Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 228


__ADS_3

"Tari, kenapa kamu malah diam saja. "


Walaupun Sarla fokus dengan setir mobilnya, iya tetap menyadari jika pembantunya itu tengah direnungi kegelisahan.


"He .... Saya tidak kenapa kenapa kok nyonya, mungkin hanya perasaan nyonya saja. " Balasan yang terdengar gugup, dari wajah Tari saat Sarla menatapnya pada kaca mobil.


"Oke, jika kamu tidak ingin bercerita, aku tidak akan pernah memaksa kamu, tapi jika kamu sudah siap bercerita, datanglah dan ceritakan semua yang kamu rasakan. Aku akan siap mendengarkannya, " ucap Sarla, seperti membuat sebuah peluang untuk Tari mengungkapkan dan menceritakan rasa takutnya terhadap Gunawan.


"Baik nyonya. "


Tari mencoba mengangkat kepalanya, menatap ke arah kaca yang memperlihatkan wajah Sarla yang tertutup dengan cadar.


Walau sebenarnya ia menyadari dari bawah mata Sarla yang mengkerut ada senyuman tergambar yang tak pernah ia lihat dari bentuk bibir sang majikan.


"Sudah sampai. "


Sarla kini menghentikan mobilnya di terminal bus, " Terima kasih banyak. Nyonya. "


Memperlihatkan jempol tangannya dihadapan Tari. " kamu hati hati ya Tari, jangan lupa balik lagi ke sini."


Tari memperlihatkan lekuk senyumnya dihadapan sang majikan. Ia melihat mobil Sarla sudah melaju dengan kecepatan tinggi.


Menaiki bus, duduk dengan perasaan masih tak menentu, ia memegang dadanya. Ada rasa kasihan terhadap Wina jika ia pergi dari rumah sementara waktu, tapi ibunya yang sakit juga masih membutuhkannya.


"Maafkan aku Mbak Wina, aku pergi dulu. Bukan aku tak kasihan padamu, tapi aku juga masih banyak urusan dengan orang tuaku di kampung.


Menutup kedua mata, Tari berusaha tertidur untuk membuat pikirannya tenang.


******


Sedangkan di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Sarla di rendungi dengan keingin tahuan tentang obrolan Gunawan dan Tari yang ia dengar saat melintas dari kamar pembantunya itu.


Sekilas ia hanya mendengar obrolan itu membahas tentang Wina, entah apa maksud dari obrolan keduanya, membuat Sarla tak paham.


"Apa papah menyembunyikan sesuatu yang tidak aku tahu, tapi apa? Bukannya papah sudah mengakui kesalahannya dan sebenarnya Tante Wina kemana? Kenapa ia pergi begitu mendadak. " Gumam hati Sarla.

__ADS_1


Sarla mulai fokus mengendari mobilnya, walau dalam perasaanya masih merasa bimbang dengan apa yang ia rasakan.


Setelah sampai di rumah sakit, ada perasaan tak karuan pada hati Sarla, karena ia akan bertemu lagi dengan Daniel untuk yang kedua kalinya.


Padahal Sarla sudah bosan bertemu dengan Daniel, karena urusannya sudah selesai. Namun sekarang masalah bertambah lagi, Sarla tak terima akan perlakuan Wulan pada darah dagingnya.


Sampai dia menyalahkan semuanya pada Daniel, karena semua ini yang terbaik untuk kehidupan bayi yang baru saja dilahirkan Sarla.


Jika Sarla tidak menegur dan membiarkan bayi itu dalam asuhan Wulan, sama saja ia menjauhi anaknya.


karena di dunia ini tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya menderita, apalagi sampai merasakan perlakuan tidak baik dari orang yang tidak menyayangi anak itu.


Sarla melihat Daniel tengah duduk, berdampingan dengan Bi Siti, sepertinya mereka begitu telaten menunggu kesembuhan bayi Sarla.


Namun tetap saja, Sarla harus berusaha membuat Daniel dan Wulan menyesali perbuatan mereka.


Di saat rasa bimbang merasuki hati Daniel, sosok Sarla datang berdiri dihadapan Daniel.


Nampak Daniel mengangkat kepalanya, " Sarla."


Wanita yang kini menjadi mantan istrinya itu langsung menyodorkan sebuah kertas.


"Kamu lihat saja, apa itu isinya. "


Perlahan Daniel mengambil kertas berwarna putih itu dan membaca secara perlahan, " jadi kamu melaporkan aku dam Wulan. "


Sarla melipatkan kedua tangan, berusaha menghindari tatapan mata dari Daniel.


"Sarla."


Daniel berusaha berdiri, urat tangannya mulai ia perlihatkan sepertinya Daniel menahan rasa kesalnya.


Dalam benak Daniel, ingin sekali ia melemparkan kertas itu pada wajah mantan istrinya itu.


"Daniel. Kenapa, apa kamu mau marah? Silahkan, aku ingin menyelamatkan anakku dari kejahatan yang kamu perbuat pada anakku. "

__ADS_1


Kertas itu tiba tiba dihacurkan Daniel, kedua matanya membulat, " kenapa kita tidak selesaikan secara kekeluargaan, tidak semestinya dengan jalur hukum seperti ini. "


Kemarahan Daniel menggebu gebu, seperti tak bisa terkontrol, karena ia menatap mantan istrinya itu, seperti orang yang tak pernah ia kenal.


"Daniel, jika kita berpikir secara kekeluargaan. Apakah semua akan selesai dengan begitu mudahnya?"


Pertanyaan Sarla membuat Daniel mengusap kasar wajahnya," Jadi apa yang sebenarnya kamu inginkan, padahal aku sudah berbicara baik-baik kepada kamu?"


" Berbicara baik baik hanya satu pihak itu tidak akan menyelesaikan masalah Daniel!"


Apa yang dikatakan Sarla ada benarnya, karena satu pihak yang tak lain ialah Wulan tak mau mengalah dan malah egois, untuk meminta maafpun seakan enggan.


Daniel menundukkan kepala, dia menahan air matanya yang malas jatuh mengenai pipinya, ya berusaha tetap tegar membela dirinya.


Dimana Bi Siti ikut berdiri di hadapan keduanya, wanita tua itu ikut campur akan masalah yang tengah dihadapi Sarla dan juga Daniel.


"Nyonya Sarla, jangan jadikan kesalahan itu pada Tuan Daniel, karena ia sudah sepenuhnya menjaga bayi yang anda lahirkan, yang patut disalahkan itu saya dan juga Nyonya Wulan."


Sarla menatap ke arah Bi Siti, wanita tua yang tak pernah ia sukai, karena nada bicaranya yang selalu menyalahkan dan sok ingin terlihat benar.


"Saya tidak ingin ada satu orang pun yang membela Daniel, karena ini murni kesalahan Daniel sendiri, Siapa suruh ia menitipkan bayi yang saya lahirkan kepada Wulan, yang jelas-jelas Wulan malah menyakiti bayi itu."


Bi Siti ikut campur kembali, " tapi, Nyonya Sarla juga berpesan pada Nyonya Wulankan?"


"Memang benar, saya berpesan untuk menyuruh Wulan menjaga bayi itu, dengan benar bukan malah menyakitinya. Sama saja Wulan mengabaikan amanahku. "


Sarla tak ingin kalah debat dengan Bi Siti dan juga Daniel, Karena bagaimanapun amanah itu harus dijalani, dan juga perjanjian itu harus ditepati.


Daniel berusaha menghentikan Bi Siti, yang terus membelanya," sudah cukup bi jangan membela saya lagi, sebaiknya bibi diam saja."


Daniel terlanjur kesal dan juga frustasi, ia tak suka dengan perkataan yang terlontar dari mulut Bi Siti yang terus membela dirinya.


Bi Siti mulai duduk, sedangkan Sarla masih bersejajar dengan Daniel.


"Jadi sekarang kamu mau melaporkan aku ke polisi agar aku masuk ke dalam tahana, dan kamu bisa mengambil alih darah dagingku sendiri. "

__ADS_1


Mendengar hal itu Sarla kini berucap, " ya, memang niatku seperti itu, aku tidak munafik aku ingin anakku aman bersamaku dari pada bersamamu, lelaki yang tidak bertanggung jawab. "


Daniel ingin sekali menampar pipi wanita yang berada di hadapannya, namun ia tak berdaya, Karena wanita itu adalah wanita yang sangat ia cintai dan juga ia hargai, karena dia yang sudah melahirkan buah hati yang ia tunggu-tunggu dari.


__ADS_2