
Rafa masih mengendarai mobil, iya belum bisa fokus membalas pesan dari Gunawan, entah apa yang ada di pikirannya saat ini, dengan nekatnya iya membawa Sarla sampai membuatnya pingsan.
" Maafkan aku Sarla, entah apa yang ada di pikiranku saat ini. "
Entah obsesi ataupun napsu apa, yang kini mengelilingi pikiran Rafa, lelaki muda itu seperti orang yang kebingungan.
Padahal niat awal Rafa datang menemui Sarla, adalah niat yang begitu baik, namun karena penolakanlah Sarla yang terus-menerus, membuat pikiran dan kekesalan memuncak pada diri Rafa.
Dengan terpaksa Rafa membawa istri kedua Daniel itu ke sebuah hotel, karena itu jalan satu-satunya.
Sampailah Rafa memesan satu kamar, di sebuah hotel berbintang 5, membuat ia langsung membopong tubuh Sarla. Untuk segera membaringkannya pada ranjang tempat tidur.
Rafa mengambil lagi ponsel Sarla, lalu membalas pesan dari Gunawan. ( Maafkan Sarla pah, Sarla tidak bisa pergi dengan papa karena ada urusan mendadak.)
Lelaki muda itu menunggu balasan dari Gunawan, iya penasaran dengan jawaban lelaki yang menjadi ayah sarla itu.
( padahal papah ingin mengajak hari dimana kamu akan menjadi seorang ibu.)
Deg ....
Rafa yang membaca pesan dari Gunawan membuat ia terkejut, menatap sekilas ke arah Sarla, Rafa kini berucap." Jadi kamu hamil anak Daniel, Sarla?"
Rafa sebenarnya merasa kecewa, setelah mendengar wanita yang sangat ia cintai hamil anak Daniel.
Memegang pipi kiri Sarla, Rafa sangatlah penasaran dengan raut wajah Sarla yang tertutup oleh cadar, " seperti apa sih wajah, dibalik cadar ini. "
Tangan kekar anak muda itu mulai meraih cadar Sarla, ia mulai berani memegang dan membuka cadar itu.
Ponsel kembali berbunyi, tanda pesan dari sang papah Sarla datang.
(Maafkan papah ya Sarla, karena keegoisan papah kamu jadi korban demi keluarga.)
Rafa menaruh ponsel Sarla, ia mengurungkan niatnya dengan berkata. " Apa yang aku lakukan, betapa bodohnya aku mengunakan cara licik seperti ini. "
Rafa mulai sadar dari kesalahannya, hingga ia meninggalkan Sarla di kamar hotel sendirian, bergegas untuk pulang.
"Maafkan aku Sarla, rencanaku gagal setelah aku sadar jika mendapatkan kamu dengan cara baik pasti akan baik kedepannya, tapi jika aku menggunakan cara licik, dan tidak baik, membuat kedepannya pasti akan berantakan. "
Itulah Sifat Rafa yang asli, ya tak suka mempermainkan seorang wanita, membuat wanita itu malah kecewa.
Menutup pintu kamar hotel, Rafa mulai berjalan pergi menuju ke mobil, suara ponsel berbunyi.
__ADS_1
Daniel yang berpura-pura amnesia itu kini menelepon Rafa," kamu sedang apa Rafa?"
Pertanyaan Daniel begitu mendadak sekali, dimana Rafa baru saja keluar dari kamar hotelnya.
" Tumben sekali di jam segini paman menelponku, ada apa?" tanya Rafa dengan penuh rasa heran.
Sebenarnya Daniel begitu mengkhawatirkan Sarla, iya diam-diam mengontrol CCTV, untuk melihat keadaan istri keduanya.
"Kebetulan paman tidak punya teman mengobrol di rumah sakit ini. Apa kamu mau menemani paman saat ini. "
Mendengar hal itu pastinya membuat Rafa tak mencurigai jika Daniel berpura-pura amesia.
"Memang ya omah tidak menemani paman."
"Kebetulan omah tak datang lagi, sepertinya iya begitu sibuk mengurus pekerjaan paman yang sedikit terbengkalai."
Mencari alasan, hingga akhirnya Rafa setuju untuk datang menemani sang paman di rumah sakit," sebentar lagi aku akan datang ke sana."
Sebenarnya Daniel begitu penasaran, Rafa membawa Sarla ke mana? panggilan telepon dimatikan sebelah pihak.
********
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, Sarla mulai bangun dari pingsannya, ya terlihat begitu terkejut, setelah melihat dirinya sudah berada di hotel.
Sarla bertanya-tanya dalam hatinya," apa Rafa sengaja membawaku ke sini, untuk bisa melakukan hal yang tidak baik. "
Segera mungkin Sarla bangkit untuk pergi dari kamar itu, namun saat ia membuka pintu kamar hotel.
"Di kunci, kenapa bisa seperti ini." Perasaan Sarla tak karuan, ia mencoba mengetuk ngetuk pintu meminta tolong.
Tolong ....
Tak ada yang menolongnya saat itu, " kenapa Rafa tega mengunci kamar ini. "
Sarla menangis dengan rasa takutnya, mencari ponsel, untuk menelepon seseorang. " Ponsel. "
Pada akhirnya Sarla menemukan ponsel itu, terdapat pesan dari Rafa.
(Sarla kunci cadangan ada di dekat meja, kamu pakai kunci itu, maafkan aku sudah membawa kamu ke hotel tanpa tujuan yang jelas. Tadinya aku tidak berniat membawa kamu ke hotel, aku hanya ingin membicarakan tentang perasaanku. Tapi kamu terus menolak dan menolakku. Hingga aku murka dan malah membuat kamu jatuh pingsan.)
Sarla berusaha tetap tenang, saat membaca pesan panjang dari Rafa.
__ADS_1
Tring .... Pesan itu datang lagi. (Maafkan aku Sarla, aku benar benar tidak ada niat mencelakai kamu.)
Sarla tak habis pikir dengan keponakan Daniel itu, Rafa tak jauh berbeda dengan Daniel sama sama mengandalkan napsu dan obsesi.
(Tidak ada kata maaf bagimu.)
Pesan yang dikirim Sarla, adalah sebuah teguran untuk Rafa, berharap jika Rafa tak mengulangi kesalahannya lagi.
(Aku menyadari kesalahanku, maafkan aku. Jika kamu tak mau memaafkanku tak apa.)
Sarla membaca balasan Rafa yang penuh dengan permohonan maaf dan rasa menyesal.
Sarla bingung, ia tak habis pikir. Setelah Daniel amesia, Rafa malah seperti orang jahat, padahal Sarla percaya bahwa dia adalah orang baik.
Tapi setelah Sarla merasakan kejadian ini, baru Sarla paham jika Rafa tak jauh berbeda dengan Daniel sama sama pengecut yang mengandalkan pemaksaan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Sarla juga mulai membuka isi pesan dari sang papah, ia tak menyangka jika Rafa berani membalas pesan seolah olah yang membalas pesan itu Sarla sendiri.
"Rafa benar benar keterlaluan."
Mengambil kunci hotel, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. " Mana mungkin aku pulang selarut ini, taksi mungkin sudah tidak ada. Rafa benar benar menyusahkan sekali."
Pada akhirnya Sarla mulai menelepon satpam di rumahnya berharap jika satpam itu mengangkat panggilan darinya.
"Semoga saja Pak Satpam mengangkat panggilan teleponku."
Satpam yang terkenal suka tidur itu kini terbangun, ia menganggkat panggilan telepon dari Sarla.
"Halo, nyonya. Ada apa?"
"Tolong jemput saya di hotel bitang lima sekarang juga!"
"Loh, nyonya bukannya tadi .... "
Belum perkataan satpam itu terlontar semuanya, Sarla kini berucap. " Sudah cepat ke sini, saya tunggu kamu."
"Baik nyonya. "
"Oh ya satu lagi, kalau tidur jangan kebablasan orang di culik kamu tidak tahu. "
Deg ....
__ADS_1
Satpam itu merasa malu pada dirinya sendiri, setelah mendengar sindiran dari sang majikan, hingga pada akhirnya dia bergegas membawa mobil untuk menjemput sang nyonya yang berada di hotel.
Sarla berusaha tetap tenang. Ia mulai membuka pintu hotel. Sampai dimana?