
Para pembantu yang melihat pemandangan itu tertawa terbahak bahak, mereka melihat sang tuan seperti anak kecil yang diajarkan sebuah adab saat masuk ke dalam rumah.
"Yang benar saja Sarla, saya harus melakukan hal konyol seperti ini, " balas Daniel, ia memutar balikkan badannya. Lalu datang lagi ke rumah dan kini mengucap." Assalamualaikum wr wb. "
Sarla sedikit tertawa. " jangan permainkan salam. "
Ketegasan Sarla dalam berucap, membuat Daniel menurut. "Assalamualaikum."
Sarla yang berdiri. Lalu membalas ucapan Daniel," Waalaikumsalam."
Sarla meraih tangan Daniel, dimana lelaki yang menjadi suaminya terkejut. " Kamu mau apa?"
Mencium punggung tangan, membuat hati Daniel tenang. Sarla mempelihatkan dirinya sebagai seorang istri, berusaha memberikan yang terbaik. Walau mungkin hanya sementara, tapi bagi Sarla sangatlah berarti, tak akan sia siakan dirinya sebagai seorang wanita mengabdi pada lelaki yang kini menikahinya.
"Hari ini saya mau mendaptar kuliah, apa anda mengizinkan?" tanya Sarla tak mau berlama lama menunda keinginan dan cita citanya sebagai seorang dokter.
"Baiklah, saya akan transper uang pendaftaran kuliah dan uang keperluan kamu!" jawab Daniel, siapa yang tak senang dengan hal seperti itu, Sarla tidak akan menyia nyiakan waktu hanya untuk mengeluh saja.
"Terima kasih." Senang dengan hal itu, mengenggam erat tangan Daniel. Lelaki bergelar CEO itu menatap ke arah Sarla yang terlihat begitu bahagia.
"Maaf, " ucap Sarla melepaskan tangannya.
Daniel mulai berjalan, ke dalam kamar untuk segera mengganti pakaiannya. Saat masuk, jas kantor sudah tersedia, dimana Sarla sengaja menyiapkannya.
Wajah datar sang Daniel hanya terdiam, dan kini Sarla menyusul. " Maaf, saya sudah lancang mengambilkan baju untuk anda, jika anda tidak suka, biar saya ambilkan yang lainnya. "
Perlakuan Sarla begitu jauh berbeda dengan Wulan, gadis yang ia nikahi baru beberapa hari. Sudah mempelakukannya dengan begitu baik.
Sarla berpamitan keluar dari dalam kamar, ia bergegas menyiapkan makanan untuk sang CEO.
Daniel menggenggam baju itu, ia mulai memakaikannya. Menatap ke arah cermin, tampilannya sudah terlihat menarik," Cocok."
Memakaikan dasi, saat itulah Daniel keluar, untuk menyantap sarapannya. Sarla yang melihat dasi Daniel tak rapi, membuat ia mendekat.
"Ada apa?"
Kedua tangan meraih dasi itu, Sarla merapikannya dengan baik. " Maaf dasi anda kurang rapi."
Ia tak menyangka jika sosok seorang gadis berhijab yang selalu ia bilang aneh, selalu membuat kejutan untuknya, terlebih lagi perhatiannya seperti Daniel tengah dimanjakan seperti anak kecil.
Duduk, Sarla mencoba memasak makanan yang sedikit berat dipagi hari." Apa anda suka nasi goreng? Saya sengaja membuatkan ini untuk anda."
__ADS_1
Sebenarnya Daniel tak biasa makan nasi goreng di pagi hari, tapi ia begitu penasaran. Hingga akhirnya mencoba.
Satu sendok ia layangkan pada mulutnya, benar benar terasa nikmat, baru kali ini memakan masakan begitu lezat.
"Gimana rasanya?" Penasaran dengan jawaban Daniel, Sarla bertanya dengan harapan jika Daniel menyukai makanan itu.
"Luamayan!" jawab Daniel, dengan ekpresi wajah tak senang, padahal Sarla tadi melihat saat Daniel mengunyah ada sensi berbeda.
Sarla mulai duduk di kursi, ia kini menikmati nasi gorengnya sendiri. Padahal ia berusaha membuat nasi goreng itu penuh dengan rasa bahagia, tapi pada kenyataanya. Nasi goreng Sarla seakan tak di hargai
"Oh ya, Sarla. Kalau kamu mau berangkat kuliah, kamu berangkat bareng saja dengan mobil Varel, jika nanti saya tidak ada di rumah ini," ucap Daniel pada Sarla.
Sarla terlihat mengunyah makanannya, kini menjawab. " Tidak usah, saya bisa pergi pulang sendiri, tak mau jika harus di antar jemput dengan orang yang bukan muhrim saya."
"Baiklah kalau begitu, saya akan sediakan mobil untuk kamu," ucap Daniel kepada Sarla, dimana Sarla hanya menganggukkan kepala.
Suara mobil terdengar dari luar, Daniel sudah menduga jika itu adalah Varel.
"Pak Daniel. "
"Varel, ternyata kamu datang begitu giat sekali. Ayo makan."
Varel masih menatap ke arah Sarla, terlihat ada rasa ingin memiliki semakin besar.
Daniel terlihat begitu bersemangat pada pagi hari ini, dia mulai berjalan dengan rasa percaya dirinya.
Masuk ke dalam mobil, Varel melihat pemandangan atasanya terlihat bahagia.
"Ceria sekali pak, hari ini."
"Entahlah, saya baru kali ini merasakan rasa senang seperti ini. Waktu bersama Wulan biasa saja, tapi dengan Sarla, seperti menemukan kehidupan baru."
Deg ....
Mendengar hal itu, seakan membuat api cemburu pada hati Varel, padahal. Sang atasan hanya menikahi atas dasar perjanjian. Namun Varel lihat ada rasa ketertarikan dalam diri atasanya kepada Sarla.
"Apa anda menyukai Sarla?" Varel dengan sengaja mengatakan hal itu.
Daniel mengusap pelan dagunya, membayangkan wajah cantik Sarla dengan menjawab," Saya rasa tidak ada, karena level saya tetap lah Wulan."
Di hadapan sang asisten Daniel begitu angkuh, belum menerima Sarla seutuhnya.
__ADS_1
"Saya kira anda tertarik dengan, Sarla."
Daniel tertawa di dalam mobil ia kini berkata," Tidak mungkin, wanita seperti Sarla. Terlalu ribet dan banyak aturan, saya tak suka. Apalagi penampilannya yang aneh. "
Daniel tetap saja berbicara dihadapan orang lain tentang Sarla seakan menjelek jelekan istri keduanya itu, mengatakan ketidak tertarikkannya. Padahal diluaran banyak lelaki yang menantikan Sarla.
"Saya kira anda tertarik dengan dia, sampai membuat perjajian dan mempertahakan dia."
Perkataan Varel tentulah, membuat Daniel tertawa. "Saya hanya penasaran dengan dia, karena ada hal aneh yang ingin saya lihat dari diri wanita bercadar itu."
"Saya berharap jika anda tidak menarik omongan anda, karena bisa saja akan ada rasa cinta karena terbiasa."
Semakin asistennya berkata seperti itu, semakin Daniel, merasa muak," Sudahlah Varel, jika kamu mengiginkan dia, nanti tunggu bekas saya saja."
Deg ....
Sebenarnya Varel begitu kesal dengan jawaban sang atasan yang terlalu merendahkan wanita bercadar dan mampu menutup aurat, dimana ia selalu mengagung ngagungkan Wulan yang Varel sudah tahu Wulan berselingkuh.
"Apa anda tidak akan menyesal, setelah melepaskan Sarla?"
"Menyesal, seorang Daniel bergelar CEO ini menyesal, itu tidak mungkin Varel."
"Saya percaya dengan perkataan anda, semoga saja, saya bisa memiliki Sarla setelah anda."
Daniel mengerutkan dahi, setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Varel.
"Apa maksud kamu tadi? kamu akan mengambil barang bekas saya. "
"Iya Pak, biar bekas juga tapi berkelas."
"Baiklah kalau begitu Varel, nanti saya akan informasikan kepadaku kamu, setelah tugas wanita itu selesai. "
"Baiklah Pak Daniel. "
Daniel mulai menghidupkan ponselnya, ia ingin melihat siapa saja yang mengirim pesan padanya.
(Daniel, hari ini ibu akan mengunjungi Sarla)
Ternyata itu pesan dari ibu, Daniel tak menyangka ibunya ingin bertemu dengan Sarla, padahal tidak ada istimewanya wanita itu.
Daniel mulai memberitahu sang ibunda.
__ADS_1