Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 121 karena alat make-up


__ADS_3

Beberapa detik menunggu, akhirnya pembantu itu datang juga membawa kain lap yang dipinta oleh Sarla. " Ini nyonya. "


Sarla mulai mengambil kain lap. Ia kini berlari untuk segera menyerahkan pada sang mama tiri.


Gunawan terlihat kesal pada anaknya yang baru saja datang menyerahkan kain lap, " Sarla, Kenapa kamu lama sekali membawa kain seperti ini."


"Ya maaf pah, kata pembantu Sarla, kain lapnya pada kotor, jadi susah cari yang bersih. "


Sarla memberi alasan yang tidak jelas, seharusnya ia bisa mengambil sebuah tisu ataupun kain seperti handuk. Bukan lap di dapur.


Namun Gunawan tak mempedulikan, apa yang dibawa oleh anaknya. Ia kini membantu sang istri untuk membersihkan bekas kopi yang menempel pada baju.


Hingga dimana kain lap itu mendarat pada wajah cantik Dera, Gunawan sengaja mengelap wajah istrinya karena terdapat bercak bekas kopi yang tak sengaja ditumpahkan oleh pembantu Sarla.


Beberapa kali kain lap itu dilayangkan pada raut wajah Dera, saat itulah penampakan tak terduga diperlihatkan oleh Dera.


Dimana Sarla tersenyum sembari menahan tawa, melihat wajah bersih Mama tirinya, kini berubah menjadi hitam. Karena bekas kain lap yang selalu dipakai pembantunya untuk membersihkan kompor.


"Akhirnya, bekas kopi itu sekarang sudah tidak berada di wajahku," ucap Dera.


Gunawan yang melihat pemandangan istrinya berubah, melemparkan kain lap itu pada lantai.


"Wajah kamu?"


sang Papa menatap ke arah anak kandungnya, lalu ia mengatakan hal yang tak terduga,"Sarla, Kenapa kamu begitu jahat kepada Mama tirimu. "


Sarla mengangkat kedua bahunya, berpura-pura tak mengerti apa yang dikatakan sama papa," what. Kenapa papa malah menyalahkan Sarla."


"Lah, terus siapa lagi kalau bukan kamu, kamu kan yang mengambil kain lap ini kepada papa, jadi kamu yang sudah melakukan kejahilan ini."


Sarla benar-benar tak menduga dengan papah kandungnya sendiri, tega menyalahkannya, " kenapa dari tadi papa salahkan aku terus."


Dera penasaran sekali dengan perdebatan yang dibicarakan oleh anak dan suaminya, mereka bertengkar. Membuat telinga Dera tak nyaman.


"Kenapa mereka bertengkar," gumam hati Dera.

__ADS_1


Rasa penasaran menyelimuti pikiran Dera, pada akhinya ia mengambil ponsel, untuk segera melihat wajahnya sendiri.


Terburu - buru, mengambil ponsel pada tasnya ia mengarahkan ponsel ke arah wajah, sektika kedua mata bulat itu semakini membulatkan lalu, " Ahhkk. "


Teriakan Dera, membuat anak dan suaminya terkejut, Sarla hanya menutup mulut, ia tak tahan lagi ia ingin tertawa dengan perasaan bahagianya.


"Kenapa semakin dia terkejut, malah semakin kocak."


Dera memegang pipinya yang hitam, ia mengusap pelan, lalu mengelapnya. " Kenapa ini terjadi kepadaku?"


Tawa mengelegar, membuat Gunawan menapat ke arah anak anaknya." Lilia, Lani."


"Pah, mamah kenapa, kok kaya se*t*n."


Sarla beristigpar setelah adiknya mengatakan hal itu, dimana Dera mengendus kesal, " Diam kamu, jaga ucapanmu itu, Lilia."


Sang suami merangkul bahu istrinya, dimana Dera merasa tak nyaman lalu, menggerutu kesal dan berkata," lepaskan pah, semua gara gara keteledoran papah, bisa bisanya mengelap kain lap dapur pada wajah cantik mama."


Lani mencari sebuah tisu pada tasnya, untuk segera memberikannya pada sang mama." Ini mah, pake tisu."


Lelaki tua itu hanya diam, tanpa berucap satu patah katapun, ia terlihat tak berguna di depan istrinya sendiri.


Sarla mulai menawarkan sang mama, pencuci untuknya, " ma, coba pake ini, biar wajah mama kinclong lagi."


Sarla menyodorkan pencuci wajah, yang terlihat bermerek, dimana Dera terlihat ragu mengambilnya.


"Kebetulan pencuci wajah ini, tak pernah Sarla pakai, karena sudah banyak Daniel membelikan kosmetik dan pencuci wajah pada Sarla. "


Mendengar hal itu, membuat rasa iri pada benak sang mama tiri, " beruntung sekali si Sarla ini dapat, laki laki beristri yang mencukupi kebutuhannya dan juga keinginannya, belum lagi rumah mewah, beberapa mobil yang berjejer rapi di garasi. Ahk, tidak seperti papahnya, yang ngirit bin pelit, kalau diceritakan menyedihkan. "


Karena rasa penasaran dengan pencuci malah itu, sang mama tiri mulai mengambil, dan mengatonginya pada tas.


"Kenapa gak di pake."


"Buat di rumah saja, kalau di sini udah ada kan, tersedia. "

__ADS_1


"Ada banyak di kamar Sarla. "


Terkejut bukan main, wanita tua itu mencari kesempatan dalam kesempitan, dimana ia mencoba menarik tangan anak tirinya.


"Ya sudah, ayo antar mama ke kamar kamu, mama mau pilih pilih kosmetik. "


Deg ....


Di kasih hati malah minta jantung, itulah kata pepatah untuk orang serakah seperti Mamah tiri Sarla.


"Ayo Sarla."


Bukannya malah senang salah mencoba mencari ide, untuk mengerjai ibu tirinya lagi, wanita tua itu masuk lebih dulu ke kamar Sarla. " dasar nenek lampir tak tahu sopan santun," gerutu hati Sarla ketika melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki sang mama tirinya.


ketika pintu kamar sarla dibuka oleh sang Mama, ia terkejut bukan main, melihat pemandangan yang sangat luar biasa tersorot oleh kedua matanya.


"Wah, amazing, Mama tidak salah lihat? Kamar kamu mewah sekali, beruntung sekali kamu mendapatkan pria seperti Daniel. "


Wanita tua yang menjadi ibu tiri Sarla, kini mencoba mendekati alat kosmetik yang tersusun rapi dan begitu banyak, memegang satu persatu dan mencoba, " Sarla, kamu kan memakai cadar, untuk apa coba alat kosmetik."


Sarla melipatkan kedua tangannya, tak menjawab perkataan sang mama tiri, " mau pakai cadar atau enggak pun itu hak masing-masing orang jika menyangkut tentang memakai alat kosmetik."


"Ya bukannya begitu, sayang banget kamu beli alat kosmetik semahal- apapun, orang tidak akan melihat kecantikan kamu."


Apa yang dikatakan ibu tirinya, ada benarnya, tapi dibalik ucapan itu Sarla menjawab. " Apa sebuah Kecantikan itu harus diperlihatkan kepada orang lain, agar kita mendapatkan pujian. Yang ujungnya malah menyombongkan diri kita sendiri?"


Dera masih memakai lipstik yang ia ambil dari meja rias anak tirinya, sembari bercermin lalu menjawab perkataan Sarla. " Iya dong, bukannya tujuan alat make up itu, hanya untuk memamerkan kecantikan kita."


Sarla menarik napas lalu mengeluarkannya secara perlahan, dia membenarkan jawaban ibu tirinya itu, " hanya orang-orang yang senang dipuji akan berkata seperti itu, berbeda dengan orang yang sederhana yang menghargai wajahnya untuk dirias demi kesenangan sendiri."


Sang mama tiri hanya mendengarkan perkataan anak tirinya itu dengan acuh," ya memang pemikiran kamu itu kolot, kaya orang tua zaman-zaman dulu, jadi passionnya hanya untuk diri sendiri. "


Sarla berdecak kesal, lalu mendekat ke arah sang mama, " lalu bagaimana dengan orang orang yang ingin tampil cantik, dan senang di puji. Tidak bermodal, hanya mengandalkan minta dan pinjam. Miris, memalukkan bukan?"


Perkataan Sarla membuat pipi ibu tirinya memerah.

__ADS_1


__ADS_2