Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 85


__ADS_3

"Cukup."


Kedua mata membulat di mana Lilia seakan ingin menelan mentah-mentah adik tirinya itu.


" Jangan karena aku kakak tirimu kamu bisa seenaknya menyalahkanku," tegas Lilia pada Lani, anak berumur 9 tahun itu, kini menutup pintu kamarnya dengan begitu keras.


Namun Lani tak putus asa, iya terus menggedor-gedor kamar sang kakak, agar keluar dari kamarnya.


"Keluar kamu kak, jangan hanya berdiam diri di dalam kamar saja. "


Lilia mulai mengambil headset untuk menutupi telinganya, ia malas sekali mendengar teriakan sang adik tiri. "Mengganggu sekali."


Berusaha tetap tenang walau sebenarnya hati merasa kesal dengan Lani yang sudah berani kepadanya.


"Kak Lilia, aku tidak akan biarkan kamu tenang, awas saja. Aku akan memberikan kamu pelajaran," teriak Lani di luar kamar Lilia.


Lani mulai pergi dari kamar sang kakak, dia melangkahkan kaki dengan bantuan tongkatnya, hatinya benar-benar kuatir sekali dengan keadaan sang mama.


Menangis, menunggu di luar rumah. Sudah 4 jam Lani duduk, tanpa mau minum ataupun makan sedikit, ya begitu mengkhawatirkan mamanya sendiri.


"Mama, kenapa pulangnya lama sekali. "


Menangis dengan berharap jika Dera pulang secepat mungkin ke rumah.


Pembantu yang bekerja di rumah Pak Gunawan, kini mendekat ke arah anak berumur 8 tahun itu.


"Neng, dari tadi siang Neng itu belum, apalagi minum air putih. Kita makan dulu yuk."


Bujuk pembantu yang bekerja di rumah Gunawan, terlihat sekali pembantu itu begitu mengkhawatirkan Lani yang belum makan ataupun minum sejak mamanya masuk ke rumah sakit.


"Tidak mau bi, aku tidak lapar, jadi bibi pergi saja. Lani ingin diam di sini, tunggu mama pulang. "


Lani menangis terus menerus, menunggu kedatangan mamanya yang tak kunjung datang.


"Kita kan nggak tahu kapan mama Neng Lani pulang. Gimana kalau Bibi ambilkan makanan sekarang, biar Eneng makannya di sini sambil nungguin Mama, biar Bibi suapin ya."


Lani menatap ke arah pembantunya itu, terdengar suara perut keroncongan dan rasa haus dalam tenggorokan, dirasakan oleh Lani. Memegan perut yang terasa sakit, pada akhirnya Lani menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Pembantu di rumah berjalan cepat mengambil makanan di dapur, di mana Lilia bertanya kepada sang bibi," tumben Bibi bawa makanan keluar. "


Wanita yang menjadi pembantu di rumah Gunawan kini tersenyum kepada majikan kecilnya," Kebetulan sekali Nona Lani belum makan dari tadi siang. Dia dari tadi menangis terus duduk di depan rumah hanya menunggu kedatangan mamanya."


Pembantu itu langsung berpamitan pergi kepada Lilia, dengan mengambil makanan dan juga air minum.


" Saya permisi dulu ya nona Lilia, mau menyuappi Lani."


Lilia menganggukan kepala, setelah kepergian pembantunya itu.


"Neng Lani, makanannya sudah siap."


Lani tampak senang, sepertinya ia kelaparan sekali, sampai pembantu yang menyuap banyak begitu kewalahan, karena cara mengunyah Lani yang begitu cepat.


" Aduh Neng Lani pelan-pelan nanti keselek loh." Lani tersenyum senang saat diperhatikan oleh pembantu di rumahnya.


Di mana perkataan pembantu itu membuat Lani langsung tersedak," Uhuk . Air bi. "


"Tuh kan apa kata bibi, sudah pelan-pelan saja makannya. "


Lilia sengaja datang di hadapan adik tiri dan juga pembantunya," sudah kayak anak sultan saja disuapin segala."


"Kenapa lihat lihat, " hardik Lilia, tampak benci sekali terhadap adik tirinya itu, tapi pembantu di rumah berusaha menenangkan kemarahan Lilia.


"Aduh ini teh kenapa malah saling tatapan begitu."


Melihat keduanya saling menaruh dendam pembantu itu langsung menyuruh Lilia untuk pergi sebentar dari hadapan Lani.


"Nona Lilia. Sebaiknya anda pergi dulu dari sini."


Lilia langsung melipatkan kedua tangannya," tidak mau Bi, aku ingin melihat anak manja itu disuapi oleh bibi. Benar-benar memalukan sekali. "


Pembantu itu amat bingung memisahkan keduanya, Iya takut jika nanti dirinya salah akan dipecat di rumah.


Lani yang mendengar perkataan dari kakak tirinya, kini mencabik bibir kesal, " Kenapa kamu begitu membenciku?"


Lilia semakin mendekat kearah Lani, dimana anak berumur delapan tahun itu masih duduk di atas kursi.


"Heh, karena kamu, aku dan kak Sarla menderita, kamu tahu itu, kematian ibuku siapa lagi kalau bukan ulahmu sendiri. "

__ADS_1


Lilia seakan tahu masa lalu kedua orang tuanya, apalagi kematian sang ibunda, dimana kematian membuat rasa benci pada diri Lilia.


"Aku tidak pernah membuat kalian menderita. Ingat itu?"


"Waw, masa ia. Sih, kamu nggak ingat apa waktu aku bersama ibuku dimall, kamu tengah bersenang senang dengan papah. Aku dan ibu menghampiri kalian, tapi kalian malah ingin menang sendiri, oh ya anak cacat. Kenapa kamu diberi fisik seperti ini, karena itu dosa dari mamamu sendiri karena sudah menjadi perusak rumah tangga orang lain. "


"Cukup, Lilia. Aku tidak tahu jika, pacar mamaku dulu mempunyai istri?"


"Wah menarik, memangnya kamu tidak mencari tahu, oh ya aku lupa. Kamu kan di besarkan oleh papahku, karena lahir tanpa ikatan pernikahan. "


"Cukup, jangan pernah mengungkit masa lalu,"


Mendengar hal itu membuat Lilia malah tertawa terbahak bahak dan berkata," apa kamu malu, karena mamamu seorang pelakor. "


Lilia sudah tahu semuanya, makannya dari awal dia sudah membenci Lani, karena penyebab kematian sang ibu adalah Dera ibu tirinya sendiri.


Lani berusaha berdiri, ia hampir mencekik leher Lilia, dimana ia malah terjatuh ke atas lantai.


"Aku mendapatkan informasi ini setelah Kak Sarla sudah menikah, pantas saja selama ini hatiku selalu benci kepada kamu, karena kamu memang jahat, sama seperti mamamu sendiri. "


Wanita yang menjadi pembantu mulai membantu Lani berdiri. Dimana ia berkata," apa bedanya dengan kak Sarla, dia juga menikahi pria beristri. "


Plakkk, " Jangan bicara seperti orang yang tersakiti, kakakku berbeda dengan mamamu, dia melakukan itu untuk keluarga ini, dan kamu penyebabnya, dalam dari kehancuran kakakku sendiri. Kamu yang membuat keluargaku hancur. "


"Bi, jangan bantu Lani, biarkan saja. "


"Tapi Non, kasihan Non Lani."


Pembantu itu lupa jika ia tidak boleh memanggil Lani dengan sebutan nona, karena gelar nona hanya ada pada Lilia sendiri.


"Biarkan, anak cacat itu berdiri sendiri, biarkan dia sadar akan kesalahannya sendiri, jangan selalu bergantung dengan orang lain. "


Pembantu itu benar-benar tidak menolong Lani untuk berdiri, ya ketakutan, di mana Lilia menyuruh pembantu itu untuk pergi ke dapur Menyiapkan makan siang untuk dirinya.


"Bi, bantu Lani. "


Teriakan Lani membuat pembantu itu merasa kasihan, " hanya untuk berdiri saja kamu meminta bantuan. Dasar anak cacat yang cengeng."


Lilia benar-benar dirasuki dengan amarah, Iya tak bisa mengendalikan dirinya untuk menjadi anak yang baik, karena hatinya sudah dirasuki rasa dendam dan sakit hati yang amat sangat sakit Karena hatinya sudah dirasuki rasa dendam dan sakit hati yang amat sangat perih.

__ADS_1


__ADS_2