lilia mendengar nasehat sang papa, kini menatap ke arah lelaki tua itu," Tapi tetap saja, Lilia tak mau memakan makanan di rumah,"
Tari masih berdiri di belakang sang majikan, di mana Gunawan perlahan mengusap pelan rambut panjang anaknya," gimana kalau kamu berada di posisi Bi Wina, kamu juga nggak mau kan orang lain mengomentari fisik kamu dan mengatakan bahwa kamu itu begitu menjijikan."
Lilia menggelengkan kepalanya," nggak mau lah Pa. "
" Makanya itu kamu harus terbiasa dengan Bi Wina, dia itu orang yang sangat baik loh. "
Dinasehati beberapa kali pun, Lilia tetap tidak mau makan. " Bi Tari. "
"Ah, iya Tuan, kenapa?"
"Tolong Bibi, buatkan makanan untuk Lilia ya!"
"Baik Tuan."
Gunawan kini memegang kedua bahu anaknya, " Ya sudah nanti Bi Tari akan membuat kamu makanan, Papa tidak mau kamu tidak makan."
Lilia tetap saja diam, tak berucap satu patah kata pun, kini Gunawan mulai bangkit berdiri untuk segera menikmati makanannya di atas meja.
Sedangkan Tari berusaha menemani anak majikannya itu.
Gunawan melangkahkan kaki lalu melihat di atas meja makan, makanan tetap utuh tak tersentuh sedikitpun.
Namun Gunawan tak melihat Lani Sama sekali," kemana Lani?"
Pertanyaan Gunawan membuat Dera menatap kesal terhadap suaminya itu," kamu masih tanya ke mana Lani."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Ya maksud aku tadi kamu melarang Lani untuk makan terlebih dahulu, hanya karena Lilia belum berkumpul dengan kita!"
"Aku tidak melarang, hanya menyuruh kalian menunggu sebentar."
"Alah sama saja. "
"Lalu Kenapa kamu sebagai seorang ibu tidak menahannya."
Dera berdiri, lalu menjawab dengan nada ketusnya, " Kamu bilang aku tidak menahannya, jelas dari tadi itu aku menahannya untuk tetap makan di sini menunggu kamu dan juga Lilia, tapi apa jawabannya dia malah menyalahkanku dari semua kejadian ini."
"Baguslah kalau anakmu itu sadar bahwa kamu yang bersalah."
"Apa?"
Gunawan mulai duduk di atas kursi, ya kini menikmati makanan yang berada di hadapan.
" Kenapa kamu tidak memakan makananmu, bukannya aku sudah menyuruhmu saat ini."
Dera meletakkan sendok dan juga garpu di atas piring," sudah tak nafsu."
Dera mulai bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Gunawan sebenarnya perutnya sangat kelaparan sekali, tapi karena rasa gengsi membuat dia berusaha jadi sosok orangnya yang egois.
Dera berharap kepergiannya, membuat Gunawan menahan sang istri agar mau menemaninya makan.
Namun sudah melangkahkan kaki di pertengahan, Gunawan tetap acuh, tak memanggil Dera sekali, tetap fokus menikmati makanannya di atas piring.
"Sialan, Gunawan benar-benar tidak memperdulikanku sebagai istrinya, dia tetap acuh tidak memanggilku sama sekali untuk menemaninya makan." gerutu hati Dera.
Ia mengusap kembali perutnya yang terus berbunyi, "Aku lapar. "
Berusaha menghilangkan rasa gengsinya itu, Sarah mulai kembali. Gunawan yang melihat sang istri datang kembali, membuat ia sedikit tertawa.
"Bukannya, kamu tidak napsu makan. Kenapa balik lagi?"
Tanya Gunawan, sembari menyuapkan makanan pada mulutnya.
"Diam kamu. " Dera yang tak tahan dengan rasa laparnya, kini mulai menuangkan nasi dan lauk pauk pada piringnya.
"Dera, kamu kesetanannya?"
Dera kini menggunakan tangan, karena rasa laparnya." Diam kamu. "
__ADS_1
Gunawan menggelengkan kepala, melihat tingkah istrinya." Makanya kalau jadi istri tuh nurut, sayabg sama anak, jangan egois." Ucap Gunawan mulai bangkit dari kursi.