
Tari kembali lagi untuk segera bekerja di rumah Gunawan, terlihat rumah mewah bertingkat itu seakan sepi tidak berpenghuni. Melihat pada pagar rumah.
"Kemana Nyonya Sarla dan Tuan Gunawanan ya, kok mereka seperti tak ada di rumah. " gumam hati Tari, dengan raut wajah heran.
Tari mulai mendekat pada satpam yang berjaga di pintu gerbang. " Pak Amir. "
Panggilan Tari seketika membuat Amir terkejut.
"Aduh, bapak kira siapa. Tarnyata kamu Tari, widih sudah balik lagi aja?"
Amir lelaki tua yang sudah lama bekerja di rumah Gunawan, kini memberikan kunci rumah pada Tari.
"Ini, kebetulan Tuan dan Nyonya Sarla pergi untuk melihat keadaan Lani dan Bu Dera!"
"Loh memang kenapa dengan Lani dan Bu Dera, bukannya tuan sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka setelah kejadian kemarin."
"Kata siapa, masih banyak tuh urusannya. Cuman sekarang Bu Dera sudah meninggal dunia. "
"Apa." Ita terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar dari Amir.
"Pak Amir jangan bercanda."
Pak Amir menyungingkan bibirnya, " dibilangin, masih nggak percaya. "
"Bukannya Bu Dera itu tidak kenapa kenapa kemarin, dia itu sehatkan. "
"Makanya jangan dulu motong pembicaraan orang lain, dengarkan dulu markona. Bu Dera itu mati karena di perkosa. "
Tari masih tak percaya dengan berita yang disampaikan Pak Amir sang satpam yang bekerja di rumah Gunawan. Sampai ia membulatkan mulutnya dengan begitu lebar. " Tutup tuh mulutmu itu Tari, awas nanti kemasukan lalet, baru tahu rasa loh."
Tari sepontan menutup mulutnya setelah Pak Amir menyindirnya terang terangan.
"Ya sudah sana masuk, takut nanti Tuan datang loh. "
"Ahk, iya iya. "
Tari mulai buru buru masuk ke dalam rumah, terbesit dalam pikirannya dengan keadaan, Wina di dalam gudang.
"Aku harus masuk sekarang juga, melihat keadaan Mbak Wina, apakah dia baik baik saja setelah aku pergi. Apa Tuan Gunawan memberinya makanan?"
Tari begitu menghuatirkan keadaan Wina, ia takut jika Wina kenapa kenapa.
Membuka pintu rumah, suasana terasa hening. Rumah terlihat rapi karena Tari tahu jika Sarla adalah sosok majikan yang rajin membantu pembantu.
Tari tak memikirkam rasa lelahnya, yang ia pikirkan saat itu melihat keadaan Wina.
Mencari duplikasi kunci cadangan gudang, " Akhirnya ketemu. "
__ADS_1
Perlahan membuka pintu gudang, terlihat Wina masih terikat dengan tali tambang, badan Wina yang terlihat lemas, dimana wanita tua itu terkulai lemah di atas lantai.
"Mbak Wina. "
Tari mendekat, ia berusaha membangunkan Wina, membuka penutup mulut wanita tua itu, melihat keadaannya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Mbak Wina. "
Beberapa kali memanggil namanya, akhirnya Wina merespon, wanita tua itu menangis dengan raut wajah pucatnya.
"Mbak Wina. "
Penglihatan mata Wina terlihat buram, ia berusaha menjawab dengan bibirnya yang terlihat kering, " Haus. "
Dengan sepontan Tari pergi mengambil air minum untuk Wina," Mbak Wina. Ayo minum."
Tubuh yang terlihat lemas, memaksakan diri untuk mengambil gelas, Tari yang melihat tangan Wina bergetar. Kini menyodorkan air minum itu pada mulut Wina.
"Ayo minum. "
Dengan perlahan Wina meminum air itu, ia tampak kehausan sekali, Tari menatap ke sekeliling ruangan tak ada bekas piring ataupun gelas.
Membuat ia merasa kasihan dan tak tega jika suatu saat nanti meninggalkan rumah Gunawan untuk keperluan penting.
"Mbak Wina, sekarang mau apa?" tanya Tari, ia memegang tangan yang bergetar itu.
"Mbak Wina yang sabar ya, saya akan membuatkan makanan untuk Mbak Wina, " ucap Tari, mengusap pelan bahu Wina.
Ia pergi dengan langkah yang begitu cepat, melihat ke dapur, apakah ada makanan.
Tari tersenyum, ada beberapa potong ayam dan sayur.
"Ternyata Nyonya Sarla masak. "
Mengambil piring, meletakan nasi dan lauk pauknya.
"Mbak Wina. Saya ambilkan makanan untuk Mbak Wina. "
Perlahan Tari mulai menyuapkan makanan pada mulut Wina.
"Lagi." Wina terlihat begitu kelaparan, ia menyantap makanan dengan begitu lahap.
Tari melihat pemandangan dihadapannya berusaha tetap kuat, ia bergumam dalam hati, " bisa bisanya Tuan Gunawan tidak memberikan makan pada Mbak Wina, dia benar benar kejam dan tega, bagaimana kalau Nyonya Sarla tahu dengan semua ini, apakah masih ada kata maaf dari Nyonya Sarla untuk ayahnya yang begitu kejam."
Wina menangis ia sudah lelah terkurung di dalam gudang, badannya sudah bau ompol, ia ingin mandi.
Tari berusaha mencari ide untuk meromak gudang itu menjadi kamar, dan untungnya ada kamar mandi.
__ADS_1
Wina menghabiskan makannya, dimana ia perlahan melepaskan tali tambang yang mengikat pada tangan Wina.
"Saya ingin pergi dari sini. "
Terkejut bukan main, Tari melihat kaki Wina penuh dengan cambukkan. Wanita tua itu diperlakukan tidak baik oleh Gunawan.
"Tega sekali, Tuan Gunawan, bisa bisanya dia memperlakukan Mbak Wina seperti binatang. "
"Saya akan menyelamatkan Mbak Wina, sekarang juga. "
Awalnya Tari berpikir akan meromak kamar itu, namun pikiran itu hilang seketika, saat Wina ingin keluar dari jeratan Gunawan.
Sekarang ia tak peduli jika Gunawan membunuhnya, bagi dirinya sekarang keselamatan Wina.
"Ya sudah ayo, Mbak Wina berdiri. "
Wanita tua itu malah merintih kesakitan, membuat Tari merasa heran, " kenapa Mbak Wina, apa ada sesuatu yang Mbak rasakan?"
Wanita tua itu menganggukkan kepala, menjawab perkataan Wina, " tubuh saya semua terasa sakit!"
Rasa penasaran menyelimuti hati Tari, tangannya kini membuka baju Wina secara perlahan.
" astaghfirullahaladzim, apa yang terjadi dengan Mbak Wina, tubuh Mbak Wina ini banyak sekali luka."
Tari melihat luka itu kini menangis memeluk wanita tua itu, " Tuan Gunawan begitu kejam, bisa-bisanya ia memperlakukan Mbak Wina seperti budak. "
"Sakit Tari. "
Wina meringis kesakitan di hadapan Tari, membuat hati Tari merasa tak tega dengan keluhan dan rasa sakit yang dirasakan wanita tua yang ia peluk.
Ceklek ....
Suara pintu terdengar dibuka, Tari berusaha melepaskan Wina. " Mbak Wina tunggu dulu ya, saya mau mengecek keluar, takut jika ada orang yang masuk, atau Tuan Gunawan pulang ke rumah. "
Wina hanya menganggukkan kepala, dimana Tari pergi mengecek siapa yang datang ke rumah.
"Mudah mudahan bukan Tuan Gunawan, jika ia gawat, aku belum mengikat lagi tubuh Mbak Wina, bisa bisa Tuan Gunawan marah besar kepadaku. " Gerutu hati Tari.
*******$
Hasil otopsi sudah keluar apa penyebabnya, Gunawan dan juga Sarla sudah tak sabar ingin mengetahui penyebab kematian Dera.
Mereka melihat pada lembaran kertas yang diserahkan para perawat. Yang dimana Dera mati karena murni pemerkosaan, alat reproduksi rusak karena diperkirakan pemerkosaan itu begitu brutal.
Sarla menatap pada Lani, dimana anak berumur sepuluh tahun itu terlihat santai.
Sarla tak bisa menebak apa yang dipikirkan anak berumur sepuluh tahun itu.
__ADS_1