
Padahal Daniel ingin memberi tahu ibunya tentang pilihan yang ada di tangannya saat ini, tetapi sosok Sarla tiba tiba saja datang membuat suasana menjadi tegang.
"Bu, ayo makan. "
Ajakan Sarla membuat Alenta menganggukkan kepala, dimana sang menantu pergi.
Sedangkan Daniel berdiri dengan mengusap kasar wajahnya, " Apa yang akan kamu bicarakan dengan ibumu ini, Daniel. "
Lelaki berbadan kekar itu tampak ragu, ia kini memalingkan wajah, " tidak jadi, sebaiknya kita pergi makan saja."
"Ya sudah kalau begitu. Ayo. "
Alenta melangkahkan kaki lebih dulu dari pada Daniel," Kenapa Sarla datang diwaktu yang tidak tepat. "
Semua duduk, ketegangan dirasakan Wulan, dimana tatapan mempelihatkan kebencian pada Sarla, ia takut jika Daniel mempertahankan lagi istri keduanya itu.
"Bisa bisanya Daniel berpura pura amesia, apa yang dia pikirkan saat itu, bodoh. kalau memang ingin menjauhkan diri dari Sarla tinggal ngomong aja, ribet. Sudah tahu dapat penolakan masih mau mempersulit hidup. " Gerutu Wulan dalam hati.
Wanita bermata bulat dengan bibir tebalnya, mulai memakan makananya dengan mempelihatkan kemarahannya.
Sarla masih dengan posisi menundukkan pandangan, dimana Alenta memulai percakapan. " Besok ada jadwal cek kandungan Sarla, jadi Daniel kamu sudah pastikan akan mengantarkan Sarla. "
Deg ….
Sarla terkejut dengan perkataan sang ibu mertua, ia sekilas menatap ke arah Wulan, dimana Wulan tersedak dengan makananya, mengambil air minum. Wulan perlahan meninum air itu hingga habis.
Ia kini membalas perkataan sang ibu mertua.
"Bu, kenapa harus Daniel yang mengantarkan Sarla, kan ada sopir, pembantu, satpam. kenapa harus Daniel, mama aneh banget. "
Alenta tak suka dengan nada bicara menantu pertamanya yang selalu mengelak.
"Wulan, sopir dan yang lainnya punya tugas masing masing, sedangkan Daniel besok kan libur. Jadi apa salahnya ibu menyuruh Daniel mengantarkan Sarla, kamu jadi wanita tidak mengerti sekali."
Wulan jelas marah besar dengan keinginan mertuanya itu, ia memukul meja makan. Membuat suara piring seakan beradu.
Wulan kini berdiri lalu menatap perlahan kesemua orang yang duduk. Dimana napsu makan mereka tiba tiba saja hilang di saat itu juga.
"Duduk Wulan, jangan mempemalukan dirimu sendiri di depan keluarga. "
Wulan sudah tak mempedulikan hal itu, perasaanya tak bisa di bohongi, ia marah besar saat itu.
"Bu, wajarlah seorang istri marah, kalau mertuanya menyuruh anak satu satunya itu mengantarkan seorang wanita hamil. Walau mungkin memita tolong, rasanya itu tak pantas."
Wanita tua itu malah semakin kesal dengan perkataan Wulan, ia berdiri lalu menenangkan menantunya itu, " Kamu tenang dulu Wulan, ibu hanya kasihan."
Belum pekataan wanita tua itu terlontar semuanya, Sarla mulai beranjak pergi dari hadapan orang orang yang berada dihadapannya
"Maaf, saya pamit dulu. "
Alenta tak tega melihat raut wajah muram Salra, ia lalu memanggil menantu keduanya. " Sarla, kamu mau kemana. "
Alenta mulai menyusul, ia bergegas berjalan untuk menemui Sarla.
Melihat kepergian keduanya, Wulan mulai duduk kembali, terlihat ia tampak senang dan puas setelah apa yang ia katakan.
"Apa maksud kamu melakukan semua itu?" tanya Daniel, memainkan sendok garpunya.
__ADS_1
Dimana Wulan menatap pada raut wajah Daniel," hey, kamu bilang maksud dari perkataanku apa. Seharusnya jadi laki laki tegas dong, jangan plin plan, bukannya ini yang kamu inginkan hah, kenapa sekarang kamu berubah pikiran, apa gunannya berpura pura amnesia agar bisa jauh dari Sarla, sedangkan kamunya saja menurut ketika ibumu menyuruh kamu pergi kemana mana dengan Sarla, hello, situ masih waras. "
Daniel membungkam mulutnya, setelah perkataan Wulan menyadarkan rencana pertamanya.
Wulan menyandarkan punggung pada kursi, menatap penuh kekesalan terhadap Daniel.
"kenapa, masih tak terima dengan perkataanku, mau membela diri lagi. Daniel, Daniel, dulu kamu bilang hanya menikahi Sarla sebatas pernikahan kontarak dan memiliki anak. Lalu sekarang kamu malah mencintai dia, apa bedanya kamu denganku. SAMA SAMA MUNAFIK. "
"DIAM." urat leher dipelihatkan Daniel, mata memerah, kedua tangan mengepal, Daniel seakan ingin bersiap siap, menyerang Wulan saat itu.
Namun Wulan ikut berdiri, bersejajar dengan suaminya," Kenapa? Kamu marah karena perkataanku?"
Tangan yang tadinya mengepal, kini terbuka, Daniel berusaha menahan diri agar tidak menampar istrinya itu.
"Mau tampar, tampar saja." Hardik Wulan, mendekatkan pipinya, ia kini berbisik pada telinga Daniel," aku pastikan setelah ini, kepura puraanmu terbongkar. "
"Aggg." Menahan diri lalu pergi dari hadapan Wulan.
Melihat kepergian suaminya, membuat Wulan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri, " Baravo, kamu memang hebat Wulan, sudah mengendalikan semuanya. "
Wulan kembali duduk, ia meneruskan makanannya yang sempat tertunda, sendirian, dimana orang orang pergi karena masalah yang ia buat.
"Ternyata menyenangkan juga membuat sebuah kekacawan di rumah ini, ibu lagi tidak bisa menepati janjinya, ya jadinya begini. Aku langsung bertindak saja,"
Suapan demi suapan dilayangkan Wulan pada mulutnya, hidangan sore ini sangatlah menyenangkan baginya.
Tiba tiba Bi Siti duduk, dihadapan Wulan, ia terlihat penasaran dengan kejadian tadi pagi.
"Nyonya, kok malah marah marah. Sebenarnya kenapa? Sampai si Sarla pergi begitu saja."
"Sebaiknya kita cerita di dalam kamar saja bi. Biar seru."
"Baiklah nyonya. "
"Setelah membereskan makanan ini, nyonya langsung ke kamar saya. "
"Baik nyonya. "
Wulan mulai berdiri, ia pergi setelah menghabiskan makanannya.
Sedangkan Bi Siti dengan sigap, membereskan semua bekas makanan sang majikan. Ia tidak sabar ingin mendengarkan cerita yang sesungguhnya.
********
Sarla duduk, air matanya keluar terus menerus, ia merasakan rasa sakit ketika mendengar perkataan Wulan.
Walau bagaimana pun Sarla juga berhak mendapatkan perhatian Daniel. Dalam bentuk apapun.
Yang dikesalkan Sarla saat ini, Wulan seakan menganggap bahwa ia adalah seorang pelakor.
"Kalau memang Wulan tidak suka aku ada di sini, kenapa dia memaksaku untuk tinggal disini, kalau memang perintah Ibu mertua, dia kan bisa menolak mentah mentah."
Tok …. Tok … .
Ketukan pintu mengagetkan Sarla, ia kini mendengar suara lembut Alenta yang memanggil namanya.
"Sarla sayang, buka pintunya."
__ADS_1
Karena tak memungkinkan untuk bertemu dengan ibu mertua, pada akhirnya Sarla menjawab. " Maaf sebelumnya bu, Sarla tidak mau diganggu dulu. "
Mendengar perkataan menantu keduanya itu, membuat rasa sakit juga di rasakan Sarla, " Semua gara gara Wulan, aku harus menghampiri dia sekarang juga."
Alenta berniat menghampiri Wulan segera mungkin, memberi tahu dia untuk tidak keterlaluan terhadap Sarla.
Namun saat langkah kaki Alenta mendekat pada kamar manantunya, tiba tiba saja Daniel menarik tangan ibunya itu.
"Daniel, apa yang kamu lakukan. Hampir saja membuat ibumu ini jantungan. "
Daniel menempelkan telunjuk tangannya pada bibir ibunya. Dimana Alenta menghempaskan tangan anaknya begitu saja. " Apaan sih Daniel, pake husst segala. Ibu ini sudah tua tak pantas kamu melakukan hal seperti ini. "
"Ya habisnya ibu bawel, berisik banyak ngomong. " Mendengar perkataan Daniel membuat wanita tua itu memukul bahu anaknya.
"Keterlaluan."
Menggaruk belakang kepala, lalu bergumam dalam hati," gimana caranya buat ibu mengerti."
"Ibu pokoknya tenang dulu ya, Daniel mau menceritakan sesuatu pada ibu. "
Melipatkan kedua tangan lalu bertanya. " cerita apa?"
"Tapi ibu jangan marah ya!"
"Ya sudah ayo cerita, ibu tak akan marah. "
"Baiklah kalau begitu. "
Daniel mulai menarik napasnya, mengeluarkan secara perlahan, ia kini mengatakan kejujuran pada sang ibunda.
"Sebenarnya Daniel tidak amnesia. "
"Apa kamu bilang. "
Daniel membekam mulut ibunya," mm. "
"Aduh bu, jangan keras keras. kalau Sarla tahu bagaimana. "
"Mm."
Daniel masih membekam mulut ibunya, dimana ia berucap, " Ibu jangan berisik, nanti Daniel bukan tangan Daniel ini. "
"Mm."
"Ibu anggukan dulu kepala kalau ibu setuju. "
Wanita tua itu langsung menganggukkan, dimana napasnya tersengal, Daniel yang menyadari hal itu, melepaskan tangan yang menempel pada mulut ibunya.
"Ahk, Daniel tega kamu, mau bunuh ibumu sendiri. "
"Ya maaf bu, habisnya ibu berisik."
Memukul kepala anaknya, " berisik berisik, siapa suruh bikin kaget orang tua. "
"Iya maaf. "
Daniel mengakui kesalahannya lalu meminta maaf pada sang ibu.
__ADS_1