Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 154


__ADS_3

Di dalam mobil Sarla masih memikirkan raut wajah wanita tua itu, ia mulai bertanya kepada sang papah, " apa papah pernah bertemu dengan wanita tua itu?"


Pertanyaan Sarla tiba-tiba saja membuat sang papah mengerutkan dahinya," Setahu papah, kemarin pernah bertemu dengan wanita tua itu? Memangnya kenapa Sarla?"


"Entahlah, Sarla merasa tak asing dengan raut wajahnya, seperti kenal!" balas Sarla, mengigat ngigat raut wajah wanita tua itu.


Sang papah mulai menasehati anaknya, "ngapain kamu memikirkan hal yang tak penting Sarla, yang ada malah akan membuat kepalamu pusing sendiri. "


Perkataan sang papah ada benarnya, Sarla terlalu penasaran sampai ia ingin tahu siapa wanita tua itu.


"Oh ya, bagaimana dengan keadaan Daniel?" Pertanyaan Gunawan membuat Sarla terdiam, dimana lelaki tua itu menatap ke arah samping kiri tempat anaknya duduk.


"Sarla, papah tanya loh?"


Sarla tetap saja diam, ia melamun. Membuat Gunawan sedikit menepuk bahu anak pertamanya.


"Iya pah. "


"Kamu ini kenapa sih, malah melamun," ucap Gunawan merasa kuatir melihat anak pertamanya itu berbeda dari sebelumnya.


"Apa Daniel melukaimu?" tanya Gunawan, Sarla terus saja diam.


"Sarla."


Sarla berusaha tenang, agar ia tak mempelihatkan kesedihannya. "Hubungan Sarla dengan Daniel, baik baik saja kok, pah."


"Masa, dari tadi papah panggil kamu. Kamu malah melamun terus?"


"Nggak juga pah, Sarla hanya menikmati angin malam. Kebetulan sekarang Sarla lagi hamil, jadi .... "


"Hamil?" tampak Gunawan terkejut dengan jawaban anaknya.


"Iya hamil, kenapa kok papah malah terkejut seperti itu, harusnya papah senang dong. Setelah Sarla hamil dan melahirkan anak ini, Sarla bisa bebas dari cengkaram Daniel!" jawab Sarla, berusaha tetap tegar.


Gunawan merasakan jika anaknya itu sedang berbohong, " apa kamu tidak ada rasa kepada Daniel selama ini? Papah takut jika saat kamu berpisah ...."


Terpaksa Sarla mengentikan perkataan papahnya, " Maaf pah, Sarla potong pembicaraan papah. Sarla tidak punya rasa sedikit pun pada Daniel, dan rumah tangga yang Sarla jalani dengan Daniel hanya sebatas kontrak, jadi Sarla tidak terlalu berharap ataupun menyimpan perasaan untukknya sedikit pun. Apalagi dia lelaki yang sudah beristri. Jadi tugas Sarla sebagai istri jika sudah melahirkan anak ini selesai, bukannya papah tahu juga akan surat perjanjian itu."


Begitu panjang lembarnya Sarla mengatakan semuanya, ia tampak terlihat senang dan juga bahagia. Walau semua dalam kepalsuan.


"Maafkan papah ya Sarla, papah ini tidak becus jadi papah yang baik untuk kamu, " ucap Gunawan menyesali apa yang sudah ia lakukan terhadap anaknya.

__ADS_1


"Papah tak usah menyesali semuanya, Sarla sudah ikhlas kok, jadi ada baiknya kita melupakan kekesalan dan kemarahan kita, " balas Sarla, berusaha tetap mempelihatkan bahwa ia kuat menjalani semuanya dan menerima dengan Ikhlas.


Lilia penasaran, ia mulai bertanya pada Gunawan. " Oh ya pah, gimana kabar Mama Dera dan juga Lani, apa mereka pulang ke rumah?"


Mendengar pertanyaan anak keduanya, membuat Gunawan sedikit muram. " Papah sudah mencari mereka kemana mana, tapi mereka tidak papah temukan, setiap kali menghubungi mama kalian tak pernah di angkat sekali pun, biarlah. Papah sudah cape melihat tingkah istri papah yang seperti anak kecil. "


Lilia nampak senang setelah mendengar hal itu, ia bergumam dalam hati, " Syukurlah kalau mereka nggak balik ke rumah, kalau bisa sih. Jangan sampe balik, cuman nyusahin doang."


*******


Gunawan kini mengantarkan Sarla ke rumah terlebih dahulu, lalu ia pulang bersama dengan Lilia. " Pah, sampai gerbang saja, nanti juga ada pak satpam kok. "


"Ya sudah, papah pulang dulu ya. "


"Dadah Kak Sarla, kapan kapan Lilia nginap lagi di rumah kakak ya. "


Menunjukkan jempol tangannya, lalu berkata, " Siap."


Mobil sang papah sudah melaju jauh, waktunya Sarla membuka pintu gerbang, dimana satpam di rumahnya tertidur.


"Kebiasaan suka tidur kalau jaga gerbang. "


"Sarla."


Deg ....


Baru saja membuka pintu gerbang Sarla di kejutkan dengan sosok Rafa yang tiba tiba saja ada dihadapannya, " Rafa, kamu. Mau apa kamu datang ke sini?"


Rafa mempelihatkan senyumannya, ia mencoba menutup kembali pintu gerbang rumah Sarla. " Apa maksud kamu, menutup kembali pintu gerbang. "


"Kamu jangan takut, aku ingin berbicara empat mata dengan kamu, " ucap Rafa mempelihatkan raut wajah memelasnya.


"Empat mata untuk apa? Bukannya sudah jelas ucapanku dari kemarin, kenapa kamu malah datang kesini dan menggangguku, " balas Sarla, merasa ada yang tak biasa saat berhadapan dengan Rafa.


"Aku paham perkataan kamu kemarin, hanya saja aku memohon kepada kamu beri kamu kesempatan, " Rafa dengan lancangnya memegang tangan sarla, lalu memohon mohon, agar Sarla mau mendengarkan perkataannya lagi.


Wanita bercadar itu kini menghempaskan tangan Rafa, dia berusaha membuka kembali pintu gerbang. Namun Rafa tak tinggal diam ia menahan pintu gerbang itu agar tidak terbuka.


"Rafa, lepaskan tanganmu ini dari pintu gerbang aku ingin masuk. "


"Sarla, please tolong beri aku kesempatan satu kali ini saja, aku mohon kamu mau mendengarkan perkataanku ini. "

__ADS_1


" Perkataan apalagi Rafa, sudah aku mau masuk. "


Rafa malah menarik tangan Sarah menutup cadar itu dengan tangannya, " mm."


Begitu nekadnya Rafa membawa Sarla masuk ke dalam mobilnya, di mana wanita bercadar itu tak bisa menjerit ataupun melawan.


"Maafkan aku Sarla. "


Dengan terpaksa Rafa membuat Sarla kini jatuh pingsan, melajukan mobil untuk pergi dari rumah Sarla.


Pak Satpam yang berjaga di dalam gerbang, kini terbangun, yang menatap ke arah kiri dan juga kanan, menunggu kedatangan sang nyonya yang tak pulang-pulang.


"Kemana ya nyonya jam segini kok belum pulang pulang."


rasa khawatir menghantui hati pak satpam, di mana penjaga lelaki itu langsung menghubungi majikannya.


"Tidak diangkat angkat ya. "


Beberapa kali, tetap saja tak ada jawaban.


Sarla masih dibawa oleh Rafa menuju ke suatu tempat, dengan pikirannya yang begitu panik karena sudah membuat Sarla jatuh pingsan.


Rafa yang membawa mobilnya sendiri, terkejut dengan suara ponsel yang berbunyi pada tas Sarla.


Pada saat itulah ia yang tengah memegang setir mobil, mengambil ponsel pada tas Sarla, melihat siapa yang memanggil.


"Ternyata hanya satpam saja, aku kira siapa. "


Tring, pesan datang pada ponsel Sarla, Rafa mulai membaca isi pesan itu.


(Nyonya pulang tidak malam ini, saya kuatir dengan keadaan nyonya sudah jam sepuluh malam kenapa nyonya belum pulang dan memberi kabar.)


Rafa lalu membalas pesan dari satpam itu. ( Saya malam ini tak pulang, banyak urusan di luar, jadi kamu jaga rumah dengan baik ya.)


Pesan terkirim dan satpam itu membalas.


(Baiklah nyonya.)


Satu pesan datang lagi. ( Besok papah akan mengajakmu jalan jalan, kamu siap siap ya nak.)


Apa yang harus Rafa balas, sedangkan besok ia merencanakan sesuatu pada Sarla.

__ADS_1


__ADS_2