
"Apa?" Sarla menatap tajam ke arah wanita tua itu.
" Kamu juga harus ingat, kamu hanyalah seorang istri yang dilupakan!" Sindir Bi Siti. Membuat Sarla kesal.
Dimana Alenta datang kembali, " apa yang kamu katakan bi. "
Sarla hanya diam, ia tak mengadukan semua kata kata menyakitkan Bi Siti pada Alenta.
"Bibi ngomong apa tadi?"
"A-nu ny-onya," terlihat Bi Siti tampak gugup dengan perkataan Alenta, ia menundukkan wajah. Dimana Sarla menimpal. " Ibu, tadi Bi Siti menawarkan Sarla, mau di pijit apa tidak."
Alenta langsung menatap ke arah pembantunya itu. " Benarkah Bi Siti?"
"Ehh."
Bi Siti seakan susah untuk menjawab perkataan Alenta, Sarla yang tak mau perdebatan berlanjut kini merangkul bahu wanita tua itu. " Bi jawab dong. Katanya mau mijitin Sarla?"
"Iya."
"Owh, ya sudah kalau gitu, ibu mau pergi dulu ada urusan. Kamu baik baik di rumah ya Sarla."
Sarla menganggukkan kepala mengerti dengan perkataan mertuanya.
"Bi Siti, tolong jaga Sarla ya, jika dia mengiginkan sesuatu tolong berikan, " printah Alenta pada Bi Siti.
"Baik Nyonya. " balas Bi Siti menganggukkan kepala.
Dimana Alenta pergi dari kamar Sarla, " ibu pergi dulu ya sayang. "
__ADS_1
"Ya bu, hati hati. " balas Sarla dengan raut wajah cerianya.
Sarla perlahan mulai melepaskan rangkulan tangannya pada bahu Bi Siti, dimana ia berkata, " silahkan bibi pergi dari kamar saya. "
Sarla mulai duduk, dimana wanita tua itu berjalan dengan penuh keraguan, ingin meminta maaf, namun terasa gensi saat di ucapkan. Pada akhirnya pergi tanpa satu patah katapun.
Sampai di ambang pintu. " Bi. "
Sarla memanggil wanita tua itu, dimana ia membalikkan badan. " Iya. "
"Jangan lupa tutup pintu kamar saya ya bi."
Bi Siti mengira jika Sarla akan membuat sebuah perdebatan lagi, ternyata bukan. Hampir saja ia menduga jika Sarla orang jahat.
Wulan datang menghampiri wanita tua itu, " Bi Siti. "
Wanita tua itu terlihat gelisah, dimana Wulan mulai bertanya?" bibi kenapa?"
"Ehh, bibi nggak kenapa kenapa kok!"
Wulan mengerutkan dahi, menatap ke arah Bi Siti. " bibi, kok kelihatan kaya nggak bersemangat gitu. Apa bibi memikirkan sesuatu, atau Sarla melakukan hal yang membuat Bi Siti sakit hati?"
Saat membahas Sarla, rasa menyesal mulai dirasakan Bi Siti lagi. " Tidak nyonya. Bibi hanya kurang enak badan saja. "
"Ya sudah bibi istirahat saja, jangan cape cape."
"Tapi kan nyonya, pekerjaan masih banyak. "
"Sudah tak apa, banyak pembantu kok di rumah. "
__ADS_1
Bi Siti tersenyum setelah mendengar perkataan Wulan, ia lalu meminta izin untuk istirahat sejenak.
"Ya sudah. Bibi mau izin nggak kerja dulu ya. Nyonya. "
"Nah gitu dong. Kalau cape, sakit jangan memaksakan, lebih baik istrihata saja. "
"Iya nyonya, makasih sarahnya. "
Bi Siti mulai berjalan pergi dari hadapan Wulan, ia melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar.
Perasaanya tak karuan ia ingin tidur sejenak.
*******
Sedangkan Alenta mulai menemui Daniel dimana lelaki itu tengah duduk di kursi taman, Alenta mengira jika Daniel sedang bersama Wulan.
"Untung saja Daniel tidak bersama Wulan," ucap Alenta, mulai melangkah mendekat ke arah anaknya.
"Daniel?"
Lelaki berbadan kekar itu kini menatap ke arah sang ibunda, ia lalu menjawab. " Ada apa bu?"
"Ini." Alenta menyodorkan lembaran kertas pada anaknya.
"Apa ini?" tanya Daniel merasa heran.
"Coba kamu baca!"
Daniel mengerutkan dahinya setelah membaca lembaran kertas yang diberikan sang ibunda.
__ADS_1