Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 230


__ADS_3

Wulan kini bangun, ia melihat kesekelilingnya, hening tak ada satu orang pun. Berusaha bangkit dari atas sofa, memegang kepala yang masih terasa pusing. " Aduhhh, kepalaku. "


Berdiri menyeimbangkan tubuh, berjalan sembari berteriak memanggil Ita, " Ita, Ita. "


Berulang kali namun tak ada jawaban sama sekali dari pembantunya itu, " Kemana si Ita ini. "


Menggerutu kesal sembari berjalan menuju ke dapur.


"Kenapa aku bisa tertidur di atas sofa, bukannya tadi aku baik baik saja. " Gumam hati Wulan. Kedua mata menyipit, masih terlihat remang remang.


"Ita." Barulang kali teriakan dilayangkan Wulan. "Kemana si Ita ini. Dari tadi nggak datang datang."


"Ita."


Ternyata Ita tengah bersantai di dalam kamarnya dengan memainkan ponsel, ia tak tahu jika sang majikan memanggil namanya. Berulang ulang kali, karena dua telinga yang memakai handset.


Wulan mulai berjalan ke kamar pembantu, untuk mencari keberadaan Ita yang tak kunjung datang saat ia memanggil namanya.


Brakkk ....


Wulan sengaja membuka pintu kamar sang pembantu, dengan mendobraknya begitu kuat. Di mana Ita masih bersantai mendengarkan musik pada ponsel.


Wulan yang melihat pemandangan pembantunya itu tengah bersantai, membuat ia geram. " Ita. "


Tak mendengar panggilan sang majikan, akhirnya Wulan menarik headset yang masih menempel pada kedua telinga pembantunya.


Saat itulah Ita baru sadar, jika Wulan sudah ada di hadapannya, ia menampilkan senyuman lebar lalu berkata, " Eh, nyonya. Ada apa?"


Dengan santainya Ita berdiri dan menyapa Wulan.


Sedangkan Wulan begitu terlihat marah besar, melihat pembantunya yang bersantai-santai di dalam kamar, yakini berkacak pinggang," kenapa kamu masih bersantai-santai di dalam kamar. "


Ita mengurutkan dahinya, " Bukannya ini waktunya saya istirahat ya nyonya, dan lagi ini sudah malam loh nyonya. "


Wulan mulai menatap ke arah jam di dinding, melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan memang waktunya para pembantu untuk beristirahat, sang majikan tak boleh mengganggu sedikitpun.

__ADS_1


" Sudah berapa lama aku tidur di atas sofa?" tanya bulan kepada Ita dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya.


" Sekitar dua belas jam!" jawab Ita membuat Wulan terkejut.


"Apa, kok bisa selama itu." ucap Wulan terlihat kebingungan. Ya berusaha memikirkan apa yang harusnya ia lakukan tadi siang.


"Oh ya, Ita. Bukannya saya menyuruh kamu untuk membelikan obat sakit perut ya?" tanya Wulan, menatap tajam ke arah pembantunya itu.


"Sebentar nyonya. " Ita kini merogoh tas untuk memberikan obat yang baru saja tadi siang ia beli.


"Ini nyonya. " menyodorkan obat itu di mana Wulan kini mengambilnya.


"Oh ya, terima kasih. " Ita bernapas lega, tak ada rasa curiga pada diri majikannya itu. Tentang obat yang baru saja ia beli, " untung saja dia tak ingat memberikan uang satu juta padaku. " Gumam hati Ita, ketika Wulan sudah berada di depan pintu kamarnya.


Ita kini merebahkan tubuhnya, ia lalu bertanya, " Ita. "


Bangkit dari tempat tidur dan berdiri, " Iya nyonya, ada apa?"


"Obat ini belum saya bayar ya, " Wulan kini merogoh saku celana mengambil uang lembaran merah pada Ita. " Ini, bayar obat, kembaliannya untuk kamu. "


Keluar dari kamar tidur pembantunya itu, Wulan tak melihat sama sekali suaminya pulang ke rumah, ia mencoba mengambil ponsel, untuk melihat pada layar ponselnya. Apakah ada yang menghubunginya.


Dan ternyata tak ada, Wulan kini berjalan menuju ke tempat tidur, untuk segera mengistirahatkan tubuhnya kembali.


Dia berusaha mengingat kejadian tadi siang, sampai dirinya bisa tertidur begitu lama, memaksakan diri, dan ternyata Wulan tak mengingat satupun kejadian tadi siang. Yang ia ingat hanya menyuruh Ita untuk membelikan obat.


"Hanya ini saja, dan kenapa aku bisa tertidur begitu lama, padahal aku bukan tipe orang yang suka tidur. "


Dreet ....


Suara ponsel bergetar, satu tanda pesan datang padanya.


Ia melihat nomor baru mengirim pesan kepadanya.


(Apa Daniel sudah berpisah dengan Sarla?)

__ADS_1


Pertanyaan dalam pesan yang datang padanya membuat Wulan malas sekali menjawab, karena tadi siang ia hanya tidur seharian, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


(Entahlah aku tidak tahu, karena tadi siang aku tidur seharian dan tak tahu Sarla mengantakan surat cerai yang ia tanda tangani apa belum.)


(Bisa bisanya kamu sesantai itu.)


(Aku sudah bilang aku tak tahu, dan lagi. Aku sudah tidak ada urusan dengan si Sarla itu, karena surat putus kontrak dengan suamiku sudah selesai.)


(Mm, baguslah.)


Nomor baru itu tak lagi mengirim pesan pada Wulan, " Merepotkan sekali. "


Menatap pada cermin kaca, Wulan mulai mengirim pesan pada suaminya yang tak kunjung pulang dari rumah sakit, setelah membawa bayi Sarla untuk berobat.


(Daniel, bagaimana dengan keadaan bayi Sarla, apa tidak ada keluhan serius pada bayi itu. Sampai jam segini kamu belum pulang-pulang ke rumah. Hanya mengurusi bayi yang tak tentu ayahnya itu.)


Pesan pun, Wulan terlihat begitu percaya diri, setelah mengirim pesan pada suaminya." Selesai. Aku tak sabar dengan balasan yang akan aku terima dari suamiku sendiri, dan pastinya dia akan selalu mendukungku karena aku sudah memperlihatkan bukti bahwa Sarla itu wanita yang tidak baik. Ya walaupun bukti itu hanya rekayasa semata, tapi aku benar-benar puas dengan hasilnya. "


Wulan mulai membenarkan rambutnya yang terlihat begitu kusut karena seharian tertidur.


Sembari menunggu balasan dari sang suami, yang pastinya akan membuat hatinya berbunga-bunga. Dalam pikiran Wulan saat ini, hidupnya akan bahagia tanpa ada Sarla yang selalu menjadi penganggu dan perebut hati Daniel.


"Mm, akhirnya aku menemukan kebahagiaanku sendiri. "


Setelah selesai merapikan rambut yang terlihat begitu kusut, Sarla kini menantap layar ponselnya, di mana ia mendengar balasan dari suaminya.


Namun setelah membaca balasan pesan dari sang suami, membuat Wulan membulatkan kedua matanya. Iya terkejut dengan balasan yang tak membuat hatinya bahagia sesuai yang ia inginkan.


( Semua gara-gara kamu yang sudah membuat kita dalam masalah besar. Seharusnya kamu belajar menjadi seorang ibu yang baik setelah kematian bayi dalam kandunganmu itu, bukan malah menjadikan kamu sosok yang jahat, egois dan merasa kamu adalah wanita yang paling tersakiti.)


" Masalah besar, apa maksud Daniel?"


( Kenapa kamu malah mengungkit tentang bayiku? Dan masalah besar apa.)


( kamu masih bertanya masalah besar apa, padahal kamu yang sudah membuat masalah ini, dan menjadikan semua orang ikut menjadi tersangka.)

__ADS_1


Wulan benar benar tak paham, maksud dari perkataan suaminya.


__ADS_2